Home » Slide » Zuhairi Misrawi: Kudeta Turki Bukan Pertarungan Islamisme versus Sekularisme

Zuhairi Misrawi: Kudeta Turki Bukan Pertarungan Islamisme versus Sekularisme

Buntut dari upaya kudeta di Turki terus berlanjut. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menangkap ribuan pengikut, simpatisan dan mereka yang punya hubungan dekat dengan Fethullah Gülen maupun organisasinya. Gülen dianggap sebagai dalang upaya kudeta.

Pemerintah Turki bahkan menganggap ulama yang aktif mempromosikan Islam damai dan toleran di Turki maupun negara-negara lain (baca juga: Fethulleh Gülen: Yang Menjanjikan dari Turki) ini sebagai teroris. Gülen yang kini tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat, sendiri sekarang masuk dalam daftar pencarian orang Pemerintah Turki.

Bahkan Pemerintah Turki melalui kedutaan besarnya di berbagai negara meminta semua hal yang terkait dengan Gülen maupun organisasinya seperti sekolah agar diberantas. Termasuk di Indonesia. Beberapa hari lalu (29/7) Pemerintah Turki melalui Kedubes di Jakarta meminta Pemerintah Indonesia untuk menutup sembilan sekolah yang dianggap terkait dengan kelompok Gülen.

Di Indonesia, banyak umat Islam yang mengelu-elukan Presiden Turki Erdoğan sebagai pemimpin Muslim. Bahkan upaya kudeta di Turki dikaitkan dengan pertarungan antara Islamisme dengan sekularisme.

Benarkah demikian? Seperti apa sosok Erdoğan? Kenapa dia tetap mempertahankan sekularisme sebagai ideologi negara dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel? Bagaimana sebenarnya hubungan Erdoğan dengan Gülen? Sejak kapan hubungan mereka renggang? Kenapa Gülen yang menjadi kambing hitam kudeta? Benarkah Gülen seorang teroris? Apa pelajaran penting dari ini semua? Bagaimana perbandingan demokrasi di Turki dan Indonesia?

Berbagai pertanyaan itu dijawab oleh intelektual muda NU dan Peneliti Pusat Kajian Pemikiran dan Politik Timur Tengah, The Middle East Institute, Zuhairi Misrawi, dalam wawancara dengan Madina Online. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang sebenarnya terjadi saat kudeta Turki? Bagi sebagian kalangan, peristiwa ini dianggap pertarungan antara pendukung Islamisme versus militer yang mendukung sekulerisme? Komentar Anda?

Kudeta bukan pertarungan ideologis antara Islamisme dan sekularisme. Ini adalah respons terhadap politik otoriter Erdoğan. Erdoğan bersikukuh untuk melakukan amandemen konstitusi untuk memperkuat posisinya sebagai presiden.

Sistem Turki sekarang masih parlementer. Perdana menteri menduduki posisi yang tertinggi. Erdoğan mempertimbangkan untuk mengubah konstitusi menjadi seperti di Mesir. Di negara itu kekuasaan tertinggi berada di tangan presiden.

Untuk mewujudkan itu Erdoğan membutuhkan tiga per-empat suara di parlemen atau sekitar 75 persen. Saat ini Erdoğan baru mengantongi 52 persen dari partainya, AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Ini yang masih belum dimiliki Erdoğan. Itu yang pertama.

Kedua, terkait dengan ketidakmampuan Erdoğan untuk menjamin stabilitas politik dan keamanan di Turki. Dalam satu tahun terakhir hampir setiap minggu atau bulan terjadi bom bunuh diri, baik di Ankara maupun Istanbul. Itu memberikan semacam amunisi bagi tumbuhnya ketidakpercayaan terhadap Erdoğan dalam menjaga stabilitas dan keamanan di Turki.

Ketiga, Erdoğan dianggap oleh banyak kalangan telah menjalankan pemerintahan secara otoriter. Erdoğan memberangus media yang berseberangan dengan pemerintahannya serta menangkap para jurnalis, dan membungkam pihak-pihak yang mencoba untuk mengkritisi kepemimpinannya.

Kondisi-kondisi objektif itulah yang kemudian digunakan militer untuk melakukan kudeta terhadap Erdoğan. Kenapa kudeta? Karena sejarah pergantian kekuasaan di Turki itu, walaupun ia sudah menjadi salah satu negara demokrasi terbesar tapi dalam sejarahnya, sejak dinasti Ottoman pergantian kekuasaan atau rezim itu dilakukan melalui kudeta. Ini kemudian yang menyeret ribuan tentara untuk melakukan kudeta di Turki.

Jadi, ini sebenarnya tak ada kaitannya dengan ideologi: Islamisme versus sekularisme?

Tidak! Ini tidak ada kaitannya dengan ideologi. Erdoğan, walaupun dari kelompok Islamis, dia pemimpin yang secara tegas menjadikan sekularisme sebagai konstitusi atau ideologi negara. Itu ia sampaikan di banyak tempat. Ini yang pertama.

Kedua, Erdoğan tetap membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Erdoğan baru saja menormalisasi hubungannya dengan Israel. Kita tahu, kelompok Islamis tidak mungkin menjalin hubungan dengan Israel.

Jadi, kudeta ini terkait dengan kondisi objektif politik di Turki yang kemudian belakangan dibingkai oleh Erdoğan sebagai pertarungan antara massa pendukungnya dengan pengikut Fethullah Gülen. Apakah ini pertarungan antara Erdoğan dan Fethullah Gülen? Masalah ini masih perlu diurai…

Beberapa saat lalu, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim, yang bagi beberapa pengamat disebut “boneka” Erdoğan, bahkan mengatakan Gülen adalah teroris. Komentar Anda?

Menurut saya, menganggap Gülen sebagai seorang teroris itu berlebihan. Gülen adalah seorang pemimpin yang sangat moderat. Sama juga dengan Erdoğan, Gülen menganggap bahwa demokrasi dan sekularisme sebagai pilihan. Pandangan-pandangannya dikenal toleran. Tidak ada indikasi yang dapat menjustifikasi atau mengabsahkan bahwa Gülen seorang teroris.

Erdoğan juga sangat berlebihan dengan menuduh Gülen sebagai otak di balik kudeta di Turki. Bahkan sebenarnya langkah yang diambil setelah kudeta dengan menangkap ribuan orang, mulai dari polisi, guru, pengacara, hakim, jaksa, dan tentara yang diduga mempunyai hubungan dekat dengan Gülen itu akan semakin memperuncing situasi dan kondisi geopolitik di Turki.

Apa sebenarnya target Erdoğan mengkambinghitamkan Gülen terkait dengan kudeta ini?

Kita tahu, kelompok atau partai-partai oposisi di Turki sebenarnya tidak kuat. Ada partai nasionalis, partai Kurdi atau partai kiri yang lebih kecil. Kelompok oposisi yang dianggap kuat adalah Fethullah Gülen yang dulu sebenarnya adalah sahabat Erdoğan sendiri.

Saya melihat, kelompok yang bisa menandingi kekuatan Erdoğan memang kelompok Gülen. Pertanyaannya sekarang, apakah Gülen memerintahkan para pengikutnya untuk kudeta, terutama dari lingkungan militer? Itu yang harus dibuktikan di depan hukum.

Sejak kapan hubungan antara Erdoğan dan Gülen renggang?

Itu setelah kasus dugaan korupsi. Gülen mencoba untuk membongkar korupsi di lingkungan Erdoğan. Terutama anaknya Erdoğan. Bilal namanya. Juga, sejumlah menteri seperti Menteri Luar Negeri.

Selain korupsi di lingkaran istana, Gülen  juga mulai mengkritisi kebijakan pengiriman Mavi Marmara (satu dari enam kapal dalam sebuah armada kecil yang berlayar dari Turki menuju Gaza). Menurut Gülen, pengiriman bantuan itu tidak tepat. Hal itu menyebabkan hubungan dengan Israel begitu renggang.

Sikap kritis Gülen terhadap Erdoğan itu menjadi pemantik awal retaknya hubungan dua tokoh besar di Turki itu. Sampai akhirnya Gülen eksodus ke Amerika dan menetap di Pennsylvania.

Di Indonesia khususnya, sebagian umat Islam di negeri ini begitu mengelu-elukan sosok Erdoğan. Ia dianggap sebagai model pemimpin Muslim yang patut menjadi teladan. Komentar Anda?   

Banyak orang tidak mengerti sosok Erdoğan. Mereka hanya orang yang nge-fans saja, tapi tidak mengerti konteks politik di Turki. Kalau mereka mengerti mungkin mereka yang setuju dengan Erdoğan akan menolaknya. Erdoğan adalah pemimpin yang istiqamah dengan sekularisme dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Kelemahan Erdoğan, dia otoriter, tidak membuka kran-kran kritik terhadap dirinya, dan yang paling penting adalah monopoli dari partainya. Partainya hanya memperoleh 52 persen suara. Kalau seandainya dia membangun rekonsiliasi dan konsolidasi dengan kelompok Gülen itu apik bagi masa depan Turki.

Sikap Erdoğan  yang mempertahankan posisinya dan ingin menangkap Gülen itu akan semakin memperdalam jurang konflik di Turki saat ini.

Kenapa Erdoğan mempertahankan sekularisme di Turki?

Dalam peta politik objektif di Turki, Kemalisme atau sekularisme itu harga mati. Ketika kelompok-kelompok Islamis mencoba untuk mengusik atau mengganggu Kemalisme atau sekularisme itu maka mereka langsung dikudeta oleh militer. Begitulah pengalaman sejarah kudeta sebelumnya di Turki. Terutama tahun 1980-an dan 1990-an. Terakhir pada 1997 lalu.

Erdoğan sadar betul akan hal itu. Dia tidak akan bisa dikudeta oleh siapapun, kecuali dia mengganggu sekularisme ini. Karena itu Erdoğan dalam 13 tahun terakhir secara tegas dia tidak ingin untuk mengubah sekularisme.

Kedua, Erdoğan juga ingin masuk menjadi bagian dari Uni Eropa. Itu juga menjadi hal yang begitu penting sehingga kemudian Erdoğan pada tahun 2014 yang lalu menghapus hukuman mati. Itu bagian dari komitmen Erdoğan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia.

Di samping mempertahankan sekularisme, Erdoğan konon juga menghidupkan kembali pengajaran Al-Quran dan hadis di sekolah-sekolah negeri, membebaskan perempuan berhijab di kampus dan parlemen, dan lain-lain. Tanggapan Anda?

Tentu, kelompok-kelompok sekuler atau nasionalis di Turki mulai resah dengan merayapnya Islamisme seperti soal jilbab. Waktu kudeta beberapa saat lalu Erdoğan juga meminta pendukungnya untuk turun ke jalan melalui masjid-masjid. Suara takbir, Allahu Akbar, berkumandang di masjid-masjid yang dulu tidak terjadi.

Di Turki sekarang mulai muncul kecurigaan terhadap Erdoğan. Apakah ia betul-betul istiqamah terhadap sekularisme atau justru secara pelan-pelan ingin mengubah konstitusi?

Menurut saya, Erdoğan tidak akan melakukan itu. Sekali Erdoğan  mengutak-atik sekularisme dia akan jatuh dan akan terkonsolidasi suatu kekuatan oposisi. Pada kudeta kemarin, opisisi tidak setuju dengan itu karena sekularisme masih dianut oleh Erdoğan. Kedua, opisisi juga ingin menjaga agar demokrasi di Turki terus langgeng.

Terkait Israel, seperti apa bentuk hubungan diplomatik Turki dengan Israel di masa Erdoğan?

Hubungan diplomatik itu dalam berbagai bidang. Di antaranya, di bidang teknologi pertanian dan energi. Bahkan hampir di semua bidang hubungan diplomatik itu. Apalagi Turki berbatasan dengan Israel.Turki salah satu pintu masuk kalau mau ke Israel. Kalau mau ke Tel Aviv itu, kita bisa terbang melalui Turki. Saya pernah ke Tel Aviv dari Turki.

Bagaimana posisi Erdoğan sendiri terhadap kemerdekaan Palestina?

Erdoğan setuju kemerdekaan Palestina dan ikut membantu Gaza. Tapi hubungan diplomatik dengan Israel tetap berjalan.

Apa pelajaran penting dari kudeta Turki ini?

Zaman sekarang, zaman demokrasi. Tidak boleh ada lagi pemimpin yang otoriter dan memaksakan kehendaknya. Sekuat apapun dia. Ini sudah 13 tahun dia berkuasa. Itu terlalu lama. Cukup 10 tahun saja kalau memang dia memikirkan regenerasi dan berkomitmen pada demokrasi.

Menurut saya, Erdoğan itu diselamatkan oleh demokrasi. Oposisi mendukung demokrasi. Amerika juga mendukung demokrasi Turki. Demokrasi Turki itu harus dijaga. Mudah-mudahan partai Erdoğan, AKP, merespons ini semua dengan jauh lebih elegan. Tidak seperti sekarang ini. Erdoğan melakukan penangkapan-penangkapan yang mirip zaman Soeharto tahun 1965.

Ini yang akan menciptakan luka sejarah yang cukup panjang. Apalagi pengaruh Gülen cukup besar di Turki melalui gerakan Hizmet-nya.

Bahwa Turki itu bukan hanya Erdoğan. Di Turki juga ada faksi Kurdi yang juga cukup serius konfliknya dengan kelompok nasionalis, ada tentara, dan di situ juga ada Gülen dan kelompoknya. Maka rekonsiliasi itu harus dibangun oleh Erdoğan untuk menyelamatkan momentum demokrasi di Turki.

Mungkinkah itu terjadi?

 Erdoğan  tetap ingin mengubah konstitusi. Mengubah konstitusi harus tiga perempat suara atau sekitar 75 persen. Sedangkan partainya baru encapai 52 persen. Menurut saya, dia berharap bahwa nanti presiden dipilih secara langsung. Erdoğan menghendaki itu. Dan itu harus mengubah konstitusi.

Jalan menuju ke situ harus dibicarakan dengan berbagai kelompok. Apakah itu yang mereka inginkan. Dan itu harus dimulai dengan konsolidasi demokrasi bersama berbagai kelompok-kelompok politik yang lain.

Jadi, dia ingin mengubah konstitusi dan menunggu hasil Pemilu yang akan datang. Pemilu yang akan datang seperti apa kita belum tahu. Kalau memang arahnya tetap dengan sistem parlementer, dan Erdoğan tetap ngotot untuk mengubahnya, itu akan menambah krisis kepercayaan pada Erdoğan.

Krisis kepercayaan sudah terjadi pada Erdoğan. Erdoğan hanya didukung oleh pendukungnya dari partai AKP. Sementara kelompok politik lain sudah mulai kehilangan kepercayaan terhadap dia.

Terkait demokrasi, mana yang lebih menjanjikan: Turki atau Indonesia?

Turki secara geopolitik penting karena berbatasan dengan Irak dan Syiria. Model demokrasinya stabil. Terutama dalam 13 tahun terakhir. Tapi banyak orang mengkritik otoritarianisme Erdoğan  yang mirip dengan Mubarok, Khadafi, dan lainnya.

Jadi, banyak kalangan di dunia Islam melihat ada celah atau cacat pada demokrasi di Turki. Hal ini dapat dilihat, misalnya, kenapa Erdoğan tidak mau memberikan atau membagi kekuasannya pada oposisi dan ia juga tak melakukan regenerasi di AKP.

Mereka melihat Indonesia lebih menjanjikan. Era Susilo Bambang Yudhoyono dengan dua periode, Pemilu berjalan dengan lancar dan keamanan relatif lebih terkontrol. Orang lebih melihat Indonesia sekarang.

Di Indonesia sistem dan institusi demokrasi jauh lebih kuat. Hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat terjamin. Di Turki, Facebook, Twitter, Youtube dilarang. Itu semakin menguatkan bahwa Erdoğan memang ingin menjadi pemimpin otoriter.***

Komentar