Home » Wacana » Perspektif » Empat (Kemungkinan) Alasan Ade Armando Menuding Aksi KAMMI Kampanye Rasis
Foto: Ahmad Fauzan Sazli www.kabarkampus.com

Empat (Kemungkinan) Alasan Ade Armando Menuding Aksi KAMMI Kampanye Rasis (Jawaban atas tulisan Ade Armando Empat (Kemungkinan) Alasan di Belakang Kampanye Rasis KAMMI)

Oleh: Arif Susanto (Penggiat Forum Kultural KAMMI)

Sungguh menarik membaca tulisan Ade Armando di laman Madina Online di mana beliau sendiri adalah pimpinan redaksinya. Dengan berbagai kontroversi pernyataan yang diungkap Ade Armando selama ini rasanya tidak kaget bila Ade Armando terburu-buru menjustifikasi gerakan yang diusung Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sejak 21 Mei 2015 adalah gerakan rasisme. Merespon tulisanEmpat (Kemungkinan) Alasan di Belakang Kampanye Rasis KAMMI yang dimuat di Madina Online sejak 1 Juni 2015 kemarin, saya sebagai salah satu penggiat KAMMI perlu memberikan pandangan “Empat (Kemungkinan) Alasan Ade Armando Menuding Kampanye KAMMI Rasis.”

Kemungkinan pertama, Ade Armando gagal memahami substansi isu ‘Lindungi Pribumi’ yang diangkap KAMMI. Dalam beragam pemberitaan dan rilis sangat jelas bahwa poin penting yang dipersoalkan KAMMI adalah adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang kini dialami pribumi Indonesia. Sementara rasisme dalam makna umum adalah adanya superioritas suatu ras sehingga merasa berhak mengatur hingga membantai (genosida) terhadap ras lain. Sangat jelas bahwa tema keadilan dan ketimpangan ekonomi  yang dialami pribumi Indonesia berbeda sekali dengan tema rasisme yang dibawa Nazi, misalnya.

Ade Armando terlalu terburu-buru mengatakan bahwa pembicaraan pribumi adalah rasisme. Ini tuduhan yang mengada-ada dan tidak sesuai dengan kiprah akademis yang Ade Armando sandang. Pribumi adalah kata yang biasa-biasa saja. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan ‘pribumi’ sebagai ‘penduduk asli.’ Maka pribumi Indonesia adalah penduduk asli Indonesia. Tidak ada unsur superioritas atau kehendak mengatur ras lain dalam definisi kata pribumi.

‘Pribumi’ mendefinisikan bahwa ada sekelompok manusia –yang kita adalah– penduduk asli Indonesia. Semua suku-suku Nusantara yang membentang dari Timur Papua hingga Barat Aceh adalah pribumi. Ini definisi yang lumrah saja dan tidak ada hubungannya dengan rasisme. Sama seperti suku Indian di India, etnis Tionghoa di Cina, Aborigin di Australia, penduduk Afrika, atau penduduk Eropa. Mereka adalah pribumi di negara atau wilayah mereka masing-masing. Adakah itu soal rasisme?

Semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam Pancasila menyiratkan adanya kebhinekaan atau perbedaan dalam masyarakat kita. Kebhinekaan adalah keniscayaan. Berbeda itu tidak mesti berhubungan dengan permusuhan atau kekerasan, tapi bisa juga hidup harmonis. Maka kategorisasi atau penyebutan suku-suku di Indonesia seperti suku Jawa, Batak, Bugis, Asmat dan lain sebagainya adalah lumrah dan biasa saja. Apakah itu rasis dan sumber konflik? Indonesia telah membuktikan bisa bersatu dalam kebhinekaan. Jadi tidak ada yang perlu dirisaukan dengan perbedaan atau kategorisasi itu.

Demikian pula dalam kata pribumi atau pendatang. Itu hanya kategorisasi atau pembeda yang lumrah saja. Bahwa suku Jawa ketika merantau ke tanah Minang akan merasa dirinya pendatang dan menghormati suku Minang yang merupakan pribumi atau penduduk asli di ranah Minang. Demikian pula kita seluruh suku-suku yang ada di Tanah Air ini adalah pribumi Indonesia dan yang datang dari Eropa, Arab, Cina, Afrika dan lain-lain adalah pendatang di Tanah Air Indonesia. Demikian pula kalau kita orang Indonesia merantau ke Eropa, Amerika, Afrika, Arab, Cina atau ke manapun akan disebut pendatang. Jadi ini hanya kategorisasi yang tidak ada hubungannya dengan konflik, rasisme atau kekerasan.

Bila trauma kerusuhan 1998 di mana ada etnis Cina yang menjadi sasaran kemarahan pribumi Indonesia dijadikan pijakan, maka kita juga harus jujur mengatakan itu sangat berbeda dengan rasisme Nazi di Jerman. Kerusuhan etnis berbeda dengan rasisme. Kita juga harus melihat sebab kerusuhan 1998 ada latar belakang ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi yang menjadi pemicunya. Bahwa ada kabar konspirasi di mana ada pihak yang sengaja memprovokasi agar timbul konflik pribumi dan etnis Cina itu soal khusus. Namun titik tekannya adalah rasisme adalah superioritas dan kehendak mengatur ras lain. Sementara luapan kemarahan pribumi tahun 1998 adalah ekspresi ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi. Jadi betapa masih murah hatinya pribumi Indonesia karena tema yang diangkat ‘hanya’ soal ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi.

Sungguh sangat jelas di sini, Ade Armando gagal memahami substansi persoalan yang KAMMI suarakan dalam tema ‘Lindungi Pribumi’ yang diusung sejak 21 Mei 2015 lalu. Dan sungguh disayangkan pula bila Ade Armando menggunakan poster abal-abal berwarna merah sebagai referensi padahal itu jelas-jelas bukan KAMMI yang membuat. Sebagai dosen di universitas ternama mestinya Ade Armando lebih bijak melihat substansi persoalan sesungguhnya yang disuarakan oleh KAMMI.

Alasan kedua yang mungkin menjadi sebab Ade Armando terburu-buru menjustifikasi aksi ‘Lindungi Pribumi’ yang diusung KAMMI ini adalah adanya rasa tidak suka dari Ade Armando bila pribumi Indonesia kembali bersatu dan memperjuangkan hak-haknya. Kemungkinan kedua ini muncul karena bila kita melihat tulisan Ade Armando sangat terlihat bahwa ia lebih suka menyamaratakan pribumi dan pendatang. Yang artinya tidak ada hak dan keistimewaan kita sebagai pribumi Indonesia dibanding mereka para pendatang.

Dengan menghilangkan kata pribumi, maka para pendatang juga merasa diri mereka memiliki dan bisa menguasai apapun yang ada di Tanah Air Indonesia. Pembusukan dan penghapusan kata ‘Pribumi’ juga bisa menimbulkan tindakan ekstrem dari para pendatang yang merasa berhak mengusir bahkan melenyapkan (genosida) siapapun di tanah yang mereka rasa dan klaim miliki itu.

Hal ini telah terjadi di Amerika dan Australia di mana puluhan juta pribumi Amerika (Indian) dan pribumi Australia (Aborigin) mengalami sejarah kelam karena mereka dilenyapkan oleh para pendatang. Mungkin saja ini terjadi pada setiap suku-suku pribumi Indonesia. Dan ini dimulai dari membusukkan dan melenyapkan kata ‘Pribumi’ sehingga mereka para pendatang merasa memiliki dan menguasai Tanah Air kita, di mana kita pribumi Indonesia merasa asing dan tidak lagi bangga dan mencintai Tanah Air kita.

Maka patutlah kita membuka pikiran bahwa apa yang dikampanyekan Ade Armando membawa potensi buruk bagi suku-suku dan masyarakat pribumi Indonesia. Karena bila pribumi Indonesia bangkit, bersatu, dan mengumpulkan segenap potensi yang dimiliki, maka itu akan mengganggu agenda kepentingan Asing dan Aseng yang dengan rakusnya ingin mengeruk kekayaan Tanah Air kita. Mereka ingin memiliki dan menguasai Tanah Air Indonesia dengan menyingkirkan dan melenyapkan kita pribumi Indonesia. Bila belajar dari strategi Penjajahan tempo dulu, mereka kerapkali memanfaatkan orang-orang pribumi yang bermental terjajah, tidak memiliki nasionalisme, hidup hanya untuk kesenangan pikiran dan materi semata, dan tidak peduli pada nasib sesama pribumi. Apakah Ade Armando tergolong orang seperti itu? Wallahu alam.

Alasan ketiga yang mungkin menjadi sebab Ade Armando terburu-buru menjustifikasi aksi ‘Lindungi Pribumi’ yang diusung KAMMI ini adalah karena ia tidak ingin KAMMI terus mengkritisi kebijakan Jokowi. Ade Armando dikenal loyalis Jokowi. Ini yang membuat dia terburu-buru memberikan label sebusuk-busuknya pada KAMMI agar KAMMI berhenti mengkritik Jokowi dan tidak disukai masyarakat. Sebagai pakar komunikasi politik UI, Ade Armando tentu sangat paham isu sensitif yang bisa menimbulkan kebencian masyarakat pada KAMMI sehingga KAMMI berhenti mengkritik Jokowi. Sayangnya pemilihan kata ‘Rasis’ pada isu ‘Lindungi Pribumi’ terlalu terburu-buru dan tidak relevan.

Masyarakat sudah sangat paham bahwa Jokowi saat ini sangat setia pada kepentingan Cina. Ini bukan dugaan karena Jokowi sendiri yang mempertontonkan kemesraannya dengan Cina. Apakah kerjasama dengan Cina itu salah? Kerjasama itu tidak masalah. Yang bermasalah adalah bila kerjasama hanya menjadi kedok normatif bagi Jokowi untuk melanggengkan kepentingan Cina di Indonesia di satu sisi, namun di sisi lain justu mengabaikan dan merugikan pribumi Indonesia. Bukankah tugas presiden dan pemerintah adalah melindungi tumpah darah Indonesia? Bila Presiden Soeharto hanya memberikan keleluasaan ekonomi pada pendatang Cina, maka kini mereka merangsek pada sektor politik bahkan kini masuk babak ekspansi populasi manusia. Kita akan semakin banyak melihat orang-orang Cina yang berkeliaran di lingkungan kita. Dan sangat mungkin etnis Cina ini menganggap diri mereka tuan dan kita pribumi adalah benalu dari kepentingan ekonomi dan politik yang mereka jalankan.

Karena keinginan membela Jokowi habis-habisan, Ade Armando juga serampangan menilai bahwa aksi-aksi mahasiswa berhubungan dengan Pilpres dan partai tertentu. Ini bertentangan dengan nalar idealisme mahasiswa yang dari zaman ke zaman yang senantiasa komitmen pada idealisme dan kepentingan Rakyat (pribumi). Ini juga merendahkan derajat mahasiswa seolah mahasiswa adalah pelacur politik yang hanya bisa menjadi antek-antek kepentingan politik para politisi. Mungkin ini pengalaman pribadi Ade Armando saat mahasiswa dahulu menjadi aktivis hanya untuk tujuan politik praktis. Hal ini kemudian digeneralisasi seolah setiap mahasiswa melakukan apa yang dia lakukan. Padahal mahasiswa, dalam kondisi apapun, masih mengedepankan nalar idealisme yang sehat. Mahasiswa sadar diri mereka adalah harapan bangsa sehingga tidak mungkin mahasiswa menjadi loyalis buta seperti loyalnya Ade Armando pada Jokowi.

Alasan keempat yang mungkin menjadi sebab Ade Armando menjustifikasi aksi ‘Lindungi Pribumi’ yang diusung KAMMI ini adalah ‘Kampanye Rasis’ sangat mungkin disebabkan Ade Armando lebih berpihak pada kepentingan Cina daripada kepentingan pribumi. Dalam tulisannya, Ade Armando menuntut pribumi untuk pahami Cina dan lakukan penyatuan etnis dengan mereka. Cina dianggap aset bagi kemajuan ekonomi pribumi. Hal ini akan menjadi bumerang karena dalam logika berpikir ini Ade Armando ingin mengatakan bahwa pribumi dan pendatang Cina disatukan sehingga tidak ada lagi istilah pribumi. Ini membuat pendatang bersikap seperti pribumi dalam menguasai aset dan bisnis ekonomi hingga budaya. Kita ‘Pribumi’ diminta mengalah dan melebur, sementara adakah himbauan Ade Armando kepada pendatang Cina untuk menghormati dan menghargai hak dan kepentingan pribumi sebagai penduduk asli Indonesia?

Keempat alasan di atas hanyalah kemungkinan mengapa Ade Armando menuding aksi KAMMI adalah kampanye rasis. Benar atau tidak saya kembalikan kepada pembaca. Namun yang terpenting, dalam menghadapi babak Pemerintahan Jokowi ini, jangan sampai kita pribumi Indonesia menjadi budak di negeri sendiri atau bahkan terusir dan terenyahkan di Tanah Air sendiri. Kita tidak perlu phobia pada pendatang, namun kita tetap harus waspada bahwa seringkali ada maksud dibalik kedatangan mereka. Apakah mereka para pendatang berpikir tulus sama seperti kita yang tulus menyambut dan menerima kedatangan mereka selama ini? Nyatanya gejala di waktu belakangan menunjukkan tidak sepenuhnya demikian. Konflik Asia Pasifik, kontestasi ekonomi Amerika dan Cina, dan gejala global lainnya membuat Indonesia akan terbawa konflik dan kepentingan mereka.

Maka yang lebih utama adalah kita menyatukan diri kita sebagai anak Bangsa Indonesia, seperti HOS Tjokroaminoto dulu menyatukan kita dalam definisi yang sama yakni Pribumi. Pribumi Indonesia ialah semua suku-suku yang ada di Nusantara dari Timur Papua hingga Barat Aceh. Setiap suku-suku kita harus membangun kesadaran dan solidaritas sebagai pribumi Indonesia. Menyatukan jiwa dan potensi kita untuk menyelamatkan dan mensejahterakan Indonesia. Dahulu kita pribumi Indonesia pernah bersatu dan memiliki cita-cita kemerdekaan Indonesia, sehingga kita berjuang dengan keringat, harta, darah, dan air mata demi Indonesia merdeka dan masa depan gemilang bagi anak-cucu kita.

Kini tugas kita adalah melanjutkan perjuangan mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah dibangun dengan keringat, darah, dan air mata pendahulu kita. Persatuan antara kita pribumi Indonesia adalah modal dan fondasi bagi perjuangan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Musuh kita cuma satu: mereka yang menghalangi atau merusak upaya terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia. []

Komentar