Home » Sosok » Wawancara » Hanung Bramantyo: Dakwah tak harus di Masjid!

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Kota Jakarta sedang dirundung mendung dan hujan, ketika MADINA menemui Hanung Bramantyo di Studio 4Mix di jalan Daksa, Jakarta Selatan. Sutradara muda ini tengah bersicepat dengan waktu, mengejar tuntas­nya pro­ses editing film Ayat-ayat Cinta. Hari itu, 21 Desember 2007, memang sudah lewat waktu dari peluncuran film yang banyak dinanti itu. Di poster-poster yang tersebar di jalanan Jakarta, tercantum tanggal peredaran 19 Desember 2007.

Hanung Bramantyo: Dakwah tak harus di Masjid!

“Wah, masalahnya teknis banget, masalah post production,” jelas Hanung soal keterlambatan itu. Karena penciutan biaya produksi dan pascaproduksi, pihak produser (MD Entertainment) meminta agar post production dilakukan dengan teknik negative-editing.

Hanung cuma ketawa, sewaktu diberi tahu isu bahwa “film Islami” ini akan diputar pada waktu hari Valentine 2008. “Wah, mungkin saja. Saya nggak tahu. Yang penting film ini kelar dulu buat saya,” ujar Hanung.

Isu yang beredar memang macam-macam, saat itu. Banyak sekali yang menanti, menggosipkan, dan beropini tentang film ke-8 Hanung ini. Ketika kabar film ini ditunda peredarannya, beberapa e-mail atau posting di sebagian milis dan blog bernuansa “Islami” misalnya “menyayangkan” kok film ini akan dicampurkan peredarannya dengan event Hari Valentine yang “tidak Islami”.

Perhatian besar ini wajar. Ayat-ayat Cinta adalah adaptasi novel laris-manis karya Habiburrahman El Shirazy, yang terbit pada 2004 dan dalam tiga tahun mencapai angka penjualan sekitar 160.000 eksemplar.

Segala perhatian dari pem­baca novel ini, dan berbagai pihak yang menanti-nanti penuh waspada atas hasil jadi film ini, menambah tekanan bagi Hanung sang sutradara. Lebih-lebih, ternyata ini memang jenis film yang jadi obsesinya. Sutradara muda kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 ini ternyata ingin sekali membuat film religius.

MADINA: Jadi, memang ini film pa­ling berat yang pernah Anda buat, ya?

Wah, ini memang film yang paling membuat stress. Soalnya, dalam film ini kan ada empat kepentingan. Kepentingan per­tama, tentu, dari pembuat novelnya, Habiburrahman El Shirazy. Kepentingan kedua, umat. Maksud saya, Muham­madi­yah, massanya. Ini kan jumlah yang besar sekali.

Oh, jadi film ini memang menggandeng Muhammadiyah? Lebih dulu dari Laskar Pelangi (Redaksi –sebuah adaptasi film dari novel laris lain, Laskar Pelangi, oleh sutradara Riri Riza, yang juga “menggandeng” Muhammadiyah)?

Oh, ini sudah jauh lebih dulu dari Laskar Pelangi. Ajakan kerjasama ini sudah dari tahun lalu (2006). Karena Pak Dien Syamsuddin optimis melihat Ayat-ayat Cinta inilah, ia jadi tertarik untuk bekerjasama dengan Miles Production untuk pembuatan Laskar Pelangi.

Kebetulan memang Muhammadiyah sekarang ini sedang melakukan program pengembangan seni dan budaya sebagai bagian dari program pengembangan dakwahnya. Dari dulu, Muhammadiyah sudah punya majlis kebudayaan. Tapi itu bagian dari pengembangan pendidikan. Dulu, bagi Muhammadiyah, bidang-bidang seni budaya kayak film dianggap ada yang mengurusinya sendiri.

Kalau mau film dakwah atau film religius, orang-orang film membuat sendiri. Kadang-kadang negara juga mengurusi. Tapi kemudian film Indonesia mati. Film Indonesia mulai jarang dibikin. Ada sebagian di Muhammadiyah yang mulai berpikir, lantas bagaimana jika kita ingin membuat film Islami. Kebetulan divisi pengembangan seni dan kebudayaan juga sedang diaktifkan oleh Muhammadiyah. Jadi, sejalan.

Kok, bisa nyantol dengan Muhammadiyah?

Saya sendiri kan memang sejak kecil besar dalam lingkungan Muhammadi­yah, di Yogya. Bapak saya orang Muham­ma­diyah. Saya akrab dengan kegiatan kesenian dari Muhammadiyah di Yogya­karta dulu. Makanya, waktu pertama kali datang ke Muhammadiyah mengajak bekerja sama soal film ini, ada yang langsung mengenali saya, eh, anak ini memang Muhammadiyah juga.

Kembali ke soal siapa saja yang mempunyai kepentingan atas film ini…

Nah, kepentingan ketiga dalam film ini adalah produser (MD Entertainment), tentu. Saya suka sekali sewaktu pihak produser bilang, di Indonesia ini kan penduduk Muslim 80%. Masak dari situ, kami berharap mendapat 2 %-nya saja tak bisa? Ini memang masuk akal. Saya sendiri, sewaktu bekerjasama dengan Muhammadiyah, meminta, apa bisa film ini ditonton paling tidak satu juta orang. Dari pihak Muhammadiyah bilang, wah, kalau sejuta aja sih, itu hanya diputar di Yogyakarta saja sudah cukup. Kepentingan terakhir, tentu saja, adalah kepentingan Hanung, saya sendiri, sebagai seorang pembuat film.

Apa ada semacam perdebatan dan patokan tentang apa itu “film Islami” sebelum pembuatan film ini?

Tentu. Mulanya ada masukan bahwa film Islami itu kalau bisa semua pemainnya Muslim untuk tokoh-tokoh Muslim dalam ceritanya. Lalu film Islami mensyaratkan tidak adanya pornografi. Nah, soal pornografi ini saja sudah timbul perbedaan pendapat tentang pengertiannya. Apakah bersentuhan tangan antar lawan jenis itu pornografi atau bukan? Lalu semua pemain harus menutup aurat. Nah, terjadi lagi perdebatan. Di manakah batas aurat itu? Ada yang bilang, lengan baju yang terlalu pendek sudah tak menutupi aurat, ada yang bilang tak apa-apa.

Akhirnya, kami mengambil perbandingan dengan film Iran. Saya kira, film Iran lah yang paling “aman” dari segi definisi “film Islami”. Di lapangan, mesti ada bergaining, tawar-menawar. Misalnya, akhirnya tak semua pemain diharuskan beragama Islam.

Belum lagi kalau kita membedakan lagi antara “film Islami” dengan “film religius”. Sebab, film religius tak semata-mata harus pakai jilbab atau shalat. Film religius, misalnya, bisa mengambil tempat di tempat pelacuran. Mungkin saja kan ada pelacur yang mengalami kesadaran religius. Tapi untuk menunjukkan pelacuran itu terjadi, nggak mungkin kan dengan memakai jilbab?

Namun, untuk mengambil hati lebih dulu, agar ada pandangan positif terhadap bioskop dan film di kalangan ulama (Muhammadiyah), ya kami mengambil pengertian yang paling ‘aman’ dulu. Saya sendiri memiliki pilih­an estetik sehubungan soal film religius ini. Saya mengambil pelajaran dari Kyai Ahmad Dahlan sendiri (pendiri Muham­ma­diyah). Dia mengajarkan, dakwah nggak hanya di masjid …tapi di pasar juga. Surah Al Ma’un, kata Kyai Ahmad Dahlan, mestinya jangan hanya dibaca­kan di masjid saja, tapi justru juga di pasar. Nah, sekarang, dakwah juga mestinya bisa dilakukan juga di bioskop.

Tapi, ada kompromi?

Untuk film ini, memang harus ada kompromi. Di samping agar menarik hati umat dulu, dari pihak produser juga sempat buyar keyakinan awalnya terhadap film ini.

Jangan salah, lho, film Ayat-ayat Cinta ini justru inisiatifnya dari MD Entertainment, dari produsernya yang bukan Muslim. Awalnya, ada keyakin­an terhadap pasar Islam untuk film. Tapi pihak MD kemudian menga­lami kerugian untuk produksinya yang lain, sebuah film bioskop pertama yang diproduksi oleh MD. Mereka kemudian bertanya-tanya apakah film Ayat-ayat Cinta ini bisa laku? Lho, saya bilang ke produser, kan dulu Anda sendiri bilang, kita bisa berharap pada 2 % saja penduduk Muslim di negeri kita. Iya, kata mereka, tapi apa benar bisa diraih yang 2 % itu? Tapi akhirnya, mereka sepakat untuk meneruskan, dengan berbagai kompromi.

Makanya, misalnya, mereka meminta ada Melly Guslow untuk mengisi soundtrack (latar lagu) film ini. Tadinya, produser meminta Melly juga mengisi score (latar musik), tapi saya bilang, lebih baik urusan score diberikan khusus pada ahlinya saja. Lalu, ketika dibandingkan dengan film Iran, produser minta agar filmnya jangan dibikin ‘berat’. (Dalam blog-nya, Hanung menuliskan bahwa mulanya produser meminta agar Ayat-ayat Cinta dibuat populer seperti film India, Kuch Kuch Hotahai.)

Jadi, ja­ngan berharap jika menonton Ayat-ayat Cinta ini Anda akan melihat film-film macam karya (sutradara-sutradara Iran) Mukhsin Makhmalbaf atau Abbas Kierostami. Saya harus berkompromi, misalnya dengan menghadirkan ayat secara verbal….

Ya, kalau melihat trailer-nya, agaknya film ini akan verbalistis, ya. Apalagi novelnya juga amat verbalistis, sedang Anda berpikir sangat visual….

Ya, memang ada adegan-adegan verbal. Tapi beberapa adegan saja. Soal ayat-ayat suci Qur’an, itu diverbalkan misalnya dalam adegan di metro di Kairo, ketika Fahri berdebat soal perlakuan diskriminatif orang Mesir terhadap orang Amerika yang tak mendapat tempat duduk. Nah, untuk adegan itu, Fahri mengutip hadis nabi, tentang orang asing adalah tamu dan harus diperlakukan dengan hormat (Hanung menyitir hadis itu dalam bahasa Arab, di luar kepala).

Tapi, adegan lain, kita usahakan secara visual. Ada adegan-adegan yang kita buat ayat Qur’an tidak diverbalkan oleh tokohnya, tapi menjadi latar suara dalam adegan. Makanya, kami mengajak juga Ustadz Jeffry. Kan suara dia bagus sekali, tuh, untuk melantunkan ayat Qur’an. Juga ada Emha Ainun Najib, untuk latar suara Qur’an itu. Misalnya adegan pergulatan batin Fahri soal cintanya yang terbagi.

Lalu ada ayat dari surah Annisa tentang pernikahan. Tadinya, Pak Din minta, pakai subtitle ayat Qur’an-nya sekalian. Kalau tidak, katanya, bagaimana penonton akan mengerti ayat itu? Tapi setelah jadi, saya pikir, ah, biarkan saja lah tanpa subtitle.

Atau, nantinya bisa jadi bahan buat extra dalam DVD….

(Tertawa) Iya, betul. Yang jelas, memang saya mengusahakan agar bagian-bagian tertentu tetap ada bahasa visualnya. Lagi pula, saya pikir, ini adalah gambling buat saya sendiri. Apakah memang film untuk penonton Islam betul punya pasar yang baik?

Saya sendiri, ingin membuat film religius lagi. Setelah ini, saya akan membuat film dari novel karya Abidah el Khaliqie, Perempuan Berkalung Sorban. Nah, kalau itu, isunya kan lebih kontroversial. Tentang kekerasan terhadap perempuan. Lalu, kalau sudah selesai itu, saya akan membuat film tentang Kyai Ahmad Dahlan.

Agaknya, film bagi Anda memang harus menyampaikan pesan?

Iya. Buat saya, seorang pembuat film itu harus bertanggung jawab. Di Yogya kemarin itu, waktu gempa, susahnya kayak apa untuk mengumpulkan duit bantuan sebesar tiga milyar rupiah. Ini, kok, ada yang ngasih duit buat seorang Hanung sebesar tujuh milyar rupiah, begitu saja. Bayangkan! Siapa saya? Maka saya harus bertanggung jawab. Saya harus sebisa mungkin membuat film ini laku. Dan film saya harus menyampaikan pesan. Film adalah media untuk menyampaikan pesan.*

Komentar