Home » Wacana » Bilik Cak Nur » Iblis dan Metafor Kejahatan Diri Manusia

Iblis dan Metafor Kejahatan Diri Manusia

Oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid*

Mukadimah

Dalam setiap agama terdapat kepercayaan mengenai setan. Tokoh setan dalam bahasa Arab (al-Qur’an) disebut iblis yang berasal dari bahasa Yunani diabolic, dan dalam bahasa Inggris menjadi diabolical, bersifat setan. Ini artinya konsep tentang adanya kekuatan jahat bersifat universal dalam berbagai bahasa, budaya ataupun agama. Kalau iblis dipinjaman dari bahasa Yunani menjadi bahasa Arab, sementara syaythan berasal dari bahasa Arab dipinjam oleh berbagai bahasa menjadi setan, seperti dalam bahasa Inggris yang menjadi satan.

Yang paling basic bahwa setan berada dalam alam gaib, karenanya menjadi bagian dari suatu yang harus kita terima melalui percaya, untuk tidak mengatakan iman karena antara keduanya berbeda arti. Seperti ucapan “beriman kepada Allah” sebenarnya tidak hanya percaya bahwa Allah ada, sebab kalau hanya demikian berarti iblis termasuk beriman karena dia telah berdialog dengan Tuhan bahkan bertengkar dengan-Nya. Ini terjadi ketika setan menolak untuk sujud kepada Adam, dan al-Qur’an menyebut “dia menolak (membangkang) dan dia menjadi sombong dan dia menjadi terkelompok dalam orang-orang kafir” (Q.2:34).

Dari sini sangat jelas bahwa yang dimaksud “beriman kepada Allah” adalah menaruh kepercayaan kepada Allah, bahwa Allah baik, Allah memperhatikan kita, dan bahwa apa pun yang terjadi tentu ada kebaikannya. Karena itu, percaya tentang adanya setan tidak bisa disebut “beriman kepada setan”. Tetapi justru kita harus menghindari, memerangi, dan melawan setan. Inilah yang tercakup di dalam ta’awwudz, mengucapkan a’udzu (aku mhon perlindungan), baik a’udzu bi rabbi ‘l-falaq, a’udzu bi rabbi ‘l-nas, maupun a’udzu bi l-Lahi min-a ‘l-syaythan-i l-rajim. Yang terakhir ini biasanya diterjemahkan dengan “aku dari godaan setan yang terkutuk”. Rajim berarti yang dirajam, dilempari batu. Ini dapat difahami secara metaforik, bahwa memang setan itu terkutuk karena merupakan kekuatan jahat.

Ulama tradisional banyak menafsirkan rajim dengan gejala alam berupa meteor yang jatuh dan terlihat menyala pada malam hari. Menurut mereka, itulah wujud dari setan yang terkutuk (rajim), yang dilempari batu sehingga tidak bisa naik ke atas.  Setan tidak bisa naik ke atas karena paham kosmologinya bahwa bumi ditutup dengan atap-atap suci “secret cannopy” berupa langit.

Sementara di atas langit terdapat banyak rahasia, dan yang tertinggi adalah rahasia Tuhan yang termaktub di dalam Lawh Mahfudz, lembaran yang terpelihara. Naiknya setan menembus langit dengan maksud mencuri dengar atau mencuri baca dari lawh mahfudz tetapi selalu dihantam oleh meteor. Dari istilah rajim sudah tergambar bahwa setan adalah kekuatan jahat yang terkutuk.

Penafsiran seperti tergambar di atas berhubungan dengan masalah ramalan yang dilakukan para dukun. Dalam bahasa Arab peramal disebut kahin atau  munajjim (ahli nujum), yaitu peramal berdasarkan perjalan bintang. Menurut hadis yang cukup populer bahwa ‘pada dasarnya para peramal bohong meskipun mungkin kebetulan benar”. Menurut penjelasan tradisional, para peramal memperoleh informasi dari setan, yaitu informasi yang dicuri dari atas. Tetapi karena selalu dihalangi oleh meteor-meteor maka setan hanya mampu mencuri sedikit informasi. Kesedikitan informasi ini menyebabkan hasil ramalan lebih banyak bohong, dan benar hanya secara kebetulan.

Drama Penciptaan Manusia

Iblis kurang lebih adalah nenek moyang setan. Tetapi terdapat semacam hal yang tidak simetris karena ada yang menafsirkan bahwa mula-mula iblis adalah kepala malaikat yang sekarang digantikan oleh Jibril. Oleh agama Yahudi, Kristen dan Islam Jibril dipercaya sebagai kepala para malaikat (The Ark Angel to Gabriel). Dalam bahasa Ibrani gabriel berarti utusan Allah, yaitu utusan untuk membawakan wahyu. Kedudukan ini dulu ditempati oleh iblis sampai akhirnya menjadi jahat karena peristiwa yang dilukiskan dalam suatu drama kosmis mengenai ditunjuknya Adam sebagai khalifah di bumi.

Dalam menciptakan Adam, Allah menyatakan bahwa Adam akan ditunjuk sebagai khalifah, pengganti Allah di bumi, sebab Allah tidak akan menciptakan segala-galanya. Maka penciptaan Adam dimaksudkan agar manusia dapat menciptakan hal bermanfaat bagi dirinya dari bahan-bahan yang sudah tersedia. Misalnya Allah akan menciptakan mobil, tetapi mobil harus kita ciptakan sendiri dengan bahan-bahan yang telah desediakan oleh tuhan.

Oleh karena itu para malaikat kemudian protes, “apakah engkau tunjuk sebagai Khalifah itu suatu makhluk yang bakal bikin kerusakan di bumi dan bakal menumpahkan darah?” (Q.2:30). Lahirnya protes ini karena dalam prediksi para malaikat bahwa Adam dan keturunannya adalah makhluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan akan banyak menumpahkan darah.

Prediksi malaikat yang demikian, menurut para ahli tafsir, didasarkan pada asal kejadian Adam yang diciptakan dari tanah, sesuatu yang tidak begitu suci. Oleh karena itu akan membawa kepada hal-hal yang tidak suci, yaitu aktifitas jahat yang dilukiskan sebagai merusak dan menumpahkan darah. Dari sini jelas bahwa kerusakan yang ada di bumi lebih banyak disebabkan oleh manusia. Memang ada bencana-bencana alam yang dahsyat seperti Krakatau yang memisahkan Sumatra dari Jawa.

Gunung Fisuvius yang menimbun sama sekali kota Bombay, tetapi itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kerusakan-kerusakan akibat Perang Dunia Kedua, apalagi kalau masalahnya adalah manusia yang menjadi korban. Dari orang Yahudi yang dibunuh oleh Jerman saja mencapai enam juta jiwa, semantara korban mati akibat gunung krakatau meletus hanya puluhan ribu jiwa, begitu juga korban yang tertimbun oleh gunung Fisuvius. Dari sini diketahui, prediksi malaikat bahwa manusia akan membuat kerusakan di bumi dan akan banyak menumpahkan darah adalah benar.

Protes malaikat diteruskan dengan “Sedangkan kami selalu bertasbih kepada-Mu” (Q.2:30). Secara implisit seolah malaikat mengatakan “kenapa tidak kami yang suci ini yang ditunjuk sebagai khalifah?”. Tetapi Tuhan membantah karena untuk menjadi khalifah tidak ada kaitannya dengan kesucian. Kemudian ada proses pengajaran ilmu pengetahuan, “Adam diajari nama-nama semuanya” (Q. 2:31). Seolah Tuhan mengatakan “yang relevan untuk menjadi khalifah adalah ilmu, bukan kesucian”; bahwa yang bisa mengurus dunia adalah orang berilmu dan bukan orang yang hanya banyak ibadah.

Dan nama-nama yang diajarkan kepada Adam merupakan simbolisasi dari ilmu pengetahuan. Memang terdapat perselisihan dalam masalah ini; ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah asma’ al-husna (Nama-nama tuhan yang baik), ada yang mengatakan nama-nama yang ada di langit, dan ada yang mengatakan itu merupakan proses manusia berbahasa sebab manusia satu-satunya makhluk yang berbahasa.

Tetapi yang lebih masuk akal adalah bahwa yang dimaksud diajari nama-nama seluruhnya adalah diberikan kapasitas untuk mengenali lingkungan dan memahaminya serta kemudian memanfaatkannya. Inilah kelebihan Adam atau umat manusia dibanding malaikat.

Dengan kelebihan yang dimiliki Adam, para malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepadanya. Sujud di sini juga metafor, yaitu mengakui keunggulan Adam. “Semuanya sujud kecuali iblis” (Q. 2:34). Berdasarkan ini maka kemudian iblis menjadi tokoh utama dari kekuatan jahat, yang masyarakatnya kemudian disebut setan.

Mengatakan iblis sebagai bekas kepala malaikat sebenarnya terdapat persoalan teologis, karena malaikat tidak beranak dan beristri, tidak makan dan minum, dan tidak mati. Dalam masalah tidak mati memang sama antara malaikat dengan iblis, tetapi iblis beranak dan beristri serta makan dan minum. Maka dalam tafsiran yang lebih metaforis, terutama umum dalam kalangan kaum sufi dan para failasuf, bahwa malaikat sebenarnya adalah simbolisasi dari kekuatan baik sedangkan setan adalah simbolisasi dari kekuatan jahat.

Kedua kekuatan tersebut tidak akan lepas dari manusia sendiri, di dalam manusia terdapat malaikat dan setan sekaligus. Pandangan demikian didukung ayat suci, “Katakan hai Muhammad Aku mohon perlindungan dari Tuhan sekalian umat manusia, Raja dari segala umat manusia, Dari kejahatan godaan makhluk yang selalu menggoda, selalu membisik-bisikan hal yang jahat, yaitu yang selalu membisikan kejahatan ke dalam dada manusia, Yang terdiri dari jin dan manusia sendiri” (Q. 114:1-6).

Dari sini jelas terdapat indikasi bahwa sumber kejahatan adalah juga diri kita sendiri. Artinya, selain secara konvensional kita membayangkan adanya setan sebagai entitas tersendiri di luar kita, tetapi juga terdapat indikasi bahwa setan adalah bagian dari kedirian kita sendiri yaitu berupa dorongan-dorongan kejahatan. NEXT PAGE

Komentar