Home » Sosok » Wawancara » Ulil Abshar Abdalla: Musiknya sih Rock Amerika, tapi Sikap Beragamanya Anti Syiah!
Foto: www.youtube.com

Ulil Abshar Abdalla: Musiknya sih Rock Amerika, tapi Sikap Beragamanya Anti Syiah! Wawancara Ulil 2

Tokoh muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla melihat ada gejala menguatnya konservatisme di tengah masyarakat, khususnya umat Islam. Yang menarik, yang menampakkan gejala konservatisme itu justru mereka yang dalam kesehariannya hedonistik dan akrab dengan ikon-ikon budaya pop yang sekular.

“Dalam life style sehari-harinya tenggelam di dalam budaya Punk atau dalam sub-kultur Punk tapi pikirannya sama dengan pikiran orang Wahabi,” kata Pendiri Jaringan Islam Liberal itu kepada Redaksi Madina Online Irwan Amrizal awal Januari lalu di Megaria, Jakarta Pusat.

Karena itu, Ulil bisa memahami jika intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama masih mewarnai kehidupan beragama di Indonesia sepanjang 2015.

Berikut petikan wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla. Untuk diketahui, dalam pada kesempatan itu juga Ulil diminta pandangannya mengenai isu lain. Mengingat hasil wawancara dengan Ulil cukup panjang, Madina Online sengaja memecahnya menjadi 3 seri wawancara agar lebih nyaman bagi pembaca. Dua seri wawancara Ulil yang lain bisa dibaca di sini (Wawancara Ulil 1) dan di sini (Wawancara Ulil 3).

Konservativisme yang terasa menguat dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia. Menurut anda itu tren atau memang karakter umat Islam Indonesia?

Menurut saya itu tren. Sekarang ini trennya orang asik menjadi konservatif dalam bidang keagamaan. Saya menemukan anekdot-anekdot yang menurut saya lucu. Misalnya, di sosial media, ada orang-orang yang bila dilihat dari biodatanya di akun Twitter-nya ia sangat akrab dengan kehidupan urban yang sangat hedonistik. Ikon-ikonnya sangat sekuler. Dia itu pecinta band ini-itu atau grup sepakbola ini-itu. Semua kehidupannya akrab dengan kehidupan sekuler yang khas perkotaan.

Tapi begitu anda lihat isi tweet-nya dalam masalah keagamaan, sangat konservatif sekali. Orang-orang yang menyukai band-band Amerika, Inggris, atau band-band pop yang lain itu tiba-tiba dalam masalah Syi’ah mengatakan Syi’ah itu kafir. Jadi, ada gap antara life style dia yang sangat akrab dengan kehidupan perkotaan yang sekuler dengan visi keagamaan mereka yang konservatif. Gejala yang semacam itu banyak kita lihat di perkotaan.

Menurut anda itu anomali?

Menurut saya itu anomali banget. Itu menurut saya scizofrenia atau keterbelahan jiwa. Di satu pihak dia tenggelam di dalam genangan kehidupan sekuler tapi di pihak lain dia mempunyai gagasan keagamaan yang sangat antik, sangat konservatif. Jadi enggak nyambung sebenarnya.

Nah, gejala yang semacam ini kan banyak terjadi di tengah kita. Jadi, itu yang saya sebut sebagai tiadanya insentif sosial-politik bagi pemangku kebijakan untuk memproduksi atau melahirkan kebijakan yang minority friendly.

Scizofrenia itu hanya diidap masyarakat Muslim perkotaan di Indonesia atau juga diidap di tempat yang lain?

Saya kira ini gejala global. Ini bagian dari gejala, mungkin, postmodernisme dalam masyarakat Islam. Orang terjebak di dalam satu paradoks. Ini bagian dari paradoks masyarakat postmodern. Di satu pihak akrab dengan dunia modern, tenggelam di sana dan akrab dengan ikon-ikon kebudayaan pop-modern, tapi di pihak lain juga tidak bisa meninggalkan tradisi lama yang sudah tidak relevan dengan keadaan sekarang.

Saya bahkan mendapatkan satu informasi yang menarik. Misalnya, ada kelompok-kelompok anak muda Punk di Jakarta tapi di dalam masalah keagamaan sebagian dari kelompok Punk ini terserap ke dalam konservatisme agama dan punya pandangan yang konservatif mengenai agama. Padahal musik dan kultur Punk itu sangat jauh dari kehidupan keagamaan. Jadi, dalam life style sehari-harinya tenggelam di dalam budaya Punk atau dalam sub-kultur Punk tapi pikirannya sama dengan pikiran orang Wahabi.

Jadi, bagaimana kita bisa menerangkan gejala semacam ini? Sangat paradoks. Tapi, inilah paradoks yang kita lihat dalam masyarakat postmodern sekarang. Nah, gejala-gejala semacam ini menurut saya membuat ambiguitas atau membuat pemerintah sekarang ini masih belum terlalu berani membuat kebijakan yang cukup maju dalam bidang toleransi keagamaan.

Apakah sudah ada kebijakan khusus terkait dengan ini dari pemerintah? Atau apakah kelompok muslim moderat sudah memberikan rekomendasi tertentu kepada pemerintah untuk menghadapi fenomena ini? Khawatirnya jika situasi ini tidak dihentikan akan membuat Indonesia  mengarah apa yang disebut Pakistanisasi Indonesia…

Tentu gejala semacam ini memang berbahaya kalau tidak diatasi. Tapi saya tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Cara menghentikannya, mungkin, menyebarkan sebanyak mungkin wacana-wacana yang mencerahkan kepada masyarakat, wacana-wacana keislaman yang kritis. Wacana yang rasional tapi juga tetap mengapresiasi tradisi.

Sebagai muslim, posisi saya itu tetap mencintai tradisi Islam yang cukup kaya ini, baik tradisi Islam klasik maupun tradisi Islam yang modern. Saya mengapresiasi tapi bukan berarti saya tidak melancarkan kritik terhadap tradisi itu. Jadi, saya mencintai sekaligus kritis.

Sikap saya terhadap tradisi Islam, entah itu teologi, filsafat, spiritualitas, hukum, fikih, syari’at, dalam istilah politik saat ini, adalah oposisi tapi loyal. Saya mempunyai sikap kritis tapi loyal. Saya tetap cinta tradisi Islam tapi kecintaan saya tidak membuat saya berhenti untuk melakukan tinjauan kritis terhadap tradisi itu.

Nah, menurut saya kalau etos semacam ini dikembangkan terus-menerus di dalam masyarakat melalui tulisan, ceramah, buku-buku, saya yakin masyarakat akan mempunyai sikap keagamaan yang sehat. Karena tanpa itu akhirnya masyarakat akan terbelah ke dalam dua sikap yang menurut saya tidak ideal.

Pertama, mencintai agama tanpa kritik sehingga apa pun yang dikatakan agama, apa pun yang dikatakan atas nama agama kita terima. Itu berbahaya sekali karena sikap semacam ini bisa dijadikan alat untuk membenarkan tindakan-tindakan yang sangat tidak masuk akal hanya dengan menggunakan bahasa agama. Atau di pihak lain menolak agama sama sekali. Agama dibuang. Nah, kalau menurut saya, sikap yang ideal itu di tengah-tengah.

Apakah semangat moderatisme itu sudah memberikan pengaruh di tengah masyarakat?

Menurut saya belum. Pengaruhnya di masyarakat masih belum terlalu luas. Saya mencoba memperluas pengaruh cara berpikir seperti itu melalui kegiatan saya di sosial media dan kegiatan lain. Tapi pengaruh moderatisme yang saya sebarkan memang masih kalah dibanding dengan pengaruh-pengaruh wacana yang konservatif.

Jadi, masih butuh usaha yang keras lagi ya?

Ya, masih panjang menurut saya. Karena saya yakin masalah intoleransi ini masalah yang berkaitan dengan tingkat peradaban masyarakat Islam sendiri. Tingkat civility atau madaniah masayarakat Islam. Kalau tingkat civility-nya belum naik, ya kita belum bisa berharap banyak. Karena tingkat civility itu menentukan sikap masyarakat secara umum. Kalau tingkat civility-nya masih rendah dalam pengertian belum bisa mengapresiasi ide-ide yang loyal tapi kritis, ya kita masih harus menunggu lama.

Civility itu kan salah satunya tumbuh karena didukung iklim yang menjamin kebebasan. Kita sudah memasuki 17 tahun dalam era reformasi. Itu artinya kebebasan sudah kita nikmati selama 17 tahun. Apakah rentang 17 tahun belum cukup untuk menumbuhkan civility itu?

Nyatanya sampai sekarang belum ada perubahan yang signifikan. Bahkan makin ke sini masyarakat semakin konservatif. Saya malah melihat situasi wacana keislaman pada tahun 80-an lebih baik daripada sekarang.

Dulu orang membaca pemikiran Islam yang lebih beragam. Pada zaman itu orang masih mengapresiasi pemikiran-pemikiran Islam dari kalangan Syiah. Anak-anak muda Islam mengapresiasi pemikiran Ali Syariati, pemikir Muslim Syiah dari Iran yang sangat populer pada tahun 80-an di kalangan mahasiswa. Sekarang ini, jangankan mengapresiasi Ali Syariati, Syiah secara keseluruhan pun oleh sebagian kalangan umat Islam dianggap kafir atau di luar Islam.

Jadi, menurut saya sekarang ini terjadi kemerosotan civility di masyarakat Islam. Dalam pengertian, cara berpikir, paradigma berpikir, thought style, gaya berpikirnya masyarakat Islam sekarang ini menurut saya merosot di Indonesia. Mutu perdebatannya pun semakin merosot. Perdebatan-perdebatan yang sifatnya canggih seperti zaman Munawir Syadzali dan zaman Cak Nur sudah tidak ada.

Sekarang mutu perdebatannya menjadi merosot. Direduksi pada persoalan Valentine itu halal apa haram. Mengucapkan Selamat Natal itu halal atau haram. Terompet tahun baru itu halal atau haram. Menggunakan tattoo itu halal atau haram. Celana cingkrang itu wajib atau tidak.

Jadi, menurut saya civility masyarakat Islam merosot banget. Saya melihat mutu perdebatan Islam pun sekarang merosot sekali. Perdebatannya bukan lagi perdebatan yang sifatnya diskursus yang canggih, tapi soal-soal yang remeh sekali.

Padahal zaman ini adalah zaman internet. Zaman di mana ada banyak informasi yang bisa kita dapatkan….

Ini juga salah satu paradoks yang lain. Pada saat medium komunikasi itu makin maju dan membuka sumber-sumber informasi yang beragam, justru mutu diskursus dalam umat Islam merosot sekali. Dan saya mendengar keluhan semacam ini datang dari penerbit Islam sendiri. Penerbit-penerbit Islam yang dulunya menerbitkan buku-buku Islam yang bermutu seperti Mizan, terpaksa juga harus mengikuti selera pasar. Buku-buku yang serius tentang keislaman itu sekarang tidak sebesar dulu tingkat marketability-nya.

Jadi, saya melihat sekarang ini ada situasi yang buruk dalam bidang civility. Pemikiran dan mutu diskusi di kalangan masyarakat Islam Indonesia merosot. Dan itu menjelaskan kenapa sekarang tingkat intoleransi naik karena orang yang tingkat pemikirannya merosot, maka sikap sosialnya juga merosot.

Jadi, gampang saja sebetulnya mengukur tingkat toleransi masyarakat itu rendah atau tinggi. Lihat saja perdebatan di sana. Kalau perdebatannya rendah dan isu-isu yang diperdebatkan juga tidak bermutu, maka itu menggambarkan ketidakmutuan di dalam sikap-sikap sosial mereka. []

Komentar