Home » Wacana » Perspektif » Ketika Keislaman Jokowi Dipersoalkan Karena Minum Sambil Berdiri
Foto: liputan6.com

Ketika Keislaman Jokowi Dipersoalkan Karena Minum Sambil Berdiri

Oleh Ade Armando*

Ada-ada saja. Keislaman Presiden Jokowi kembali dipersoalkan oleh kelompok-kelompok Islam puritan.  Yang dianggap sebagai kesalahan Jokowi adalah dia minum sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri di depan anak-anak!

Bagi sebagian umat Islam yang rasional, apalagi bagi kalangan non-Islam, ini tentu saja menggelikan. Namun, ini benar-benar terjadi dan menggambarkan betapa besarnya kebencian terhadap Jokowi dan betapa terbelakangnya cara bergama sebagian masyarakat di Indonesia. (Baca: Ulama Sebaiknya Jujur Menyatakan Hadis Tidak Pasti Benar)

Gara-garanya adalah acara berbuka puasa bersama di istana negara (18/6) yang dihadiri ratusan anak yatim. Jokowi ketika itu diketahui minum sambil berdiri dan minum dengan menggunakan tangan kiri.

Ini segera menjadi bahan cercaan. Media online simpatisan Partai Keadilan Sejahtera, pkspiyungan, mengangkat berita itu pada 20 Juni dengan judul, “Buka Bersama Anak Yatim Jokowi Ajarkan Minum Berdiri Pakai tangan Kiri”.

Berbagai komentator di media sosial mempersoalkan betapa buruknya perilaku Jokowi yang memberi contoh yang bertentangan dengan ajaran Islam kepada anak-anak.  Dengan perilaku itu, sebagian pihak menganggap Jokowi tidak layak menjadi pemimpin Indonesia.

Di manakah pangkal persoalannya?

Masalahnya memang masih banyak umat Islam yang menganggap bahwa Allah mengharamkan umat Islam untuk makan dan minum sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri.

Biasanya orang-orang ini akan merujuk pada hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad memang pernah melarang perilaku semacam itu. Salah satu hadis yang diriwayatkan Muslim misalnya menunjukkan Nabi Muhammad pernah mengatakan: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil bediri. Apabila dia lupa, maka hendaknya dia muntahkan”.

Dalam hadits lain, Nabi kabarnya pernah berkata: “Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika kalian minum maka minumlah dengan tangan kanannya, karena setan makan dan minum  dengan tangan kirinya”.

Bagi sebagian ulama, hadis-hadis semacam ini harus diikuti karena masuk dalam kelompok hadis yang sahih, alias valid.

Namun, hadis semacam ini sebenarnya juga sudah banyak dibantah ulama lain karena sejumlah argumen. Argumen pertama adalah ternyata ada hadis-hadis sahih lain yang menunjukkan bahwa di kesempatan lain, Nabi terlihat makan dan minum sambil berdiri. Jadi ada kontradiksi antara berbagaii hadis yang sama-sama sahih.

Argumen kedua adalah hadis semacam ini tak perlu diikuti karena alasan rasional: tidak masuk di akal! Apa urusannya Allah melarang orang makan sambil berdiri atau pakai tangan kiri? Membayangkan bahwa ada setan yang makan dengan tangan kiri juga sama absurdnya.  Dan kalau setan memang makan dengan tangan kiri apakah dengan begitu bila manusia makan dengan tangan kiri itu berarti mengikuti setan. Lalu kelakuan setan apa lagi yang tidak boleh ditiru?

Rangkaian pertanyaan semacam itu menjadi mengemuka karena pelarangan tentang perilaku sederhana semacam itu memang nampak tidak masuk di akal. Beragama menjadi nampak sangat rumit dan sangat tidak rasional.

Dalam hal ini, harus diingat bahwa mayoritas hadis memang tidak ditulis pada masa Nabi masih hidup. Nabi Muhammad bahkan pernah melarang sahabat yang berusaha mengumpulkan catatan tentang ucapan dan perbuatannya ketika ia masih hidup.  Rasanya sejak awal, Nabi sudah khawatir bahwa apa yang dikatakan dan dilakukannya akan digunakan secara berlebihan oleh para pengikutnya sebagai hukum yang  mengikat.

Akibatnya, apa yang disebut sebagai kumpulan hadis baru dilakukan beratus tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Penulisan hadis merujuk ada apa yang diingat orang. Dengan demikian, tingkat kesahihannya memang sangat beragam. Bahkan sebuah hadis yang menurut kesepakatan ulama di masanya nampak sebagai ‘sahih’, bisa saja kalau ditinjau ulang nampak mengandung banyak kelemahan.

Hadis soal cara makan dan minum yang benar adalah contoh  rujukan yang nampak sangat tidak masuk di akal. Mungkin adalah benar makan sambil duduk adalah lebih sehat daripada makan berdiri, namun tentu saja terasa tidak masuk di akal bila makan berdiri dianggap sebagai tindakan yang akan membawa umat Islam ke dalam neraka.

makan dengan tangan kiriBegitu juga dengan penggunaan tangan kiri. Mungkin saja mayoritas masyarakat di dunia memang menggunakan tangan kanan untuk makan, menulis atau berjabat tangan; tapi sangat tidak masuk di akal, bila tangan kiri – yang juga diciptakan Allah – adalah bagian tubuh yang tidak boleh digunakan untuk kegiatan terhormat. Ini adalah soal kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil. Itu saja.

Namun tentu saja kita tak perlu menganggap bahwa serangan terhadap adab makan dan minum Jokowi ini sepenuhnya didasarkan pada keterbelakangan berpikir  saja. Bila dilihat siapa yang mengeritiknya, bisa dipahami bahwa serangan ini juga dilandasi upaya delegitimasi pada Jokowi oleh para pembenci yang tetap tak terima bahwa Jokowi sudah menjadi presiden di Indonesia.

Celakanya, upaya penyebaran kebencian semacam ini akan terus memperuncing ketagangan keagamaan dan sekaligus membuat umat Islam Indonesia semakin terbelakang.

Mudah-mudahan Allah melindungi Indonesia.

*Ade Armando adalah Pemimpin Redaksi Madina Online dan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

Komentar