Home » Wacana » Perspektif » Plesetkan ‘Sampurasun’ Jadi ‘Campur Racun’, Tindakan Ketua FPI Tercela dalam Islam 
Habieb Rizieq dipolisikan karena dianggap menghina budaya Sunda

Plesetkan ‘Sampurasun’ Jadi ‘Campur Racun’, Tindakan Ketua FPI Tercela dalam Islam 

Ungkapan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang memelintir ucapan salam khas Sunda “sampurasun ” menjadi “campur racun” tak hanya mencederai etnis ini, tapi juga merupakan tindakan tercela dalam Islam.

Ucapan ini ia sampaikan saat berceramah di Purwakarta pertengahan November lalu. Beberapa video terkait hal ini bisa kita saksikan di Youtube dengan kata kunci ‘Rizieq Shihab, sampurasun, campur racun.’

Plesetan ini bertolakbelakang dengan akhlak dan teladan yang Nabi Muhammad ajarkan kepada kita. Pada satu waktu di Madinah, sekelompok orang Yahudi mendatangi beliau. Dengan penuh kebencian, sekelompok orang Yahudi itu mengucapkan “salam” yang tidak sopan: “Al-sammu ‘alayka” (mampus engkau Muhammad). Mendengar ungkapan itu, alih-alih membalas ungkapan yang sama kasarnya, Rasulullah hanya menjawab singkat: ‘alayka (demikian juga untukmu).

Saat beberapa orang Yahudi masuk rumah Nabi dan mengucapkan hal serupa, Aisyah yang mendengarnya langsung murka. Salah satu istri beliau itu langsung menjawab ucapan itu, “Wa al-sammu ‘alayka wa la‘natullâhi ikhwâna al-qirâdata al-khasîr (mampus juga untukmu dan laknat Allah atas kamu yang dikutuk Allah menjadi kera-kera yang hina).

Mendengar ucapan kasar Aisyah itu, Nabi begitu marah. Beliau mengatakan: “Wahai Aisyah! Jangan bicara begitu. Siapa yang mengajarimu seperti itu. Aku tidak diutus untuk melaknat orang dan bicara kasar seperti itu.”

Aisyah menjawab, “Nabi mendengar sendiri apa yang orang itu katakan. Saya hanya membalasnya.” Nabi berkata, “Saya sendiri sudah menjawabnya dengan ucapan ‘wa ‘alaykum.’” Nabi kemudian menerima dan berbicara dengan baik sekali pada mereka.

Pelajaran dari kisah ini jelas bahwa menghadapi ucapan “salam” yang buruk dan kasar saja nabi tidak menghardik pengucapnya. Apalagi salam “sampurasun” yang maksudnya baik. Menurut Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang menjadi sasaran tembak Rizieq lantaran menghidupkan kearifan Sunda, sampurasun berasal dari kalimat “sampurna ning ingsuh” yang memiliki makna “sempurnakan diri Anda”.

“Kesempurnaan diri adalah tugas kemanusiaan yang meliputi penyempurnaan pandangan, penyempurnaan pendengaran, penyempurnaan penghisapan, penyempurnaan pengucapan yang semuanya bermuara pada kebeningan hati. Pancaran Kebeningan hati akan mewujud sifat kasih sayang hidup manusia,” tulis bupati yang menjadi sasaran tembak Rizieq pada akun Facebook miliknya (25/11).

Walikota Bandung Ridwan Kamil yang berupaya melestarikan budaya Sunda juga mengatakan bahwa makna kata sampurasun adalah semacam doa dan maksudnya baik. Maksudnya sama dengan ucapan salam dalam Islam.

Sampurasun itu artinya keberkahan untuk kita dan alam semesta. Dalam bahasa Sunda kuno itu artinya sama dengan assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Sampurasun apa jeleknya? Artinya juga sangat baik,” katanya seperti dilansir Tempo.co (25/11).

Dari arti ini tentu tak ada buruk dari salam khas Sunda itu. Dalam Islam, ucapan salam adalah doa. Doa untuk memohon kedamaian, keselamatan, rahmat/belas kasih serta keberkahan Tuhan bagi penerima salam itu.

Menurut cendekiawan muslim Nurcholish Madjid (alm.), ucapan salam mempunyai kaitan dengan usaha menciptakan salam. Upaya menciptakan kedamaian dan keutuhan dalam masyarakat sebagai implikasi dari takwa. Usaha ini, lanjut penulis buku Islam Agama Kemanusiaan ini, bermula dari tingkah laku pribadi kita masing-masing dalam bentuk budi pekerti luhur (al-akhlâq al-karîmah).

Salam adalah inti dari ajaran Islam. Islam satu akar kata dengan salam dan salamah. Menurut pendiri Yayasan Paramadina yang akrab disapa Cak Nur ini, Islam hadir membawa salam (kedamaian) dansalamah (keselamatan) lahir dan batin. Semua berpangkal dari sikap “berdamai” atau “pasrah” dengan tulus kepada Allah yang merupakan makna harfiah ‘Islam’. Salam dan salamah pada hakikatnyamempunyai makna yang sama dan sangat terkait dengan makna ‘Islam’. Yaitu kedamaian, kepasrahan, kesejahteraan, dan kebebasan dari marabahaya.

Dengan demikian, lanjutnya, Islam adalah sikap pasrah kepada Tuhan (arti umum Islam) dengan penuh kedamaian (salam) karena tulus-ikhlas disertai perbuatan baik kepada sesama —sebagai kelanjutan logis sikap pasrah yang tulus itu— adalah pangkal kesejahteraan (salamah, keselamatan) di dunia sampai akhirat. Seperti dalam firman Allah: “Dan barangsiapa memasrahkan dirinya kepada Tuhan serta dia itu berbuat baik, ia telah berpegang kepada tali (pegangan hidup) yang kukuh (Q.S. Luqman [31]: 22).  

Karena itu, dalam setiap salat lima waktu, kita diwajibkan untuk menengok ke kanan dan kiri sambil melafalkan ucapan salam. Tujuan salam, kata Cak Nur, tak hanya untuk sesama manusia, tapi juga semua makhluk Allah. Salat dimulai dengan mengagungkan Allah (takbir) dan diakhiri dengan menyebarkan salam kepada semua makhluk-Nya.

Dalam arti ini, tujuan mengucapkan salam adalah untuk menebar kedamaian dan rahmat Allah kepada semua makhluk-Nya. Tujuan salam bukan untuk menyebarkan kebencian apalagi permusuhan.

Sebagai sapaan yang baik ketika memulai percakapan dan juga doa, ucapan salam bisa mengunakan berbagai bahasa. Sebagaimana berdoa sehabis salat atau punya hajat tertentu kita dibolehkan menggunakan berbagai bahasa. Apalagi di Indonesia dan Nusantara punya berbagai kearifan lokal dan ucapan salam yang beragam dari berbagai etnis.

Karena itu, ‘sampurasun’ dan ucapan salam lainnya dari budaya lain sah-sah saja selama tujuannya adalah sebagai doa dan untuk menyebarkan kedamaian. Yang terpenting adalah ucapan itu tulus dari hati dan sebagai doa bagi penerima salam itu. [Achmad Rifki]

Komentar