Home » Wacana » Perspektif » Para Ulama pun Membantah bahwa Injil adalah Kitab Yang Bohong dan Menyesatkan

Para Ulama pun Membantah bahwa Injil adalah Kitab Yang Bohong dan Menyesatkan

Selama ini, sejumlah pemuka Islam tertentu seringkali menuduh kitab suci umat Kristen dan Yahudi – yakni Injil dan Taurat – sebagai  kitab yang penuh kebohongan dan menyesatkan. Dengan semangat  itu pula, para pemuka Islam tersebut mendorong umat Islam agat tak menjalin hubungan harmonis  dengan kedua umat yang dianggap ‘tersesat’ itu.

Padahal, kalau saja para provokator itu bersedia mempelajari diskusi mendalam antara para ilmuwan dan membaca kitab-kitab rujukan keagamaan, cara pandang semacam itu jauh dari kebenaran.

Menurut banyak ilmuwan Islam, bisa jadi memang ada perubahan teks Injil dan Taurat dari versi aslinya, tapi perubahan yang terjadi bukanlah ‘kebohongan dan kesesatan’.

Percaya kepada kitab-kitab suci sebelum Al-Quran sebenarnya adalah satu dari sekian hal yang wajib diimani komunitas Muslim. Sebagian ulama hanya membatasi iman pada dua kitab suci seperti Taurat dan Injil (alkitab), tapi sebagian lain memasukkan kitab suci di luar Taurat dan Injil.

Kewajiban mengimani kitab-kitab suci sebelum Al-Quran didasarkan pada sejumlah ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa Al-Quran itu membawa kebenaran yang sama dengan kitab-kitab sebelumnya. Di sejumlah ayat yang lain, Al-Quran bahkan menyebut dirinya pembenar dan penjaga kitab suci sebelumnya.

Memang, selain bersikap afirmatif terhadap kitab-kitab suci sebelumnya, ada pula ayat-ayat Al-Quran yang bersikap mempertanyakan isi  kitab-kitab terdahulu, khususnya kepada Taurat dan Injil.

Namun ini pun harus dipahami sesuai konteks kelahiran ayat-ayat Al-Quran itu mengingat interaksi Nabi Muhammad dan komunitas Muslim dengan komunitas Kristen dan Yahudi di Madinah sering kali naik-turun. Kadang harmonis, kadang berpolemik.

Misalnya saja, kritik Al-Quran yang sering dikutip untuk menunjukkan alkitab telah diselewengkan (tahrif), adalah al-Baqarah (2) ayat 75; al-Nisa (4) ayat 46; al-Ma’idah (5) ayat 13; dan al-Ma’idah (5) ayat 41.  Ternyata, menurut para analis, empat ayat ini disinyalir muncul kala hubungan antara Nabi dan komunitas Muslim dengan komunitas Yahudi dan Kristen tengah berpolemik.

Sekedar catatan, ada beberapa kata kunci lain dalam Al-Quran yang bernada serupa dengan tahrif, yaitu tabdil (mengganti), kitman(menyembunyikan), labs (merusak), layy (memutar-balik), dan nisyan (melupakan). Namun, kata-kata tadi memiliki titik tekannya masing-masing dalam Al-Quran.

Sayangnya, dalam berbagai kesempatan ayat-ayat Al-Quran itu kerap disalahgunakan kelompok Muslim konservatif, bahkan Muslim radikal, sebagai senjata untuk merendahkan atau mendelegitimasi keimanan pihak lain.

Tanpa mempertimbangkan konteks kemunculannya, mereka mengutip ayat-ayat Al-Quran itu begitu saja untuk menyerang keyakinan komunitas Yahudi maupun Kristen. Hal ini pun bisa disaksikan di Indonesia.

Terkait ayat tentang tahrif, ulama tafsir punya pandangan yang beragam. Ada yang berpandangan penyelewengan  itu hanya di level pemaknaan, bukan pada teks; ada yang berpandangan penyelewengan  itu di level teks dan pemaknaannya sekaligus; serta ada yang berpandangan penyelewengan  itu di level teks dan pemaknaannya, tapi tak semuanya.

Perbedaan pandangan ini misalnya dirangkum secara sangat baik oleh Mun’im Sirry dalam bukunya, Polemik Kitab Suci (Gramedia, 2013). Dalam buku itu, ia memberi sejumlah contoh.

Mufasir modern asal Suriah, Jamal al-Din al-Qasimi, misalnya, berpendapat bahwa yang diselewengkan adalah penafsiran atas Taurat dan Injil, sementara teksnya masih bisa diyakini kebenarannya. Untuk mengukuhkan pandangannya itu, al-Qasimi mengutip sejumlah mufasir klasik terkemuka, seperti Ibn Katsir dan Ibn Jarir al-Thabari.

Al-Qasimi menunjukkan bahwa Ibn Katsir menggunakan ‘yuharrifunahu’ dalam arti ‘mereka menafsirkannya (kalam ilahi) berbeda dengan makna yang sebenarnya’, sementara Tabari menyebutkan bahwa ‘yuharrifunahu’ berarti mereka menukar makna dan penafsirannya, dan mengubahnya.

Al-Qasimi juga menyandarkan pandangannya kepada sarjana Muslim abad pertengahan, Ibn Taimiyah. Sebelum memulai pendapatnya, Ibn Taimiyah –ulama yang fatwa-fatwanya selalu menjadi rujukan kelompok konservatif bahkan radikal—mendedah sikap ulama yang secara umum terbagi menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan: sebagian berpandangan tak ada lagi teks dalam alkitab yang bisa dipertanggungjawabkan keasliannya, dan sebagian lain berpandangan sebaliknya. Mereka yang berpandangan sebaliknya itu merujuk Al-Quran, “Katakanlah: Bawalah Taurat, lalu bacalah jika kamu orang-orang yang benar” (Al Imron: 93).

Dari situ Ibn Taimiyah kemudian berpendapat, “Pengubahan yang terjadi hanya sedikit, dan sebagian besar bagian kitab suci terdahulu tidak diubah.”

Kolega al-Qasimi dari Mesir, Rasyid Rida, berpendapat bahwa alkitab telah diselewengkan. Menurut Rida frase “yuharrifuna al-kalimah ‘an mawadi’ihi” bisa dimaknai sebagai penyelewengan tekstual dan penyelewengan interpretasi. Namun pendapat Rida itu berseberangan dengan pendapat gurunya, Muhammad Abduh, mantan Syeikh Universitas Al-Azhar, yang menolak pandangan adanya penyelewengan dalam alkitab.

Pendapat Rida itu tampaknya tak lepas dari pengaruh situasi polemis di Mesir saat itu. Rida menulis banyak artikel sebagai respon terhadap gerakan misionaris di Mesir yang dimuat dalam jurnalnya, al-Manar. Artikel-artikel itu kemudian dikumpulkan dalam satu buku yang berjudul Syubahat al-Nashara wa Hujaj al-Islam (Kritik Kristen dan Argumentasi Islam). NEXT PAGE

Komentar