Home » Sosok » Wawancara » Rakyat Amerika Sangat Religius

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Feisal Abdul Rauf adalah Imam Masjid al-Farah di kota New York, yang jaraknya hanya 12 blok dari tempat di mana gedung World Trade Center berdiri, sebelum dihancurkan dalam peristiwa 11 September 2001. 

Rakyat Amerika Sangat Religius

Ia juga arsitek pembentukan Cordoba Initiative, organisasi lintas-agama yang didedikasikan untuk memperbaiki hubungan antara dunia Islam, Barat, dan Amerika.  Ia lahir di Kuwait pada 1948, menempuh pendidikan antara lain di Mesir dan Malaysia, sebelum hijrah dan menetap di negeri Paman Sam itu.

Imam Feisal, yang sering muncul di media massa AS dan internasional, juga adalah anggota “World Economic Forum Council of 100 Leaders.”  Ia sudah menerbitkan beberapa buku, antara lain Islam: A Search for Meaning dan Islam: A Sacred Law.  Bukunya yang terakhir, What’s Right With Islam, dianggap koran terkemuka Christian Science Monitor sebagai satu dari empat buku paling baik mengenai agama.

Edisi Indonesia buku terakhir diterbitkan Mizan, berjudul Seruan Azan dari Puing WTC.  Pertengahan Desember 2007, ia berkunjung ke Indonesia dalam rangka mempromosikan buku itu.  Berikut petikan wawancara Madina dengannya:

Anda berada di mana ketika peristiwa 12 September terjadi?  Bagaimana perasaan Anda?

Saya berada di Colorado, menghadiri pesta perkawinan anak saya.  Saya “shock” dengan peristiwa itu.  Saya berharap bahwa pelakunya bukan Muslim….  Saya sedih.  Semua orang menyatakan simpati kepada Amerika.  Bahkan Iran mengirimkan pernyataan belasungkawa.

Tapi ada banyak orang, termasuk di Indonesia, yang gembira melihat peristiwa itu.  Mungkin reaksi spontan….

Ya, orang-orang banyak yang marah dengan AS.  Tapi hukuman seperti itu ‘kan juga mengundang simpati.  Yang dilakukan itu bukanlah keadilan yang sesungguhnya.  Dalam hukum Islam, jika saya memukul Anda, Anda berhak untuk memukul balik saya, ttapi tidak adik saya.

Itu sebabnya orang menyebut aksi itu terorisme.  Saya membaca buku Caleb Carr, seorang sejarawan militer, yang mengatakan, terorisme adalah perbuatan keji yang dilakukan kepada target sipil, dan itu untuk tujuan tertentu.  Kalau begitu, siapa saja pernah melakukannya.  Israel pernah melakukannya.  Sekutu melakukannya pada Perang Dunia II.  Tidak ada yang khas Islam dalam perbuatan itu.

Saya berkata kepada orang-orang Amerika: Jika Anda mendefinisikan terorisme seperti itu, maka sanksi kepada Irak, sesudah Perang Teluk I, untuk menghukum Saddam Hussein, adalah sejenis terorisme.  Sanksi itu mengakibatkan sekitar satu juta orang Irak meninggal, sebagiannya anak-anak.  Itu sejak berakhirnya Perang Teluk I hingga tahun 2000.  Saddam tidak akan terpengaruh oleh sanksi itu.  Yang jadi korban adalah rakyat biasa.

Ini juga persepsi yang umum di dunia Islam.  Sanksi itu hanya mempersulit kehidupan kaum Muslim.  Dan itu dipersepsikan sebagai sejenis terorisme, karena menjadikan rakyat biasa sebagai target.  

Suatu kali [bekas] Menlu AS Madeline Albright ditanya apakah sanksi itu bekerja dengan baik, ia menjawab “Ya, dan banyak Muslim yang bertambah marah karena mereka tidak menghargai kehidupan mereka, mudah melakukan bunuh diri dan seterusnya.”  Saya katakan, yang benar tidak demikian.  Mereka marah karena mereka melihat banyak kesengsaraan akibat sanksi.  Sebagaimana Anda akan marah ketika melihat rakyat Amerika bergeletakan mati karena negaranya dijatuhi sanksi.

Kalau Anda ada di Indonesia kala itu, di depan orang-orang yang gembira dengan serangan 11 September, apa yang Anda katakan?

Mungkin diam saja.  Kita tidak bisa bicara dengan orang-orang marah.  Saya kira yang harus kita lakukan adalah fokus kepada masalah yang menyebabkan kemarahan ini dan mencari jalan keluarnya.  Maka semua orang akan diam.

Kalau ada suami-istri ribut, sebaiknya Anda tidak boleh segera berpihak.  Biarkan kemarahan mereda, dan baru Anda mendengarkan apa masalahnya, meneliti bagaimana mengatasinya, dan mengusahakan agar jalan keluar itu bisa dicapai.

Menurut Anda apa masalah yang mendasari semua ini?  Akar dari akarnya?

Dimensi politiknya yang paling pokok adalah konflik Israel dan Palestina.  Sekarang masalah Iran dan Irak menyusul, khususnya masalah di Irak.  Isu lainnya adalah sikap dan persepsi terhadap dunia Islam: cara bagaimana dunia Islam dan kaum Muslim diliput di dalam media massa Barat.

Ada apa dengan reportase media?

Mereka meliput sesuai dengan bias-bias mereka.  Cara bagaimana orang Jakarta melihat sesuatu berbeda dari cara orang Yogyakarta.

Ketika terjadi krisis kartun Nabi Muhammad, media Barat melihatnya sebagai serangan terhadap kebebasan berekspressi, berbicara dan beragama.  Ini semua prinsip-prinsip penting di Barat.  Mereka berperang untuk prinsip-prinsip itu.  Ketika prinsip-prinsip ini diserang, mereka akan membelanya, seperti mereka membela din mereka.  Maka mereka membelanya dengan mencetak lebih banyak lagi kartun.

Bagi kaum Muslim, ini penghinaan.  Kami mencintai Nabi kami dan kalian menghinanya.  Kaum Muslim seperti kehilangan muka.

Di sini kelihatan dinamikanya.  Konflik asal itu menjadi bara bagi berlanjutnya konflik.  Dan saya kira tidak ada satu pihak pun yang bisa disalahkan.  Tentu saja ada juga pihak yang sengaja mengambil keuntungan, tapi saya tidak bicara mengenai mereka.  Nah, media bekerja dalam cara itu.  Siapa pun kita, kita akan bekerja menurut sudut-sudut pandang kita yang berbeda satu sama lain.

Apa masalah pokok ketiga?

Terkait dengan peran agama dalam masyarakat.  Di Barat, yang disebut agama hanya terkait dengan apa yang kita kenal sebagai ibadah.  Agama tidak masuk ke dalam pemerintahan dan seterusnya.  Kita di dunia Islam tidak demikian.  Kita percaya bahwa Islam mencakup semuanya.  Nah, ada kekhawatiran di Barat bahwa kita hendak mengambil-alih kekuasaan dan mengurusi negara.

Ini masalah penting, dan saya kira kita sendiri belum berhasil mengatasinya.  Di Indonesia, Turki dan beberapa negara lain, hal ini sudah tidak lagi menjadi masalah.  Tapi di banyak negara di Timur Tengah, ini masih masalah besar.  Karena kita belum memahaminya dengan benar.

Sebagai seorang Imam Masjid yang tinggal di New York, sebagai warganegara AS, menurut Anda jalan keluar dari masalah-masalah ini bagaimana?

Prinsipnya: tidak ada persoalan yang dibuat oleh manusia, yang tidak bisa diselesaikan.  Coba kita lihat soal Israel-Palestina.  Saya kira masalah itu akan lebih mudah dipecahkan lewat upaya-upaya negosiasi di antara para pemimpin Muslim dan Yahudi di Amerika.

Saya percaya bahwa ada masalah internasional yang pemecahannya bisa diusahakan justru dari dalam negeri.  Ini salah satunya.  Jadi jika Anda tahu bagaimana sebuah kebijakan dibuat, Anda bisa jadi salah satu pemainnya.

Anda bisa menyebutnya “Lobi Yahudi”, tetapi itu sesuatu yang sah di negara-negara demokratis.  Seseorang menentukan kebijakan berdasarkan konstituen yang mendukungnya.  Jadi tidak ada yang salah dengan lobi Yahudi di AS.

Bagaimana dengan lobi-lobi Arab atau Islam di sana?

Saya kira belum cukup konstituen.  Kalau pun ada konstituennya, diperlukan waktu lama untuk membangun semacam lobi untuk dunia Arab atau dunia Islam.

Kembali ke 11 September, bagaimana peristiwa itu mengubah Anda?

Ya, seperti yang Anda lihat sekarang ini.  Saya sebelumnya tidak mengerjakan hal-hal yang sekarang saya kerjakan.  Saya punya bisnis.  Dan pekerjaan imam di AS itu tidak menghasilkan uang karena saya voluntir.  Ketika September 11 terjadi, semua berubah.  Ada kebutuhan untuk lebih mengerti Islam.  Saya memenuhi kebutuhan ini, berceramah di mana-mana.

Apa saja jenis-jenis pertanyaan yang sering muncul?

Dua kategori besar.  Pertama pertanyaan sejenis “What’s Islam”?  Pertanyaan umum.  Lalu ada yang kedua, pertanyaan sekitar 11 September: mengapa kaum Muslim benci Amerika?  Mengapa Bin Ladin populer di dunia Islam?  Seorang wartawan bertanya: Kami mengerti mengapa organisasi PLO, yang sekular, berjuang.  Tapi kami tidak mengerti mengapa banyak perjuangan di dunia Islam menggunakan simbol-simbol Islam?  Mengapa ada Jamaah Islamiyah, Hamas dan lainnya?

Maka saya harus menjelaskan semuanya dalam sudut pandang yang bisa mereka mengerti.  Saya katakan, Islam punya Syariah, yang menjadi semacam kontrak sosial, seperti konstitusi di Amerika.  Jadi, kalau orang Amerika melihat kesalahan tertentu dan berkata “This is unconstitutional,” maka orang Islam akan berkata “This is unislamic!”  Secara emosional ini sama.  Mereka baru mengerti kalau kita memperbandingkan demikian.

Atau saya membandingkan Deklarasi Kemerdekaan AS dengan apa yang dikatakan al-Qur’an mengenai bahwa manusia itu diciptakan setara, dan itu adalah pemberian Sang Khalik, Allah, bukan pemerintah.  Dan saya katakan, “Look, 700 tahun sebelum para founding fathers Amerika menyatakan hal ini, para yuris Islam sudah menyatakannya.”  Itu pernah saya sampaikan di depan Kongres AS dan mereka kaget melihat banyak persamaan di antara Islam dan Amerika.  Jadi tugas saya menjelaskan lebih dalam di mana Islam dan Amerika berjalan seiring, bahwa banyak kandungan Deklarasi Kemerdekaan AS sejalan dengan Syariah, dan seterusnya.

Sekarang saya dan beberapa kawan sedang menyusun “Indeks Syariah”.  Kami mau tahu negara-negara mana saja yang telah berjalan menurut maqashid al-Syari`ah, cita-cita pokok Syariah: pemerintah mana saja yang memberi service terbaik, menghormati hak-hak orang, dan seterusnya.  Kalau Anda memiliki indeks ini, Anda bisa melihat bagaimana rekor AS, Pakistan, Indonesia, Arab Saudi untuk bidang-bidang ini.  Kalau Anda bisa menunjukkan bahwa AS skornya lebih tinggi dari Arab Saudi menurut sekian prinsip, dan Anda bisa membuktikannya, mestinya orang akan bertanya, “Masak sih?”  Kira-kira demikian.

Jadi Anda banyak menjelaskan Islam dan kaum Muslim kepada publik Amerika.  Bagaimana dengan sebaliknya?  Mengapa citra Amerika buruk di negeri-negeri Muslim?

Banyak masalah muncul karena dimensi politik kebijakan luar negeri AS.  Kalau ini selesai, 80% masalah akan selesai.  Saya minggu lalu ke Kuwait dan bertemu seorang bekas diplomat di Syria.  Ia dilahirkan sekitar tahun 1930-an dan katanya, “Ketika saya muda, tahun 40-an dan 50-an, semua kami cinta Amerika.  Baru ketika Amerika mendukung Israel dan seterusnya, kami mulai kecewa.”  Jadi, katanya, sebelumnya Amerika membela keadilan.  Soalnya sekarang adalah kebijakan luar negeri kami tidak adil.

Kita harus bekerja dalam berbagai front.  Menunjukkan bahwa secara ideologis kita tidak bertentangan.  Lalu Anda harus menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri mereka tidak adil.  Dan Anda harus melakukan lobi untuk keadilan.  Anda harus muncul di media.  Ini penting karena rakyat Amerika itu mendengarkan Anda.

Sekularisme Amerika menguntungkan kaum Muslim?

Saya agak alergi menggunakan istilah sekularisme.  Tapi dua hal penting saya kemukakan.  Pertama, rakyat Amerika datang ke Amerika karena di Eropa mereka dikejar-kejar karena alasan agama.  Jadi, kedua, sekularisme Amerika, jika Anda mau menyebutnya demikian, pemisahan negara dan agama, dimaksudkan untuk menjaga agar kekuasaan negara tidak dimanfaatkan untuk mengganggu kehidupan beragama.

Dan rakyat Amerika sangat religius. Tuhan ada di mana-mana, di lembaran dollar ada tertulis “In God we trust.” Setiap Kongres mulai acara, ada pembacaan doa, dan pada 1993, untuk pertama kali, seorang Imam membaca doa sebelum acara Kongres. Dan seterusnya.

Di Amerika demikian keadaannya.  Beda dari misalnya di Perancis, di mana konstutusi sama sekali tidak menyebut Tuhan dan hak-hak kita sebagai manusia itu diberikan oleh konstitusi.  Di Amerika jelas disebutkan bahwa hak-hak itu diberikan oleh Tuhan dan tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.  Kaum Muslim memperoleh jaminan semacam itu.

Anda mendukung negara Islam?  Di negara Islam tertentu seperti Sudan dan Saudi Arabia, ada pembatasan terhadap kebebasan beragama.

Konsep “negara Islam” tidak ada dalam al-Qur’an.  Negara itu konsep yang muncul di Barat, lalu banyak orang “mengislamkannya.”  Yang ada dalam al-Qur’an adalah kewajiban penguasa untuk berbuat adil dan sebagainya.  Terkait dengan aktor, bukan konsep.  Menurut saya, jika sebuah pemerintahan menjalankan kewajibannya sesuai dengan etika pemerintahan yang diajarkan Islam, maka hal itu sudah Islami, entah negara itu dijalankan oleh orang Yahudi atau Kristen atau lainnya.  Bagi saya itulah pemerintahan Islam.

Tapi ada di dunia nyata ini lembaga yang namanya negara Islam dan di sana Anda diharuskan untuk menjalankan agama menurut paham tertentu.

Saya kira orang banyak terkesima dengan nama-nama itu, konsep-konsep itu, tetapi tidak mau tahu bagaimana isinya.  Banyak orang marah sekarang, dan saya kira saya mengerti karena mereka merasa belum puas dengan keadaan.  Nah, mereka suka dengan sebutan-sebutan seperti “negara Islam” atau khilafah, karena hal itu tampaknya bisa segera menyelesaikan masalah.  Tapi mereka belum memikirkannya sungguh-sungguh.

Saya tidak peduli apakah itu monarki atau republik.  Sejauh itu membawa kebaikan bagi banyak orang, itu baik saja.  Kalau Anda hidup di Kuwait, Arab Saudi dan lainnya dan Anda diberi makanan yang cukup, ongkos kesehatan dan lainnya, Anda akan puas.  Tapi kalau Anda tinggal di sebuah republik yang miskin, misalnya, maka Anda tidak akan puas.

Ada sejumlah aksi persekuasi agama di sini, dengan masjid Ahmadiyah dibakar, misalnya.  Anda pernah dengar?  Apa komentar Anda?

Ya, saya mendengarnya.  Saya kira amat disayangkan bahwa hal ini terjadi di sebuah negara yang penduduknya mayoritas Muslim.  Saya kira kita perlu mengetahui apa yang menjadi keyakinan pokok kita dan memberi ruang bagi perbedaan pendapat di antara kita.  

Kalau Anda anggota MUI di sini dan Anda harus mengeluarkan fatwa mengenai Ahmadiyah, apa yang akan menjadi keputusan Anda?

Begini: hakim di kasus mana saja harus mendengar dari kedua belah pihak.  Selalu ada dua versi dari satu kasus.  Anda harus mendengar semuanya.  Dan saya harus menghargai yurisdiksi para mufti di sini, sebagaimana saya berharap yurisdiksi saya juga dihormati.  Jadi saya tidak mau berkomentar mengenai apa yang difatwakan MUI di sini.

Namun saya percaya bahwa cekcok antarkomunitas tidak bisa diselesaikan dengan melakukan kekerasan.  Itu hanya bisa diselesaikan dengan melibatkan komunitas bersangkutan di dalam dialog bersama.  Anda perlu duduk bersama dengan mereka, bukan menghakimi mereka.

Dalam buku Anda ada fatwa Yusuf Qardhawi yang membolehkan tentara Muslim Amerika menyerang Afghanistan.  Komentar Anda?

Sebuah fatwa terkait dengan kasus dan konteks tertentu.  Fatwa itu bicara khusus mengenai kasus di mana tentara Muslim Amerika dibolehkan untuk menyerang tentara musuh yang dianggap telah merugikan kepentingan Amerika.  Dengan sendirinya itu tidak berarti bahwa tentara Amerika dibolehkan untuk pergi ke tempat-tempat lain dan melakukan hal yang sama.

Anda tidak melihat bahwa ini bertentangan dengan solidaritas Islam?

Fakta bahwa kita sama-sama Muslim tidak berarti bahwa tidak ada kriminal di antara kaum Muslim.  Anda mengatakan saya percaya kepada Tuhan tidak berarti bahwa Anda tidak akan mencuri, misalnya.  Hukum-hukum dalam al-Qur’an persis dikeluarkan untuk diperlakukan di dalam komunitas Muslim, terkait dengan orang Islam yang mencuri, misalnya.  Adalah tugas kita untuk mengeliminasi unsur-unsur di dalam masyarakat Muslim yang bertindak di luar prinsip-prinsip keadilan Islam.

Apa itu Cordoba Initiative?

Lembaga itu dimaksudkan untuk menerapkan apa yang sudah kita bicarakan tadi di tingkat praktis.  Mengerjakan lobi-lobi, berhubungan dengan media, mengurusi masalah-masalah yang menurut kami strategis.  Didukung oleh berbagai kalangan dari beragam latar belakang agama.  Inisiatif ini diinspirasikan oleh sejarah Islam di Spanyol yang menghargai semua pemeluk agama.  Anda tahu, inilah masa di mana kaum Yahudi memperoleh toleransi yang sangat tinggi dan mereka bangga dengan sejarah itu.***

Komentar