Home » Sosok » Wawancara » Yo Nonaka: “Hijab itu Antitesa dari Jilbab; Kerudung Antitesa Keduanya”

Yo Nonaka: “Hijab itu Antitesa dari Jilbab; Kerudung Antitesa Keduanya”

Apa perbedaan jilbab, hijab dan kerudung? Bagi umumnya umat Islam, ketiga istilah itu mungkin tampak sama saja dan dengan mudah dipertukarkan. Namun bagi Yo Nonaka, gambarannya tidaklah sesederhana itu. Menurut Yo, ketiga penyebutan itu sebenarnya mewakili cara memahami agama yang berbeda.

Yo Nonaka adalah kandidat doktor sosiologi di Universitas Keio, Jepang, yang sudah lama wara-wiri di Indonesia untuk meneliti perkembangan Islam di Indonesia. Perjumpaan Yo dengan Indonesia dimulai ketika ia tinggal di Ujung Pandang (sebelum Makasar) 20 tahun yang lalu. Pada usia 16 tahun, Yo mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun dan bersekolah di salah satu SMA di sana.

Awal tahun 2000-an Yo kembali mengunjungi Indonesia untuk memulai riset tesisnya tentang gerakan mahasiswa Islam di sejumlah kampus ternama di Indonesia. Pada 2007, ibu dua anak itu bertandang ke berbagai pusat pergerakan mahasiswa, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), khususnya HMI Cabang Ciputat.

Dari risetnya tentang gerakan mahasiswa Islam di sejumlah kampus itu, Yo juga bertemu dan berkenalan dengan kelompok Tarbiyah, khususnya yang ada di Institut Teknik Bandung (ITB). Dalam tesisnya, Yo bahkan menulis satu bab khusus tentang kelompok Tarbiyah di ITB. Dari risetnya itu, ia kemudian mengembangkan riset tentang viel atau jilbab yang diniatkan menjadi buku dalam bahasa Jepang.

Dalam risetnya itu, Yo menemukan ada tiga istilah tentang veil atau penutup kepala yang dominan digunakan di Indonesia, yaitu kerudung, jilbab, dan hijab. Menurut Yo, istilah yang belakangan adalah antitesa dari istilah sebelumnya. Istilah jilbab, misalnya, dimunculkan sebagai antitesa dari istilah kerudung yang dianggap tidak Islami. Sementara istilah hijab dimunculkan kalangan hijabers untuk membedakan diri dari kalangan jilbabers yang dikait-kaitkan dengan gerakan politik dan partai politik tertentu, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Yang menarik dari temuan Yo, istilah kerudung mulai dipopulerkan lagi di kalangan perempuan Muslim Indonesia. “Istilah kerudung muncul lagi sebagai perlawanan terhadap istilah jilbab dan hijab. Istilah kerudung itu dipandang lebih terasa kultural. Karena itu istilah kerudung dipopulerkan lagi untuk melawan istilah jilbab yang politis. Di sisi lain, istilah kerudung itu lebih bernuansa kesederhanaan. Ini untuk melawan kecenderungan hijab yang terasa mewah dan berlebihan,” kata Yo dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih.

Karena risetnya tentang veil itu, Yo kemudian didaulat menjadi pembicara dalam diskusi tentang jilbab di ITB beberapa waktu lalu. Tidak hanya diminta membagikan pengetahuannya, Yo juga diminta untuk mengenakan hijab dengan full make up. Permintaan itu diterimanya dengan senang hati. “Untung saya ini penganut Budha abangan,” kata Yo, bergurau.

Berikut petikan lengkap wawancara Irwan Amrizal dengan Yo Nonaka tentang veil pada Kamis (17/9) di salah satu warung kopi di Cilandak Town Square, Jakarta.

Dalam satu event diskusi tentang hijab baru-baru ini di ITB, anda didaulat menjadi salah satu pembicara. Bahkan anda didandani dengan mengenakan hijab. Bisa cerita ‘apa yang terjadi’?

Hahaha.. Itu pengalaman baru bagi saya. Kunjungan saya itu sebenarnya karena saya diminta untuk menemani beberapa pengusaha asal Jepang yang ingin mencari mitra kerjasama dalam hal dunia fesyen. Sebelumnya, para pengusaha asal Jepang itu membuat pakaian dari bahan kain Kimono. Namun, para pengusaha itu melihat pangsa pasar untuk pakaian dengan kain Kimono sangat kecil dan tidak berkembang.

Karena hubungan Indonesia dan Jepang sangat baik, para pengusaha itu melihat dunia fesyen di dunia Muslim, khususnya Indonesia, sangat hidup dan terus berkembang. Mereka lalu berpikir untuk membuat pakaian Muslim dengan kain Kimono. Pak Orita, koordinator project ini, memiliki jaringan para pengrajin Kimono di Jepang. Dia ingin mendorong dan membuka jalan bagi para pengrajin kain Kimono dan pengusaha fesyen Jepang untuk membuka bisnis fesyen di dunia Muslim, khususnya Indonesia. Kelompok ini kemudian membuat asosiasi yang bernama Muslim Japan Fashion Assosiation.

Apa yang anda rasakan ketika didandani dengan mengenakan hijab? Itu inisiatif siapa?

Saya merasa seperti bukan diri saya lagi. Setelah didandani itu saya seperti orang lain. Tapi saya nyaman mengenakan itu. Hahaha…

Memang berhijab atau berkerudung bukan hal yang baru bagi saya. Ketika saya melakukan riset lapangan di beberapa tempat di Indonesia, saya biasa mengenakan kerudung atau jilbab untuk menghormati masyarakat setempat. Tapi didandani full make up seperti saat event itu, ini pengalaman baru bagi saya.

Yang berinisiatif mendandani saya berhijab seperti itu adalah salah satu produsen pakaian Muslim, yaitu Safira. Kebetulan, untuk studi saya sebelumnya, saya bertemu dan berkenalan dengan kelompok-kelompok Islam, termasuk kelompok Tarbiyah di ITB. Salah satu kenalan saya itu bekerja dan punya posisi penting di Safira Foundation. Saya kontak dia untuk saya kenalkan pada rombongan pengusaha fesyen asal Jepang tadi. Lalu, saya diminta mengisi diskusi tentang hijab dan didandani pakai hijab deh.

Apakah hijab jadi isu baru dalam studi anda, khususnya untuk disertasi? Mengingat saat 2007 kita bertemu di Sekretariat HMI Cabang Ciputat, saat itu tema riset tesis anda adalah gerakan mahasiswa Islam di sejumlah kampus…

Memang untuk studi saya itu, saya meneliti tentang gerakan HMI, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia; red), dan kelompok Tarbiyah. Untuk kelompok Tarbiyah, saya membahasnya cukup mendalam. Saya meneliti profil mereka dan motivasi keberagamaan mereka.

Apa profil kelompok Tarbiyah dalam temuan anda?

Untuk mengenali mereka, saya melakukan studi di UI (Universitas Indonesia; red), ITB, dan UGM (Universitas Gadjah Mada; red). Secara garis besar, mereka bukan orang yang berasal dari pesantren. Mereka mengenal Islam melalui organisasi Rohis (Rohani Islam; red) ketika SMA atau di Lembaga Dakwah Kampus ketika menjadi mahasiswa. Penelitian tentang kelompok Tarbiyah sendiri sudah saya mulai sejak 2003 sampai 2004.

Dari temuan saya, pada tahun 1980-an di Bandung perempuan muda Muslim sudah banyak yang menggunakan hijab atau veil. Mereka menggunakan hijab untuk alasan agama, dalam arti ingin mengamalkan ajaran Islam. Di Jakarta sendiri saat itu belum begitu banyak yang menggunakan hijab.

Jadi, isu tentang hijab lanjutan dari riset anda sebelumnya? 

Bisa dibilang begitu. Dari riset saya yang sebelumnya, saya mendapat gambaran mengapa kelompok Tarbiyah yang berhijab dan menggunakan istilah ‘jilbab’ sejak akhir 1980-an, sementara saat itu istilah yang umum digunakan adalah ‘kerudung’. Riset saya tentang hijab ini sudah saya tulis menjadi sebuah buku dalam bahasa Jepang dan akan segera terbit.

Apa temuan menarik dari riset anda tentang hijab?

Ada variasi istilah terkait pakaian Muslimah perempuan atau veil di Indonesia. Seperti yang saya bilang sebelumnya, sebelum tahun 1980-an istilah yang digunakan untuk menyebut pakaian Muslimah di Indonesia adalah kerudung. Istilah ini secara umum digunakan di berbagai tempat.

Sejak tahun 1980-an, muncul aktivis-aktivis perempuan yang umumnya ada di kampus-kampus umum yang mulai tertarik dengan Islam. Karena itu, mereka lalu mengenakan pakaian Muslim seperti yang diajarkan dalam Islam yang mereka pelajari. Untuk pakaian ini, mereka tidak mau menyebutnya dengan kerudung, tapi mereka menyebutnya dengan istilah ‘jilbab’.

Mengapa mereka menolak istilah kerudung?

Menurut mereka kerudung itu dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebab, ketika berkerudung, perempuan Muslim dianggap belum menutup anggota tubuhnya dengan rapat. Perempuan Muslim yang berjilbab itu umumnya ibunya menggunakan kerudung. Tapi, mereka merasa perempuan Muslim yang berkerudung belum islami. Walaupun istilah jilbab sudah muncul tahun 1980-an, tapi sampai awal 2000-an istilah kerudung masih dominan digunakan di kalangan Muslim, baik tua maupun muda.

Jika bagi kelompok Tarbiyah istilah jilbab lebih terasa islami dari istilah kerudung, tapi banyak pihak yang berpendapat istilah jilbab itu lebih berkonotasi politis. Apa pandangan anda?

Iya. Kesimpulan dari riset saya juga seperti itu. Tapi sebenarnya pada tahun 1980-an, ‘jilbab’ itu istilah yang netral. Maksud saya, istilah itu digunakan perempuan muda Muslim dengan tujuan hanya ingin mengamalkan ajaran Islam. Namun, dalam perkembangannya istilah jilbab sangat kuat kaitannya dengan gerakan, bahkan partai politik tertentu, khususnya Tarbiyah dan PKS. Masyarakat lalu melihat istilah jilbab itu sudah tidak netral lagi.

Belakangan, banyak perempuan muda Muslim Indonesia yang ingin menggunakan veil atau penutup kepala, tapi mereka tidak mau menggunakan istilah jilbab. Sebab mereka merasa tidak ada kaitannya dengan kelompok Tarbiyah, apalagi dikaitkan dengan PKS. Mereka lalu mencari istilah lain dan akhirnya menggunakan istilah hijab. Komunitas ini menyebut dirinya sendiri dengan istilah hijabers community. Dengan kata lain, hijab itu antitesa dengan istilah jilbab yang kuat kaitannya dengan gerakan atau partai politik tertentu.

Apa itu artinya istilah hijab hanya merujuk pada life style semata, tanpa ada pesan sosial-politik tertentu?

Iya, karena kecenderungan hijabers community itu apolitis. Mereka tidak merasa sebagai pendukung partai politik tertentu dan apa yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan gerakan politik tertentu. Sebab, mereka merasa apa yang mereka lakukan selama ini ditujukan untuk meningkatkan keislaman mereka sebagai individu. Kalau itu dipandang sebagai gerakan sosial, itu gerakan biasa tanpa ada simbol politik apapun.

Yang juga saya temukan dalam riset saya, istilah kerudung tidak dilupakan sama sekali. Istilah kerudung masih sering digunakan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, istilah kerudung mulai dipopulerkan lagi.

Apa yang terjadi?

Istilah kerundung muncul lagi sebagai perlawanan terhadap istilah jilbab dan hijab. Istilah kerudung itu dipandang lebih terasa kultural. Karena itu istilah kerudung dipopulerkan lagi untuk melawan istilah jilbab yang politis. Di sisi lain, istilah kerudung itu lebih bernuansa kesederhaan. Ini untuk melawan kecenderungan hijab yang terasa mewah dan berlebihan.

Tapi kecenderungan istilah kerudung mulai popular lagi belum terasa, ya?

Memang belum terdengar. Tapi istilah kerudung mulai diperkenalkan lagi di kalangan perempuan muda Muslim di Indonesia.

Apakah anda melakukan penelitian serupa di negara mayoritas Muslim lainnya, mungkin di negara-negara di Timur-Tengah atau Turki, sebagai perbandingan dengan Indonesia?

Iya. Pada 2004-2005 saya melakukan penelitian tentang veil di Suriah. Yang saya temukan, hampir semua perempuan Muslim di sana menggunakan veil. Mereka menggunakan itu bukan karena tumbuhnya kesadaran beragama. Itu karena bagi masyarakat Muslim Suriah veil seperti pakaian tradisional mereka.

Di Indonesia berbeda sekali. Perempuan Muslim Indonesia yang menggunakan veil atau penutup kepala itu sangat bangga. Karena itu bagi mereka sebagai penanda tumbuhnya kesadaran keislaman mereka. Dan itu tidak lepas dari tingkat pendidikan di kalangan perempuan muda Muslim Indonesia yang membaik. Jadi, proses pencarian dan kesadaran tentang Islam sangat dominan dalam diri perempuan Muslim di Indonesia yang menggunakan penutup kepala.

Tadi anda bilang pada tahun 1980-an sampai 1990-an, era Orde Baru yang otoriter, perempuan Muslim Indonesia yang menggunakan veil masih jarang ditemukan. Namun, seiring dengan proses demokratisasi di Indonesia, kebebasan berekspresi umat Islam dijamin. Itu ditandai dengan banyaknya perempuan muslim yang menggunakan jilbab/hijab/kerudung. Apa komentar anda?

Setelah reformasi, Indonesia menjadi negara yang lebih terbuka. Ekonomi juga berkembang. Selain itu, hampir semua kelompok masyarakat di Indonesia bicara tentang demokrasi. Tapi, Islamnya tetap eksis. Bahkan Islam terlihat lebih menonjol.

Situasi Indonesia seperti itu unik. Dulu, ketika saya belajar sosiologi, ada satu teori yang mengatakan jika sebuah negara itu berkembang dan masyarakatnya tumbuh, biasanya peran agama di dalam negara itu menjadi berkurang. Teori ini dibuat Barat dan itu adalah cerminan masyarakat Barat. Tapi, Indonesia tidak seperti itu. Fakta ini mengusik rasa ingin tahu banyak ahli yang mempelajari Indonesia atau indonesianis. Fakta menguatnya Islam di Indonesia pasca reformasi, salah satunya tercermin dalam busana yang digunakan perempuan Muslim.

Mengapa pada tahun 1980-an sampai 1990-an yang menggunakan penutup kepala masih sangat sedikit, itu karena rezim saat itu sangat menekan kelompok Islam. Sekarang, Indonesia menjadi negara demokratis. Kebebasan dijamin. Dan ini dimanfaatkan umat Islam di Indonesia untuk mengekspresikan keislamannya. Selain itu, umat Islam Indonesia tidak mau negaranya menjadi demokrasi seperti Barat yang meminggirkan agama. Menurut saya, demokrasi yang diinginkan orang Indonesia, khususnya umat Islamnya, adalah demokrasi dengan ada unsur Islamnya. Dengan begitu, mereka bisa menjalankan ajaran Islam, termasuk dari sisi busana.

Dengan kata lain, jika tidak ada demokrasi, tidak terbayang ada lautan jilbab di Indonesia, ya?

Iya, memang begitu. Demokrasi memberi banyak kemungkinan positif bagi umat Islam Indonesia. Selain itu, level pendidikan orang Indonesia juga berperan. Rata-rata orang Indonesia saat ini sudah bisa baca dan penerbitan buku tentang Islam sangat berkembang. Apalagi informasi tentang Islam di dunia maya banyak ditemukan. Dengan begitu, anak-anak muda Muslim bisa mempelajari sendiri agamanya.

Dulu, untuk mengetahui hal apapun tentang Islam harus bertanya ke kiai karena pada saat itu banyak orang Indonesia yang tidak menguasai bahasa Arab. Pada saat itu, anak muda yang berasal dari pesantren itu pengetahuan Islamnya lebih dalam dibandingkan anak muda yang non-pesantren. Tapi sekarang, informasi tentang Islam yang diperoleh kedua kelompok anak muda itu sama karena banyak informasi tentang Islam yang bisa ditemukan di buku dan di internet. Ini menurut saya menjadi satu sisi yang baik dari demokrasi di Indonesia.

Tapi sisi positif demokrasi itu, terkadang justru dimanfaatkan kelompok Islam yang anti-demokrasi atau Islam yang berpandangan ekstrem terhadap anak-anak muda non-pesantren yang ingin mempelajari Islam. Maksud saya begini, pandangan Felix Siauw yang anti-demokrasi dan pandangan Wahabi dari tokoh-tokoh tertentu rupanya cukup diterima di kalangan hijabers belakangan ini. Anda juga melihat hal yang sama?

Tidak semuanya. Kelompok hijbers yang belakangan dekat dengan kelompok Tarbiyah memang menyukai penjelasan Felix Siauw tentang Islam. Tapi kelompok hijabers yang tidak terpengaruh kelompok Tarbiyah tidak menyukai penjelasan Felix Siauw. Mereka ini lebih menyukai penjelasan tentang Islam yang mereka baca di majalah Noor. Di majalah itu ada penjelasan dari pemikir perempuan dari NU seperti Badriyah Fayumi dan nama lainnya yang pro-demokrasi dan sangat apresiatif dengan keberagaman. Jadi, kalangan hijabers mencari dan memilih sumber tentang Islam yang sesuai dengan kecenderungan mereka masing-masing.

Hal yang saya kagumi dari Islam Indonesia adalah penafsiran keislamannya yang tidak tunggal, tapi beragam. Ini karena Indonesia negara yang demokratis sehingga negara dan ulama tidak menjadi satu-satunya penafsir Islam yang sah. Berbeda dengan Malaysia atau Timur-Tengah. Di sana raja atau negaranya otoriter, karena itu ulama negara/raja dijadikan satu-satunya penafsir Islam yang sah. Di Indonesia penafsiran keislaman yang ada saling berkompetisi untuk diterima umat Islam secara luas.[]

Komentar