Home » Sosok » Wawancara » Hikmawan Saefullah Bicara soal Ahmad Heryawan dan Provokasi Konflik Sunni-Syiah 

Hikmawan Saefullah Bicara soal Ahmad Heryawan dan Provokasi Konflik Sunni-Syiah 

Serangan terhadap Syiah di Indonesia menguat akhir-akhir ini. Para penyerang Syiah tidak lagi hanya sebatas menyebut Syiah sesat, bukan Islam, penganutnya kafir atau sebutan-sebutan diskriminatif  lainnya. Kini, mereka juga menuduh Syiah mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di beberapa kota berdiri organisasi seperti Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang, sebagaimana namanya, hadir untuk menghabisi Syiah. ANNAS secara khusus mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo terkait isu Syiah. Dalam suratnya di awal Januari, mereka katakan Syiah membahayakan kerukunan dan stabilitas NKRI.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat juga mengeluarkan maklumat pada 19 Oktober 2015 yang menyatakan bahwa Syiah merupakan ancaman terhadap keutuhan NKRI karena memiliki cita-cita untuk mendirikan negara menurut versi Syiah.

Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Abdul Chair Ramadhan, secara khusus menulis buku berjudul Syiah Menurut Sumber Syiah, Ancaman Nyata NKRI.

Awal Februari lalu juga beredar video di media sosial yang menampilkan rekaman adegan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) meminta bantuan dari Arab Saudi untuk membiayai pendidikan para siswa dari Indonesia dalam rangka menangkal pengaruh Syiah Iran ke Indonesia. Menurutnya,  Saudi perlu mengucurkan dana jauh lebih besar, mengingat setiap tahun Iran memberi beasiswa kepada 3000 pelajar Indonesia untuk belajar ke Iran.

Di salah satu bagian percakapan, Ahmad Heryawan mengatakan: “Orang-orang Syiah itu… menjadi kuat, karena kita lemah. Kalau kita kuat, maka otomatis mereka menjadi lemah. Itu merupakan hukum alam. Kami sekarang sudah membangun pesantren besar di Subang dan Sukabumi, dan segera di Garut. Nantinya, sebagai pemerintah, kami ingin membangun 30 pesantren lagi.”

Bagaimana membaca eskalasi ketegangan Sunni dan Syiah di Indonesia? Untuk itu redaksi Madina Online, Warsa Tarsono secara khusus mewawancarai Hikmawan Saefullah, dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) yang secara khusus mempelajari hubungan kedua mazhab Islam ini di panggung internasional.

Hikmawan Saefullah adalah kandidat doktor dari Murdoch University, Australia. Sejak 2011, ia melakukan kajian tentang Arab Spring dan Hubungan Internasional di Timur Tengah.

Berikut petikan wawancaranya.

Anda pernah mengatakan, ada pergeseran jargon yang digunakan untuk mendiskriminasi Islam Syiah. Semula tuduhannya adalah Syiah sesat, namun sejak 2011 ada tuduhan bahwa mereka mengancam NKRI. Apa yang melatarbelakangi itu?

Menurut saya, karena para penyerang Syiah tidak punya latarbelakang ilmu politik yang memadai. Mereka memahami politik Syiah dalam platform kasus di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.

Bagi penguasa Arab Saudi, Syiah adalah ancaman. Ini yang kemudian diadopsi oleh sebagian kalangan di Indonesia. Dalam pikiran mereka Syiah selalu menginginkan revolusi dan menumbangkan penguasa yang sah. Seolah-olah penganut Syiah di Indonesia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan di Iran.

Itu persepsi yang berlebihan. Indonesia berbeda dengan Timur Tengah. Indonesia berbeda dengan Iran. Indonesia berbeda dengan Arab Saudi.

Konteks politik di Indonesia sama sekali berbeda dengan Saudi juga dengan Iran. Sehingga wacana ancaman Syiah menjadi terlihat dibuat-buat.

Bagaimana awal mula munculnya istilah ‘ancaman Syiah’ di Arab Saudi?

Pada 1979 terjadi revolusi di Iran. Akhir 1979, orang Qatif, Syiah Arab Saudi turun ke jalan ingin juga melakukan revolusi dengan slogan-slogan seperti di Iran: “Tak ada Sunni, tak ada Syiah. Yang ada adalah Revolusi Islam (La Sunni wa la Syiah, Tawra-Tawra, Islamiyyah-Islamiyyah). Bedanya dengan di Iran, revolusi di Qatif itu mengalami kegagalan.

Meskipun usaha mereka melakukan revolusi itu gagal, Arab Saudi mendapatkan catatan bahwa aliansi  kelompok oposisi ini berbahaya. Maka sejak saat itu segala hal yang berafiliasi dengan Syiah dinilai oleh monarki Saudi sebagai sesuatu yang berbahaya.

Ketakutan ini muncul lagi ketika Arab Spring bergulir pada 2011. Untuk menghindari oposisi dari kalangan Sunni dan Syiah bersatu dan kemudian melakukan revolusi, maka pihak kerajaan menciptakan konflik di antara keduanya.

Konflik diciptakan dengan mempertajam perbedaan-perbedaan antara Sunni dan Syiah. Sehingga yang seharusnya rakyat marah pada negara kemudian berubah menjadi marah pada kelompok oposisi, khususnya Syiah. Dari situlah ‘ancaman Syiah’ itu dibuat, direproduksi, dan didukung oleh para ulama di sana.

Umar Shahab, Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI) mengatakan bahwa Iran sudah meninggalkan gagasan untuk mewujudkan Khalifah Islamiyah. Bagaimana komentar Anda? 

Saya lihat memang kecenderungannya seperti itu. Dari segi politik, Syiah itu lebih fleksibel dibandingkan Sunni. Iran itu sekuler bukan, demokrasi juga bukan. Mereka semi demokrasi.

Menurut saya, saat ini mereka tidak memaksakan lagi konsep negara yang sudah out of date. Orang-orang Syiah lebih rasional. Mereka lebih memilih untuk mengikuti konsep nationstate. Tidak seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang masih menginginkan khilafah Islamiyah. Mereka masih membayangkan bisa mengembalikan kejayaan Islam masa Turki Usmaniyah.

Salain itu, saya juga melihat Iran berusaha aktif dan survive di dunia internasional. Iran menyadari hubungan antarnegara sangat penting. Jika Iran sebagai sebuah negara tidak mampu beradaptasi dengan hukum internasional, maka dengan sendirinya dia akan dikucilkan atau diisolasi.

Tapi kenapa Iran marah ketika ulama Syiah, Sheikh Nimr Al-Nimr, dihukum pancung oleh Arab Saudi padahal dia bukan warga negara Iran?

Syiah dalam hal ini sama dengan kaum Muslim lainnya. Mereka berkeyakinan bahwa umat Islam itu seperti tubuh manusia. Ketika yang lain sakit maka muslim yang lain merasakannya juga. Syiah juga begitu.

Terhadap eksekusi Nimr Al-Nimr oleh Arab Saudi, bagaimana Anda melihatnya?

Nimr Al-Nimr adalah ulama Syiah yang sangat dihormati di Arab Saudi dan Iran. Selama ini dia kritis terhadap Wahabi. Tindakannya yang sering mengkritik tersebut kemudian dipandang sebagai subversif oleh pihak kerajaan Saudi.

Saya melihat ada dua tujuan politik di sini. Pertama, tujuannya lebih ke dalam. Pihak kerajaan sengaja mengeksekusi Nimr Al-Nimr untuk memberi pelajaran kepada kaum Syiah di Saudi. Mereka ingin mengatakan, jangan sekali-kali lagi melakukan perlawanan terhadap monarki Saudi. Jika tetap melakukannya konsekuensinya jelas: siapapun kalian akan dipancung dan dieksekusi.

Kedua, geopolitik kawasan Timur Tengah. Arab Saudi sudah lama bermusuhan dengan Iran. Dengan mengeksekusi Nimr Al-Nimr, Arab Saudi sedang memancing atau memprovokasi Iran. Arab Saudi berharap Iran melakukan reaksi yang bodoh sehingga dunia internasional akan mengisolasi Iran.

Sayangnya Iran terpancing. Iran marah. Di dalam negeri pihak keamanan Iran membiarkan massa Syiah memasuki kedutaan Arab Saudi di Teheran dan merusaknya. Menurut pihak Iran, eksekusi itu sebenarnya tidak perlu. Karena Nimr Al-Nimr itu tidak melakukan makar terhadap negara.

Walaupun sebenarnya dapat dipahami kemarahan Iran ini, tapi dalam konteks geopolitik kemarahan itu tidak perlu. Terbukti, akibatnya Iran diIsolasi oleh beberapa negara di Timur Tengah. Sekali pun Iran sudah menangkap pelaku yang merusak kedutaan Arab Saudi, tapi sudah tidak ada artinya lagi. Negara-negara itu tetap memutus hubungan diplomatiknya dengan Iran.

Di Indonesia isu Sunni-Syiah sudah lama. Tapi saat ini konfliknya semakin kuat. Bahkan ada organisasi yang didirikan untuk mengkampanyekan anti Syiah. Apakah ada aktor-aktor Timur Tengah yang memainkan isu ini di Indonesia?

Itu jelas ada. Dalam observasi saya, kelompok-kelompok yang aktif mengkampanyekan anti Syiah ini punya jaringan dengan Arab Saudi. Apakah itu dari ustad-ustadnya, aktivis atau tokoh-tokoh yang pernah sekolah di sana, bahkan pejabat di Indonesia saat ini.

Seperti kita lihat dalam video Ahmad Heryawan (Aher) di Youtube. Ia sedang meyakinkan ulama di Arab Saudi agar Raja Salman memberikan beasiswa setiap tahun untuk 3000 orang Indonesia, khususnya warga Jawa Barat. Untuk meyakinkan ulama Arab Saudi itu dia membandingkannya dengan Iran, yang merupakan musuh politik Arab Saudi. Jadi, bahkan ada aktor-aktor politik di Indonesia yang memainkan konflik Sunni-Syiah ini.

Saya melihat, hal ini diakibatkan juga oleh kekalahan politik Islam. Pada tahun 1960-an Daarul Islam (DI) dikalahkan oleh Tentara Republik Indonesia (TNI). Tapi kekalahan itu tidak sampai membuat gagasan Negara Islam itu mati. Mereka tetap memeliharanya sampai sekarang. Dan saat ini mereka sedang berusaha untuk menghidupkan kembali sel-sel mereka yang sudah mati.

Ketika angkatan mereka sudah tidak ada, maka mereka merekrut anak-anak  muda. Untuk menarik simpati anak-anak muda, mereka menggunakan wacana apapun untuk menghantam negara. Karena saat ini yang lagi ramai anti Syiah, maka mereka juga gunakan itu.

Selain Aher, apakah ada pejabat negara atau kepala daerah lain yang meminta dana dari Arab Saudi?

Yang baru jelas dan terekam di video baru Aher. Terus terang kalau harus melacak persebaran dana dari Arab Saudi ke ormas-ormas Islam itu sangat sulit. Untuk melakukan itu harus melakukan hal-hal yang di luar kemampuan seorang akademisi.

Tapi yang paling jelas di Malaysia. Perdana Menteri Najib Razak diketahui menerima uang sebesar 600 juta dolar dari Arab Saudi. Dan itu dikatakan sebagai hadiah pribadi. Hadiah pribadi kok sampai 600 juta dolar, buat apa? Dan kita tahu Malaysia itu satu-satunya negara di Asia Tenggara yang resmi mempunyai hukum melarang Syiah berada di sana.

Banyak orang mengkhawatirkan di Indonesia akan terjadi konflik seperti di negara-negara Timur Tengah. Apalagi seperti yang Anda katakan, ada aktor-aktor politik yang memainkan ini. Apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari ancaman ini?

Pertama, masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim, harus melek politik. Banyak orang yang aktif di berbagai organisasi keislaman seringkali tidak sadar bahwa mereka dimanipulasi oleh aktor-aktor politik yang punya agenda-agenda tertentu. Saya perhatikan sampai sekarang masih seperti itu.

Mereka mungkin niatnya bagus untuk berdakwah, menyebarkan narasi-narasi keislaman, memperkaya ranah keilmuan dan spiritualitas mereka. Tapi pada akhirnya organisasi itu dipakai untuk kepentingan politik kelompok tertentu. Jadi, kita harus bisa membaca situasi seperti itu. Kalau tidak sesuai dengan tujuan kita tinggalkan. Sekali pun itu organisasi dakwah.

Kedua, lebih mengedepankan tabayun. Tabayun bukan kepada sesama orang-orang yang sepaham dengan mereka, tapi dengan orang-orang yang berbeda paham. Tabayun dengan semangat persaudaraan dan semangat kekeluargaan. Pesan mengenai ini ayatnya jelas dalam Al-Quran. Allah menyuruh kita untuk tabayyun ketika menemukan perbedaan.

Yang panting lagi, sering-sering ‘piknik’-lah. Hidup itu jangan selalu dianggap serius. Berteman jangan pilih-pilih. Kita bisa berteman dengan orang yang berbeda latarbelakang ataupun berbeda pandangan.

Berdebat dan berdiskusi dengan orang-orang  HTI mungkin tidak ada gunanya. Tapi diajak bermain atau jalan-jalan mungkin mereka mau. Ketika kita sudah berteman baik di situlah ada akses untuk pertukaran pemikiran. Tanpa perlu merasa terintimidasi oleh pandangan yang berbeda.[]

Komentar