Home » Wacana » Perspektif » Kepicikan Wakil KAMMI yang Menganggap Kaum Tionghoa akan Menghabisi Kaum Pribumi
Foto: www.kabarkampus.com

Kepicikan Wakil KAMMI yang Menganggap Kaum Tionghoa akan Menghabisi Kaum Pribumi

Oleh Ade Armando*

Terus terang, kalau yang dijadikan indikator adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), kita perlu kuatir dengan kualitas kaum aktivis muslim muda di kampus-kampus. Kesimpulan ini saya dasarkan pada tulisan dari seorang aktivis KAMMI, Arif Susanto yang sudah dimuat di Madina Online (Empat [Kemungkinan] Alasan Ade Armando Menuding Aksi Kammi Kampanye-Rasis). Tulisan itu ia buat sebagai tanggapan  dan kritik terhadap tulisan saya pada 31 Mei 2015 yang mengecam aksi anti-Tionghoa yang dilakukan KAMMI. (Empat [Kemungkinan] Alasan di Belakang Kampanye Rasis KAMMI)

Tulisan saya merupakan kecaman terhadap aksi KAMMI pada Hari Kebangkitan Nasional yang menyuarakan perjuangan kaum pribumi melawan kaum non-pribumi. Pada peringatan itu, KAMMI melalui pernyataan terbuka mendesak pemerintahan Jokowi untuk ‘melindungi Rakyat Pribumi Indonesia dari Dominasi dan Ketamakan Asing-Aseng’. Lebih jauh lagi KAMMI mengajak Rakyat Indonesia untuk bersama-sama melakukan Revolusi bila Pemerintahan Jokowi-JK terbukti semakin berpihak pada Asing-Aseng. (baca juga: Mengapa KAMMI Memandang Kelompok Tionghoa sebagai Musuh)

Secara jelas, KAMMI mengarahkan sasarannya pada kaum Tionghoa dan pada Pemerintah Jokowi yang dianggap melayani kaum Tionghoa. Saya mencap kampanye itu sebagai ‘rasis’. Menurut saya, untuk membangun Indonesia saat ini, sudah saatnya kita meninggalkan kecurigaan ‘pribumi’ versus ‘non-pribumi’.

Kecaman itu rupanya tidak bisa diterima oleh Arif yang menganggap saya sepenuhnya gagal memahami substansi kampanye itu. Ia bahkan menganggap saya merupakan bagian dari konspirasi Tionghoa untuk menghancurkan kaum pribumi.

Dalam tulisan yang dikirim ke redaksi Madina, Arif hanya memperkenalkan diri sebagai pegiat kultural KAMMI. Namun penelusuran melalui internet menunjukkan Arif adalah aktivis kunci di KAMMI. Tulisan yang dikirim ke Madina sebenarnya sudah dimuat di Kompasiana, forum untuk jurnalis warga di website Kompas, pada 9 Juni 2015. Di Kompasiana, hampir semua tulisan Arif mempromosikan KAMMI.

Di berbagai pemberitaan, Arif juga muncul sebagai perwakilan KAMMI. Identitasnya ditulis sebagai Wasekjen PP KAMMI yang menjadi koordinator Gerakan #UntukIndonesia.

Jadi, di KAMMI, Arif bukan sembarang anggota. Dia menempati posisi penting. Karena itu pandangan-pandangannya bisa dibaca sebagai mewakili cara pandang KAMMI.

Masalahnya, kalau pandangan Arif bisa dilihat sebagai representasi cara pandang KAMMI, ada persoalan serius dengan kaum muda Islam yang ada di kampus-kampus kita.

Saya tidak ingin membicarakan tulisan Arif bagian per bagian. Anda tinggal membacanya sendiri untuk menemukan kecacatan argumen dia.

Namun yang terpenting bagi saya adalah cara pandang dia mengenai apa yang disebutnya sebagai ‘pribumi’ berhadapan dengan ‘pendatang’. Sederhananya, dia bicara soal ‘non-Tionghoa’ versus ‘Tionghoa’.

Dalam tulisannya Arif menulis: “Semua suku-suku Nusantara yang membentang dari Timur Papua hingga Barat Aceh adalah pribumi”.  Dengan kata lain, yang bukan suku-suku Nusantara adalah pendatang. Dalam hal ini, tentu saja kaum Arab seharusnya masuk dalam kategori ‘pendatang’, tapi jelas Arif tidak bicara tentang mereka, melainkan kaum Tionghoa.

Arif percaya sekali bahwa di Indonesia ini ada ketidakadilan terhadap kaum pribumi (non-Tionghoa). Arif percaya bahwa ada upaya terencana oleh kaum Tionghoa untuk menguasai Indonesia dan menyingkirkan kaum pribumi dari bumi Indonesia. Menurut Arif, setelah menguasai ekonomi, kini kaum Tionghoa berusaha menguasai politik. Bagi Arif, Jokowi adalah presiden yang hanya menjadi boneka untuk melayani kepentingan kaum Tionghoa.

Menurut Arif, ini bukan sesuatu yang unik di dunia. Arif mengingatkan bagaimana kaum pribumi di Amerika (yakni kaum Indian) dan di Australia (yaitu kaum Aborigin) ditindas dan dilenyapkan oleh kaum pendatang (yaitu kaum kulit putih dari Eropa). Karena itu, agar kasus kaum Indian dan Aborigin tidak terulang di Indonesia, seluruh masyarakat pribumi harus bersatu mempertahankan diri melawan kaum Tionghoa.

Dengan latar belakang kebencian terhadap kaum Tionghoa itu, Arif kemudian menuduh saya sengaja membuat tulisan kritis terhadap KAMMI karena saya “tidak suka bila pribumi Indonesia kembali bersatu dan memperjuangkan hak-haknya.”

Arif menulis: “Bila kita melihat tulisan Ade Armando sangat terlihat bahwa ia lebih suka menyamaratakan pribumi dan pendatang. Yang artinya tidak ada hak dan keistimewaan kita sebagai pribumi Indonesia dibanding mereka para pendatang.”

Menurut Arif, saya dengan sengaja berusaha menghilangkan dikotomi pribumi-pendatang agar “para pendatang merasa diri mereka memiliki dan bisa menguasai apapun yang ada di Tanah Air Indonesia.”

Tulis Arif lagi: “Pembusukan dan penghapusan kata ‘Pribumi’ juga bisa menimbulkan tindakan ekstrem dari para pendatang yang merasa berhak mengusir bahkan melenyapkan (genosida) siapapun di tanah yang mereka rasa dan klaim miliki itu.”

Untuk membangun kesan dramatis, Arif kemudian menulis: “Hal ini telah terjadi di Amerika dan Australia di mana puluhan juta pribumi Amerika (Indian) dan pribumi Australia (Aborigin) mengalami sejarah kelam karena mereka dilenyapkan oleh para pendatang. Mungkin saja ini terjadi pada setiap suku-suku pribumi Indonesia. Dan ini dimulai dari membusukkan dan melenyapkan kata ‘Pribumi’ sehingga mereka para pendatang merasa memiliki dan menguasai Tanah Air kita, di mana kita pribumi Indonesia merasa asing dan tidak lagi bangga dan mencintai Tanah Air kita.”

Jadi, menurutnya, kritik saya terhadap KAMMI adalah bagian dari upaya konspirasi menghancurkan Indonesia. Tulis Arif: “… bila pribumi Indonesia bangkit, bersatu, dan mengumpulkan segenap potensi yang dimiliki, maka itu akan mengganggu agenda kepentingan Asing dan Aseng yang dengan rakusnya ingin mengeruk kekayaan Tanah Air kita. Mereka ingin memiliki dan menguasai Tanah Air Indonesia dengan menyingkirkan dan melenyapkan kita pribumi Indonesia.”

Terus terang, saya heran, prihatin sekaligus takut dengan cara berpikir yang picik ini.

Bila Arif adalah representasi KAMMI, maka KAMMI adalah sebuah organisasi yang menakutkan karena kepicikan berpikirnya. Kalau kelompok mahasiswa Islam sudah sepicik ini dan mahasiswa adalah ‘pemandu jalan’ bagi masyarakat, kita bisa bayangkan betapa hancurnya umat Islam yang akan dipandu mereka.

Saya rasa semua ini dimulai dengan pengamatan mereka terhadap fakta bahwa kaum Tionghoa memiliki posisi dominan dalam ekonomi Indonesia. Dominasi itu memang tidak terbantahkan.

Namun argumen mereka mulai bermasalah ketika mereka menganggap dominasi itu terjadi karena ketidakadilan terhadap kaum ‘pribumi’. Untuk menuduh bahwa ada ketidakadilan, Arif seharusnya menunjukkan bukti tertentu bahwa ada perlakuan diskriminatif terhadap kaum pribumi.

Penjelasan tentang dominasi kaum Tionghoa dalam ekonomi Asia sudah banyak dibicarakan dalam berbagai kepustakaan. Di Indonesia, misalnya, memang pernah ada kebijakan pemerintah kolonial yang memperlemah para pedagang pribumi dan menguntungkan kaum Tionghoa dan Arab. Di masa pemerintahan Orde Baru, juga pernah ada langkah memarjinalkan pengusaha Islam yang pernah dianggap sebagai ancaman bagi Soeharto, namun itu tak berarti kemudian memberi tempat istimewa bagi pengusaha Tionghoa. Ketika itu, isu utamanya adalah agama, bukan ras.

Namun itu semua adalah soal latarbelakang sejarah. Untuk adilnya, kita bahkan harus menyebut bahwa di banyak penggalan sejarah politik Indonesia, pemerintah Indonesia secara spesifik mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang justru  mendiskriminasikan kaum Tionghoa. Baik pemerintah Soekarno dan Soeharto pernah mengeluarkan rangkaian kebijakan untuk menumbuhkan pengusaha pribumi. Bahkan, masyarakat perlu tahu, bahwa siswa Tionghoa dengan sengaja dibatasi kuotanya untuk masuk ke sekolah atau perguruan tinggi negeri.

Argumen keberhasilan bisnis kaum Tionghoa bisa bermacam-macam. Para ahli psikologi sosial, misalnya, melihat bahwa pengusaha Tionghoa menjadi dominan karena kerja keras dan kekompakan mereka. Kaum Tionghoa tahu bahwa mereka selalu dipandang sebagai bangsa asing dan mereka memiliki ikatan yang kuat dalam ke-Tionghoa-an mereka sehingga agar survive mereka harus kerja keras dan saling bantu. Ini adalah karakter yang seharusnya justru dipelajari dan ditiru oleh kaum non-Tionghoa.

Apapun penjelasannya, yang penting tidak benar bahwa pengusaha Tionghoa mendapat perlakuan istimewa di Indonesia saat ini sehingga mereka menempati posisi dominan di Indonesia. Bahwa Arif tidak tahu dan tidak paham ini tentu menunjukkan betapa miskinnya tradisi membaca dan berdiskusi di kalangan KAMMI ini.

Tapi yang lebih menakutkan dari Arif (dan mungkin KAMMI) adalah cara pandangnya bahwa kaum Tionghoa ini dengan terencana berniat menguasai dan menghabisi kaum pribumi. Arif bahkan menggunakan kata ‘genosida’. Arif menyamakan kaum Tionghoa dengan kaum kulit putih Eropa yang menghabisi masyarakat pribumi (native) Indian dan Aborigin.

Arif tampaknya percaya ada sebuah konspirasi Tionghoa untuk memusnahkan atau setidaknya memperbudak kaum pribumi. Dalam skenario Arif, kemenangan Jokowi adalah bagian dari rencana jahat itu. Begitu juga, keberhasilan Ahok menjadi Gubernur DKI mungkin dipandangnya sebagai pembuktian teori besar tersebut.

Dengan demikian, Arif sedang berusaha membuat orang percaya bahwa kaum Tionghoa adalah jahat dan musuh, sementara kaum pribumi adalah baik dan sekutu. Dengan kata lain yang menjadi faktor pembeda adalah ras.

Orang Jawa, orang Minang, orang Sunda, orang Batak, orang Papua, orang Minahasa, dan sebagainya adalah kaum pribumi dan karena itu adalah orang-orang baik yang harus bersekutu melawan kaum penjahat bernama kaum Tionghoa. Tidak penting, orang pribumi itu korup, maling, atau pembunuh. Selama mereka pribumi maka mereka adalah sekutu melawan musuh bersama, yakni kaum Tionghoa.

Dalam pandangan Arif, kaum pribumi adalah pemilik sah negeri ini sementara kaum Tionghoa adalah kaum pendatang yang menjadi ancaman. Orang seperti Arif tentu mengabaikan –atau tidak tahu– sejarah bahwa kaum Tionghoa ada, menyatu, berjuang dan sudah menjadi bagian dari bangsa Indonesia sejak kelahiran Negara Indonesia.

Bagaimana mungkin ini terjadi selain bahwa Arif dan KAMMI mengidap paranoid terhadap kaum Tionghoa? Hebatnya lagi setelah berargumen sepicik itu, Arif menolak kritik saya bahwa kampanye anti-Tionghoa yang dilancarkan KAMMI adalah kampanye rasis.

Saya rasa, Arif dan KAMMI membangun sebuah imajinasi liar tentang kehancuran Indonesia yang pemeran utamanya adalah kaum Tionghoa.

Arif dan KAMMI datang dari kalangan muslim berpendidikan tinggi. Terus terang dalam pandangan saya, kalau KAMMI memang sepicik ini, umat Islam di negara ini akan terus terbelakang dalam kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.[]

*Ade Armando adalah Pemimpin Redaksi Madinaonline dan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

Komentar