Home » Sosok » Wawancara » Walikota Bogor: “Sistem Khilafah HTI itu Omong Kosong”
Foto: bogorwatch.com

Walikota Bogor: “Sistem Khilafah HTI itu Omong Kosong”

Walikota Bogor, Bima Arya, mendapat kecaman keras dari warga Bogor dan netizen saat santer dirinya menghadiri peresmian kantor Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di kota hujan itu pada Senin (8/2/2016). Ia dianggap mendukung gerakan makar organisasi yang anti-demokrasi dan Pancasila serta ingin mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sistem khilafah Islam itu.

Apalagi sejak lama doktor ilmu politik dari Australian National University ini punya hubungan dekat dengan HTI. Sejak 2008, saat masih menjadi pengamat politik, ia kerap diundang ke berbagai acara HTI.

Bima sendiri telah membantahnya. Melalui pesan yang Madina Online terima darinya (11/02), ia mengatakan tidak setuju dengan kelompok-kelompok yang mencoba untuk memecah NKRI dan mengganti Pancasila sampai kapan pun. Termasuk HTI. Ia juga tidak sependapat dengan Manifesto Khilafah HTI.

Lalu, kenapa sebagai kepala daerah ia bersedia hadir pada peresmian kantor HTI di Bogor? Bagaimana pandangannya tentang khilafah? Jika tak setuju dengan HTI, kenapa ia masih bersedia untuk bekerjasama dengan organisasi pengusung khilafah ini?

Berikut wawancara A. Rifki dari Madina Online dengan Walikota Bogor. Wawancara ini dilakukan via telepon (13/02).

Kenapa Anda bersedia untuk datang ke acara HTI? Sejak kapan Anda punya hubungan baik dengan kelompok pengusung khilafah ini?  

Sejak tahun 2008, ketika saya masih menjadi pengamat politik, teman-teman HTI selalu mengundang saya dalam berbagai macam forum. Di forum-forum HTI itu saya selalu sampaikan bahwa khilafah itu nonsense (omong kosong).

Menurut teman-teman HTI, segala sesuatu buatan manusia itu tidak baik, maka mereka mencoba untuk kembali lagi ke aturan dari Allah. Tapi, mana negara Islam versi khilafah? Mana? Itu sama saja. Buatan manusia juga. Dan belum teruji.

Saya tidak pernah sepakat dengan sistem khilafah itu. Bagi saya, demokrasi itu belum tentu baik, tapi saat ini yang terbaik. Itu selalu saya sampaikan di forum terbuka dengan HTI. Bahkan HTI pernah saya undang juga ke kantor waktu saya masih menjadi direktur Charta Politika (lembaga survei, red.). Berjam-jam kami berdebat di sana.

Anda mengundang mereka sebagai apa? Teman diskusi?

Mereka ingin silaturahmi. Saya katakan, boleh. Kami berdebat sekalian saya ingin menguji mereka. Saya pengamat politik yang percaya terhadap sistem demokrasi. Dan mereka merasa bahwa demokrasi liberal itu buatan manusia yang banyak mudaratnya.

Saya sampaikan argumentasi saya bahwa demokrasi ini belum sempurna, tapi ini yang terbaik. Mari kita perbaiki sama-sama. Bukan sistemnya yang dibongkar, tapi kita tata dan perbaiki sama-sama.

Di Bogor pun saya sering bertemu dengan teman-teman HTI. Bogor itu kecil. Dalam berbagai kegiatan kami bisa bertemu. Di Bogor juga ada grup WhatsApp yang isinya macam-macam. Termasuk ada teman-teman HTI.

Ketika mereka membuat acara dan saya diundang untuk silaturahmi, saya hadir kemarin. Saya sampaikan kata-kata yang sangat persis. Saya katakan, saya hadir di sini untuk mengutamakan persamaan dan menanggalkan perbedaan. Kenapa? Karena saya dari dulu tidak pernah sepakat dengan konsep manifesto khilafah HTI.

Saya katakan juga, di sini ada Ustad Ismail Yusanto yang memang dari dulu juga berbeda pendapat dengan saya. Saya ke sini untuk mengutamakan persamaan-persamaan. Saya khawatir kalau umat terpecah kemudian yang menang itu musuh.

Musuh kita apa? Korupsi, narkoba, dan berbagai penyakit sosial. Karena itu saya mengajak teman-teman HTI untuk fokus ke arah hal-hal itu. Sama-sama fokus untuk memecahkan persoalan kemasyarakatan hari ini. Karena, menurut saya, di tingkat ideologi sudah selesai.

Bagi sebagian kalangan, tindakan HTI yang anti-demokrasi dan NKRI serta ingin mengganti sistem negara dengan khilafah itu makar. Tapi kenapa Anda ingin merangkul mereka?

Lalu terus apa? Setelah mereka dianggap makar dan lain-lain, lalu tindakan kita apa? Di saat yang lain tidak melakukan apa-apa saya memilih untuk datang dan menyampaikan sikap saya serta mengajak untuk mengarahkan energi untuk fokus ke hal yang konkret. Itu langkah saya.

Pada dasarnya, pemerintah (pusat, red.) itu harus jelas tentang posisi HTI. Saya banyak dikecam karena hadir di acara organisasi yang dianggap terlarang. Tapi faktanya kelompok ini tidak dilarang.

Pemerintah (pusat, red.) harus jelas. HTI itu dilarang tidak, dirangkul dan dibina juga tidak oleh pemerintah. Harus jelas kalau dilarang, ya, dilarang. Dirangkul, ya, dirangkul. Kalau mau dibina, ya, dibina.

Di tengah ketidakjelasan ini saya memilih datang untuk memenuhi undangan dan menyampaikan perbedaan sikap saya. Saya juga menyampaikan agar teman-teman HTI fokus menjadi bagian dari solusi yang realistis.

Bisa Anda jelaskan lebih jauh hal konkret seperti apa? Apakah sudah Anda rumuskan dengan baik bersama kelompok HTI?

Selama ini di Bogor kami berkomunikasi dengan semua organisasi masyarakat (ormas) dan semua elemen lainnya. Teman-teman HTI sering memberikan masukan tentang data-data tawuran di mana, penyebabnya kenapa, di titik ini kemiskinan bagaimana. Bagi saya, itu data-data yang berharga. Sama seperti yang saya dapat dari yang lain.

Terlepas dari ideologi, beberapa kegiatan HTI juga fokus untuk mencoba menjadi bagian dari penyelesaian penyakit kemasyarakatan. Jadi, levelnya langsung pada hal-hal yang konkret dan saya ingin supaya mereka lebih fokus pada hal tersebut.

Apakah HTI punya kepedulian yang sama dengan Anda?

Bagi saya, iya. Setiap diskusi dan dalam pertemuan lain pasti yang disampaikan adalah persoalan hal konkret. Nah, barangkali inilah bedanya. Terkait HTI, kalau di tingkat nasional mungkin perdebatannya itu politik. Sama ketika saya sebagai pengamat politik. Tapi ketika di kota, kita berbicara tentang HIV-AIDS, tawuran, narkoba. Di mana terjadinya, bagaimana mengatasinya, dan mendekatinya seperti apa. Jadi, hal-hal seperti itu.

Sejak 2008 hingga kini dengan beragam pertemuan Anda dengan HTI, bagaimana respons HTI terhadap kritik atau masukan dari Anda?

Saya kira, clear. Bahwa HTI melihat saya ada dalam posisi yang sama dari dulu sampai sekarang. Anggaplah ini ikhtiar saya untuk menangkal hal-hal yang mengganggu atau merusak persatuan dan kebersamaan kita dan menggarahkan energi positif untuk hal-hal yang konkret. Di saat tidak ada kebijakan yang jelas terkait organisasi seperti HTI ini.

Apakah di antara mereka pernah ada yang mengatakan akan berubah. Misalnya, menerima Pancasila…

(Tertawa) Itu terserah mereka. Ini ikhtiar dari saya. Saya tidak bisa bilang bahwa mereka sudah berubah. Itu urusan mereka.

Makin ke sini hampir tidak pernah kami bicara ideologi. Mereka sudah tahu posisi saya. Semakin ke sini kami bicara hal-hal di lapangan.

Jadi, tuduhan bahwa Anda mendukung ideologi HTI tidak benar, ya?

Silaturahmi itu harus tetap dijaga. Hubungan baik itu mesti tetap dijaga. Kita diajarkan oleh Cak Nur (Nurcholish Madjid) atau Gus Dur (Aburrahman Wahid) untuk bersilaturahmi dan membangun komunikasi.

Langkah saya ini memang tidak lazim karena selama ini logika yang dipakai linear. Datang berarti mendukung. Padahal masalah kepercayaan itu hal yang berbeda. Sama sebenarnya ketika kita diundang ke acara Natal atau ke Cap Go Meh, apakah kita sama dengan kepercayaan mereka? Tidak, kan? []

Komentar