Home » Sosok » Wawancara » “Rujukan Beragam Menjadi Alasan Pemilih Muslim Jakarta tidak Peduli Seruan MUI”
Slide salah satu temuan survei SMRC bertajuk "Kinerja Petahana dan Peluang Para Penantang dalam Pilkada DKI Jakarta".

“Rujukan Beragam Menjadi Alasan Pemilih Muslim Jakarta tidak Peduli Seruan MUI”

Ada sejumlah temuan menarik dari hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Kamis (20/10) di Jakarta. Salah satunya adalah pemilih Muslim Jakarta yang memilih gubernur karena alasan sesama agama hanya 3,6 persen.

Temuan itu agaknya menunjukkan bahwa upaya mempolitisasi isu SARA menjelang Pilkada Jakarta yang cukup massif tidak mempunyai pengaruh apapun. Politisasi isu SARA itu tidak menggerus suara untuk petahana, Gubernur Jakarta Basuki Thajaja Purnama atau Ahok yang merupakan bagian dari kelompok triple minority: Kristen, Cina, dan bukan putra daerah.

Faktanya lebih dari 50 persen pemilih Muslim Jakarta mantap menudukung Ahok. Mereka seolah tidak terlalu memperdulikan apa agama dan dari mana asal kandidat yang mereka dukung itu.

Mengapa hal itu terjadi dan bagaimana penjelasannya? Berikut hasil wawancara Redaksi Madina Online Irwan Amrizal dengan Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas usai presentasi temuan survei itu di kantor SMRC.

Hasil survei SMRC yang dirilis tadi siang menyebut bahwa warga Muslim Jakarta yang memilih gubernur karena alasan sesama agama hanya 3,6 persen. Padahal kampanye isu SARA agar tidak memilih kandidat pejawat Ahok yang non-Muslim pada Pilkada Jakarta 2017 ramai dihembuskan. Apa yang bisa dibaca dari temuan itu?

Secara umum, pemilih Jakarta itu melihat kekuatan calon-calon yang ada dari aspek yang rasional.Aspek rasional itu adalah aspek-aspek yang dirasa penting bagi kehidupan mereka dan penting untuk kemajuan Jakarta secara keseluruhan.

Dalam survei kami, aspek rasional itu terdiri dari kejujuran dan bersih dari korupsi, mampu memimpin, perhatian pada rakyat, serta tegas dan berwibawa. Faktor-faktor yang terkait dari aspek emosional, seperti kesamaan agama, kesamaan etnis dan asal usul, ganteng dan santun, adalah aspek-aspek yang tidak terlalu penting.

Warga Jakarta melihat faktor-faktor yang emosional itu menjadi urusan privat. Itu sebabnya, meskipun kita tahu bahwa isu SARA sudah dimainkan jauh-jauh hari, kelihatannya tingkat kepuasan pada incumbent lebih penting ketimbang etnis dan agama apa incumbent itu berasal. Bagi warga Jakarta, yang penting adalah bukti kinerjanya, sifatnya yang jujur, bersih, tegas, dan bisa memimpin.

Itu artinya kampanye massif agar Muslim Jakarta wajib memilih kandidat yang Muslim karena itu adalah perintah Tuhan yang termaktub dalam al-Maidah 51 rupanya tidak berpengaruh ya…

Bicara soal wajib dan perintah Tuhan, itu kan interpretasi kita terhadap ayat itu. Karena tidak semua kelompok Muslim bersepakat bahwa kata awliya dalam ayat itu diartikan sebagai pemimpin, apalagi dieksplisitkan sebagai pejabat pemerintah seperti gubernur.

Kalau kata awliya itu dieksplisitkan sebagai pejabat pemerintah seperti gubernur, itu terkesan menjadi interpretasi yang ditarik ke mana-mana. Karena kata awliya itu tidak ekuivalen dengan definisi kepala pemerintahan.

Jadi, ketika ada kelompok yang menafsirkan kata awliya sebagai kepala pemerintahan, interpretasi itu seperti ditarik-tarik dan dipaksakan. Padahal konteks turunnya ayat itu sangat berbeda dengan konteks saat ini.

Jika memilih gubernur yang sesama Muslim itu dikatakan sebagai kewajiban, itu kewajiban dari mana? Dari mana dasarnya? Dan juga kenapa hanya untuk kasus Pilkada Jakarta?

Tapi pengeksplisitan bahwa memilih gubernur sesama Muslim itu adalah kewajiban dan perintah Tuhan dilakukan oleh MUI. Lembaga yang dipercaya punya otoritas bicara agama…

Kita semua tahu bahwa fatwa itu adalah opini ulama. Kebetulan mereka yang bergabung di dalam MUI adalah orang-orang yang pernah belajar kitab kuning dan punya gelar sarjana keagamaan. Tapi mereka belum tentu lebih pintar, lebih luas pengetahuannya, dan lebih saleh dengan ulama-ulama lain yang tidak bergabung di dalam MUI. Apa yang disampaikan MUI itu bukan satu-satunya suara tunggal.

Quraish Shihab itu bukan anggota dan juga bukan pengurus MUI. Lalu apa bisa kita katakan bahwa pengetahuan Quraish Shihab itu lebih rendah dibandingkan salah satu pengurus MUI yang ngamuk-ngamuk saat bicara di Indonesia Lawyer Club-nya TV One?

Itu artinya, seperti apapun MUI berteriak soal al-Maidah 51, mereka bukan representasi tunggal pendapat dan penafsiran keagamaan. Itu makanya, NU dan ulama-ulama lain punya pandangan yang berbeda soal interpretasi ayat itu.

Dengan demikian, warga Muslim Jakarta punya rujukan yang relatif lebih beragam. Kan tidak ada kewajiban mengikuti MUI? Enggak ada sanksi apa pun juga jika enggak mengikuti MUI. Apa kita akan masuk neraka jika tidak mengikuti MUI? Kan mereka juga belum tentu masuk surga.

Bahwa interpretasi MUI terhadap ayat itu bermuatan politis dan menjadi rujukan, iya memang. Bahkan interpretasi MUI dijadikan rujukan oleh orang-orang yang bersuara lantang di jalanan. Tapi di sisi lain, pendapat dari NU, dari Quraish Shihab, atau dari Syafi’i Ma’arif bisa juga menjadi alasan bagi pemilih Jakarta yang Muslim untuk tidak peduli dengan seruan MUI itu.

Survei ini dilakukan pada tanggal 1 sampai 9 Oktober 2016, sebelum demonstrasi sebagian kelompok Islam pada Jumat (14/10) di depan Balai Kota. Apakah, menurut Anda, demonstrasi itu akan berpengaruh pada perolehan suara bagi Ahok?

Kami memang belum membaca setelah tanggal 9. Karena itu, kami belum bisa menyampaikan banyak hal.

Tapi, tren yang bisa dibaca dari data kami adalah isu SARA yang digunakan untuk menyerang Ahok itu tidak memberi efek yang membahayakan untuk elektabilitas Ahok. Di sisi lain tidak juga memberi manfaat elektoral bagi lawan-lawannya.

Jika politisasi isu SARA tidak mengerus suara Ahok dan tidak memberi manfaat elektoral bagi lawan-lawannya itu artinya politisasi isu SARA adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan ya…

Itu bisa dilihat dari alasan warga Jakarta, khususnya yang Muslim, dalam memilih calon seperti yang kita diskusikan di awal. Faktor-faktor emosional itu bagi pemilih Jakarta sudah tidak terlalu penting lagi. Hanya kurang 5 persen pemilih yang menyatakan masih penting memilih gubernur yang seagama.

Menurut saya, dari demo besar-besaran kemarin manfaatnya mungkin lebih pada konsolidasi internal mereka. Kampanye internal tentang ide Muslim harus memilih sesama Muslim.

Tapi efeknya kepada pemilih tidak ada. Bisa jadi itu malah memperkuat konsolidasi kelompok yang percaya dengan Ahok-Djarot. Bahkan yang mungkin sebelumnya simpati pada Agus dan Anies, tapi karena melihat begitu keras sikap kelompok yang berseberangan dengan Ahok, mereka kemudian bersimpati pada Ahok.

Dalam temuan survei itu juga dikatakan bahwa 3,6 pemilih Muslim yang hanya mendukung gubernur yang seagama mayoritas berkumpul di kantong Anies-Uno. Terkait hal ini apa penjelasannya?

Asalnya kelompok ini memilih Yusril. Dulu, dalam survei-survei sebelum bakal calon mengerucut menjadi 3 bakal calon seperti sekarang, pemilih yang punya pandangan seperti itu adalah para pendukung Yusril.

Pada waktu itu belum ada nama Agus dan Anies. Sekarang ketika nama Yusril tidak masuk, mereka nge-blok ke Anies. Dan hal itu bisa dijelaskan.

Dari sisi representasi simbolik partai politik, itu ada di kelompok Anies. PKS yang cenderung lebih puritan dalam kelompok itu memang lebih dekat dengan kelompok-kelompok penyeru puritanisme keagamaan itu. Apakah itu Wahabi atau apa, saya tidak tahu persis.

Tapi kalau anda lihat siapa yang nongol secara simbolik di depan publik dalam foto-foto waktu deklarasi pasangan Anies-Uno, anda tahu sendiri siapa mereka. PKS jelas menjadi wadah untuk mereka dan PKS dekat secara ideologis dengan mereka. Jadi hal ini bisa dimengerti.

Perlu diingat juga, Anies itu berasal dari etnis Arab. Sementara penyeru puritanisme Islam model FPI itu juga berasal dari etnis Arab.

Bukan berarti saya mengidentikan etnis Arab dengan penyeru puritanisme Islam. Tidak! Tapi memang secara budaya, kelompok beretnis Arab ini buat sebagian masyarakat Betawi adalah kelompok terhormat. Kelompok yang punya kelas sosial tinggi terutama di kalangan kelompok beragama.

Jika Anies-Uno didukung 3,6 pemilih itu, ini jelas berbeda 180 derajat dengan citra Anies yang dikenal sebagai tokoh Muslim yang moderat dan pluralis….

Saya kira kritik bang Ade Armando terhadap Anies di Madina Online itu keren sekali. Bang Ade menunjukkan dengan tepat sikap Anies yang tidak memberikan teguran atau klarifikasi soal posisi dia terhadap isu keagamaan al-Maidah 51 itu. Anies seolah menyetujui sikap pendukungnya.

Anies juga tidak mengambil sikap moderat terhadap kasus pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu. Anies malah mengkritik Ahok karena pernyataan Ahok itu bisa mengganggu perdamaian antar umat beragama selama ini. (baca: Mas Anies Baswedan, Kalau Mau, Anda Dapat Mencegah Perpecahan Bangsa Ini)

Jika Anies bersikap seperti itu, itu sama saja Anies implisit mengatakan bahwa Ahok itu salah. Implisit Anies mengatakan bahwa harusnya Ahok tidak mengatakan itu. Karena ekspresi Anies yang seperti itu, di balik itu Anies mengatakan bahwa memilih gubernur harus yang seagama.

Jadi itu memperkukuh posisi de facto Anies berada di kelompok yang menyetujui pandangan keagamaan soal pemimpin yang konservatif itu. Meskipun dia tidak mengatakan itu secara verbal.

Lalu, bagaimana dengan pendukung Anies yang punya pandangan moderat di tengah kecenderungan Anies yang seperti itu?

Resikonya adalah kecenderungan itu akan mengalienasi kelompok moderat yang selama ini suka dengan sikap dan cara berpikir Anies sebagai tokoh moderat dalam isu-isu kenegaraan, pendidikan, kemasyarakatan, dan seterusnya.

Kalau Anies ditarik terlalu jauh oleh kelompok puritan ini, maka dengan sendirinya Anies mengalienasi kelompok moderat di kubunya. Dan jika kelompok moderat dan juga kelompok sekuler di kubu Anies terus dialienasi dengan pandangan keagamaan yang puritan itu, maka bisa jadi mereka akan berpindah. Entah ke Agus atau ke Ahok, saya tidak tahu.

Apa tren kepindahan kelompok ini di kubu Anies sudah terbaca?

Trennya belum kelihatan, tapi resiko itu ada. Kalau Anies-Uno terlalu ke kanan dan konservatif, kelompok moderat di kubu Anies bisa teralienasi. Dan kristalisasi pandangan konservativisme di kubu Anies itu semakin eksplisit.

Contohnya terkait dengan demonstrasi kemarin itu, Anies tidak menolak atau minimal mengkritik. Faktanya Anies diam. Tapi dalam demo itu ada orang-orang yang secara terbuka mendukung Anies, seperti Habiburokhman dan Amien Rais.

Kehadiran dua orang itu dalam demo itu tidak menguntungkan buat Anies?

Jelas tidak menguntungkan. Kehadiran dua orang itu adalah salah satu bentuk ekspresi konservativisme yang bisa mengalienasi kelompok moderat.

Menurut anda, apakah Anies sadar bahwa itu akan menggerus dukungan dari kalangan moderat dan juga sekular padanya?

Saya tidak tahu. Saya tidak melihat ada usaha dari Anies mengambil jarak dari kelompok konservatif.

Bahwa dia sempat mengklarifikasi ke bang Ade melalui telepon, saya mendengar cerita itu. Saya senang mendengar cerita itu dari bang Ade. Cara Anies mengklarifikasi ke bang Ade adalah caranya sebagai seorang teman dan sebagai kolega akademisi. Dalam pembicaraan via telepon itu Anies mengatakan bahwa dia sudah berusaha menahan gerakan pendukungnya yang menyuarakan isu-isu SARA melalui akun di sosial media yang menggunakan namanya. (baca: Ketika Kubu Anies-Uno Mulai Melancarkan Kampanye SARA)

Tapi itu tidak cukup. Itu seperti sangat teknis dan formalistis karena dia tidak maju ke depan publik dan meyuarakan sikap dia terhadap cara interpretasi atas al-Maidah 51, misalnya, dari sisi pandangan yang lebih berimbang, lebih moderat. Dia cenderung seolah mengambil manfaat situasi itu. Mungkin harapannya agar mendapat limpahan suara dari persoalan itu.

Tapi bukankah kubu Anies-Uno mengkampanyekan “demokrasi sejuk” sebagai tagline-nya?

Tapi saya melihat Anies, setidaknya, kurang mengambil jarak dengan kampanye isu SARA yang dihembuskan kubunya sendiri, termasuk demo Jumat itu. Anies tidak terlihat berusaha menegaskan bahwa itu bukan sikap yang dia setujui sebagai pemain politik.

Dia tidak menolak demo itu, bahkan tidak mengeluarkan statement. Jadi, seolah-olah dia ingin mengambil benefit dari itu. Sikap diamnya itu seperti memberikan approval terhadap gerakan itu karena yang terlibat dalam gerakan itu adalah kelompok yang terasosiasi dengan Anies. Di situ ada PKS dan kelompok-kelompok puritan yang hadir saat deklarasi pasangan Anies-Uno.

Terakhir. Dalam temuan SMRC juga disebutkan bahwa hampir 100 persen pemilih Jakarta dari kelompok Prosten dan Katolik memilih Ahok. Melihat data itu, ada suara yang menuding bahwa kelompok Prosten dan Katolik itu “rasis” karena memilih Ahok yang seagama dengan mereka. Terhadap pandangan ini, apa komentar anda?

Saya kira berbeda kasusnya. Karena mungkin juga Agus atau Anies tidak punya program, tidak punya gagasan, atau tidak punya track record yang cocok dengan mereka. Kalau kandidat yang lain punya program yang cocok dengan mereka, mereka mungkin akan memilih dua kandidat itu.

Program yang cocok buat mereka, contohnya seperti apa?

Program yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, atau apapun yang penting buat kelompok Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan penganut agama non-Muslim lainnya. Kalau ada program yang ditawarkan Agus dan Anies yang cocok bagi mereka, pasti mereka dukung.

Jadi level koneksinya itu tidak harus di level kelompok atau level individu. Kalau dua kandidat yang lainpunya ide tentang pendidikan yang cocok buat mereka, mestinya mereka mendukung dong. Kan, paling tidak, ada satu alasan, minimal, yang mendasari untuk memilih kandidat yang lain.

Pemilih Muslim yang memilih Ahok kan bukan karena faktor agama. Faktanya pemilih Muslim Jakarta yang memilih Ahok lebih banyak dibandingkan yang memilih Anies dan Agus.

Apa karena Agus dan Anies tidak punya program spesifik yang merangkul kelompok minoritas agama?

Itu mungkin salah satunya. Pertanyaannya, apakah dua kandidat itu punya program yang membuat kelompok minoritas itu suka.

Kalau dua kandidat tadi, khususnya Anies, cenderung pada Islam yang konservatif-puritan itu akan mengalienasi pemilih Jakarta yang non-Muslim. Muslim moderat saja akan teralienasi dengan kecenderungan itu, apalagi yang non-Muslim. []

Komentar