Home » Slide » “Komunitas Yahudi ada di Indonesia dan Sebagiannya Beragama Islam”
Umat muslim mengikuti acara buka puasa bersama di Sinagoge Shaar Hashamayim. Tondano. Sulawesi Utara. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

“Komunitas Yahudi ada di Indonesia dan Sebagiannya Beragama Islam”

Banyak Muslim di Indonesia mungkin tidak percaya kalau dikatakan ada komunitas Yahudi di Indonesia. Mereka yakin bahwa kaum yang mereka anggap anti Islam yang dikutuk Tuhan itu tidak mungkin ada di sekitar mereka.

Selama ini Muslim di Indonesia menganggap bangsa asing yang pernah mendatangi Indonesia pada masa lampau hanya sebatas bangsa Cina, India, Persia, Arab, Portugis, Belanda, dan lain sebagainya. Faktanya bangsa Yahudi pernah migrasi ke Indonesia.

Keterbatasan informasi tentang komunitas Yahudi di Indonesia di kalangan Muslim bisa dimaklumi. Harus diakui publikasi, baik berupa buku maupun laporan jurnalistik, tentang komunitas Yahudi di Indonesia masih sangat langka. Menurut kandidat master sejarah dari Universitas Andalas Padang Romi Zarman informasi tentang komunitas Yahudi di Indonesia baru mulai terpublikasi cukup luas sekitar 3 tahun terakhir.

Pada 2013 Romi merilis bukunya Yudaisme di Jawa Abad ke 19 dan 20. Buku yang diterbitkan oleh salah satu penerbit di Yogyakarta itu adalah upayanya untuk mengisi kelangkaan informasi tentang komunitas Yahudi di Indonesia.

Berikut penuturan pria kelahiran Padang 1983 itu tentang hasil risetnya itu usai acara diskusi bukunya itu di Cikini, Jakarta, dua pekan yang lalu kepada redaksi Madina Online Irwan Amrizal.

Mengapa anda tertarik menekuni studi tentang orang Yahudi di Indonesia?

Sejak lama saya punya gagasan bahwa kajian-kajian sejarah Indonesia di dunia akademik harus didekontruksi. Maksud saya, selama ini penelitian sejarah Minang, misalnya, penelitinya berasal dari Sumatera Barat. Atau kajian sejarah Batavia penelitinya keturunan Betawi. Kenapa tidak pakai sistem silang. Orang keturunan Sunda meneliti sejarah Minang. Atau peneliti keturunan Minang mengkaji sejarah Jawa.

Kedua, dulu waktu saya masih duduk di SMP, orangtua saya membelikan saya buku tentang sejarah dunia. Kalau buku itu dibaca, isinya tentang sejarah orang Yahudi di Eropa. Waktu saya masih SMA, saya punya bukunya Hannah Arendt, keturunan Yahudi, yang berjudul The Origins of Totalitarianism. Saat itu, secara tidak langsung, saya sudah berkenalan dengan sejarah Yahudi Eropa. Tapi sejarah Yahudi Indonesia belum.

Ketiga, selama ini kita mengira bahwa orang Belanda yang datang ke Nusantara adalah orang keturunan Belanda. Namun, ketika saya masuk ke dunia akademik bidang sejarah, dari beberapa dokumen milik pemerintah Hindia Belanda yang saya temukan disebutkan bahwa orang Eropa yang datang ke Nusantara kebanyakan bukan orang Belanda asli. Nama, seperti Levi dan nama-nama lainnya jelas menunjukkan bahwa mereka keturunan Yahudi.

Apa temuan dari studi tentang orang Yahudi yang anda tekuni itu?

Jadi, orang Yahudi sudah berdatangan ke Nusantara jauh sebelum bangsa Eropa datang. Dalam satu dokumen yang terdapat di Mesir tercatat bahwa pada awal abad 10 ada seorang bernama Ishaq Yahuda. Nama ini jelas nama keturunan Yahudi namun penulisan namanya sudah diarabisasi. Dalam bahasa Ibrani biasa ditulis Isac. Dalam dokumen itu tercatat bahwa dia singgah ke Sriwijaya, sekarang Palembang, untuk berdagang.

Dalam dokumen yang lain tercatat pada abad 13 atau sekitar 1290-an ada seorang Yahudi yang berdagang di Barus, salah satu kota bandar tertua di Nusantara, yang terletak di pesisir Barat pulau Sumatera. Orang Yahudi itu berasal dari Mesir. Sayangnya nama orang Yahudi tidak disebutkan.

Di luar itu, menurut informasi lisan dari seorang keturunan Yahudi yang tinggal di Indonesia yang saya terima, dikatakan bahwa pada abad ke-17 nenek moyangnya adalah orang Yahudi Yaman. Nenek moyangnya itu datang ke Nusantara bersamaan dengan rombongan pedagang Muslim. Itu baru pengakuan lisan. Saya belum mengecek kebenaranya ke arsip-arsip milik pemerintah kolonial.

Selain dari Mesir dan Yaman, apa ada orang Yahudi lain yang datang Nusantara dari Timur-Tengah?

Orang Yahudi yang berasal dari Timur-Tengah atau Asia umumnya dari Irak, Persia, Oman, Suriah, dan India. Nah, ketika bangsa Portugis datang ke Nusantara, orang-orang Yahudi juga ikut datang. Mereka berasal dari Andalusia (Spanyol) dan Portugis. Ketika Belanda datang dan berkuasa di Hindia Belanda, orang Yahudi yang datang makin beragam. Mereka dari Belanda sendiri, Jerman, Hungaria, Polandia, Rusia, dan sebagainya.

Pada masa kolonial Belanda, orang Yahudi di Hindia Belanda diklasifikasi berdasarkan klasifikasi kolonial. Orang Yahudi yang berasal dari Timur-Tengah diklasifikan Yahudi Asia atau Timur Asing. Sementara orang Yahudi yang Belanda, Jerman, dan lain sebagainnya diklasifikasikan Yahudi Eropa. Yahudi Eropa diperlakukan layaknya orang Eropa pada umumnya dan karena itu status sosial mereka lebih tinggi dari Yahudi Asia.

Saya belum membaca buku anda. Tapi dari bacaan saya terhadap ulasan buku anda, terkesan bahwa studi anda lebih fokus ke Yahudi Eropa pada masa kolonial Belanda. Kenapa?

Dokumen-dokumen yang saya temukan umumnya berasal dari masa kolonial Belanda. Dari sumber-sumber itu, informasi tentang kehidupan orang Yahudi Eropa lebih dominan dibandingkan informasi tentang orang Yahudi Asia.

Orang Yahudi Asia secara arsip tidak pernah menulis atau tercatat. Jika tidak ada catatan atau arsip, bagaimana saya bisa memastikan bahwa seseorang itu adalah orang Yahudi Asia. Saya tentu harus mempertanggungjawabkan studi saya ini secara ilmiah. Kecuali ada alternatif sumber berupa pengakuan lisan dari anak atau cucunya. Itu pun perlu didukung dokumen sejarah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Orang Yahudi yang saya maksud dalam studi saya ini adalah mereka yang tercatat mengaku sebagai keturunan etnis Yahudi. Pengakuan itu terlihat dari arsip berupa surat ketika mereka masuk ke Hindia Belanda. Jadi, bukan sekedar pengakuan lisan yang tidak ada arsipnya.

Selama masa kolonial, di mana orang Yahudi Eropa tinggal? Apakah di satu wilayah tertentu atau tersebar di sejumlah wilayah?

Orang Yahudi tercatat banyak tersebar di utara Sumatera, seperti Aceh dan beberapa wilayah lainnya pada akhir abad ke-19 (1875-1900). Namun karena terjadi Perang Aceh antara Kesultanan Aceh dengan penguasa Hindia Belanda pada periode yang sama, banyak orang Yahudi yang pindah ke daerah-daerah yang lebih aman. Sebagian lain pulang ke negara mereka masing-masing.

Pada awal abad 20, orang-orang Yahudi Eropa terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan. Di kota-kota besar itu orang Yahudi Eropa umumnya bekerja di pemerintahan kolonial, baik sebagai serdadu maupun administrator. Di luar itu, orang Yahudi Eropa adalah saudagar kaya. Sementara orang Yahudi Asia umumnya berprofesi sebagai pedagang keliling.

Selain kota-kota besar tadi, orang Yahudi Eropa juga banyak terdapat di Tumasik, Singapura. Komunitas Yahudi di Tumasik sudah ada sejak abad ke-19 dan sudah terdapat sinagog. Sinagog itu adalah sinagog pertama di Asia Tenggara. Sementara di Hindia Belanda pada masa itu belum ditemukan sinagog.

Ada catatan berapa jumlah orang Yahudi yang ada di Hindia Belanda?

Pada 1930-an pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan sensus penduduk. Tapi sensus penduduk itu hanya menghitung berapa jumlah orang Yahudi Eropa. Dari data sensus itu tercatat ada sekitar 1000-an orang Yahudi Eropa jika ditotal. Angka itu cukup fantastis mengingat populasi orang Yahudi di dunia saat itu belum sebanyak sekarang.

Jawa Barat adalah wilayah yang tercatat paling banyak orang Yahudi Eropa (laki-laki 228 orang dan perempuan 125 orang). Kemudian Jawa Timur (190:142). Jawa Tengah (89: 68). Jogjakarta (24:10). Surakarta (6:3). Sumatera (76:45). Borneo (12:2). Celebes (19: 15). Pulau lain 1 perempuan.

Untuk orang Yahudi Asia, perkiraan hitungan saya berdasarkan dokumen yang saya temukan hanya sekitar 500 orang. Jumlah itu hanya berdasarkan orang Yahudi Asia yang terdata dan yang tampak. Karena Yahudi Asia itu banyak yang hidup di lingkungan orang Arab yang ada di sini dan terasimiliasi dengan orang Arab.

Beberapa tahun terakhir diketahui ada perkumpulan Yahudi Indonesia, seperti United Indonesian Jewish Community (UIJC). Apa pada masa kolonial ada perkumpulan orang Yahudi juga?

Organisasi orang Yahudi di Hindia Belanda baru terbentuk pada 1927. Pada tahun itu ada dua organisasi yang terbentuk. Pertama, Vereeniging voor Joodsche belangen ini Nederlands Indie (VJBNI). Perkumpulan ini dibentuk untuk membantu orang Yahudi yang berada di golongan ekonomi rendah, yaitu kalangan Yahudi Asia. Selain itu, perkumpulan itu juga menata orang-orang Yahudi yang ada di Hindia Belanda.

Terbentuknya organisasi ini dipicu oleh semangat zionisme. Pada saat itu di Eropa mulai menggeliat spirit zionisme sebagai respon sosial atas meningkatnya sikap anti semitisme. Dan sikap anti semitisme di Eropa saat itu sangat menggerikan bagi orang-orang Yahudi sampai-sampai anti semitisme itu, dalam tanda kutip, bisa ditemukan di bawah dapur sekalipun.

Kedua, Nederlands Indie Zionistenbond (NIZ). Organisasi ini didirikan untuk menyebarkan semangat zionisme di kalangan Yahudi Hindia Belanda. Visi NIZ bersifat politis, yaitu mendorong terbentuknya negara yang aman bagi orang Yahudi dari kekerasan karena sikap anti semitisme.

Apa dua organisasi itu masih ada sekarang?

Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda, situasinya berbalik. Hampir semua orang Belanda ditangkap tentara Jepang, baik yang bekerja di pemerintahan Hindia Belanda maupun masyarakat sipilnya.

Jangan lupa, Jepang itu pada Perang Dunia 2 bersekutu dengan Nazi dan pemerintahan fasis Italia. Karena itu, tentara Jepang juga memburu orang-orang Yahudi Eropa di Hindia Belanda. Orang-orang Yahudi Asia cukup aman ketika itu karena tentara Jepang tidak punya informasi tentang keberadaan mereka.

Kedatangan Jepang di Hindia Belanda menghancurkan apa yang sudah dibangun VJBNI dan NIZ. Padahal dua organisasi itu mulai menata orang Yahudi yang ada di Hindia Belanda. Dua organisasi itu juga membuka cabang di beberapa kota, seperti di Bandung, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Padang, dan Medan.

Ketika perkumpulan orang Yahudi di kota-kota tadi saat itu sudah tertata, maka dengan sangat mudah mereka menyelenggarakan perayaan-perayaan Judaisme. Perayaan yang tercatat yang pernah dilakukan, misalnya, adalah Youm Kippur, hari raya perdamaian dalam agama Judaisme. Yang menyelenggarakan perayaan itu biasanya VJBNI dan didukung NIZ.

Berkat jasa dua organisasi itu juga, orang-orang Hindia Belanda non-Yahudi mulai mengetahui keberadaan komunitas Yahudi di Hindia Belanda. Bahkan di salah satu surat kabar yang terbit pada tahun 1930-an, nama agama Yahudi disebut bersama dengan nama-nama agama lainnya yang sudah diketahui sebelumnya oleh orang-orang Hindia Belanda. Itu artinya pada saat itu Judaisme atau agama Yahudi mulai ‘diakui’.

Bagaimana kehidupan keagamaan orang Yahudi Eropa pada masa Hindia Belanda?

Sebagian dari mereka ada yang setia mengikuti hukum-hukum Torah untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya yang taat itu saat itu hidup di Semarang dan Surabaya. Ketika pendudukan Jepang, komunitas Yahudi Eropa yang tinggal di Semarang pulang ke negaranya masing-masing, semantara yang di Surabaya tetap tinggal.

Pada tahun 1900-an komunitas Yahudi Eropa di Semarang tercatat pernah mengundang seorang mohel, pemuka agama Yahudi khusus khitan, dari Singapura untuk mengkhitan anak laki-laki Yahudi. Untuk mengundang mohel , mereka mengumpulkan uang secara bersama. Seperti Islam, dalam agama Yahudi anak laki-laki diwajibkan untuk dikhitan. Namun dalam agama Yahudi, mengkhitan tidak bisa dilakukan sembarang pemuka agama. Ia harus sudah punya sertifikat sebagai mohel terlebih dahulu. Saat itu di Hindia Belanda belum ada mohel dan waktu itu di Semarang belum terdapat siangog.

Komunitas Yahudi Eropa di Surabaya memiliki Sinagog pada 1939. Sinagog itu mulanya adalah rumah seorang dokter Yahudi Eropa. Belakangan rumah itu dibeli oleh komunitas Yahudi Eropa di Surabaya untuk dijadikan sinagog. Tapi sinagog ini sudah tidak ada lagi sejak 2013 karena bangunannya dijual.

Komunitas Yahudi di Surabaya menata organisasi yang mengurus dan menghidupkan peribadatan di sinagog. Dalam komunitas Yahudi Eropa di Surabaya kebetulan ada orangtua yang dihormati dan didengar. Ialah yang menjadi pengikat dan penggerak komunitas Yahudi Eropa di Surabaya. Di Surabaya, waktu itu, komunitas Yahudi yang dikenal taat adalah Yahudi Persia dan Yahudi Yaman.

Pada 1861 di Batavia ada rumah yang dijadikan sinagog. Rumah itu sebelumnya adalah milik seorang Yahudi Eropa yang kemudian disewa menjadi sinagog. Sayangnya dalam arsip alamat lengkapnya tidak disebutkan. Di sinagog itu diadakan sembahyang, doa bersama, dan perayaan keagamaan Yahudi lainnya. Tapi yang hadir di sinagog itu sangat terbatas.

Pada masa itu ketertarikan orang Yahudi di Batavia pada Yudaisme terbilang memprihatikan. Bahkan tidak sedikit orang Yahudi yang tidak lagi beragama Yahudi.

Jadi, tidak semua orang Yahudi di Hindia Belanda itu beragama Yahudi?

Tidak semua. Ada orang Yahudi yang beragama Yahudi. Tapi ada Yahudi secara keturunan, tapi tidak lagi beragama Yahudi. Kelompok yang terakhir itu tetap menjaga tradisi Yahudi sebagai orang keturunan Yahudi meski agamanya bukan Yahudi lagi.

Yahudi Belanda yang datang ke Hindia Belanda, misalnya, mengaku seorang Calvinis. Itu artinya mereka beragama Kristen. Yahudi Timur-Tengah yang datang ke Nusantara sebagian besar adalah Muslim dan ikut menyebarkan Islam. Bahkan diduga kuat salah satu pihak dari orangtua Sunan Gunung Djati adalah beretnis Yahudi tapi agamanya Islam. Orang Yahudi yang beragama Islam pada saat itu tinggal di Aceh, Padang, Batavia, dan juga Surabaya.

Orang Yahudi di sini ternyata beragam ya..

Mereka beragam dari negara mana mereka berasal dan agama apa yang mereka yakini. Sayangnya kosakata tentang Yahudi dalam Indonesia miskin sekali. Dalam bahasa Inggris, misalnya, Yahudi sebagai etnis ada istilahnya. Yahudi sebagai agama ada juga istilahnya. Dan Yahudi sebagai entitas politik ada istilahnya. Nah, dalam bahasa Indonesia yang ada hanya istilah Yahudi saja.

Apalagi dalam persepsi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, istilah Yahudi diasosiasikan dengan citra-citra yang buruk. Serupa dengan monster, kera, babi, dan hal-hal negatif lainnya.

Asosiasi buruk terhadap Yahudi tentu tidak lepas dari sikap kebencian terhadap mereka. Tadi anda mengatakan ketika Jepang masuk ke Hindia Belanda menunjukkan sikap kebencian mereka terhadap Yahudi di Hindia Belanda. Apakah kebencian terhadap Yahudi di kalangan Muslim Indonesia benihnya dari sikap kebencian penjajah Jepang itu?

Memang sikap kebencian Jepang terhadap orang Yahudi sudah diperlihatkan Hikedi Tojo melalui pidato-pidatonya di Bandung dan Batavia. Dalam pidatonya itu Tojo mengatakan bahwa ‘bahaya Yahudi harus diberantas’.

Tapi sikap kebencian terhadap kelompok Yahudi di kalangan umat Islam Hindia Belanda bukan disebabkan karena pidato Tojo yang anti semit itu. Melainkan karena tersebarnya berita tentang rencana pendirian negara yang diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi di Palestina yang menjadi korban anti semitisme serta konflik Arab-Israel.

Berita tentang persoalan itu dikabarkan koran-koran berbahasa Melayu di Hindia Belanda. Koran-koran itu tidak hanya menyuguhkan berita, tapi juga ‘propaganda’. Itu terlihat dari karikatur tentang orang Yahudi yang digambarkan sebagai monster yang buruk rupa. Karikatur itu sudah ada pada 1920-an. Sejak itu benih-benih kebencian terhadap orang Yahudi dalam konteks Arab-Israel sudah ditanam.

Kebencian itu tumbuh karena koran, buletin, dan majalah yang diterbitkan organisasi Islam saat itu menyoroti persoalan Arab-Israel dari satu perspektif. Menurut perspektif mereka, Arab itu Islam dan Islam itu Arab. Maka yang bukan Arab adalah bukan Islam. Dan yang bukan Islam pasti bukan Arab. Jadi, bagi mereka, Arab itu harus dibela walaupun, misalnya, posisinya salah. Maka pada saat itu lahirlah propaganda-propaganda untuk membangun kebencian kepada orang Yahudi.

Sampai hari ini tampaknya kebencian terhadap Yahudi tak terbendung ya. Kejadian-kejadian yang dinilai negatif pasti dikaitkan orang Yahudi sebagai pelakunya..

Iya, benar. Karena itu, tidak sedikit orang yang merasa heran ketika mereka tahu bahwa saya meneliti tentang Yahudi di Indonesia. Kelompok agama lain yang juga menunjukkan sikap kebencian kepada orang-orang Yahudi pada masa itu adalah kelompok Katolik. Pada masa itu ada beberapa tokoh Yahudi ingin mencoba melawan sikap kebencian terhadap mereka. Namun, karena pengaruh sosial mereka tidak cukup kuat, usaha itu tidak berhasil.

Terakhir, tadi anda mengatakan ada komunitas Yahudi Muslim di Aceh, Padang, dan Surabaya. Apa mereka masih ada sampai sekarang?

Masih. Bahkan belakangan ditemukan ada komunitas Yahudi yang beragama Islam di Lampung dan Jambi. Jangan tanya saya lebih jauh di mana lokasi persisnya. Saat ini sulit sekali mencari keturunan Yahudi yang mau terbuka kepada orang luar seperti saya.

Saya mau cerita sedikit. Setelah saya mendapat informasi tentang keturunan Yahudi yang beragama Islam di Jambi, saya bermaksud menemui mereka dan menggali informasi tentang mereka. Kami sudah janjian untuk bertemu. Saya berangkat dari Padang dengan bus jam 6 sore dan sampai di Jambi jam 6 pagi. Kami masih saling kirim SMS sampai Jam 7.

Jam 8 komunikasi kami terputus. Saya kirim SMS tidak dibalas. Saya telepon, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Usaha saya menempuh perjalanan selama 12 jam itu terasa sia-sia. Saya tidak tahu mengapa mereka bersikap begitu. Tapi bisa saya duga itu karena mereka masih merasa ketakutan bila identitas mereka diketahui.

Saya masih konsisten meneliti orang-orang Yahudi di Hindia Belanda pada masa kolonial. Wawancara saya dengan mereka, jika terjadi, sebenarnya untuk fokus studi saya itu dan tentu tidak akan saya kutip begitu saja. Pernyataan-pernyataan mereka itu akan saya uji dulu kevalidannya dengan sumber-sumber yang lain.

Mengapa keturunan Yahudi itu menutup diri? Jika mereka takut menjadi korban kebencian, bukankah kemusliman mereka bisa ‘menetralisir’ kebencian terhadap keyahudian mereka..

Itu mengindikasikan sikap anti Yahudi di kalangan masyarakat kita masih sangat besar. Kedua, karena sikap kebencian itu, mereka belum siap untuk membuka diri sebagai keturunan Yahudi. Mereka seperti butuh waktu yang cukup untuk berani terbuka, walapun mereka beragama Islam.

Tapi tidak semua Yahudi yang beragama Islam takut membuka identitas mereka. Jadi, tidak bisa digeneralisir juga. Yahudi Islam di Surabaya, misalnya, cukup terbuka mengakui identitas keyahudian mereka. Saya tidak tahu apakah ada konsekuensi tertentu yang mereka dapatkan ketika mereka membuka diri, seperti diskriminasi atau persekusi. Tapi saya yakin keturunan Yahudi yang sudah berani membuka diri pasti punya strategis sosial tertentu untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan tadi.[]

Komentar