Home » Sosok » Wawancara » “Salah Besar Menuduh LGBT itu Menular”

“Salah Besar Menuduh LGBT itu Menular”

Menjadi waria bukanlah hidup yang dikehendaki Vinolia Wakijo. Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Keluarga Besar Waria Yogyakarta (LSM Kebaya) itu merasakan sekali bagaimana tidak mudahnya hidup sebagai orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda.

Mantan Koordinator Divisi Waria Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta itu saat masih belia kerap dipukuli kakaknya yang tidak menerima perangainya yang tidak seperti anak laki-laki pada umumnya. Ia pun sering dipandang sebelah mata, tidak dihargai, bahkan tidak jarang dilecehkan. Padahal kontribusi sosialnya tidak sedikit.

Mami Vin –begitu ia sering disapa anak-anak asuhnya, para waria dan anak-anak jalanan– bukan tidak pernah ‘protes’ kepada Tuhan atas suratan takdir yang harus ia jalani itu. Dalam doanya ia berharap agar dilahirkan kembali dalam kondisi laki-laki yang sebenarnya atau perempuan yang sebenarnya.

“Tapi bagaimana lagi, saya sudah terlahir dengan kondisi seperti ini. Ya sudah, saya harus menyikapinya dengan baik dan bersyukur. Masa mau terus-terusan protes. Mau sampai kapan?” kata satu dari sekian waria berprestasi yang kisah hidupnya diabadikan dalam buku Sesuai Kata Hati (2014) itu kepada Madina Online.

Sejak bergabung dengan PKBI pada awal dekade 1990-an, sosok kelahiran Yogyakarta 1958 itu sudah terlibat dalam kampanye sadar HIV/AIDS yang ditujukan kepada pekerja seks perempuan, pekerja seks waria, dan anak jalanan. Mengingat tingkat penularan HIV/AIDS di kalangan kelompok waria tergolong lebih cepat, ia didorong kerabatnya di PKBI agar fokus kepada kelompok waria. Keluar dari PKBI, Vinolia mendirikan LSM Kebaya pada 2005.

Menurut Vinolia, sejak berdiri sampai hari ini, sudah ada 92 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dirawat dan didampingi di kantor LSM Kebaya. Berdasarkan catatannya, ODHA yang pernah dirawat dan telah dinyatakan sembuh tidak hanya dari kalangan waria dan kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), tapi juga ada perempuan dan laki-laki yang heteroseksual. Dan dari catatannya, kalangan heteroseksual yang paling banyak dirawat dan didampingi adalah ibu-ibu rumah tangga.

Belakangan isu LGBT ramai diperbincangkan. Ada yang pro dan tentu saja yang kontra. Vinolia yang sering diundang sebagai pembicara di berbagai forum tentang isu waria, LGBT, dan pendampingan terhadap ODHA semula menikmati perbincangan itu. Hitung-hitung ia bisa menambah informasi baru dari perbincangan itu.

Tapi ia mulai terganggu dengan tuduhan-tuduhan yang dilayangkan pihak-pihak yang membenci keberadaan kelompok LGBT. Dua fitnah yang utama adalah para pelaku LGBT dituduh kelompok yang mengalami gangguan jiwa dan dianggap ingin mempengaruhi orientasi seksual kelompok heteroseksual agar menjadi homoseksual. Melihat fitnah yang berkembang itu, Vinolia pun angkat suara.

Apa yang disampaikan sosok berhijab itu untuk meluruskan tuduhan-tuduhan terhadap kelompok LGBT? Apa pesan yang ia sampaikan kepada anak-anak asuhnya, kaum waria, dalam situasi penuh kebencian kepada kelompok LGBT beberapa waktu terakhir ini? Berikut petikan wawancara Irwan Amrizal dengan pemilik akun Facebook dengan nama Vinolia Wakijo itu pada Ahad (28/2) via telepon.

Belakangan ini isu LGBT menjadi perbincangan banyak kalangan. Ada yang bersimpati, tapi tidak sedikit yang kontra dengan keberadaan kaum LGBT. Bagaimana anda melihat polemik ini?

Beberapa waktu terakhir ini yang lagi santer isu tentang LGBT. Kelompok yang kontra selalu menganggap kami di posisi yang salah. Sementara yang bersimpati melihat kami tidak masalah. Tentu dalam diskusi ini harus melibatkan teman-teman dari kelompok LGBT sendiri sebagai subjek yang bersuara. Kelompok LGBT jangan hanya dianalisa dan disimpulkan oleh pihak lain tanpa ada keterlibatan mereka. Dengan begitu, ada banyak informasi yang bisa dipetik terkait isu LGBT.

Belakangan ini saya terpaksa angkat suara. Sebab saat ini opini yang berkembang sangat menyudutkan saya secara pribadi. Dari yang saya baca di sosial media dikatakan bahwa LGBT itu gangguan jiwa, mempengaruhi mereka yang heteroseksual, juga menular. Padahal apa yang dituduhkan itu tidak ada dalam diri saya.

Di berbagai kesempatan, baik sebelum isu LGBT merebak maupun saat ini, saya menceritakan histori saya sewaktu kecil, remaja, terdampar di jalanan sampai masa ketika saya memutuskan untuk mengambil pilihan hidup seperti saat ini sebagai pegiat sosial. Selama proses itu, semua hal-hal yang membuat saya sedih, marah, sampai kemudian memutuskan untuk memaafkan sudah saya alami semuanya. Meski begitu, kelompok LGBT tetap saja ditekan dengan pandangan yang tidak menyenangkan dan berbagai ancaman.

Melihat berbagai cobaan itu, saya berpikir mungkin beginilah hidup saya. Saat ini yang terpenting bagi saya adalah melakukan kebaikan sebanyak mungkin, terlepas kondisi saya yang seperti ini. Karena setiap manusia diperintahkan untuk berbuat baik sebisanya, terlepas ia seorang laki-laki, perempuan, atau waria seperti saya.

Apa yang anda sampaikan untuk meluruskan opini yang menyudutkan anda dan teman-teman LGBT lainnya?

Saya katakan bahwa apa yang ada dalam diri saya ini tidak seperti yang mereka katakan itu. Kalau saya dikatakan mengalami gangguan jiwa, saya pasti melakukan tindakan yang di luar kontrol kesadaran saya. Tapi selama ini saya baik-baik saja. Saya juga bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar saya secara baik.

Sekadar informasi, saya itu berbeda dengan kebanyakan waria. Saya itu selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Karena kalau saya hanya ada di kelompok waria saja, saya merasa tidak akan berkembang. Makanya saya bergaul dengan masyarakat umum. Saya, misalnya, dulu pernah terlibat di Karang Taruna di tempat saya tinggal. Saya juga pernah aktif di kegiatan PKK.

Kebetulan saya punya bakat tertentu yang saya ajarkan kepada orang yang mau belajar kepada saya. Dulu, sebelum dan sesudah keluar dari rumah, saya sering mengajar tari. Tidak hanya kepada teman-teman seangkatan, tapi juga kepada anak-anak dan ibu-ibu. Saya juga mengajarkan operet. Mungkin itu kelebihan saya yang tidak dimiliki orang lain.

Dengan bergaul di tengah-tengah masyarakat, saya ingin mengatakan bahwa kaum LGBT yang dianggap sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa, menyimpang, dan menular itu tidak benar. Setiap diundang sebagai pembicara juga saya luruskan tuduhan-tuduhan itu.

Terkait tuduhan bahwa kaum LGBT itu menularkan prilaku seksualnya yang menyimpang kepada orang lain, apa yang anda sampaikan?

Saya adalah waria yang tidak diterima keluarga saya sendiri, terutama dari kakak laki-laki saya. Karena itu, saya putuskan keluar dari rumah untuk mencari jati diri. ‘Rumah’ yang menerima saya saat itu adalah jalanan. Jujur saya akui dulu saya seperti umumnya waria lainnya yang menjadi pekerja seks. Tapi sejujurnya itu bukan kemauan saya. Saya terpaksa melakukan itu karena saya juga butuh makan dan tempat tinggal sementara.

Saat itu, saya pernah berpikir untuk keluar dari kehidupan jalanan sebagai waria-pelacur. Saya ingin, misalnya, bekerja di tempat yang dianggap lebih terhormat. Jauh dari stigma. Tapi itu tidak mudah. Dari pengalaman sesama waria yang mencoba di tempat lain, kami tidak diterima. Kalau pun diterima, kami tidak diizinkan berpakaian perempuan. Dari pengalaman itu, saya putuskan untuk tetap di jalanan.

Tapi, untuk diketahui, selama itu saya tidak hanya bergaul dengan waria-pelacur dan mba-pelacur. Saya juga bergaul dengan anak-anak jalanan. Dari pergaulan dengan anak-anak jalanan, saya merasa anak-anak jalanan itu butuh perhatian saya. Setiap hari saya berkumpul dengan anak-anak  jalanan dan menanyakan kegiatan mereka. Jika belum makan, mereka biasanya minta ke saya.

Semakin bergaul dengan anak-anak jalanan, saya semakin menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak jalanan. Dari tahun 1994 sampai 2004, saya mengurusi anak-anak jalanan yang berada di Jalan Marioboro juga di Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu. Yang saya lakukan kepada anak-anak yang usianya di bawah 12 tahun adalah mengajari mereka membaca dan menulis.

Sementara yang remaja, karena mereka ini rentan dari pelecahan seksual, saya dekati mereka satu per satu. Saya dekati anak jalanan remaja pria agar mereka lebih menghargai anak jalanan remaja perempuan dan anak-anak yang umumnya menjadi korban pelecehan seksual. Saya melakukan itu agar angka pelecehan seksual di anak-anak jalanan itu tidak ada, meskipun itu mustahil. Mengurangi tindakan pelecehan seksual selama 10 tahun di kalangan anak-anak jalanan itu saja tidak mudah.

Saya juga mengajak LSM-LSM yang saya kenal untuk sama-sama memperhatikan nasib anak-anak jalanan di Yogyakarta. Karena kalau hanya saya bekerja sendiri pasti hasilnya tidak maksimal.

Dari cerita ini, anda ingin mengatakan bahwa tudingan kelompok LGBT itu ingin menularkan orientasi seksual mereka yang dianggap menyimpang itu salah, ya?

Iya, tudingan itu salah. Sebab, anak-anak jalanan itu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Saya itu mungkin sudah ditakdirkan Allah sebagai manusia yang tidak tegaan. Itu yang membuat rasa kemanusiaan saya lebih menonjol dari hal-hal yang lain. Karena itu, hampir seluruh waktu saya untuk anak-anak jalanan.

Sampai saat ini saya masih berhubungan dengan anak-anak asuh saya itu. Sebagian dari mereka sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Kalau dihitung, ‘cucu’ saya itu sudah banyak sekali. Artinya, anak-anak jalanan yang laki-laki maupun yang perempuan yang heteroseksual tetap hetero.

Saya mengakui ada oknum waria yang menjadi pelaku pedofilia. Saya tahu dan kenal pelaku itu. Tapi oknum waria ini menyendiri dan tidak bergaul dengan waria-waria lainnya. Di beberapa kesempatan, saya ingin mengajaknya bicara agar dia tidak mengulanginya lagi. Tapi saat itu belum ada kesempatan.

Suatu waktu, di satu warung, ada anak jalanan laki-laki yang cerita kepada saya bahwa dia adalah korban pedofilia oknum waria itu. Setelah itu, saya luangkan waktu untuk menemui dan berbicara dari hati ke hati dengan oknum waria itu. Dia mau berbicara dengan saya karena dia tahu saya dikenal baik.

Dari pembicaraan itu, dia mengakui bahwa dia pelaku pedofilia. Dia lalu bercerita bahwa dulu, ketika dia masih kanak-kanak, dia adalah korban pedofilia. Dia cerita bahwa pelakunya adalah kakak laki-laki kandungnya sendiri. Dia berasal dari keluarga broken home. Karena kehidupan keluarganya bermasalah seperti itu, dia akhirnya memilih hidup di jalanan.

Dalam kesempatan itu saya juga katakan agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi karena anak-anak jalanan itu sudah saya anggap anak saya sendiri. “Kalau kamu menyakiti anak-anak jalanan, itu artinya kamu juga menyakiti saya. Secepatnya kamu menghentikan perbuatan itu. Takutnya kamu ketahuan polisi.” Dia beralasan tidak menghentikan perbuatannya karena ini dan itu. Akhirnya saya katakan, “Andai itu dialami adik atau keluarga kamu sendiri. Bagaimana perasaan kamu? Pasti marah, kan?”

Beberapa bulan setelah itu, saya tidak pernah melihat dia lagi. Belakangan saya melihat dia sudah mengandeng pacarnya, seorang perempuan. Dan saya dengar mereka sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Kemudian saya temui teman-temannya untuk mencari tahu kabar terbaru tentang dia. Informasi dari teman-temannya dikatakan bahwa dia tidak lagi ‘berkeliaran di jalan.’

Dari cerita tentang waria pelaku pedofilia itu, sebagian kalangan malah melihatnya bahwa waria itu sebenarnya bisa ‘sembuh’ dan kembali normal serta menikah dengan perempuan…

Di kalangan waria dia sebenarnya oknum. Maksud saya, orientasi seksual dia sebenarnya adalah hetero. Tapi karena ada masalah di rumah, dia akhirnya ada di jalanan dan menjadi waria. Apalagi menjadi waria-pelacur itu pendapatannya lumayan banyak. Makanya dia tertarik seperti itu.

Saya punya seorang teman. Dia juga waria. Keluarganya otoriter. Keluarganya tidak mau tahu tentang keadaannya yang berbeda dengan laki-laki lainnya. Keluarganya itu kemudian menikahkan dia dengan perempuan yang tidak ia cintai. Saat menikah, dia sebenarnya mengundang saya dan teman-teman waria lainnya untuk hadir. Tapi saya dan teman-teman waria lain tidak hadir sebagai bentuk perlawanan keputusan keluarganya itu.

Cukup lama saya tidak bertemu dia. Suatu waktu saya bertemu dia. Dalam pertemuan itu dia bercerita bahwa dia tidak menyukai pernikahannya itu. Itu dia lakukan karena tekanan keluarga. Dia mengaku dia sebenarnya lebih nyaman berpakaian perempuan. Dan di dalam hatinya dia menyukai laki-laki.

Saya tanyakan soal kehidupan seksualnya dengan sang istri. Apalagi istrinya sudah hamil. Dari pengakuannya, ketika ingin melakukan hubungan seksual dia membayangkan istrinya itu adalah mantan cowok-nya yang dulu. Itu artinya dia sama sekali tidak menjalani pernikahannya itu dengan hati.

Jadi, tekanan-tekanan sosial justru membuat teman-teman waria dan kelompok LGBT secara umum menjalani kehidupan yang mendua atau penuh topeng, ya?

Iya, seperti itu. Yang terjadi kemudian, teman waria itu ‘dandan’ lagi. Istrinya dia ceraikan padahal anaknya sudah tiga. Sedih juga jika mendengar pengalaman teman waria ini.

Saya sendiri mendukung jika ada teman-teman waria yang ingin berkeluarga seperti keluarga heteroseksual pada umumnya. Kalau ada yang seperti itu biasanya saya berpesan agar dia tidak usah lagi berkumpul dengan teman-teman waria lain. Urus saja keluarga dengan baik. Tapi nyatanya ada banyak teman-teman waria yang kembali ke kehidupan lamanya sebagai waria.

Pegiat sosial dan HAM melihat kecenderungan diskusi tentang LGBT yang semula sehat belakangan mengarah pada ujaran kebencian. Banyak tokoh berpengaruh, misalnya, mengatakan bahwa prilaku LGBT itu sengaja diimpor untuk menghancurkan moral masyarakat Indonesia. Atas dasar itu, kelompok LGBT, menurut mereka, harus ‘disembuhkan’ untuk tidak mengatakan dibasmi. Apa anda melihat hal serupa?

Yang terjadi belakang ini memang mengkhawatirkan bagi teman-teman. Mungkin yang tidak mengkhawatirkan hal itu hanya saya. Saya berlindung pada Allah. Saya yakin apa yang terjadi saat ini sudah diatur Allah. Jadi, saya tidak khawatir. Kalau terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, saya rela. Yang penting saya bisa berbuat baik semampu saya.

Saya berharap agar semua pihak lebih bijak menghadapi situasi ini. Jangan bertindak yang melawan hukum. Yang dibutuhkan semua pihak adalah duduk bersama untuk berdiskusi dengan baik-baik dan berkepala dingin.

Jujur, jika hidup seperti ini ditawari sejak awal, saya tidak mau. Tapi ini sudah terjadi. Ya sudah, saya terima dengan lapang hati. Saya sebenarnya kurang nyaman ketika ditanya, “Sejak kapan menjadi waria?” Saya dan teman-teman waria itu tidak ‘menjadi’. Kami itu berbeda dengan orang pada umumnya. Dan anugerah yang Allah berikan kepada saya ini saya terima dan syukuri.

Apa yang anda bekali untuk teman-teman waria asuhan anda di tengah situasi ujaran kebencian yang saat ini menyerang kelompok LGBT?

Saya mencoba untuk memberikan pemahaman kepada teman-teman agar tidak melakukan tindakan yang mencolok. Kendalikan emosi. Jaga sikap dan jaga tutur sapa. Harus sensitif dengan situasi sekitar. Jangan mengamen di lampu merah atau di mana pun dengan pakaian yang dirasa tidak sopan.

Dari semua itu, yang saya tekankan adalah kendalikan emosi. Sebab, para waria itu labil. Jika ada yang menyebutnya banci, misalnya, dia langsung bereaksi. Marah. Juga kalau bisa jangan dulu mengamen dan ‘keluar’ di malam hari. Saya tahu biasanya teman-teman itu punya tabungan. Sementara ini, gunakan uang tabungan dulu untuk makan. Toh, situasi seperti ini tidak akan lama. Situasi ini kan sepertinya tiba-tiba. Sama seperti isu-isu lain yang tiba-tiba mencuat dan biasanya juga akan tiba-tiba reda.

Di saat banyak orang yang emosional menyikapi isu LGBT, cenderung kehilangan akal sehat, dan mau menang sendiri, saya dan teman-teman waria memilih untuk mengalah dulu. Toh, dengan mengalah kami tidak merasa terhina.

Saya membaca informasi tentang masa lalu anda. Dikatakan bahwa anda mengalami kekerasan di dalam rumah karena ada anggota keluarga yang tidak terima dengan keberbedaan anda. Bisa anda ceritakan secara singkat?

Saya adalah anak bungsu di keluarga. Dulu waktu kecil saya lebih sering bersama teman-teman sebaya yang perempuan daripada dengan teman laki-laki. Waktu kecil itu saya tidak bisa main layang-layang dan manjat ke atap rumah. Saya lebih suka main boneka dan permainan anak perempuan lainnya. Sebetulnya orangtua saya mengingatkan untuk tidak terus main permainan anak perempuan. Tapi cuma itu permainan yang saya bisa.

Kebetulan kakak saya yang pertama, laki-laki, itu preman yang cukup disegani di Kota Yogyakarta. Mungkin dia merasa malu kalau punya adik yang waria. Setahu kakak saya itu hidupnya waria itu di jalanan sebagai pekerja seks. Karena itu otomatis dia merasa malu. Dia tidak terima dengan kondisi saya itu. Dia sering memukuli saya agar saya menjadi anak laki-laki pada umumnya. Karena saya tidak kuat dengan situasi itu akhirnya saya keluar dari rumah. Sekolah juga berhenti. Saat itu saya baru kelas 1 SMU.

Sejak kapan anda menyadari bahwa anda berbeda dengan anak laki-laki pada umumnya?

Sejak SD. Di kelas saya lebih mau duduk di bangku bersama anak-anak perempuan. Karena keberbedaan itu saya menjadi korban bully teman-teman kelas yang laki-laki. Saya disebut wandu, banci. Kalau sudah di-bully seperti itu saya hanya bisa menangis.

Tapi karena prestasi di kelas selalu di tiga besar, saya selalu dibela guru. Yang bully saya pasti dimarahi. Kata guru saya, “Meski begitu, dia pintar. Tidak seperti kamu yang bandel.”

Pada masa-masa sulit itu, pernahkah di dalam hati anda mengajukan protes kepada Tuhan atas apa yang anda alami saat itu?

Pernah. Saya protes agar saya dimasukkan kembali ke dalam rahim ibu saya. Kemudian dilahirkan dalam kondisi laki-laki yang sebenarnya atau perempuan yang sebenarnya. Karena hidup dengan apa yang saya alami saat ini sangat tidak mudah. Saya dan teman-teman waria lainnya sering dipandang sebelah mata, tidak dihargai, bahkan tidak jarang dilecehkan. Jika kami tidak kuat mental mungkin sudah frustasi.

Tapi bagaimana lagi, saya sudah terlahir dengan kondisi seperti ini. Ya sudah saya harus menyikapinya dengan baik dan bersyukur. Masa mau terus-terusan protes. Mau sampai kapan?

Tadi anda katakan bahwa lingkup pergaulan anda tidak hanya dengan sesama waria, tapi juga masyarakat secara luas. Apa itu cara untuk menjembatani antara kelompok waria dengan masyarakat?

Saya ini orang yang tidak bisa diam dan selalu ingin melakukan sesuatu. Karena itu saya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang saya suka. Kedekatan saya dengan masyarakat seringkali disalahpahami teman-teman waria sendiri. Mereka menganggap saya tidak mau bergaul dengan mereka dan hanya mau bergaul dengan masyarakat. Akhirnya, teman-teman waria ‘mem-bully’ saya (tertawa). Mungkin itu risiko yang harus saya terima karena terlalu aktif. []

Komentar