Home » Sosok » Wawancara » “Nabi Baru Lahir karena Ulama yang Ada Hidup Bermewah-mewah”
Jari, mengaku sebagai Nabi Isa habibullah.

“Nabi Baru Lahir karena Ulama yang Ada Hidup Bermewah-mewah”

Tiba-tiba saja nama Jari ramai dibicarakan. Gara-garanya, pria 44 tahun asal Jombang, Jawa Timur, ini mengaku mendapat wahyu dari Allah dan menyebut dirinya sebagai Nabi Isa Habibullah. Media bahkan menyebutnya sebagai ‘Nabi Isa van Jombang’.

Ia dikabarkan telah bertobat pada 26 Februari setelah menerima fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, tiga hari sebelumnya. Namun, pengakuan itu baru datang dari salah seorang pendiri Pesantren Kahuripan Ash-Shiroth yang dipimpin Jari. “Saya mewakili Gus Jari. Kami bisa menerima fatwa MUI yang menyatakan adanya penyimpangan dengan yang kami lakukan. Untuk itu kami juga siap bertobat,” ujar Turmudi (Metrotvnews.com, 26/06/2016).

Kisah Jari sendiri menarik. Mantan santi Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, itu mengaku pertama kali mendapat wahyu sejak 2005. Jari merasa ada wahyu yang disampaikan kepadanya ketika ia tengah menunaikan salat malam. ‘Wahyu pertama’ itu Jari terima saat ia sedang mondok di satu pesantren di Kabupaten Mojokerto.

Dua tahun setelah itu Jari mendirikan Pesantren Kahuripan Ash-Shiroth di Dusun Gempol, Jombang. Di sini Jari menyebarkan ajaran empat pilar kepada para pengikutnya. Empat pilar itu adalah akhlak, ikhlas, jujur, dan tanggung jawab. Hingga kini pengikutnya tercatat ada sekitar 100 orang.

Kabar kemunculan nabi baru ini dengan segera mengundang reaksi. MUI Jombang langsung mengutus tim untuk konfirmasi kebenaran berita itu. Sementara Gubernur Jawa Timur Soekarwo minta agar psikiater didatangkan untuk memastikan kesehatan mental Jari.

Untuk memahami gejala kelahiran agama baru ini, redaksi Madina Online mewawancarai dosen Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatulah, Jakarta, Media Zainul Bahri.

Bagaimana ia melihat fenomena kelahiran nabi baru yang beberapa kali terjadi di Indonesia selama ini? Efektifkah fatwa sesat dan kriminalisasi pada pendiri dan pengikut agama baru untuk menekan mereka agar kembali ke jalan yang benar? Dan seberapa besar kemungkinan potensi agama baru mengerus pengikut agama mapan?

Berikut petikan wawancara Irwan Amrizal dengan penulis buku Satu Agama, Banyak Tuhan; Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili (Mizan, 2011) di Ciputat, Selasa (23/2).

Apa tanggapan anda tentang kemunculan Jari?

Kemarin saya membaca di Internet dia mengaku sebagai Isa Habibullah, bukan Isa Al-Mahdi. Itu dua hal yang berbeda. Jika Isa Al-Mahdi itu diyakini nanti diturunkan ketika dunia dalam kondisi chaos. Sementara Isa Habibullah itu mungkin bisa diartikan sebagai nabi baru.

Tapi yang menarik, fenomena kemunculan nabi-nabi baru atau agama-agama baru itu biasanya menggunakan istilah dari tradisi lama. Dalam studi agama ada istilahnya old tradition with new condition. Pendiri agama baru menggunakan istilah dari agama yang sudah ada untuk ditawarkan dalam konteks yang baru.

Dalam konteks nabi dari Jombang itu, misalnya, dia menggunakan istilah Isa yang tipikal Islam. Atau dalam kasus Ahmad Musadeq, dia menggunakan istilah al-Qiyadah al-Islamiyah. Istilah itu juga tipikal Islam.

Mengacu pada teori new religious movement, saya melihat bahwa dari sisi jumlah, umumnya pengikut agama baru itu tidak terlalu signifikan. Jumlahnya relatif kecil. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki basis ideologi yang kuat, seperti Islam, Kristen, Hindu, dan agama mapan lainnya. Jadi, basis ideologinya hanya merespons keadaan sesaat.

Kedua, secara historis itu tidak akan bertahan lama. Agama-agama baru itu umumnya muncul lalu tenggelam. Tapi bukan berarti hilang begitu saja. Pengikutnya memang masih ada, tapi relatif sangat sedikit. Itu juga yang kita lihat pada nama-nama yang dianggap sebagai penyebar agama baru sebelum kasus di Jombang ini, seperti Yusman Roy dan Lia Aminuddin.

Jika agama-agama baru ini tidak banyak pengikut dan pengaruhnya juga tidak terlalu luas, mengapa tiap muncul orang yang mengaku membawa ajaran baru selalu disikapi dengan reaksi keras, entah itu oleh pemuka agama dan juga pemerintah?

Menurut teori sekularisasi agama, saat ini agama, baik itu lembaga maupun elite-elitenya, sudah tersekularkan. Sebagai contoh, elite-elite agama dipersepsi cenderung hidup bermewah-mewahan. Padahal mereka adalah representasi spiritualitas. Nah, saya melihat masyarakat, khususnya di perdesaan, sudah tidak percaya lagi dengan lembaga atau tokoh agama yang seperti itu.

Yang terjadi kemudian adalah ketika muncul orang yang membawa ajaran baru dengan pakaian yang sederhana dan penekanan pada spiritualitas itu lebih mudah dipercaya masyarakat. Memang dalam teori itu disebutkan umumnya yang menjadi pengikut ajaran atau agama baru itu shallow participant. Yaitu, pengikut yang dangkal atau kurang berpendidikan. Tapi, bagi mereka, moralitas adalah hal yang penting.

Harusnya lembaga atau tokoh agama itu bisa menjadi teladan di kalangan masyarakat perdesaan. Yang terjadi justru tokoh agama itu tampak hidup bermewah-mewahan, jadi bintang iklan, dan kiai atau ustad selebritis. Jadi, ada ‘kualifikasi moral’ dalam diri pemuka agama yang hilang di mata masyarakat. Inilah yang menggoda masyarakat di perdesaan untuk mengikuti seseorang yang mewartakan spiritualitas baru walaupun dengan ‘baju’ lama.

Itu artinya kemunculan agama atau ajaran baru adalah kritik terhadap prilaku lembaga atau tokoh agama?

Iya, seharusnya tokoh agama itu intropeksi diri. Tokoh-tokoh agama harus kembali memberikan pelayanan kepada umat, bukan hidup yang tampak bermewah-mewahan. Tapi yang kita lihat MUI, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh Islam, justru bereaksi negatif. Seolah-olah ajaran baru itu dipandang ingin melawan agama yang sudah mapan. Makanya setiap muncul agama baru, MUI selalu mengeluarkan fatwa sesat.

Jadi, kemunculan ajaran atau agama baru itu bukan tanpa sebab, ya?

Iya. Tokoh agama yang tampak hidup bermewah-mewah salah satu penyebabnya. Yang lain, agama-agama formal yang mapan ini sudah tidak lagi ngemong dan tidak lagi memberi solusi pada persoalan-persoalan ekonomi umat. Karena itu, ketika umat bertemu dengan orang yang terasa lebih dekat dan membumi, mereka lalu mengikutinya.

Nah, saya menyarankan agar pemuka agama, termasuk pemerintah, tidak bereaksi negatif seperti mengeluarkan fatwa sesat atau malah menghukum mereka. Karena itu tidak menyelesaikan masalah. Berkaca dari pengalaman Lia Eden dan Ahmad Musadeq, setelah dikeluarkan fatwa sesat dan dipenjara mereka tetap pada keyakinannya dan tidak kembali kepada agama lamanya.

Bagi saya jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini adalah dialog. Itu cara yang paling manusiawi. Gus Jari sendiri sudah menawarkan dialog dengan MUI dan pemerintah daerah. Dia juga sudah mengirim surat ke MUI, ke Gus Mus (Mustafa Bisri; red.), ke Emha Ainun Nadjib, dan pimpinan NU. Tapi sayangnya surat-surat itu tidak direspons.

Dengan kata lain, fatwa sesat yang dikeluarkan MUI terkait kemunculan agama baru itu bukan cara jitu?

Saya tetap menghormati jika MUI mengeluarkan fatwa itu. Tapi MUI juga harus berhitung pada dampak sosial yang ditimbulkan akibat fatwa itu, terutama dampak kekerasannya. Karena bagaimana pun MUI itu masih punya pengaruh di kalangan masyarakat yang masih percaya pada MUI.

Di luar itu, saya berpandangan fatwa sesat bukanlah penyelesai masalah yang baik. Karena itu tidak menyentuh akar masalah kenapa muncul agama-agama baru. Kenapa MUI dan tokoh agama tidak mengintrospeksi diri dan melihat lagi apa yang salah dari dakwah selama ini.

Sebenarnya jika dilihat dari sisi teologis, khususnya jika mengacu pada pandangan Ibn Arabi, salah satu sufi besar dalam sejarah Islam, kenabian itu tidak pernah putus. Menurut Ibn Arabi, kenabian itu ada dua. Yaitu, nubuwwah ‘ammah (kenabian yang bersifat umum; red) dan nubuwwah khashah (kenabian yang bersifat khusus; red). Nubuwwah khashah itu munfasilah (terputus; red) dengan datangnya syariat dari Nabi Muhammad. Sementara nubuwwah ‘ammah itu mutasilah (bersambung; red) dan terus berlanjut.

Tapi, kata Ibn Arabi, jika ada orang yang mengaku mendapat nubuwah, itu su’ul adab (tidak pantas; red). Cukup menyebut diri sebagai mujaddid (pembaharu; red) saja. Meski begitu, Ibn Arabi tidak menolak kemungkinan tajalli (manifestasi sifat; red) Tuhan yang menyebabkan munculnya nabi-nabi baru.

Tapi bukankah dalam doktrin Islam ada ajaran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi kenabian setelah beliau?

Secara teologis, tidak ada pernyataan bahwa wahyu berhenti pada Nabi Muhammad. Tidak ada dalil qath’i (yang tegas; red) bahwa Malaikat Jibril berhenti menurunkan wahyu. Yang ada itu penyataan dalam al-Quran yang berbunyi khatam al-nabiyyin. Pernyataan ini pun menjadi perdebatan di kalangan ulama.

Tadi anda mengatakan bahwa dialog sebagai solusi yang manusiawi. Lalu, model dialognya seperti apa? Sebab terkesan belakangan ini dialog itu forum untuk mengadili dan menekan kelompok berbeda oleh kelompok yang lebih dominan dan mayoritas. Ini setidaknya yang pernah dialami komunitas Ahmadiyah dan Syiah ketika berdialog…

Dialog yang saya maksud adalah sharing pengalaman ketika mendapat wahyu, walaupun kita sudah punya pemahaman sendiri tentang konsep wahyu. Jadi, dialog yang dihadirkan adalah dialog yang tidak emosional. Bukan dialog dalam rangka pertobatan.

Kemunculan agama baru itu sebenarnya adalah hal yang normal dalam negara demokratis. Dan agama baru itu bisa menjadi mitra untuk memberi pengajaran spiritual kepada masyarakat. Tapi di Indonesia kelihatannya sulit. Lembaga-lembaga agama yang sudah mapan pasti akan memusuhi kemunculan agama-agama baru. Alasan ‘mengganggu ketertiban umum’ biasanya digunakan kelompok intoleran untuk menekan agama-agama baru ini.

Kita bisa mengerti jika pemuka agama bereaksi negatif dengan kemunculan agama baru. Tapi negara, khususnya pemerintah, yang diandaikan bisa bersikap netral terhadap kasus ini nyatanya juga bereaksi negatif. Gubernur Jawa Timur, misalnya, mengatakan bahwa Jari itu adalah orang yang stres. Terkait hal ini, apa komentar anda?

Jika kita baca hasil wawancara dengan orang-orang yang mengaku sebagai nabi, menurut saya, mereka itu bukan orang stres. Ahmad Musodeq, misalnya, menurut saya, orang yang cerdas. Ia pernah berbicara tentang filsafat ibadah. Saya menduga Gus Jari juga begitu. Karena itu jangan buru-buru menghakimi nabi baru itu sebagai orang stres. Saya juga baca ada anggota DPR yang mengatakan bahwa Gus Jari itu stres.

Masalahnya, aparat negara kita tidak merepresentasikan negara secara murni. Mereka juga merasa bagian agama. Itu mengapa sedikit aparat yang bersifat netral. Karena dia merasa bagian dari agama dan merasa bertanggungjawab untuk menyelamatkan agamanya itu.

Nah, jika para nabi baru itu dihakimi stres atau gila, perlu diingat bahwa di masa-masa awal kenabiannya, Nabi Muhammad juga pernah dihakimi gila oleh penguasa Mekkah. Tapi buktinya, Islam di kemudian hari memiliki penganut yang banyak. Begitu juga Kristen. Di awal-awalnya, ajaran yang dibawa Yesus atau Isa dalam tradisi Islam itu dianggap sempalan dari ajaran Yahudi.

Bagi saya, kemunculan nabi baru itu bukan masalah besar dan bukan tidak bisa diselesaikan. Asal yang dikedepankan dialog. MUI, NU, atau pemerintah, misalnya, bisa meminta bantuan Gus Solah (Salahudin Wahid; red) yang juga tinggal di Jombang untuk berdiolag dengan Gus Jari. Dengan dialog yang intens dan fair, Gus Solah bisa lebih mudah memberikan masukan kepada Gus Jari.

Tadi anda mengutip hasil studi-studi agama yang dikembangkan Barat untuk melihat kemunculan agama baru. Dalam praktiknya, bagaimana Barat menyikapi kemunculan agama-agama baru di sana?

Di Barat, khususnya Eropa Barat dan Amerika Serikat, itu dalam kehidupan beragama ada gereja dan sekte. Gereja itu representasi organized religion, sedangkan sekte itu adalah sempalan dari gereja. Meski begitu, oleh pengikutnya sekte diyakini lebih murni, lebih dekat kepada Tuhan, lebih asli, dan tidak materialistis dibandingkan gereja yang sudah terkontaminasi oleh sekularisme atau sudah tersekularkan.

Dalam konsep agama sipil yang berkembang di negara-negara demokratis, sekte-sekte itu dijadikan mitra bagi gereja. Oleh gereja, sekte-sekte yang ada tidak dianggap sebagai saingan atau musuh. Karena itu tidak pernah terdengar ada fatwa dari gereja untuk menyesatkan sekte-sekte itu. Setelah abad pertengahan, khususnya ketika di Barat mengenal konsep demokrasi dan negara modern (nation­state), sekte-sekte itu dibiarkan berkembang.

Saksi Yehovah, misalnya, adalah sekte yang berbeda dari pandangan utama gereja. Sekte ini tidak mengakui ketuhanan Yesus, sebagaimana pandangan utama gereja. Tapi di Eropa Barat dan Amerika Serikat sekte ini bisa tumbuh subur. Begitu juga sekte Mormon.

Pertanyaannya, bisakah Indonesia ke depan menganggap nabi-nabi baru sebagai mitra oleh NU, Muhammadiyah, juga oleh MUI?

Anda melihat tanda-tanda ke arah sana?

Yang bisa melakukan itu adalah masyarakat yang demokratis. Artinya, ukuran kehidupan sehari-hari kita itu ukurannya adalah nilai-nilai demokrasi. Tidak melulu agama. Jadi, tergantung pada masyarakat kita.

Saya melihat masyarakat kita masih belum matang secara demokrasi. Masyarakat kita masih sering melihat kemunculan agama baru sebagai saingan. Karena itu saya melihat masih butuh waktu bagi masyarakat Indonesia ke arah sana.

Di Barat, sekte-sekte atau agama-agama baru juga tidak dianggap kriminal, kecuali jika mereka berbuat kriminal, seperti menipu pengikutnya. Selama tidak ada pengikutnya yang dirugikan secara material, maka negara tidak bisa mengkrimininalkan sekte atau agama baru.

Dalam pengalaman Barat, ketika muncul agama baru, apakah penganut agama yang sudah mapan itu tergerus?

Tidak. Itu karena temuan dalam studi-studi tentang agama baru disebutkan bahwa pengikut agama baru itu jumlah penganutnya tidak pernah signifikan. Saya kira, agama baru yang muncul di Indonesia juga bakal seperti itu. Tidak akan banyak pengikutnya.

Mungkin MUI, juga NU dan Muhammadiyah, menganggap jika agama baru itu diajak dialog apalagi dibiarkan, penganut agama baru itu akan menjadi besar. Karena itu, mereka cut dari awal. Padahal dalam banyak kasus tidak pernah besar.

Sebagai contoh Baha’i. Baha’i itu didirikan oleh Syeikh Bahaudin, seorang sufi. Semula Baha’i itu sekte dalam Islam, walaupun belakangan menjadi agama baru. Sampai sekarang pengikutnya tidak besar.

Ada juga Sikh yang didirikan oleh Guru Nanak. Sikh itu muncul pada tahun 1600-an atau abad ke-17. Guru Nanak itu seorang Hindu tapi juga mendalami sufisme. Saat dia naik haji, dia menggunakan gamis berwarna hijau. Sementara pakaian ihram identik dengan warna putih. Jadi, bisa dikatakan Guru Nanak itu seorang Muslim juga seorang Hindu. Dua agama itu ia padukan. Tapi Sikh, menurutnya, bukan Hindu dan bukan Islam.

Berapa jumlah pengikut Sikh? Tidak banyak. Di India, pengikut Sikh itu sangat sedikit. Padahal agama baru itu sudah teruji sejarah selama 500 tahun. Saya menduga agama-agama baru yang muncul di Indonesia juga akan seperti itu. []

Komentar