Home » Slide » Qari Langgam Jawa: Al-Quran itu Bukan Indonesia Raya

Qari Langgam Jawa: Al-Quran itu Bukan Indonesia Raya

Peringatan Isra Mi’raj di Istana Negara pada Ramadhan tahun lalu berbuntut polemik. Musababnya, Muhammad Yaser Arafat, qori pilihan Kementerian Agama RI, melantunkan Surah An-Najm ayat 1 sampai 5 dengan langgam Jawa.

Bagi sebagian telinga Muslim Indonesia apa yang dilantunkan Yaser itu terdengar asing, bahkan aneh. Sebagian lain malah menuding apa yang dilantunkan sosok kelahiran 1983 itu upaya untuk mengolok-olok al-Quran karena bagi mereka al-Quran hanya pantas dilantunkan dengan irama khas Timur-Tengah. (baca: Soal Membaca Al-Quran Langgam Jawa: Kemenangan Pluralisme, Kemunduran Arabisme)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berupaya menjernihkan suasana. Lukman meminta maaf jika lantunan al-Quran dengan langgam Jawa itu dinilai menyinggung perasan. Ia juga menjelaskan bahwa tujuan Kementerian Agama itu hanya untuk memperkenalkan kekhasan Islam Nusantra. (baca: Keboongan VOA Islam Bahwa Menteri Agama Bertaubat)

Yaser sendiri tak lepas dari buruan media. Peraih gelar master antropologi dari UGM itu mengaku saat itu kerap dihubungi sejumlah media untuk dimintai komentarnya. Namun Yaser menolak berkomentar karena belum diizinkan gurunya.

Sebulan setelah kejadian, Yaser mulai diizinkan berkomentar. Ketika diundang menjadi pembicara di seminar nasional yang diadakan di UIN Walisongo, Semarang, dan beberapa waktu kemudian di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Yaser menjelaskan apa itu qiraah langgam Jawa dan alasan yang membenarkan qiraah langgam Jawa.

“Saat itu juga saya mengajak pihak-pihak yang menghujat dan menuduh qiraah langgam Jawa sebagai satu hal yang negatif untuk duduk bersama dan berdiskusi dalam forum ilmiah,” kata Yaser yang kini menjadi dosen UIN Sumatera Utara kepada Redaksi Madina Online Irwan Amrizal pada Rabu pekan lalu via telepon.

Bagaimana cerita Yaser bisa terpilih menjadi qari di Istana Negara? Bagaimana dia menanggapi sejumlah tudingan negatif seputar lantunan al-Quran dengan langgam Jawa? Dan dari mana Yaser belajar melantunkan al-Quran dengan langgam Jawa? Berikut petikan lengkap wawancara dengannya.

Bagaimana ceritanya anda terpilih sebagai pelantun al-Quran saat peringatan Isra Mi’raj di Istana Merdeka pada Ramadhan tahun lalu?

Membaca al-Quran di Istana Merdeka itu sebenarnya untuk yang kedua kali. Sebelumnya saya terpilih menjadi qari di Istana Wakil Presiden tanggal 27 Maret 2015. Waktu itu momennya adalah silaturahmi panitia musabaqoh hifzil Quran (kompetisi menghafal al-Quran; red) untuk level Asean dan Pasifik dengan wakil presiden.

Yang mensponsori acara itu adalah Pangeran Khalid (Khaled bin Salman bin Abdul Aziz; red) dari Saudi Arabia. Pada waktu itu hadir pejabat dari kementerian agama Arab Saudi, termasuk Imam Masjidil Haram dan Imam Masjid Nabawi. Saat itu saya diminta untuk membacakan al-Quran dengan langgam Jawa.

Pada kesempatan itu ada catatan atau kritik yang disampaikan para ulama Saudi yang hadir terkait lantunan al-Quran anda dengan langgam Jawa itu?

Yang saya tahu, tidak ada masalah. Informasi itu saya dengar dari Prof. Mahasin (saat itu menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama pusat; red). Saat berbincang-bincang, Prof. Mahasin bertanya kepada syeikh-syeikh dari Arab Saudi yang hadir tentang bacaan al-Quran dengan langgam Jawa itu. Rupanya syeikh-syeikh dari Arab Saudi itu mengapresiasi apa yang saya baca itu dan mengatakan bahwa membaca al-Quran dengan langgam Jawa itu menandakan bahwa Islam diterima dengan sangat baik di Indonesia.

Saya menduga, Pak Lukman Hakim kembali memilih saya untuk membaca al-Quran dengan langgam Jawa karena beliau melihat syeikh-syeikh dari Arab Saudi saat di Istana Wakil Presiden itu tidak mempersoalkannya. Pak Lukman tentu tidak akan meminta saya lagi untuk membaca al-Quran dengan langgam Jawa kalau syeikh-syeikh dari Arab Saudi saat itu menyampaikan keberatan.

Menurut anda, mengapa lantunan al-Quran anda yang di Istana Merdeka mengundang reaksi yang beragam, sedangkan yang di Istana Wakil Presiden tidak?

Mungkin karena apa yang saya baca di Istana negara itu disiarkan secara langsung dan ditonton banyak orang. Sementara yang di Istana Wakil Presiden tidak disiarkan dan tidak ditonton banyak orang.

Saya memaklumi jika bagi banyak orang, khususnya Muslim Indonesia, merasa apa yang saya baca di Istana Negara terdengar aneh, walaupun ketika di Istana Wakil Presiden syeikh-syeikh dari Arab Saudi tidak mempersoalkannya. Saya menghargai pendapat setiap orang.

Sejak saya belajar membaca al-Quran dengan langgam Jawa, saya sudah siap dengan segala konsekuensi yang saya terima. Tapi saya sedikit terkejut dan tidak menyangka apa yang saya baca di Istana Negara itu menjadi gejolak dan membuatnya menjadi trending topic selama 3 minggu, bahkan sebulan.

Satu hal yang membuatnya jadi polemik karena dipercaya ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad menyeru agar al-Quran dibaca seperti orang Arab membaca al-Quran…

Saya tidak ahli dalam studi hadis. Tapi saya pernah menanyakan tentang status hadis ini kepada beberapa teman yang seorang ahli hadis. Mereka mengatakan bahwa riwayat itu tidak pernah disebutkan di dalam kumpulan hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi atau dalam kitab Sunah al-Tirmizi. Yang saya baca juga Ustad Quraish Shihab mengatakan status hadis itu tidak shahih.

Karena itu, hadis itu tidak bisa dijadikan hujjah atau argumen yang kuat untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu. Tapi bila hadis itu dijadikan pegangan untuk melakukan tindakan yang diyakini mengandung nilai keutamaan tertentu, ya silahkan saja.

Selain itu, dalam cara membaca al-Quran itu ada tujuh lagu yang diajarkan dan selalu diperlombakan di setiap musabaqoh. Tujuh lagu itu adalah Bayyati, Shobah, Hijaz, Nahawand, Sikah, Rost, dan Jiharkah.

Kalau diperhatikan, hanya satu lagu yang berasal dari Arab, yaitu Hijaz. Sisanya adalah lagu non-Arab. Bayyati, misalnya, itu nama salah satu suku di Irak. Shobah itu nama satu peristiwa yang terjadi di Iran sekarang. Dan Nahawand itu nama satu daerah di Iran sekarang.

Jadi, kalau kita tetap menganggap riwayat di atas itu shahih, itu artinya enam dari tujuh lagu yang digunakan dalam membaca al-Quran itu harus dilarang untuk digunakan.

Saat polemik itu sedang mengemuka, sebagian pihak konon memperdengarkan lantunan anda itu ke salah satu qari internasional, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar. Setelah itu, dia memberikan 3 poin kritik. Salah satunya adalah kesalahan takalluf, yakni memaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim dalam membaca al-Qur’an. Terkait kritik itu, apa komentar anda?

Kritik yang sama juga sama dapatkan dari pihak lain. Biasanya saya menjawabnya begini: jika kita membaca satu ayat al-Quran dengan panjang dua harakat, memang yang menentukan standar dua harakat harus sepanjang itu siapa? Maksud saya, ketentuan matematisnya ada atau tidak. Apakah dua harakat itu harus sepanjang beberapa detik atau seperti apa?

Jadi, panjang-pendek dalam membaca al-Quran itu persoalan yang dikira-kira. Dalam bahasa Arabnya disebut takdiri. Menurut satu syeikh, misalnya, panjang-pendek yang kita baca tidak pas. Tapi menurut syeikh yang lain sudah pas.

(catatan redaksi: pembaca al-Quran diharuskan belajar ilmu tajwid terlebih dahulu agar bisa membaca al-Quran secara tepat. Dalam ilmu itu, di antaranya, diajarkan kapan membaca teks al-Quran dengan durasi yang panjang dan kapan dengan durasi yang pendek. Untuk durasi yang panjang, ada ketentuan untuk membaca teks tertentu itu sepanjang dua harakat, tiga harakat, bahkan sampai empat harakat. Durasi dua harakat umumnya satu sampai dua detik. Tiga harakat lebih panjang lagi, dan begitu seterusnya.)

Pagi hari sebelum pelaksanaan, bacaan saya sudah di­-tasmi’ (didengarkan; red) dan di-tashih (dikoreksi; red) oleh qari internasional bernama Ustad Junaidin Idrus sebanyak empat kali.

Waktu itu apa komentar dia?

Setelah saya turun panggung, orang pertama yang saya temui adalah beliau. Kepada beliau saya katakan, “Ustad, hanya itu yang bisa saya lakukan. Lebih dan kurangnya saya mohon maaf.” Lalu, jawaban beliau, “Itu lebih baik dari latihan tadi pagi.”

Jadi, jika ada yang mengkritik saya karena bacaan saya itu, kadang saya jadi bingung. Memang yang ahli dalam soal qiraah para pengkritik itu atau Ustad Junaidin. Tapi, jika ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa bacaan saya itu ada yang salah, tetap saya terima.

Lalu, kritik yang masuk ke Anda itu, Anda maknai apa?

Saya maknai sebagai keragaman pandangan. Artinya, ketika bacaan saya dengan langgam Jawa itu dikritik karena salah, kurang, dan tidak tepat dari sisi tajwidnya, saya terima. Karena itu, sampai hari ini pun saya terus perbaiki bacaan saya itu.

Kalau kita perhatikan nilai yang diberikan kepada qari yang ikut musabaqah itu tidak pernah mendapat nilai 100. Bagi qari yang bacaannya bagus, biasanya nilai yang dia dapat itu antara 95 sampai 97. Bahkan qariqari level internasional pun tidak pernah ada yang mendapat nilai sampai 100. Sebab, untuk mendapat nilai 100 itu sama seperti kita memutar musik. Ketika kita memutar music, maka equalizer, treble, dan bass-nya harus dinaikan, sementara tuning yang lain harus diturunkan. Jadi, harus sangat presisi.

Ada analogi yang dibuat untuk menolak qiraah langgam Jawa. Analogi itu adalah, jika al-Quran dibolehkan dilantunkan dengan langgam Jawa atau non-Arab, itu artinya Indonesia Raya juga dibolehkan disenandungkan dengan lagu-lagu lain. Terkait analogi ini, apa komentar anda?

Analogi itu tidak tepat. Pertama, al-Quran itu bukan lagu Indonesia Raya. Kedua, lagu Indonesia Raya itu sudah ada rumusnya, sudah ada ketukannya. Misalnya di bait awal, Indonesia tanah airku. Nah, itu sudah ada ketukannya. Ketika Indonesia Raya sudah ada ketukannya, notasinya sudah digembok. Karena itu, Indonesia Raya tidak mungkin diotak-atik. Kalau pun di-aransemmennt ulang, tetap tidak akan jauh-jauh dari ketukannya semula.

Sedangkan al-Quran itu tidak ada ketukannya. Misalnya, bismillahir rahmanir rahim itu tidak ada ketukannya. Jadi, teks al-Quran itu bila dibaratkan seperti syair terbuka yang belum ada rumusnya dan belum ada ketukannya. Karena itu, ketika saya membacanya dengan langgam Jawa, langgam Arab, atau langgam dari daerah mana pun, al-Quran itu bisa tetap dibaca. Menurut saya, salah satu universalitas al-Quran adalah karena al-Quran itu tidak ada rumusnya.

Jika al-Quran itu diyakini universalitasnya karena tiadanya rumusan dalam melantunkannya, itu artinya al-Quran bisa dilantunkan dengan lagu apapun…

Tepatnya, bukan dengan lagunya apapun, tapi dengan melodinya atau bagain kecil dari kontruksi lagu apapun. Karena, seperti yang sudah saya katakan, setiap lagu itu sudah ada rumus atau ketukannya. Bayyati, Shoba, Hijaz dan lainnya yang selama ini dianggap lagu-lagu yang digunakan untuk melantunkan al-Quran, menurut saya kurang tepat. Karena yang digunakan hanyalah bagian kecil dari Bayyati, Shoba, dan lain-lainnya.

Apa itu berlaku juga bagi Macapat Dandanggulo yang anda gunakan untuk melantunkan teks al-Quran ketika itu?

Ya, karena tidak semua lagu Macapat Dandanggulo saya gunakan. Macapat Dandanggulo itu sudah ada rumusnya. Dalam lagu Jawa itu ada istilah guru lagu, guru bilangan. Jadi, ada rumus-rumus di mana Macapat Dandanggulo itu kata-katanya dalam setiap syair harus terdiri dari lima kata. Kemudian ujung hurufnya harus A atau I.

Nah, al-Quran tidak bisa diperlakukan seperti lagu Jawa. Dengan kata lain, saya melantunkan al-Quran dengan Macapat Dandanggulo, tapi Macapat Dandanggulo yang tidak utuh. Saya hanya mengambil nada atau melodi dari Macapat Dandanggulo.

Ngomong-ngomong, dari mana anda belajar melantunkan al-Quran dengan nada Macapat Dandanggulo?

Saya mulai tertarik ketika saya mendengar azan di Jogja TV yang sangat khas dengan irama Jawa. Lalu saya juga menemukan penduduk desa yang mengaji al-Quran dengan lantunan yang khas Jawa, walauun dilantunkan dengan lidah yang ala kadarnya.

Karena dua kejadian itu, saya kemudian tertarik mempelajari irama Jawa. Pada saat bersamaan, saya menemukan rekaman qiraah langgam Jawa Mas Ulil (Ulil Abshar Abdalla; red) yang di-upload di Sound Cloud pada 2012. Tapi menurut catatan teman saya, apa yang dibaca Mas Ulil itu condong kesunda-sundaan.

Selain itu, cara dia membacakan al-Quran itu tidak seperti yang saya dengar dari orang-orang Jawa. Maksud saya, Mas Ulil membaca al-Quran dengan cara murotal (penekanan pada tajwid; red) dan temponya cukup cepat. Sedangkan yang saya dengar dari guru-guru Jawa di Jogja itu temponya lebih lambat.

Ketika benar-benar serius ingin mempelajari irama Jawa, saya berguru pada beberapa kiai yang ada di sekitar Jogja dan Jawa Tengah. Salah satunya Kiai Sahid. Beliau tinggal di Klaten. Sehari-harinya beliau mengurus kambing dan sapinya. Saya juga sempat belajar dengan alm. Mbah Pujo. Beliau adalah pelaku spiritual Jawa. Khusus soal langgam Jawa, guru-guru saya adalah bukan ahli qiraah, tapi para pelaku spiritual Jawa dan sosok yang memilih menjauh dari publisitas.

Ketika mempelajari lantunan al-Quran dengan langgam Jawa, ada kesulitan yang anda temui?

Alhamdulillah, saya bisa cepat mempelajarinya. Mungkin karena kebudayaan Jawa itu sudah melekat pada diri saya. Ayah saya itu keturunan Melayu dan Jawa. Ketika kami tinggal di Tanjung Pura (Sumatera Utara; red), kami tinggal di kampung Jawa. Selama di sana, saya sudah akrab dengan budaya Jawa, mulai dari bahasanya sampai cerita-cerita rakyatnya. Ketika saya kuliah ke Jogja, pengetahuan saya tentang dunia Jawa seolah terpanggil lagi.

Apa komentar orang-orang terdekat anda ketika pertama kali anda melantunkan al-Quran dengan langgam Jawa?

Teman-teman saya yang dari Jawa mengatakan bahwa mereka pernah mendengar kakeknya dulu membaca al-Quran seperti yang saya baca. Beberapa orang yang berkomentar di wall Facebook saya pasca polemik itu juga mengatakan hal yang sama. Kesimpulan saya, jika kakek mereka membaca al-Quran dengan langgam Jawa, itu artinya kakek moyang kakek mereka membaca dengan cara yang sama.

Cerita lain saya dengar dari Prof. Mahasin. Menurut beliau, ketika beliau mengimami salat istri dan anak-anaknya di rumah, beliau membaca al-Quran seperti yang saya baca. Hanya saja, kata beliau, yang beliau baca tidak semeliuk-liuk apa yang saya baca.

Komentar-komentar itu lalu saya konfirmasi ke guru-guru saya dalam soal langgam Jawa. Menurut guru-guru saya itu, apa yang saya baca kemungkinan bermula dari cara wali-wali di Jawa ketika membaca al-Quran.

Jika melantunkan al-Quran dengan langgam Jawa itu sesuatu yang lazim dalam masyarakat Muslim Jawa, mengapa hal ini tidak diangkat ke permukaan? Maksud saya, mengapa melantunkan al-Quran dengan langgam Jawa tidak dipentaskan di MTQ…

Saya tidak tahu alasan persisnya. Tapi kalau boleh saya menerka-nerka ada dua hal. Pertama, dalam pandangan sebagian Muslim di Indonesia ada imaginasi tentang kesempurnaan menjadi seorang Muslim ketika mengikuti apa yang dilakukan orang Arab. Karena itu, ketika orang Arab membaca al-Quran dengan irama yang khas dari negeri mereka, sebagian Muslim di Indonesia juga terdorong untuk membaca al-Quran dengan irama mereka.

Kedua, tilawah al-Quran dengan langgam Jawa itu bagi guru-guru atau kiai-kiai di desa-desa itu semacam suluk. Ia hanya dibaca tatkala seseorang merasa rindu kepada Sang Pencipta. Karena itu, membaca al-Quran dengan langgam Jawa itu seringkali tidak bisa dibaca di depan publik, apalagi buat diperlombakan. Sebab membaca al-Quran dengan langgam Jawa itu bukan untuk bersenang-senang, tapi tafakur/merenungkan dan mengajak orang merenung tentang apa yang sudah kita lakukan sejauh ini.

Kalau melantunkan al-Quran dengan langgam Jawa itu bagian dari suluk, itu artinya dekat dengan dunia tasawuf ya…

Betul. Bahkan boleh dikatakan tilawah langgam Jawa itu adalah metode zikirnya para sufi-sufi Jawa.

Suatu ketika saya mengimami Salat Magrib di Jogja. Waktu itu saya membaca al-Quran dengan langgam Jawa. Usai salat, ada salah satu jamaah salat tadi yang menghampiri saya. Dia bilang, ketika dia mendengar apa yang saya baca, dia seperti terlempar ke satu ruangan yang sangat gelap. Tiba-tiba ada seseorang yang datang membawa obor. Di belakang orang memegang obor, ikut berjalan para sunan Jawa. Setelah bercerita, jamaah itu mengaku bahwa dia adalah penekun spiritual Jawa atau suluk.

Yang saya tangkap, para wali tampaknya sengaja melantunkan al-Quran dengan langgam lokal sebagai pilihan strategi kebudayaan mereka agar lebih mudah membumikan Islam di tanah Jawa. Bagaimana menurut anda?

Iya, betul. Karena ketika para wali membuat langkah apapun, langkahnya itu selalu multiple point sifatnya. Ketika para wali membuat wayang, misalnya, yang mereka sasar sesungguhnya bukan hanya dunia kebudayaan. Tapi juga dunia sastra, dunia spiritual, dunia sosial-politik. Dengan begitu, apa yang mereka ingin sampaikan ke masyarakat jauh lebih terdengar dan mengandung beragam makna.

Jika menegok posting-an di akun Facebook anda, anda tampaknya penyuka lagu-lagu klasik rock. Apa anda pernah terpikir untuk melantunkan al-Quran dengan melodi dari klasik rock?

Tepatnya, saya penyuka lagu-lagu Blues. Saya pernah mem-posting di Facebook saya video dari YouTube. Dalam video itu terdengar seorang syeikh bernama Muhammad Osman Zubair dari Sudan yang sedang membaca al-Quran. Kalau diperhatikan, langgam yang dia gunakan untuk membaca al-Quran itu seperti ada melodi Blues. Langgam yang digunakan itu jelas bukan langgam Timur-Tengah, bahkan jauh dari imaginasi langgam Timur-Tengah.

Ada keterangan yang anda temukan mengapa ada unsur Blues dalam lantunannya itu?

Saya tidak menemukannya. Tapi bagi orang yang menikmati musik, pasti bisa merasakan ada unsur Blues dalam bacaannya.

Yang kita tahu, Blues itu berasal dari lagu-lagu lokal orang Afrika. Apa anda melihat kaitan itu?

Betul. Apa yang dibaca Syeikh Osman sama dengan nature orang Afrika ketika bernyanyi. Selain itu, para pengembang musik Blues di Amerika itu mayoritas orang-orang Afrika yang datang ke Amerika, seperti BB King, Albert King, ada Freddie King, dan seterusnya.

Jadi, kalau kita menggunakan bahasa akademik untuk memahami apa yang dibaca Syeikh Osman dalam video itu, Syeikh Osman itu sesungguhnya menggunakan local wisdom untuk membaca al-Quran. []

Komentar