Home » Wacana » Perspektif » Kurban, Bid’ah, dan Peran Nabi
Mungkinkah Kurban diganti dengan uang?

Kurban, Bid’ah, dan Peran Nabi

Melakukan suatu tindakan yang diniatkan sebagai ibadah, meski tidak pernah dipraktikkan Nabi Muhammad sebelumnya, tidak selamanya salah. Sebab, di luar ibadah yang sudah diatur sedemikian rigid tata-tertibnya, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, umat Islam diberi keleluasaan untuk melakukan sesuatu sepanjang itu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Prinsip inilah yang kemudian membuat Islam mampu beradaptasi di setiap ruang dan waktu.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, kita kerap menemukan sekelompok umat Islam (baca: kaum Wahabi) yang berpendapat bahwa melakukan suatu tindakan yang tidak pernah dipraktikkan Nabi, meskipun itu diniatkan sebagai ibadah, adalah bid’ah. Karena dipandang bid’ah, maka tindakan itu sudah pasti mereka tolak. Kelompok ini pun tidak sungkan melabeli umat Islam yang tetap melakukannya sebagai ahlul bid’ah, musyrik, dan idiom pejoratif lainnya.

Yang mendasari pandangan kelompok ini adalah keyakinan bahwa periode Nabi Muhammad dan para sahabat adalah sebaik-baiknya periode dalam sejarah Islam. Sebenarnya, keyakinan ini juga diimani umat Islam secara umum.

Bedanya, bagi kelompok ini menjadi muslim yang baik hanya bisa diraih dengan cara meniru seluruh tindakan nabi dan para sahabat yang terikat dalam konteks tanah Arab di abad ke-7 M secara bulat-bulat. Sementara bagi umat Islam yang progresif, yang lebih tepat adalah dengan menggali moral-etis dari tindakan para salaf al-salih itu dan menerapkannya sesuai dengan kondisi kekinian dan kedisinian.

Jika diperhatikan, pandangan kaum Wahabi yang hendak meniru bulat-bulat tindakan para salaf al-salih, terselip pengandaian bahwa seolah-olah para sahabat adalah kumpulan manusia dengan cara pandang yang sama karena di bawah bimbingan Nabi. Padahal ada banyak riwayat yang menyebutkan bahwa di antara sahabat muncul perbedaan pandangan.

Tulisan Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub, yang berjudul “Berkurban Diganti Uang” bisa menjadi contoh bagaimana sahabat melakukan tindakan yang tidak pernah dipraktikkan Nabi terkait kurban. Sahabat yang melakukan itu bukan sahabat sembarangan, melainkan dua sahabat yang penting dalam sejarah Islam, yaitu istri nabi, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddhiq dan muazin nabi, Bilal ibn Rabah.

Artikel yang dimuat Harian Republika pada 2 November 2012 itu sebenarnya respon Ali dari pertanyaan jamaah yang ingin mengganti kurban dengan infak. Menurut jamaah itu, saat Idul Adha banyak orang fakir-miskin yang menerima daging kurban, kemudian mereka menjualnya dengan harga yang sangat murah. Bahkan, banyak di antara mereka tidak bisa memasak daging kurban itu karena tidak memiliki alat memasak, bahkan tidak memiliki rumah.

Atas dasar itu, lantas muncul pertanyaan: bukankah lebih bermanfaat apabila uang yang dipakai untuk membeli hewan kurban itu diberikan langsung kepada fakir-miskin?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, pakar ilmu hadis itu merujuk pendapat di kalangan ulama yang berhulu pada pendapat sahabat terkait hal itu seraya menimbang mana pendapat yang lebih unggul. Menurut Ali, para ulama tidak pernah membahas boleh-tidaknya mengganti kurban dengan uang untuk ibadah kurban berinfak dengan uang seharga binatang kurban, karena hukumnya tidak wajib.

“Yang diperselisihkan para ulama adalah mana yang lebih afdal antara beribadah kurban dan menyembelih binatang ternak serta berinfak atau bersedekah dengan uang seharga binatang yang dikurbankan itu,” tulis Ali dalam artikelnya itu.

Dari penelusuran Ali, isu ini ternyata sudah pernah diperdebatkan di tengah para sahabat. Menurut Ali, secara garis besar, sahabat bisa dibagi menjadi dua aliran, yaitu aliran tekstual dan aliran kontekstual. Aliran tekstual adalah mereka memahami teks-teks agama sesuai dengan yang tertulis dalam teks tersebut. Dan aliran kontekstual adalah mereka memahami agama dengan melihat kepada makna dan tujuan teks-teks tersebut.

Tokoh aliran tekstual, sambung Pimpinan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah itu, di kalangan sahabat adalah Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar dikenal kerap melakukan apa yang dilakukan Nabi, bahkan apabila Nabi berteduh di bawah pohon atau duduk di atas sebuah batu. Adapun tokoh aliran kontekstual adalah istri nabi, Aisyah, dan muazin nabi, Bilal bin Rabah.

“Dalam masalah kurban diganti dengan uang, Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Al-Mughni (XIII/123), meriwayatkan pendapat Ummul Mukminin Aisyah yang mengatakan, ‘Aku lebih senang menyedekahkan cincinku ini daripada menyembelih seribu binatang sebagai hadiah bagi warga Makkah,” tulis Ali, mengutip. “Sementara, Bilal bin Rabah mengatakan, ‘Aku tidak peduli kendati kurbanku hanya seekor ayam jantan karena aku lebih menyukai untuk menginfakkan dana kurban itu kepada anak yatim yang kelaparan daripada menyembelih binatang”.

Pendapat Aisyah dan Bilal itu kemudian diikuti ulama dari kalangan Tabiin, seperti al-Sya’bi, dan murid Imam al-Syafi’i, Imam Abu Tsaur. Sebaliknya, catat Ali, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Qudamah dari Mazhab Hanbali cenderung mengikuti aliran tekstual.

Kata mereka, seperti dinukil Ali, “Seandainya bersedekah atau berinfak dengan uang seharga binatang kurban itu lebih utama daripada menyembelih binatang kurban itu sendiri, tentulah Nabi SAW dan para khalifah tidak menyembelih kurban, tetapi berinfak dengan uang tersebut.”

Lalu, mana dari dua pendapat di antara sahabat di atas yang dinilai Ali lebih unggul? Silahkan baca tulisan itu di sini: Kurban Diganti Uang

Yang menarik bagi saya dari perdebatan di antara sesama sabahat, entah dalam kasus di atas atau yang lain, adalah iklim sosial yang sangat kondusif di mana para sahabat hidup. Iklim itu mendorong para sahabat untuk berpendapat dan mengajukannya ke khalayak secara bebas, tanpa terkungkung.

Tanpa iklim intelektual yang kondusif seperti itu, tidak mungkin ummul mukminin dan muazin nabi berani menyampaikan pendapat yang berbeda secara tajam dengan apa yang pernah dilakukan nabi dan empat penggantinya itu. Memang Aisyah dan Bilal punya hubungan emosional yang dekat dengan nabi, tapi status itu tidak berarti apa-apa jika pendapat keduanya dituduh bid’ah dan tuduhan negatif lainnya.

Tentu, iklim intelektual yang kondusif saat itu tidak lepas dari peran sentral nabi. Meski nabi diangkat sebagai pemimpin tertinggi komunitas Madinah dan sosok yang diyakini selalu dituntun wahyu, namun dalam kitab-kitab sirah disebutkan nabi memberikan ruang yang sangat luas kepada para sahabat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait kepentingan komunitas di Madinah.

Karena itu, para sahabat bisa leluasa mengajukan usulan-usulan yang dianggapnya penting saat bermusyarawah untuk merespons kebutuhan masyarakat Madinah. Usulan yang masuk dan didengarkan nabi tidak hanya terkait urusan-urusan besar, seperti diplomasi maupun perang, tapi juga untuk urusan ‘sepele’, seperti pembuatan mimbar yang terinspirasi dari masyarakat Kristen Suriah.

Tak heran bila musyawarah antara nabi dengan para sahabatnya sangat hidup. Meski, konsekuensinya, kadang kala usulan nabi terbantahkan dengan usulan sahabat yang lebih unggul.[]

Komentar