Home » Wacana » Perspektif » Arifin Ilham, Ironi Ahli Zikir
Arifin Ilham, dari ustad zikir menjadi ustad intoleran

Arifin Ilham, Ironi Ahli Zikir

Oleh Irwan Amrizal*

Ada masanya nama Arifin Ilham dikenal sebagai dai yang menampilkan wajah Islam yang menyejukkan. Pria bersuara serak tapi lembut itu selalu merujuk akhlak Nabi Muhammad dalam materi dakwahnya. Ia seperti ingin mengingatkan umat Islam untuk menghadirkan prilaku yang pernah ditunjukkan Nabi Muhammad sebagai manusia agung yang penuh cinta dalam hidup keseharian.

Melalui majelis zikir Az-Zikra, Arifin mengajak jamaahnya merasakan kehadiran Tuhan lebih dekat lagi. Ajakannya itu disambut positif. Masjid Istiqlal yang mampu menampung ribuan orang tampak penuh dengan jamaah zikirnya. Majelis zikirnya kemudian dijadikan program dakwah bertajuk Indonesia Berzikir di satu televisi swasta pada awal dekade 2000.

Tapi tidak semua pihak menyukai majelis zikir Arifin. Kelompok salafi, misalnya, pernah menuding majelis zikirnya sebagai aktivitas yang tidak pernah dicontohkan Nabi Muhammad alias bid’ah. Meski begitu, Arifin tidak patah arang. Hingga kini majelis zikir tetap ia selenggarakan di berbagai kesempatan.

Sebaliknya, kelompok Muslim moderat mengapresiasi dakwah Arifin. Majalah Madina, misalnya, pernah mendaulat Arifin sebagai salah satu Tokoh Islam Damai pada edisi Juni 2008. Selain Arifin, ada 24 nama besar yang selama ini dikenal mewakili Islam damai dalam daftar itu. Di antaranya AA Gym, Ahmad Syafii Maarif, Anies Baswedan, Azyumardi Azra, Ary Ginanjar, Deddy Mizwar, Emha Ainun Najib, Haidar Bagir, Helvy Tiana Rosa, Jalaluddin Rakhmat, Mustofa A. Bisri, M. Quraish Shihab, Siti Musdah Mulia, dan nama lainnya.

“… Mereka dikenal tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Mereka bukan kalangan yang memberi pembenaran atau mendukung penindasan terhadap perbedaan. Mereka secara terbuka menyuarakan gagasan-gagasan yang mendukung kedamaian,” tulis Majalah Madina, mengemukakan kriteria utama dalam memasukkan nama tokoh-tokoh itu sebagai tokoh damai.

Dalam artikel tentang Arifin pada edisi itu, Majalah Madina menulis bahwa Arifin tidak pernah menganjurkan jamaahnya melempar batu atau menghalalkan darah orang lain. Lebih jauh, mengutip Ignas Kleden, Arifin dinilai sebagai pemuka agama yang mempunyai ‘relevansi sosial’ yang kuat, meski kurang pada aspek ‘relevansi intelektual’.

Suaranya, sambung Majalah Madina, menjawab kebutuhan masyarakat Muslim Indonesia yang kebanyakan awam dan sering bingung menghadapi hidup yang semakin sulit sejak krisis moneter 1997: menawarkan rasa aman dan pengharapan agar kuat memikul beban hidup sehari-hari.

“Suara serak dan lembut itu agaknya sangat, sangat percaya bahwa, ‘Hanya dengan mengingat Allah, hatimu akan tenang’”, tulis Majalah Madina.

Anti Kelompok Berbeda

Belakangan Arifin tampak berubah. Kesan sebagai dai yang menyejukkan luntur dalam diri Arifin perlahan tapi pasti. Kesan yang muncul saat ini adalah ia seorang pemuka agama yang tidak lagi bersahabat kepada kelompok yang berbeda. Lebih jauh, ia kerap mempertontonkan kebenciannya kepada kelompok yang berbeda.

Setidaknya ada tiga kasus yang menguatkan kesan itu. Pertama, kasus pemasangan spanduk anti-Syiah di pemukiman Bukit Az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Pada Februari 2015, seperti banyak diberitakan media, sekelompok massa mendatangi pemukiman yang dikhususkan hanya untuk umat Islam itu.

Kelompok massa itu hendak menanyakan siapa yang memasang spanduk yang berbunyi ‘Kami warga pemukiman Bukit Az-Zikra menolak alirah Syiah’ itu. Spanduk itu sendiri dengan mencolok dipasang di gerbang masuk Masjid Muammar Qaddafy (sebelum diubah namanya menjadi Masjid Az-Zikra) dan di jalan menuju masjid.  (Ini Kronologi Penganiayaan Petugas Masjid Az-Zikra).

Singkat cerita, kelompok massa itu diberitakan menyerang Faisal Karim, Ketua Divisi Keamanan Masjid Az-Zikra dan Penegak Disiplin Syariah, yang menanyakan maksud kedatangan sekelompok massa itu. Akibat penyerangan itu, warga pemukiman Bukit Az-Zikra itu luka-luka dan memar di sekitar wajahnya.

Aksi penyerangan itu sebenarnya bisa diantisipasi jika Arifin mau bertindak benar. Sebab, seperti yang dikatakan Arifin, sebelum peristiwa penyerangan terjadi ia sudah melihat spanduk bernada kebencian kepada kelompok Syiah itu.

“Itu (yang memasang spanduk) warga. Bukan perintah saya. Bukan kebijakan yayasan. Beritanya seolah-olah Az Zikra yang memancing. Spanduk itu baru dua mingguan terpasang. Saya sempat sekali melihat. Saya sendiri bertanya-tanya, apa maksudnya. Saya tidak begitu dalam dakwah. Yang kenal saya pasti yakin itu spanduk bukan ide saya,” kata Arifin kepada gatra.com. (Arifin Ilham: Kalau Kita Perang, Banyak yang Tepuk Tangan)

Mengapa Arifin tidak meminta untuk mencopot dua spanduk itu? Padahal apa yang disampaikan dalam spanduk anti-Syiah itu tidak sesuai dengan dakwahnya, seperti yang ia akui. Arifin sendiri punya kuasa untuk meminta agar spanduk itu dicopot karena ia adalah pendiri pemukiman itu.

Yang terkesan kemudian adalah Arifin tampak cenderung membiarkan spanduk yang berisi provokasi itu terpasang. Lebih jauh, masih dalam wawancara dengan gatra.com itu, Arifin malah meminta komunitas Muslim Syiah tidak menyebarkan ajarannya.

Kedua, keterlibatan Arifin dalam Parade Tauhid (PT) pada Agustus 2015. Dalam laman PT, disebutkan Arifin tertulis sebagai anggota steering committee.

Di berbagai foto liputan kegiatan yang diselenggarakan sehari sebelum Hari Kemerdekaan RI itu tampak Arifin bergandengan tangan dengan Rizieq Shihab (Imam Besar FPI) di sebelah kanan dan Muhammad al-Khattath (Sekjen Forum Umat Islam) di sebelah kiri. Di sebelah al-Khattath ada Abu Jibril (Amir Majelis Mujahidin Indonesia).

Tokoh yang tampil saat acara Parade Tauhid dan yang bergandengan tangan dengan Arifin itu adalah kalangan yang dikenal sebagai kelompok garis keras, anti demokrasi, anti keberagaman, tidak toleran dan bahkan anti NKRI. Apa yang disampaikan dalam orasi pun berisi makian dan ujaran kebencian. (Parade Tauhid, Nama Allah pun Digunakan untuk Mencaci Maki)

Dalam acara itu, Arifin memang tidak berorasi. Ia diminta untuk memimpin doa bersama. Tapi jika disimak doa yang ia panjatkan, Arifin tidak memohon kedamaian, keselamatan, rahmat bagi semua pihak, sebagaimana dengan maksud diselenggarakannya Parade Tauhid. Dalam doanya, Arifin justru memohon agar mereka yang dipersepsi sebagai musuh Islam itu dihancurkan dan dibinasakan.

Ketiga, rencana tabligh akbar bertajuk ‘Ahlussunah Indonesia Bersatu’ di Masjid Istiqlal pada 17 Januari 2016. Dalam undangan tabligh akbar itu tampak foto Arifin dan Syeikh Al-Arifi yang tertulis sebagai pembicara kunci. Rupanya yang menggagas tabligh akbar itu adalah Majelis Az-Zikra yang dipimpin Arifin.

Syeikh Al-Arifi adalah salah satu ulama penting di Arab Saudi. Ia adalah murid Abdullah bin Baz yang dikenal sebagai salah satu ulama Wahabi. Sama seperti gurunya, Syeikh Al-Arifi dikenal anti-Syiah. Menurut Syeikh Al-Arifi, penganut Syiah itu adalah kelompok orang yang sejak dulu sampai sekarang masih terjebak dalam berbagai bentuk kesesatan. (Haruskah Indonesia Mencekal Syeikh Al-Arifi)

Akhlak Sosial

Apa yang ditunjukkan Arifin dari tiga contoh kasus di atas sejatinya bertolakbelakang dengan aktivitasnya selama ini: zikir.

Pengajar tasawuf di Yayasan Paramadina, Mukhlisin Aziz, menyatakan buah zikir adalah ahklak. Dengan terus mengingat dan merasakan kehadiranAllah dalam hidup, seorang hamba seolah menyerap akhlak Allah. Adapun output dari zikir dan menyerap akhlak Allah itu adalah seorang hamba berprilaku seperti prilaku Allah, sebagaimana yang dinyatakan Nabi Muhammad dalam sebuah riwayat yang sangat populer.

“Manifestasi dari zikir adalah seorang hamba mengikuti akhlak Allah yang mendahulukan cinta-Nya dibandingkan murka-Nya. Dengan begitu, ahli zikir itu adalah dia yang mendatangkan damai, mengedepankan dialog, dan mendahulukan toleransi ketika menghadapi apapun,” kata Mukhlisin kepada Madina Online akhir pekan lalu via telepon.

Bagi Mukhlisin, adalah ironi jika ada kelompok Muslim yang tampak saleh tapi akhlak sosialnya justru buruk. Padahal dalam Islam ibadah ritual dan ibadah sosial adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Dan rumusan itu tercermin di seluruh ibadah wajib yang diperintahkan dalam Islam.

Salat, misalnya. Pada satu sisi, salat adalah ibadah yang ditujukan untuk berhubungan dengan Allah. Dalam Surah Thaha ayat 14 disebutkan tujuan salat adalah zikir. Tapi di sisi lain, disebutkan output dari salat adalah akhlak sosial.

“Orang yang menunaikan salat dengan benar, ia dipastikan tidak akan melakukan kekejian dan kemungkaran. Termasuk tidak melakukan provokasi dan menunjukkan sikap kebencian kepada kelompok yang berbeda,” ujar peraih gelar master dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Meski ahli zikir diharapkan berprilaku positif, sambung Mukhlisin, bukan berarti ahli zikir tidak diperbolehkan mengkritik kelompok yang dianggapnya berpandangan keliru. Dalam soal mengkritik, ada perbedaan tajam cara yang ditempuh antara ahli zikir dan bukan ahli zikir.

Bagi yang bukan ahli zikir, cara yang ditempuh adalah merasa dirinya sebagai kebenaran. Sementara kelompok yang dikritiknya dinilai sebagai kelompok yang salah, sesat, bahkan kafir.

“Sebaliknya, bagi ahli zikir cara yang ditempuh untuk mengkritik kelompok yang dianggapnya keliru, ia mengacu pada apa diajarkan al-Quran. Yaitu, dengan cara yang bijak juga santun. Lalu, kalau diperlukan memberikan tausiyah dan ceramah, maka tausiah hasanah yang dikedepankan. Hasan itu memberikan kebaikan melebihi kebaikan yang diterimanya.”

Mukhlisin melanjutkan, “Dan kalaupun perdebatan tidak bisa dihindari, Allah mengatakan debatlah kelompok itu dengan cara yang lebih baik. Jadi, kalau ada sesuatu yang kita anggap kemungkaran, kita harus ubah. Namun caranya harus sesuai dengan yang diajarkan Allah itu. Dan cara yang diajarkan Allah itu sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi ahli zikir, tapi umat Islam secara umum.”

Agar kecenderungan sikap merasa paling benar tidak mengemuka, Muhklisin menyarankan empat hal. Saran itu juga diharapkan agar pertikaian yang terjadi di Timur Tengah tidak merembet ke Indonesia dalam bentuk upaya membenturkan Sunni-Syiah.

Pertama, memastikan prinsip ‘tidak boleh ada paksaan dalam Islam’ itu tetap terjaga. Paksaan itu juga termasuk dalam berkeyakinan dan bermazhab. Sebab agama itu adalah kecenderungan batin yang menolak berbagai bentuk paksaan yang datang dari luar.

“Jika ada paksaan dalam beragama, maka tujuan beragama yaitu kedamaian tidak akan didapatkan,” ujarnya.

Kedua, menumbuhkan sikap toleransi kepada kelompok yang berbeda. Terkait hal ini, pemuka agama diharapkan terus mengedukasi umat bahwa perbedaan adalah sunatullah. Dan seperti yang disebutkan dalam al-Quran, bukan hal sulit bagi Allah untuk membuat umat manusia menjadi satu kelompok dan seragam.

“Mari ubah pandangan bahwa perbedaan itu sebagai ancaman. Sebaliknya, mari kembangkan pandangan bahwa perbedaan itu adalah cara Allah agar kita berlomba-lomba dalam kebajikan” tuturnya.

Ketiga, mengembangkan tradisi dialog yang jujur dan sepadan dalam mencari kebenaran. Dan tradisi dialog itu harus ditopang dengan sikap terbuka.

“Bukan bersikap fanatik yang hanya mau membaca buku tertentu dan mendengar pemuka tertentu. Akibatnya, kita menjadi tidak terbiasa menghadapi perbedaan sebagai khazanah pemikiran, alih-alih membid’ahkan atau mengkafirkan” kata Mukhlisin.

Keempat, mengedepankan akhlak dari fikih. Yang mulai marak saat ini adalah umat lalu memisahkan diri (mufaraqah) dan memutuskan tali silaturahmi hanya karena tidak sepakat pada hal-hal yang bukan fundamental.

“Kesantunan, persatuan umat, dan saling menghargai itu akhlak. Sementara tahlilan, qunut, atau maulidan itu adalah fikih” pungkasnya.[]

*Redaktur Madina Online

Komentar