Home » Wacana » Bilik Cak Nur » Iblis dan Metafor Kejahatan Diri Manusia

Iblis dan Metafor Kejahatan Diri Manusia

Oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid*

Mukadimah

Dalam setiap agama terdapat kepercayaan mengenai setan. Tokoh setan dalam bahasa Arab (al-Qur’an) disebut iblis yang berasal dari bahasa Yunani diabolic, dan dalam bahasa Inggris menjadi diabolical, bersifat setan. Ini artinya konsep tentang adanya kekuatan jahat bersifat universal dalam berbagai bahasa, budaya ataupun agama. Kalau iblis dipinjaman dari bahasa Yunani menjadi bahasa Arab, sementara syaythan berasal dari bahasa Arab dipinjam oleh berbagai bahasa menjadi setan, seperti dalam bahasa Inggris yang menjadi satan.

Yang paling basic bahwa setan berada dalam alam gaib, karenanya menjadi bagian dari suatu yang harus kita terima melalui percaya, untuk tidak mengatakan iman karena antara keduanya berbeda arti. Seperti ucapan “beriman kepada Allah” sebenarnya tidak hanya percaya bahwa Allah ada, sebab kalau hanya demikian berarti iblis termasuk beriman karena dia telah berdialog dengan Tuhan bahkan bertengkar dengan-Nya. Ini terjadi ketika setan menolak untuk sujud kepada Adam, dan al-Qur’an menyebut “dia menolak (membangkang) dan dia menjadi sombong dan dia menjadi terkelompok dalam orang-orang kafir” (Q.2:34).

Dari sini sangat jelas bahwa yang dimaksud “beriman kepada Allah” adalah menaruh kepercayaan kepada Allah, bahwa Allah baik, Allah memperhatikan kita, dan bahwa apa pun yang terjadi tentu ada kebaikannya. Karena itu, percaya tentang adanya setan tidak bisa disebut “beriman kepada setan”. Tetapi justru kita harus menghindari, memerangi, dan melawan setan. Inilah yang tercakup di dalam ta’awwudz, mengucapkan a’udzu (aku mhon perlindungan), baik a’udzu bi rabbi ‘l-falaq, a’udzu bi rabbi ‘l-nas, maupun a’udzu bi l-Lahi min-a ‘l-syaythan-i l-rajim. Yang terakhir ini biasanya diterjemahkan dengan “aku dari godaan setan yang terkutuk”. Rajim berarti yang dirajam, dilempari batu. Ini dapat difahami secara metaforik, bahwa memang setan itu terkutuk karena merupakan kekuatan jahat.

Ulama tradisional banyak menafsirkan rajim dengan gejala alam berupa meteor yang jatuh dan terlihat menyala pada malam hari. Menurut mereka, itulah wujud dari setan yang terkutuk (rajim), yang dilempari batu sehingga tidak bisa naik ke atas.  Setan tidak bisa naik ke atas karena paham kosmologinya bahwa bumi ditutup dengan atap-atap suci “secret cannopy” berupa langit.

Sementara di atas langit terdapat banyak rahasia, dan yang tertinggi adalah rahasia Tuhan yang termaktub di dalam Lawh Mahfudz, lembaran yang terpelihara. Naiknya setan menembus langit dengan maksud mencuri dengar atau mencuri baca dari lawh mahfudz tetapi selalu dihantam oleh meteor. Dari istilah rajim sudah tergambar bahwa setan adalah kekuatan jahat yang terkutuk.

Penafsiran seperti tergambar di atas berhubungan dengan masalah ramalan yang dilakukan para dukun. Dalam bahasa Arab peramal disebut kahin atau  munajjim (ahli nujum), yaitu peramal berdasarkan perjalan bintang. Menurut hadis yang cukup populer bahwa ‘pada dasarnya para peramal bohong meskipun mungkin kebetulan benar”. Menurut penjelasan tradisional, para peramal memperoleh informasi dari setan, yaitu informasi yang dicuri dari atas. Tetapi karena selalu dihalangi oleh meteor-meteor maka setan hanya mampu mencuri sedikit informasi. Kesedikitan informasi ini menyebabkan hasil ramalan lebih banyak bohong, dan benar hanya secara kebetulan.

Drama Penciptaan Manusia

Iblis kurang lebih adalah nenek moyang setan. Tetapi terdapat semacam hal yang tidak simetris karena ada yang menafsirkan bahwa mula-mula iblis adalah kepala malaikat yang sekarang digantikan oleh Jibril. Oleh agama Yahudi, Kristen dan Islam Jibril dipercaya sebagai kepala para malaikat (The Ark Angel to Gabriel). Dalam bahasa Ibrani gabriel berarti utusan Allah, yaitu utusan untuk membawakan wahyu. Kedudukan ini dulu ditempati oleh iblis sampai akhirnya menjadi jahat karena peristiwa yang dilukiskan dalam suatu drama kosmis mengenai ditunjuknya Adam sebagai khalifah di bumi.

Dalam menciptakan Adam, Allah menyatakan bahwa Adam akan ditunjuk sebagai khalifah, pengganti Allah di bumi, sebab Allah tidak akan menciptakan segala-galanya. Maka penciptaan Adam dimaksudkan agar manusia dapat menciptakan hal bermanfaat bagi dirinya dari bahan-bahan yang sudah tersedia. Misalnya Allah akan menciptakan mobil, tetapi mobil harus kita ciptakan sendiri dengan bahan-bahan yang telah desediakan oleh tuhan.

Oleh karena itu para malaikat kemudian protes, “apakah engkau tunjuk sebagai Khalifah itu suatu makhluk yang bakal bikin kerusakan di bumi dan bakal menumpahkan darah?” (Q.2:30). Lahirnya protes ini karena dalam prediksi para malaikat bahwa Adam dan keturunannya adalah makhluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan akan banyak menumpahkan darah.

Prediksi malaikat yang demikian, menurut para ahli tafsir, didasarkan pada asal kejadian Adam yang diciptakan dari tanah, sesuatu yang tidak begitu suci. Oleh karena itu akan membawa kepada hal-hal yang tidak suci, yaitu aktifitas jahat yang dilukiskan sebagai merusak dan menumpahkan darah. Dari sini jelas bahwa kerusakan yang ada di bumi lebih banyak disebabkan oleh manusia. Memang ada bencana-bencana alam yang dahsyat seperti Krakatau yang memisahkan Sumatra dari Jawa.

Gunung Fisuvius yang menimbun sama sekali kota Bombay, tetapi itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kerusakan-kerusakan akibat Perang Dunia Kedua, apalagi kalau masalahnya adalah manusia yang menjadi korban. Dari orang Yahudi yang dibunuh oleh Jerman saja mencapai enam juta jiwa, semantara korban mati akibat gunung krakatau meletus hanya puluhan ribu jiwa, begitu juga korban yang tertimbun oleh gunung Fisuvius. Dari sini diketahui, prediksi malaikat bahwa manusia akan membuat kerusakan di bumi dan akan banyak menumpahkan darah adalah benar.

Protes malaikat diteruskan dengan “Sedangkan kami selalu bertasbih kepada-Mu” (Q.2:30). Secara implisit seolah malaikat mengatakan “kenapa tidak kami yang suci ini yang ditunjuk sebagai khalifah?”. Tetapi Tuhan membantah karena untuk menjadi khalifah tidak ada kaitannya dengan kesucian. Kemudian ada proses pengajaran ilmu pengetahuan, “Adam diajari nama-nama semuanya” (Q. 2:31). Seolah Tuhan mengatakan “yang relevan untuk menjadi khalifah adalah ilmu, bukan kesucian”; bahwa yang bisa mengurus dunia adalah orang berilmu dan bukan orang yang hanya banyak ibadah.

Dan nama-nama yang diajarkan kepada Adam merupakan simbolisasi dari ilmu pengetahuan. Memang terdapat perselisihan dalam masalah ini; ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah asma’ al-husna (Nama-nama tuhan yang baik), ada yang mengatakan nama-nama yang ada di langit, dan ada yang mengatakan itu merupakan proses manusia berbahasa sebab manusia satu-satunya makhluk yang berbahasa.

Tetapi yang lebih masuk akal adalah bahwa yang dimaksud diajari nama-nama seluruhnya adalah diberikan kapasitas untuk mengenali lingkungan dan memahaminya serta kemudian memanfaatkannya. Inilah kelebihan Adam atau umat manusia dibanding malaikat.

Dengan kelebihan yang dimiliki Adam, para malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepadanya. Sujud di sini juga metafor, yaitu mengakui keunggulan Adam. “Semuanya sujud kecuali iblis” (Q. 2:34). Berdasarkan ini maka kemudian iblis menjadi tokoh utama dari kekuatan jahat, yang masyarakatnya kemudian disebut setan.

Mengatakan iblis sebagai bekas kepala malaikat sebenarnya terdapat persoalan teologis, karena malaikat tidak beranak dan beristri, tidak makan dan minum, dan tidak mati. Dalam masalah tidak mati memang sama antara malaikat dengan iblis, tetapi iblis beranak dan beristri serta makan dan minum. Maka dalam tafsiran yang lebih metaforis, terutama umum dalam kalangan kaum sufi dan para failasuf, bahwa malaikat sebenarnya adalah simbolisasi dari kekuatan baik sedangkan setan adalah simbolisasi dari kekuatan jahat.

Kedua kekuatan tersebut tidak akan lepas dari manusia sendiri, di dalam manusia terdapat malaikat dan setan sekaligus. Pandangan demikian didukung ayat suci, “Katakan hai Muhammad Aku mohon perlindungan dari Tuhan sekalian umat manusia, Raja dari segala umat manusia, Dari kejahatan godaan makhluk yang selalu menggoda, selalu membisik-bisikan hal yang jahat, yaitu yang selalu membisikan kejahatan ke dalam dada manusia, Yang terdiri dari jin dan manusia sendiri” (Q. 114:1-6).

Dari sini jelas terdapat indikasi bahwa sumber kejahatan adalah juga diri kita sendiri. Artinya, selain secara konvensional kita membayangkan adanya setan sebagai entitas tersendiri di luar kita, tetapi juga terdapat indikasi bahwa setan adalah bagian dari kedirian kita sendiri yaitu berupa dorongan-dorongan kejahatan. NEXT PAGE

Kerja Setan

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa setan meminta ditunda kematiannya dan permintaan itu dituruti oleh Tuhan. Dialog Tuhan dengan setan dimulai dengan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (Q. 7:11-12).

Inilah kejahatan makhluk yang pertama, yaitu kesombongan rasialis, merasa unggul karena asal-usul primordial. Seperti setan yang bangga diri sebagai lebih unggul dari manusia karena diciptakan dari api sedangkan manusia diciptakan dari tanah, suatu argumen yang tidak bisa didukung sama sekali dan bahkan disalahkan.

Maka rasialisme adalah dosa yang paling besar. Kemudian “Allah berfirman kepada setan itu, “Turunlah kamu dari surga itu karena kamu tidak sepatutnya menyombong diri di dalamnya” maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (Q.  7:13). Allah mengutuk setan dengan mengeluarkannya dari surga karena tidak boleh ada orang-orang yang sombong di surga, bahwa kebahagian tidak bisa dicampur dengan kesombongan. “Iblis menjawab, “Tangguhkanlah aku sampai waktu mereka ditangguhkan”. Tuhan menjawab, “Ya kamu tetap akan hidupsampai hari kiamat”. Iblis menjawab, “karena Engkau (Tuhan), telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi umat manusia dari jalan-Mu yang lurus” (Q. 7:14-16).

Dari sini kemudian lahir konsep godaan setan, “Kemudian saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (Q. 7:17). Salah satu kritik yang banyak dilontarkan al-Qur’an bahwa manusia adalah makhluk yang sulit sekali berterima kasih. Ini adalah bukti dari pekerjaan setan, bahwa kita kurang bersyukur adalah karena setan. Ini adalah bagian dari “the working of Satan”.

Dalam ayat selanjutnya kemudian, “Allah berfirman: “Keluar kamu dari surga itu sebagai makhluk yang hina dan terusir”. Sesungguhnya barang siapa diantara mereka mengikuti kamu benar-benar Aku akan mengisi neraka jahanam dengan kamu semuanya” (Q. 7:18). Tuhan memberi setan kehidupan sampai hari kiamat dan hak untuk menggoda, dan sebagai kompensasinya Tuhan menyediakan neraka untuk setan dan orang-orang yang mengikutinya.

Dengan hak untuk menggoda tersebut, siapa pun tidak lepas dari godaannya, termasuk Adam yang tinggal di surga. “Wahai Adam sekarang engkau tinggal di surga ini dengan istrimu, kamu berdua bebas makan apa saja yang kamu mau, tetapi kamu jangan mendekati pohon ini, kalau kamu mendekati pohon ini maka kamu akan tergolong makhluk yang dzalim” (Q. 2:35). Kemudian “maka setan pun menggoda keduanya” (Q. 7:20).

Keberadaan setan dalam surga memang problematis karena sebenarnya iblis sudah dikeluarkan dari surga. Tetapi terlepas dari itu, yang memberitahu keadaan sebenarnya bahwa Adam dan Hawa telanjang ternyata adalah setan, “…untuk memberitahu kepada keduanya sesuatu yang selama ini mereka tidak tahu, yaitu auratnya” (Q. 7:20). Dan “setan berkata, kamu itu dilarang mendekati ini kan supaya kamu tidak menjadi malaikat dan supaya kamu tidak menjadi makhluk yang abadi” (Q 7:20). Setan membujuk bahwa kalau Adam dan Hawa melanggar larangan Tuhan dengan memakan buah pohon itu mereka akan menjadi seperti malaikat dan tidak akan mati. “Kemudian setan pun bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa), bahwa aku ini penasehat, aku ini menasehati kamu” (Q. 7:21). Dan “Maka setan pun membujuk keduanya untuk memakan buah tersebut. Dan setelah keduanya merasakan buah dari pohon terlarang tersebut, mereka keduanya bisa melihat auratnya sendiri dan malu, kemudian secara panik, mencari-cari daun surga untuk menutupi auratnya. Kemudian Tuhan pun memanggil mereka, menghardik mereka, menegor mereka: kan sudah Aku larang kamu jangan mendekati pohon ini, dan sudah Aku ingatkan bahwa setan itu musuhmu” (Q. 7:22).

Nasib Bani Adam

Di dalam surat Yasin disebutkan, “Hai  Bani Adam bukankah kita sudah membuat janji bahwa kamu tidak boleh menyembah setan, sebab setan itu adalah musuhmu” (Q. 36:60). Ini adalah semacam perjanjian primordial antara kita dengan Tuhan, di samping perjanjian primordial tentang pengakuan Tuhan sebagai Rabb kita. Sebagai akibat dari kedua perjanjian primordial tersebut, selain membawa fitrah kecenderungan kepada kebaikan (hanif), sejak lahir manusia juga memiliki bakat alami untuk menolak yang tidak baik.

Kejahatan disebut munkar, diingkari, yaitu diingkari oleh hati nurani. Sedang kebaikan disebut ma’ruf, diakui, yaitu diakui oleh hati nurani. Oleh karena itu dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Yang dinamakan kebaikan itu adalah budi pekerti yang luhur. Dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam hatimu dan kamu tidak suka orang lain tahu”.

Perjanjian primordial yang sudah mengendap di bawah sadar kita yang paling mendalam melahirkan hati nurani. Perjanjian kita dengan Tuhan itu tidak hanya berada di bawah permukaan kesadaran dalam dunia psikologis tetapi sudah dalam dunia spiritual, dan banyak mempengaruhi hidup kita.

Bahagia dan sengsara sangat terpengaruhi oleh ini. Misalnya, adanya perjanjian dengan Tuhan untuk mengakui-Nya sebagai Rabb maka wujudnya antara lain adalah dorongan untuk menyembah, bahwa manusia mempunyai dorongan untuk menyembah.

Sebaliknya, adanya perjanjian dengan Tuhan untuk kita tidak menyembah setan maka manusia mempunyai naluri menolak hal yang tidak baik, sehingga dosa dirumuskan sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Karena itu kesengsaraan sebenarnya dimulai dengan perasaan tidak cocok dengan hati nurani.

Maka setelah Adam melanggar larangan Tuhan, “Dan Tuhan pun memanggil keduanya, “Bukankah telah Aku larang kamu berduan mendekati pohon itu, dan sudah Aku katakan pada kamu bahwa setan itu adalah musuh yang jelas” (Q. 7:22). Ini referensinya kepada perjanjian itu, bahwa Adam sudah menyadari setan sebagai musuh tetapi masih tergoda juga. Mendengar peringatan Tuhan Adam kemudian berdoa, “Oh Tuhan kami, ya kami telah berbuat zhalim kepada diri kami sendiri, dan kalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, pastilah kami termasuk mereka yang bakal rugi, sengsara” (Q. 7:23).

Do’a ini merupakan do’a yang paling banyak dibaca orang naik haji, karena memang salah satu tujuan haji di Arafah adalah seolah-olah napak tilas pengalaman spiritual Adam.

Kemudian, “Tuhan berkata: sekarang Adam dan istrimu dan anak turunmu yang masih belum lahir tapi sudah terkandung dalam dirimu turun dari surga (diusir). Dan kamu nanti akan saling bermusuhan, dan nanti di bumi kamu akan tinggal, dan di sana kamu akan bisa menikmati hidup sampai batas tertentu” (Q. 7:24), yaitu hidup duniawi. “Allah berfirman: Di dunia inilah kamu akan hidup dan di situ kamu akan mati dan dari dunia itu pula kamu nanti akan dibangkitkan” (Q. 7:25).

Firman bahwa anak turun Adam akan bermusuhan sudah terbukti pada anaknya sendiri, yaitu Qabil dan Habil yang berakhir dengan terbunuhnya Habil. Itulah pembunuhan pertama yang terdapat dalam kitab suci dan kasusnya iri hati. Maka sebenarnya iri hati merupakan dosa makhluk yang ketiga setelah yang pertam adalah sombongnya iblis yang rasialis, merasa unggul tanpa alasan, dan yang kedua adalah serakah, khirs, nafsu memiliki sesuatu yang tidak menjadi haknya, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut hal yang terlarang. NEXT PAGE

Ayat Setan

Kalau direkonstruksi dari awal, paham setan dan iblis berada di sekitar drama kosmis yang menyangkut sejarah umat manusia. Pandangan demikian terdapat dalam semua agama melalui simbolisasi yang berbeda tetapi intinya sama, yaitu adanya kekuatan jahat yang selalu membahayakan manusia sehingga menyimpang dari jalan yang benar.

Tidak perlu kaget karena ternyata Nabi sendiri tidak imun dan pernah terkena godaan setan. Maka muncullah ayat setan yang membuat Salam Rusdhi mengalami kesulitan. Meskipun masih diperselisihkan tetapi dalam tafsir-tafsir yang standar, termasuk Ibn Katsir, diceritakan tentang itu. Ayat dimaksud adalah yang diisyaratkan dalam, “Dan Kami tidak mengutus kamu (sebelum engkau Muhammad) seorang Rasul pun, dan tidak pula seorang Nabi melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan (angan-angan),-kalau rasul atau nabi ini mempunyai angan-angan—setan pun memasukkan godaan-godaannya terhadap keinginan itu” (Q. 22:52).

Bahwa berangan-angan dapat menjadi pintu bagi masuknya setan. Dan mungkin karena berdasarkan pengalaman sendiri, Nabi mengatakan “Kamu janganlah terlalu banyak berucap seandai-andainya, untuk masa yang akan datang sebab berandai-andai itu membuka pintu setan”. Dan, “Kemudian Allah pun menghapuskan apa yang didiktekan oleh setan itu, lalu Allah malah membuat ayat-ayat-Nya semakin kukuh, dan Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana”. Menurut para ahli tafsir, referensi ungkapan ini adalah ayat setan tersebut.

Pelawanan keras orang kafir Makkah pada awal kenabian Muhammad menyebabkan Nabi sengsara luar biasa, sampai-sampai beliau putus asa yang kemudian turun ayat al-Dluha. Menurut salah satu tafsir, ketika itu lalu beliau berangan-angan mencari cara bagaimana supaya orang kafir Makkah mendukungnya.

Maka Nabi mulai berfikir untuk kompromi dari segi ajaran, yaitu mengakomodasi konsep ketuhanan orang kafir Makkah. Maka dalam surat al-Najm, setelah menceritakn tentang berhala-berhala orang kafir Makkah—al-Latta, al-‘Uzza, al-Manna dan sebagainya—kemudian diselibkan tentang burung Gharnaq, burng mitologis yang dikaitkan dengan dewa. “wa tilka al-gharaniq al-ula, un inna syafa’atahum laturja—itulah burung-burung Garnaq yang mulia, dan syafa’ah (intercesion)-nya boleh diharapkan”.

Setelah menyelibkan ayat ini, menurut cerita dalam tafsir itu, malaikat Jibril datang untuk menegur, “Hai Muhammad, kamu mengucapkan apa? Itu tidak dari saya, tidak dari Tuhan itu”. Kemudian nabi menghapusnya kembali, dan tidak berkompromi.

Tafsir demikianlah yang mendasari Salman Rusdhi membuat novel ayat-ayat setan dengan suatu nada yang sangat sinis kepada Nabi, bahwa nabi itu tidak terproteksi. Garis besar tesisnya bahwa Nabi sebenarnya adalah manusia biasa, dan kemudian membuat lukisan-lukisan yang sangat jelek mengenai Aisyah dan macam-macam, ini yang membuat orang Islam marah.

Tetapi dalam tafsir hal demikian memang ada. Bahkan Ibn Taymiyah dalam Minhaj al-Sunnah juga menuturkan demikian. “Tiada pernah Aku utus sebelum engkau (Muhammad) seorang rasul pun, juga seorang nabi, kecuali kalau nabi atau rasul itu mempunyai angan-angan, maka setan pasti intervensi. Tetapi Allah akan segera menghapus apa yang telah didiktekan oleh setan itu, dan Allah pun kemudian membikin kukuh ayat-ayat yang benar, dan Allah itu Maha Tahu dan Maha Bijaksana’.

Ini menunjukkan bahwa Nabi tidak imun terhadap godaan setan. Dan sebenarnya dua surat terakhir, Qul a’udzu birabbi’l-falaq, qul a’udzu birabbi al-nas, secara inferensial dapat dipahami bahwa Nabi pernah tergoda, dalam arti misalnya kena sihir. Waktu ini Nabi membaca do’a Qul a’udzu birabbi ‘l-falaq untuk menolak sihir dan ternyata efektif.

Ikhlas: Rahasia Tuhan

Setan memang suatu kekuatan yang luar biasa selalu mengancam kita,yang membuat kita sulit manghadapi, sesuai ilustrasi dalam al=Qur’an, bahwa setan mengetahui pekerjaan kita sementara kita tidak mengetahui mereka.

Perbuatan jahat yang disertai campur tanagan setan membuat perbuatan itu tampak seperti indah, “Para setan itu membikin pekerjaan mereka itu nampak indah seperti perhiasan” (Q. 9:37). Oleh karena itu Nabi mengatakan, “saalh satu indikasi kehancuran seseorang adalah kalau dalam soal dunia dia melihat ke atas dan kalau dalam soal agama dia melihat orang yang lebih rendah”.

Dan umumnya kita seperti itu. Ini terlihat, misalnya, ketika ditegur orang karena buat jahat, kita akan mencari justifikasi dengan menjawab ada yang lebih jahat dari kita. Ini berarti setan berada di dalam kita sendiri sehingga dapat merupakan bagian dari kedirian kita. Misalnya yang juga menarik adalah mengenai sedekah, “Hai orang-orang yang beriman dermakanlah yang baik-baik dari yang kamu peroleh (rezeki itu), dan yang telah kami anugerahkan kepada kamu dari hasil bumi; dan jangan kamu pilih-pilih yang buruk dari kekayaanmu itu; lalu kamu dermakan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan menutup mata; dan ketahuilah bahwa Allah itu Maha Kaya dan Maha Terpuji” (Q. 2:267).

Bahwa sedekah akan ditolak oleh Tuhan kalau dengan yang buruk-buruk. Misalnya ketika hendak bersedekah baju dan kita berikan baju yang paling buruk, maka secara tidak langsung sebenarnya kita menganggap orang lain sebagai keranjang sampah. Padahal maksud Tuhan menyuruh bersedekah bukan supaya Tuhan kaya, tetapi karena kita yang perlu.

Karena itu Allah mewanti agar kita kita termasuki setan karena, “Setan itu akan menjanjikan kamu kepada kemiskinan, dan mendorong kamu untuk berbuat sesuatu yang tidak baik, dan Allah menjanjikan kepada kamu ampunan dan keutamaan (yaitu perasaan lapang, perasaan lega, perasaan puas dan sebagainya itu), dan Allah itu Maha Luas’ (Q. 2:286). Artinya, kalau kita konsisten menjalankan perintah Allah maka kita akan merasakan kelapangan.

Memang setan mengetahui segala perbuatan kita tetapi ada satu bagian yang tidak bisa ditembus oleh setan yaitu ikhlas. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa “ikhlas itu adalah salah satu dari rahasia-Ku yang Aku titipkan dalam hati orang yang aku cintai, Malaikat tidak bisa mengetahui ikhlas itu sehingga malaikat tidak usah mencatat, dan setan juga tidak bisa mengetahui keikhlasan itu sehingga setan juga tidak bisa merusak”.

Ikhlas kemudian menjadi satu-satunya kunci agar amal kita tidak dirusak oleh setan, “kecuali hamba-hamba-Ku yang ikhlas, yang Aku tidak bisa merusaknya” (Q. 15:40; 38:83).

Ikhlas, seperti sering dilukiskan, bahwa apabila tangan kanan memberi maka tangan kiri tidak mengetahui. Ilustrasi yang diberikan al-Qur’an, “Aku memberi makan kepada kamu ini hanyalah untuk mengharapkan ridla Allah (mencari muka tuhan), aku tidak mengharapkan balasan dari kamu, terima kasih juga tidak” (Q. 76:9). Bahwa salah satu indikasi keikhlasan adalah kita tidak menggerutu ketika memberi sesuatu kepada orang dan dia tidak berterima kasih.

Orang yang menerima memang wajib mengucap terima kasih, dan bukan yang memberi yang menunggu ucapan terima kasih. Oleh karena itu disebutkan, “Barangsiapa terima kasih sebetulnya dia tidak terima kasih kepada dirinya sendiri” (Q. 27:40; 31:12). Nabi juga mengatakan, “Barangsiapa tidak terima kasih kepada sesama manusia, juga tidak terima kasih kepada Allah’. NEXT PAGE

Potensi Kejahatan diri Manusia

Sebagai penutup makalah ini, sedikit akan membahas potensi dan kelemahan yang ada dalam diri manusia. Salah satu hal yang sangat jelas dalam agama kita bahwa manusia dilahirkan dalam kebaikan, yang dalam hadis dikatakan yuladu ‘ala al-fitrah. Dalam al-Qur’an perkataan fitrah dikaitkan dengan agama, “maka hadapkanlah dirimu untuk menerima agama ini sesuai dengan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah tersebut” (Q. 30:30).

Hanif yang disebut dalam ayat ini merupakan bagian dari fitrah yang merupakan kecenderungan alami kita untuk memihak kepada yang benar. Kemudian, “Itulah agama yang lurus tetapi sebagian manusia tidak tahu” (Q. 12:40). Dari sini sangat jelas bahwa agama yang lurus sebenarnya adalah agama kemanusiaan primordial, primordial humanisme, yang dalam bahasa Barat menjadi universal humanism. Ini adalah potensi primer manusia. Sedang potensi sekundernya adalah lemah, yang karenanya manusia dapat berbuat salah.

Maka pada dasarnya manusia adalah lemah, bukan pada dasarnya salah. Disebutkan di dalam al-Qur’an “manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah” (Q. 4:28). Kelemahan manusia yang penting untuk kita ingat antara lain halu’, mudah terpengaruh, yang indikasinya adalah tidak tahan menderita. “kalau ditimpa hal yang buruk menjadi gundah gulana tetapi kalau sudah menerima kebaikan jadi sombong” (Q. 70:20-21).

Kemudian miotik, berpandanga pendek. Dalam al-Qur’an banyak peringatan mengenai ini, dan yang paling keras adalah kalla ba’l-bahibbuna ‘jilata wa ‘l-jayru ‘l-akhirah, “ingatlah wahai manusia bahwa kamu itu lebih suka kepada hal yang bersifat segera dan lupa kepada hal-hal yang bersifat jangka panjang (di belakang hari)” (Q. 75:20-21).

Pandangan bahwa manusia tidak boleh mudah tergoda sebenarnya merupakan ajaran universal, terdapat dalam setiap budaya dan agama. Mudah tergoda berarti lebih tertarik kepada hal yang bersifat jangka pendek dan lupa kepada hal yang bersifat jangka panjang. Maka dalam bahasa melayu terdapat pepatah “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Di sini terdapat unsur seft denyle, mengingkari diri sendiri. Hal inilah yang diajarkan oleh agama. Dan puasa merupakan latihan mengingkari diri sendiri supaya jangan terlalu mudah menuruti apa saja yang didiktekan oleh keinginan kita. Sebab kalau tidak demikian maka tidak ada bedanya kita dengan binatang. Dengan demikian puasa merupakan sarana latihan agar manusia tidak terjebak ke dalam kelemahannya sendiri, yaitu miotik.

Kelemahan berupa miotik menyebabkan manusia mudah tergoda sehingga muncul potensi untuk salah. Maka Nabi bersabda, “Setiap manusia itu pembikin kesalahan, dan sebaik kamu berbuat kesalahan ialah kamu yang tobat”. Kesalahan yang dimaksud adalah alpa, sehingga tidak dalam arti manusia pada dasarnya jahat. Jadi potensi untuk salah, karena akibat dari suatu yang berada di luar manusia maka merupakan potensi sekunder. Sedang potensi primernya adalah kebaikan, karena kebaikan merupakan sesuatu yang datang dari dinamika dirinya sendiri (internal dynamic).

Wa-‘l-Lah-u a’lam bi al-sawab.

* Pendiri Yayasan Paramadina

Makalah Klub Kajian Agama Paramadina (KKA) Ke 161 Th. XV/2000 (Hotel Regent Indonesia)

(20 Sya’ban 1421 H/17 November 2000)

 Sumber ilustrasi www.almabhaktiluhur.com

Komentar