Home » Sosok » Wawancara » Semua Berakhir Pada Cinta: Wawancara Helvy Tiana Rosa

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008) 

Helvy adalah energi. Perempuan berjilbab ini punya seabreg kegiatan: menulis (sudah 30-an bukunya terbit), mengajar, berorganisasi, berkeliling Indonesia memberi inspirasi. Angan-angannya bagi Indonesia adalah semua orang Indonesia adalah pembaca dan penulis. Ia selalu bergerak, dan menakar capaiannya dari geraknya di masyarakat.

Semua Berakhir Pada Cinta: Wawancara Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1970. Ia pernah tinggal di tepi rel kereta, dan dalam kesulitan hidup keluarga, ia bertekad akan keluar dari perangkap kemiskinan …dengan menulis. Sebuah cita-cita aneh, sebetulnya, di Indonesia masa Orde Baru. Rupanya, ia memang selalu “majenun” buku, dan selalu hidup dalam lingkaran buku.

Kini ia bersuami Tommy Satryatomo, seorang jurnalis. Dua anaknya: Abdurahman Faiz, penyair nasional yang masih cilik; dan Nadya Paramitha yang baru 11 bulan. Menggeluti sastra, baik penulisan dan kegiatan teater, secara intens sejak ia kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (kini, Fakultas Ilmu Budaya UI). Ia paling dikenal sebagai pendiri dan ketua Forum Lingkar Pena (1997-2005), yang ditabal Taufik Ismail sebagai organisasi penulis paling berhasil dalam sejarah sastra Indonesia. The Strait Times dan Koran Tempo menyebutnya lokomotif penulis Indonesia.

Banyak penghargaan mampir pada Helvy. Misalnya, sebagai salah satu ikon perempuan nasional menurut Gatra (2007), tokoh perbukuan IBF Award IKAPI (2006), Perempuan Indonesia Berprestasi menurut tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2006), dan banyak lagi. Ia sering diundang bicara ke berbagai forum sastra dan budaya di pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir, AS, dan lain-lain. Namun, dari tempat ia mengajar sastra di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, ia selalu naik kendaraan umum ke rumahnya di Depok.

Termasuk, ketika berjumpa redaksi Madina, Hikmat Darmawan, di sebuah gerai makan di Gramedia Depok. Dengan gaya bicara cepat dan tegas tapi jelas, seperti selalu sejak sekolah dulu, Helvy bicara tentang bangsa, cinta, dan pelajaran filosofis dari Faiz, anaknya.

Jadi, stereotipe bahwa jadi penulis tak menghasilkan apa-apa sudah tak berlaku lagi, ya?

Kalau dibilang tak menghasilkan apa-apa sih, ya memang tidak juga. Tapi kalau ditanya jumlah rupiahnya berapa, nah, itu kan yang bervariasi. Saya, setelah 40 buku saya terbit, baru sampai tahap “bisa lah” hidup dari menulis. Tapi, adik saya (Asma Nadia), misalnya, dengan 30 buku sudah makmur. Ada yang hanya dengan satu buku saja, sudah jadi miliarder, karena buku pertamanya memang laku keras. Misalnya, Habiburrahman (pengarang Ayat-Ayat Cinta). Yang jelas, dalam berbagai hal, kita diuntungkan dari menulis.

Panjang juga perjalanan dari “gadis kecil di tepi rel” (sewaktu kecil, Helvy pernah tinggal di rumah sederhana di tepi rel) hingga jadi penulis yang dikenal di seluruh Indonesia….

Saya mensyukuri perjalanan panjang itu. Saya bahagia bahwa saya bukan orang yang muncul tiba-tiba. Saya melalui suatu proses yang boleh dibilang “berdarah-darah” juga. Saya bahagia karena proses itu. Saya banyak belajar dari situ. Saya jadi lebih menghargai proses dari pada apa yang telah saya hasilkan.

Kalau melihat kiprah Helvy selama ini, yang banyak keliling Indonesia, ada kesan bahwa sebagai penulis, Anda adalah aktivis juga. Padahal ada pendapat bahwa penulis punya peran seperti pertapa juga. Kalau aktif terus, kapan “bertapa”-nya untuk menulis?

Kalau dibilang, menulis perlu pengendapan, saya setuju. Tapi kalau harus bertapa (tertawa kecil), terus terang saya tidak sempat. Tapi, saya percaya pengendapan itu ada saat saya aktif bergerak ke mana-mana. Lagi pula, saya percaya bahwa buku yang baik itu adalah buku yang menggerakkan, membuat orang bergerak. Sampai-sampai, saya merasa jadi harus bergerak juga. Misalnya, turut membidani kelahiran para penulis baru di mana-mana. Itu semacam “tugas suci” yang saya cari-cari sendiri (tertawa).

Saya merasa, asyik saja kalau saya bisa berbagi. Lagi pula, saya merasa bahwa, ‘seru’ juga kalau seluruh orang Indonesia adalah pembaca dan penulis. Kenapa saya bisa menyimpulkan bahwa buku baik adalah buku yang membuat orang bergerak, ya, dari pengalaman saja. Saya dulu sering membaca buku yang tidak membuat saya berpikir apa-apa, tidak membuat saya melakukan apa-apa. Dari situ, saya mengubah pilihan buku saya, dan saya menemukan buku-buku yang bisa menggerakkan.

Buku pertama yang membuat saya tergerak adalah karya-karya Mohammad Iqbal (penyair-filsuf India/Pakistan). Khususnya, buku Javid Nama. Lalu buku Totto-Chan. Saya terinspirasi oleh buku itu, sampai saya mengajar di rel kereta segala (tertawa).

Kok, bisa yakin bahwa kalau Indonesia membaca dan menulis, itu bagus. Kan dari dulu, semasa Orba, kita diajari bahwa orang itu harus jadi insinyur, jadi dokter, dan bukan jadi penulis?

Menulis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang dari berbagai ragam profesi. Jadi, profesi apa saja, bisa sambil jadi penulis. Anak saya, Faiz (juga sudah jadi penulis cilik –Redaksi), kalau ditanya mau jadi apa, akan menjawab “mau jadi presiden yang juga penulis.” Kalau tak bisa jadi presiden? Mau jadi ahli komputer yang penulis. Kalau tak bisa juga? Jadi pemain basket yang penulis. Saya selalu menanamkan pada Faiz, tekuni profesi kamu, apa saja, sambil menulis juga. Orang bisa menuliskan apa yang jadi profesi dia. Itu kan akan mengayakan Indonesia juga.

Kita masih miskin, ya, dalam soal ini?

Jika kita bandingkan jumlah penduduk dengan jumlah orang yang menulis, masih jauh sekali. Saya tidak tahu angka pastinya, ya. Tapi kalau kita bandingkan dengan Amerika, kita sangat ketinggalan. Kita baca di (situs internet) goodreads.com saja, deh. Kita lihat, ya Allah, banyak sekali penulis Amerika. Dan mereka bangga sekali, walau misalnya baru menulis satu atau dua buku. Kita juga sebetulnya sekarang sudah mulai banyak penulis. Ini berkat kerja komunitas, kerja kita bersama.

Kalau saya keliling Indonesia, terasa sekali masih kurang budaya menulis dibanding budaya cari uang dengan cara lain. Terutama kalau semakin ke Timur negeri kita, ya. Kalau saya jadi juri lomba menulis, sering sedikit pesertanya. Tentu ada yang berkualitas, dari yang sedikit itu. Mereka juga susah sekali mendapatkan buku. Makanya, kami (Forum Lingkar Pena) berinisiatif mendirikan “Rumah Cahaya”. Mungkin sekarang ada gerakan perpustakaan yang lebih merata. Saya berharap, jangan sampai berhenti di tingkat kelurahan atau kecamatan, tapi perpustakaan tersedia sampai ke tingkat RT.

Dan Rumah Cahaya, punya visi begitu?

Namanya kan “Rumah Baca dan Hasilkan Karya”. Kami, dari FLP, ingin menyediakan tempat bagi adik-adik kami, remaja, untuk membaca dan menulis. Tentu saja keadaan di setiap daerah berbeda-beda.

Di Aceh, misalnya, Rumah Cahaya sempat menjadi tempat bagi rehabilitasi trauma pasca-tsunami melalui menulis. Jadi, menulis sebagai terapi.

Sementara Rumah Cahaya di Penjaringan, sekarang sedang kerepotan, karena sedang terancam digusur.Kalau yang di Penjaringan itu, wah, sampai pernah dipakai tempat menikah segala. Padahal, ruangannya kecil sekali, 2 X 3 meter. Mereka, para penggunanya, mampu menggunakannya untuk workshop, atau apa saja. Rumah Cahaya di Penjaringan itu dikelola oleh penduduk sekitar, yang miskin-miskin. Begitulah, memang beragam keadaan Rumah Cahaya. Dari yang sangat artistik, macam yang di Depok, sampai yang berupa petak kecil. Alhamdulillah semuanya bermanfaat.

Rumah Cahaya memang di bawah naungan FLP. Kami kan sudah ada di 125 kota, di Indonesia dan mancanegara. Kami ingin Rumah Cahaya ada di setiap ranting kami. Tapi, sekarang kami baru bisa punya puluhan.

Bisa jadi partai politik, dong?

Eee …(ketawa) Sampai sekarang, FLP tidak tertarik untuk berada di bawah partai mana pun. Memang ada yang bilang, FLP adalah underbow partai ini dan partai itu. Tapi, nggak lah. FLP itu kan anggotanya sangat berwarna-warni. Pokoknya, kami nggak mau masuk ke partai mana pun. Tegas. Kami hanya bergerak dalam pemberdayaan masyarakat saja.

Anda sendiri, selain lewat FLP tadi, punya visi apa lagi untuk Indonesia?

Kalau saya sih, mulai dari keluarga saja. Saya adalah ibu dari anak saya, anak dari orang tua saya, istri dari suami saya …bagaimana saya bisa jadi baik dalam posisi itu? Dari situ, saya berharap saya bisa jadi orang baik untuk orang-orang di sekitar saya, bisa membawa kebaikan. Misalnya, saya usahakan supaya bisa jadi “ibu” yang baik juga bagi anak-anak di lingkungan rumah. Agar tercipta lingkungan yang baik juga. Saya percaya, kalau setiap ibu di Indonesia berpikir begini, Indonesia bisa jadi lebih baik.

Saya ingat perkataan Faiz suatu ketika. ‘Bunda,’ katanya, ‘mungkin kami, ya, anak-anak negeri ini, yang akan menjalin airmata negeri menjadi cahaya.’ Saya (wajah Helvy tampak terharu) bilang, ‘Faiz, walau begini menyedihkan Indonesia, bunda, ayah, teman-teman kami juga, akan sama-sama menjalin airmata jadi cahaya di negeri ini. Jangan sampai ini jadi beban anak-anak kami saja.’

Tapi, bagaimana ketika berbentur dengan kenyataan. Misalnya, ketika Faiz akhirnya harus pindah sekolah. Tadinya, dia disekolahkan di dekat rumah, supaya bisa berbaur dengan lingkungan. Ternyata, mutu pendidikannya, kualitas gurunya, ‘membahayakan’ perkembangan kecerdasan Faiz. Jadilah Faiz harus pindah ke sekolah bermutu yang mahal….

Iya. Ternyata, bagaimana lagi? Sekolah yang bagus itu, mau tak mau, yang mahal….

Apa yang jadi harapan, kalau keadaannya begini?

Saya kagum dengan organisasi Tahiyat dari Turki, yang membuat SMU Pribadi di Indonesia. Begini, deh. Faiz itu dapat beasiswa dari mereka. Biasanya, beasiswa mereka untuk para peserta olimpiade fisika, misalnya. Baru tahun ini, dibuka beasiswa untuk bidang seni dan budaya. Mereka memberi perhatian begitu rupa, dari mulai pengisian formulir sampai apa pun dalam beasiswa itu. Saya jadi malu, mereka menaruh perhatian begitu rupa pada pendidikan kita. Mereka tak gembar-gembor soal Islam, tapi perilaku mereka mencerminkan itu.

Jadi, perbaikan itu harus dari masyarakat? Apa Helvy nggak punya harapan pada negara? Apakah negara kita sudah gagal, setidaknya dalam soal pendidikan ini?

Yaa, sekarang belum berhasil (tertawa). Saya nggak bilang gagal, tapi jelas belum berhasil. Begini saja, deh. Anggaran pendidikan cuma 20% saja mereka ribut, kok. Begitu susahnya itu dipenuhi. Masalah kualitas pendidikan kan kompleks banget. Kualitas SDM, guru-guru, saja kebanyakan masih rendah. Atau, contoh lain, banyak profesor kita yang belum pernah menghasilkan buku, kecuali buku rame-rame. Terus, mereka tenang-tenang saja …tapi galaknya setengah mati pada mahasiswa (tertawa). Tapi saya kira, memang masyarakat lah yang harus memulai perbaikan, bisa membantu mewujudkan perbaikan itu.

Kalau lihat setiap pemilu, partai-partai mengerahkan segala daya untuk berebut tempat di negara. Bagaimana Helvy melihatnya?
(Suaranya merendah) Harus saya katakan, saya kecewa dengan semua partai yang ada saat ini. Ada sih beberapa partai yang menjanjikan perubahan. Tapi keadaannya ternyata masih sulit bagi mereka untuk melakukan perubahan. Lagi pula, kita kan tidak tahu, ya, ketika para elite kekuasaan itu sedang berada di atas, mungkin saja tujuan-tujuan yang lurus itu akan berubah. Kita tak tahu.

Saya kenal sih, beberapa yang masih lurus. Tapi mereka tak punya power untuk mengubah keadaan. Jadi, sekarang sih, saya tak terlalu berharap pada partai. Saya lebih percaya …ah, begini, lah: kalau ada pilkada, saya lebih suka pada para calon independen (tertawa).

Dari berbagai tulisan Helvy, termasuk di blog multiply-mu, kayaknya Helvy percaya pada cinta. Apa Helvy percaya, bahwa cinta-lah yang akan jadi jawaban bagi bangsa ini?

Oh, itu pasti. Apa pun jawaban itu, pasti ada cinta di dalamnya. Cinta mengawali setiap langkah kita, dan semua akan berakhir pada cinta. Memang, cinta itu melibatkan perasaan yang dalam. Tapi, kadang-kadang, dalam beberapa hal, cinta itulah yang membuat kita berpikir lebih logis.

Saya sih belajar dari anak saya, Faiz. Dia pernah bertanya, bunda, apakah cinta selalu menyediakan air mata. Ketika aku mencintai, kata Faiz, aku selalu keluar air mata. Ketika Faiz memikirkan Indonesia –dia cinta Indonesia– dia selalu menangis. Saya bilang, mungkin sekarang begitu. Suatu saat nanti, dengan cinta pula kamu akan menghapuskan air mata itu. (Helvy, tertawa. Dia bilang, ‘gile, kok saya ngomong filsafat begini dengan anak, bukan dengan profesor.)

Tapi, bukankah sekelompok orang yang bertindak kekerasan pada ajaran yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah kemarin, juga bertindak atas nama cinta (paling tidak, di tingkat massa mereka) pada agama sendiri? Bagaimana bisa cinta membawa pada skisma (pertentangan) dengan kekerasan begitu?

Saya sih berpendapat, semua berhak menyatakan kepercayaan mereka. Saya tak ada masalah dengan ekspresi kepercayaan orang lain. Sama seperti begini, ada orang bikin buku yang mengajak pada maksiat. Apakah kita harus membakar buku itu? Oh, jangan. Lawan dengan buku juga.

Bagi saya, kalau kita Muslim yang baik, kita harus selalu mengedepankan dialog. Apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan bersama. Tak perlu serbu-serbuan begitu. Saya kira, itu ujian keragaman di negara kita. Kalau saya sih, tidak asing dengan keragaman itu. Ibu saya dulu Katolik, keluarga saya ada yang Hindu ada yang Budha, dan kami di keluarga selalu mengedepankan dialog jika ada perbedaan. Kita jangan saling menyalahkan, tapi mencari tahu kenapa orang berbeda pendapat. Dengan kepala dingin.

Ada syarat tertentu untuk membangun keragaman yang positif seperti itu?

 Kalau saya selalu berpikir, kita kan hidup tidak sendirian. Selalu ada orang lain. Contohnya kemarin, waktu saya ke Amerika. Sebelumnya, saya benci sekali pada Amerika. Tapi setelah saya ke sana, saya sadar, saya bukannya membenci Amerika …saya benci pikiran-pikirannya Bush! (Tertawa) Dan ternyata, profesor yang saya jumpai itu, orang Amerika itu, benci juga sama Bush. Dia bilang, Bush itu orang gila! Kita kan tak menyangka. Dulu kan kebencian kita umum banget, pokoknya kita benci Amerika. Ternyata itu tidak bijak.

Akhirnya, kita harus kembali ke hati kita, dan wawasan kita. Kadang-kadang kita keburu berteriak, sebelum kembali pada nurani dan wawasan. Kalau kami, di FLP, kami selalu memelihara dialog. Anggota kami kan ada yang sangat kiri, tapi ada juga yang sangat kanan. Bisa jadi yang satu menggugat yang lain, tapi dialognya yang dijaga.

Mungkin soalnya adalah ketika perbedaan pandangan itu melibatkan kekerasan, ya?

Kalau begitu, di mana peran para tokoh masyarakat, dong? Saya memang melihat, saat ini, kita sedang mengalami krisis tokoh masyarakat. Sehingga kalau tokoh masyarakat bilang jangan, masyarakat juga nggak mau dengar. Tapi, jangan lupa, kita baru melewati krisis pada 1998 lalu …eh, sudah lama juga, ya? (Tertawa) Tapi memang ada juga pihak-pihak tertentu yang memancing di air keruh. Saya percaya itu perlu juga diwaspadai.

Oke, sekarang, apa tiga masalah paling besar yang dihadapi oleh Indonesia saat ini, menurut Anda?

Tiga, ya? Perasaan, banyak banget ….(tertawa). Oke. Pertama, saya merasa bahwa kita sedang mengalami krisis identitas. Saya merasa saat ini kita terlalu banyak keluar dari kearifan budaya lokal, kearifan lokal yang dibentuk oleh budaya kita sendiri. Orang-orang yang saya jumpai di kendaraan umum (sambil tersenyum, Helvy menyebut bahwa dia memang masih selalu menggunakan kendaraan umum) dengan orang-orang yang saya jumpai di lift, misalnya, itu sangat berbeda. Saya merasa orang-orang kita mudah marah-marah, tidak toleran. Saya rasa ini karena mereka merasa tak punya identitas di negeri ini.

Kedua, krisis kepercayaan. Misalnya, kepercayaan terhadap (lembaga) pemerintah. Bayangkan, semua orang yang nyemplung ke pemerintahan tiba-tiba harus berhubungan dengan pengadilan. Hancurlah kepercayaan kita. Masalahnya, orang-orang yang kita beri kepercayaan juga tidak membuat kita tetap percaya. Jadi, ada krisis amanah. Orang-orang yang kita beri amanah, sepertinya tak mau mendengar nuraninya sendiri …boro-boro mendengar nurani rakyat, nuraninya sendiri pun tak didengar. Celakanya di Indonesia, itu terjadi di semua lini. Itu kan bahaya. Bahkan, mahasiswa pun tak percaya pada dosen mereka. Habis, mahasiswa disuruh menulis, tapi profesornya tidak menulis.

Satu lagi. Buat saya, kata “kebebasan” bisa jadi krisis, ketika kita menggunakannya tanpa bertanggungjawab. Kita boleh sebebas-bebasnya, tapi jangan lupa, kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain …yang mungkin tak suka pada kebebasan kita. Jadi, bagaimana mengelola ini. Buat saya, ini kebebasan yang kebablasan. Yang kebablasan ini termasuk, yang merasa bebas untuk menyerbu itu tadi. Kita suka lupa, kebebasan kita memang dibatasi kebebasan orang lain.

Ini krisis dialog juga. Termasuk dalam menerima pendapat yang beda, termasuk dalam menerima kritik. Buat saya, kritik adalah tanda kasih sayang. Bangsa kita saat ini tidak menganggap kritik sebagai perhatian, tapi sebagai rongrongan. Kritik kan agar kita bisa memperbaiki diri, ya. Tentu, kritik yang saya maksudkan adalah kritik yang membangun. Buat saya, orang yang tak suka dikritik itu aneh sekali.

Mungkin, perlu ada tolok ukur untuk soal ini?

Tolok ukurnya, ya, kearifan lokal tadi!

Komentar