Home » Wacana » Perspektif » Soal Syiah, Saatnya PKS Belajar dari Erdogan
Presiden Rouhani (Iran) dan Presiden Erdogan (Turki)

Soal Syiah, Saatnya PKS Belajar dari Erdogan

Oleh Irwan Amrizal

Satu hal yang membuat Walikota Bogor Bima Arya percaya diri melarang komunitas Muslim Syiah memperingati Asyura akhir Oktober lalu adalah ia percaya keputusannya itu didukung banyak pihak. Salah satu pihak yang mendukung adalah konstituen dan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

PKS sendiri memang belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang keputusan Bima. Namun untuk memahami sikap mereka, ada dua sumber yang bisa dijadikan rujukan: PKS Piyungan dan Jonru, sosok yang kerap disebut pegiat utama media sosial PKS.

Di PKS Piyungan kita dengan mudah bisa melihat bagaimana mesin propaganda PKS itu mendukung keputusan Bima yang diskriminatif. Dari judul-judul beritanya saja kita sudah dapat mengetahui pesan yang ingin disampaikan, meskipun berita-berita itu bukan mereka tulis sendiri melainkan copy-paste dari media lain.

Lihat saja judul-judul berita di PKS Piyungan berikut ini: “Kiai Bogor Apresiasi Keputusan Bima Arya Melarang Perayaan As-Syuro Syiah”, “Di-bully JIL, Bima Arya: ‘Saya tidak ambil pusing mau di-bully jutaan orang sekalipun”, “MUI: Semoga Kebijakan Bima Arya Bisa Diikuti Wali Kota Seluruh Indonesia”, “Belajar Dari Kasus Sampang, Walikota Bogor Sudah Lakukan Tindakan Tepat”,  serta “Demi Keutuhan NKRI, Keputusan Walkot Bima Arya Larang Kegiatan Syiah Tepat”.

Dukungan PKS Piyungan terhadap Bima ini bisa dipahami sebagai cerminan sikap dasar mereka terhadap Syiah.

Bagi PKS Piyungan, komunitas Muslim Syiah itu adalah kelompok yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya alias sesat. Juga dapat ditangkap kesan bahwa PKS Piyungan itu memandang komunitas Muslim Syiah adalah para pengacau yang akan merusak ketenangan di Indonesia. Karena itu, jika komunitas Muslim Syiah dibiarkan hidup di Indonesia, maka menurut PKS Piyungan, itu sama saja membiarkan Indonesia mengalami nasib yang serupa dengan Suriah.

Hal serupa terbaca dalam kicauan dan komentar Jonru di media sosial.

Dalam posting tertanggal 30 Oktober lalu di fans page Facebooknya, Jonru mengajak penyuka halamannya itu untuk menandatangani petisi yang berisi dukungan pada Bima. Petisi itu sendiri dibuat oleh Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).

“Jangan Biarkan Bima Arya Sendirian Menghadapi Celaan dan tekanan, Sehubungan dengan Keputusannya untuk Melarang Perayaan Assyuro Syiah. Jangan Biarkan Bima Arya Sendirian Menghadapi Serangan dari Musuh-Musuh Islam, yang TIDAK Ingin Islam Tegak di Muka Bumi,” tulis pria bernama lengkap Jonru Ginting itu.

Jadi sikap PKS dalam kasus Syiah ini tampaknya sudah jelas.

Namun yang harus dicatat, pandangan dan sikap PKS ini sebenarnya bertolak belakang dengan tokoh yang mereka kagumi selama ini, yaitu Presiden Turki Recep Tayyib Erdoğan.

Erdoğan sejauh ini dikenal bersikap positif terhadap komunitas Muslim-Syiah di Turki dan bahkan pernah menyampaikan pidato dalam peringatan Asyura di Turki.

Pada 23 Oktober lalu, misalnya, Erdoğan mengundang perwakilan komunitas Alevi Turki untuk hadir di paviliun Ottoman, Istanbul, Turki. Seperti diberitakan dailysabah.com, agenda dalam kesempatan itu adalah berbuka bersama usai menunaikan puasa sunah 10 Muharram yang bertepatan pada tanggal itu. 10 Muharram juga diperingati sebagai hari wafatnya cucu Rasulullah Muhammad yang tewas dalam pertempuran di Karbala, Irak, pada 680 M.

Komunitas Alevi adalah satu dari sekian kelompok yang lahir dan tumbuh dalam tradisi spiritual Islam atau sufisme. Kata Alevi merujuk pada nama Ali, sahabat yang juga sepupu plus menantu Rasulullah Muhammad. Doktrin keagamaan kelompok ini mengacu pada salah satu mazhab dalam Syiah, yaitu Syiah Imamiyah atau Syiah 12 Imam. Di Indonesia, kelompok ini dikenal dengan sebutan Alawiyah. Adapun Erdoğan adalah Muslim Sunni pengikut mazhab fikih Imam Hanafi.

Di Turki, komunitas Alevi adalah kelompok keagamaan terbesar kedua setelah Sunni-Hanafi. Badan kependudukan Turki tidak memiliki angka resmi berapa jumlah komunitas Alevi. Tapi, menurut satu penelitian akademik yang dapat dipercaya, populasi Alevi diperkirakan sekitar 20 juta dari total populasi 77 juta di Turki atau setara sekitar 20 persen.

Ada sejumlah tokoh yang hadir dalam acara buka puasa bersama itu. Di antaranya, Mehmet Görmez (The president of the Religious Affairs Directorate), Fahri Kasırga (Secretary General of the Presidency), İbrahim Kalın (Deputy Secretary-General of the Presidency), Cengiz Hortoğlu (Anatolian Alevi Federation President), Fermani Altun (World Ehl-i Beyt Foundation Head) dan tokoh penting lainnya. (President Erdogan Hosts Iftar Dinner for Turkeys Alevi Community in Istanbul).

Meski tertutup untuk diliput media, tapi seperti yang dilaporkan beberapa peserta acara buka puasa itu, Erdoğan mendengarkan masalah perwakilan komunitas Alevi. Salah satu tokoh pendiri Partai Keadilan dan Pembangunan atau Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP) dalam bahasa Turki, yang secara ideologi dekat dengan PKS, itu juga mencatat tuntutan perwakilan komunitas Alevi dan menekankan pentingnya bulan Muharram dalam menyatukan semua Muslim sebagai masa berkabung dan perdamaian.

Interaksi Erdoğan sebagai pejabat publik dengan komunitas Muslim Syiah di Turki bukan terjadi pada kesempatan itu saja. Sebelumnya, pada 2010, Erdoğan menghadiri peringatan Asyura di Halkali, Turki, dan menyampaikan pidatonya di hadapan komunitas Alevi dan jamaah Muslim Syiah dari berbagai negara. Ketika itu Erdoğan masih menjabat sebagai Perdana Menteri Turki.

Peringatan Asyura itu juga dihadiri Mantan Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Velayati. Pidato Erdoğan dan kemeriahan peringatan Asyura itu bisa dlihat di rekaman video yang sudah diunggah ke YouTube. Klik di kolom search YouTube ‘Erdogan Ashura’, maka akan ditemukan beberapa versi video rekaman yang bisa disaksikan.

Dalam pidatonya, Erdoğan menyatakan bahwa tragedi di Karbala harus diperingati bukan untuk memecah-belah umat Islam, tapi justru mempererat persaudaran di dunia Islam. “Kemartiran Hussein bukanlah perpisahan tapi bersatunya kembali, itu bukan akhir tapi awal,” kata Erdoğan dalam pidatonya di hadapan ribuan Umat Islam Syiah pada akhir Desember 2010, seperti diberitakan hurriyetdailynews.com.

Karena itu, sambung Erdoğan, siapa pun yang berusaha menciptakan permusuhan dari peristiwa Karbala itu adalah orang-orang yang telah mengkhianati warisan cucu Rasulullah tersebut.

“Luka Karbala masih hidup di dalam hati kita, bahkan setelah 1370 tahun,” kata Erdoğan.

Pidato itu Erdoğan sampaikan bukan dalam situasi politik dalam negeri Turki yang sedang adem ayem. Ia mengambil risiko dengan hadir dan menyampaikan pidatonya itu di tengah-tengah perdebatan di kalangan internal Muslim Sunni Turki terkait dukungan Ankara pada pemerintah baru di Irak pasca Saddam Hussein.

Mendengar pidato Erdoğan yang positif itu, Ulama Syiah Irak Moqtada al-Sadr mengirim surat kepada Erdoğan untuk menyampaikan rasa terima kasih.

“Anda telah menyentuh hati setiap Muslim. Anda telah melakukan apa yang tidak pemimpin Muslim lainnya lakukan,” puji al-Sadr dalam suratnya kepada Erdoğan.

Erdoğan sudah menunjukkan diri sebagai pemimpin Muslim yang positif terhadap komunitas Muslim Syiah. Persoalannya sekarang, apakah konstituen dan kader PKS itu akan mengikuti sikap dan pandangan pujaannya itu yang positif terhadap komunitas Muslim Syiah? Atau justru konstituen dan kader PKS itu berhenti mengagumi Erdoğan karena dirinya dinilai dekat dengan komunitas Muslim Syiah dan mengikuti peringatan Asyura?

Menarik untuk dilihat perkembangannya. Tapi jika konstituen dan kader PKS itu mengambil pilihan yang kedua, sebaiknya Erdoğan tidak usah berkecil hati. Sebab, mantan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad kini juga tidak lagi dikagumi konstituen dan kader PKS setelah mereka mengetahui bahwa Ahmadinejad ternyata penganut Syiah.[]

Foto: Shoutussalam.co

Komentar