Home » Sosok » Wawancara » Fahira Idris: “Rizieq Berjanji Tak Lagi Melakukan Sweeping dan Kekerasan”

Rizieq berjanji tak lagi melakukan sweeping dan kekerasan. Ya, begitulah benang merah dari pertemuan dan dialog antara Fahira Idris dengan Ketua Front Pembela Islam (FPI), 9 Agustus 2010 lalu. Dialog itu dimaksudkan untuk mengkonfirmasi kebenaran (tabayun) berita yang beredar seputar aksi kekerasan yang dilakukan FPI.
 

Fahira Idris: “Rizieq Berjanji Tak Lagi Melakukan Sweeping dan Kekerasan”

Di saat semua pengguna Tweeter di Indonesia memaki FPI terkait kerusuhan yang terjadi antara FPI dengan jemaat Huria Kristen Batak Prosten (HKBP) yang ingin mendirikan rumah ibadah di Ciketing, Bekasi Timur, beberapa pekan lalu, Fahira menahan diri untuk tidak mengikuti arus. Dia malah menunjukkan sikap empatinya kepada kelompok Islam yang terkenal sering melakukan tindak kekerasan tersebut. 
Menurut putri Fahmi Idris ini, bahasa makian dan kebencian tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Karena itu, ia mau membuka diri dan ingin berdialog dengan kelompok yang dituduh terlibat dalam kerusuhan tersebut. ”Apalagi saat itu mau bulan puasa. Kan tak enak banget kalau puasa dengan kondisi yang kayak gitu,” tutur perempuan yang hobi menembak ini.
Dalam poling bertajuk The Most Inspiring Tweeter, pendiri Gerakan Masyarakat Cinta Damai (Gema Damai) ini dinobatkan menjadi sosok inspiratif di situs jejaring sosial tersebut. Ia mengalahkan 16 kandidat lain yang berasal dari berbagai negara. Sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan akan mendapat penghargaan ini yang bermula dari tweet-nya tersebut.
Kamis lalu, 30 September 2010, Irwan Amrizal dan Aisyah, dari Madina Online, mewawancarai Fahira di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan, setelah ia membagi pengalamannya di dunia blog dalam pelatihan untuk para blogger. Perbincangan kami seputar kekerasan yang terjadi belakangan ini dan semangat toleransi yang ia tularkan kepada masyarakat.
Yang terjadi pada bangsa kita belakangan ini seakan-akan kekerasan menjadi jawaban dari sebuah permasalahan. Apa pendapat Anda tentang hal ini?
Konflik yang terjadi di Indonesia belakangan ini mulai muncul sebelum bulan puasa dan terus meningkat sampai hari ini. Jujur saya sangat prihatin. Saya sebenarnya ingin ada seorang ahli yang menganalisa apa yang terjadi. Apa konflik tersebut hasil kreasi kelompok tertentu yang tidak ingin negara kita damai. Sebab kita tentu tidak cuma ingin melihat konflik dari permukaannya saja, apalagi konflik-konflik yang ada terjadi berurutan. Sebenarnya saya menunggu analisa itu.
Menurut Anda, apa akar dari semua tindakan kekerasan yang terjadi?
Mungkin karena zamannya sudah berubah. Masyarakat sekarang lebih individualistis dan cenderung egois. Karena itu, nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang mengajarkan kita dari kecil untuk toleran kepada orang lain yang berbeda sudah luntur. Lalu didukung dengan penegakan hukum yang masih lemah.
Selain itu, media juga kadang-kadang menampilkan berita atau video tindak kekerasan dengan gamblang. Bagi sebagian orang mungkin muak melihatnya, tapi bagi sebagian yang lain malah bisa menjadi inspirasi. Namun yang paling mendasar, menurut saya, adalah bahwa kebanyakan masyarakat kita masih miskin. Karena kemiskinan tersebut masyarakat kita dengan mudahnya bisa marah dan merusak.
Pendekatan Anda terhadap FPI berbeda dengan yang lain. Apa yang menyebabkan Anda punya pendekatan berbeda tersebut?
Sejak kecil kan kita sudah diajarkan, jangan melawan kekerasan dengan kekerasan. Tapi mungkin tidak banyak orang yang memahami ini. Sementara kelompok Islam di seberang sana menggempur mereka dengan kekerasan juga. Jadi sebenarnya, kedua kelompok Islam itu sama ekstremnya.
Saat Anda berdialog dengan ketua FPI, Rizieq, apa pertanyaan yang Anda sampaikan?
Saya bertanya apa saja visi-misi FPI dan kenapa FPI selalu melakukan kekerasan. Saya juga menyerahkan satu bundel email dari semua teman saya di Twitter yang masuk ke alamat email saya tanpa saya sortir. Saya meminta habib untuk mempelajari isi email tersebut. Saya takut selama ini dia diisolir oleh para pembantunya dari berita-berita miring yang ada tentang FPI.
Secara umum, apa isi email-email tersebut?
Email dari orang Kristen biasanya adalah ungkapan bahwa mereka korban tindak kekerasan yang dilakukan FPI. Sedangkan email dari orang Islam sendiri adalah himbauan agar tidak menggunakan kekerasan lagi dalam berdakwah. Ada email juga dari orang yang menjadi korban saat tragedi di Monas.
Bagaimana respon ketua FPI saat itu?
Habib Rizieq berterima kasih kepada saya karena jarang dan bahkan tidak ada orang yang mau tabayun (mengkonfirmasi) kepadanya. Malah yang ada, mereka selalu menuduh FPI. Saya juga meminta kepada dia agar tidak ada lagi swepping pada bulan puasa. Alhamdulillah, habib mengiyakan permintaan saya.
Habib menyayangkan adanya ketidakseimbangan berita di media. Ketika mereka menurunkan anggota untuk membantu saat musibah tsunami di Aceh, media tidak memberitakannya. Tapi giliran tindakan kekerasan yang dilakukan anggota FPI, media selalu mengungkit-ungkitnya. Karena saat itu banyak media yang datang, mereka seperti mendapat hak jawabnya. 
Apakah ada pembicaraan mengenai metode dakwah mereka yang selalu menggunakan kekerasan?
Mereka mempunyai prinsip untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dengan menggunakan tangan, lisan, dan terakhir doa. Saat itu saya mendebat habib soal penggunaan kekerasan dalam metode dakwahnya. Saya katakan kepadanya, Nabi Muhammad yang saya tahu tidak menggunakan kekerasan saat beliau menyelesaikan konflik yang terjadi pada zamannya.
Lalu, apa jawaban Rizieq?
Mereka akan tetap dengan metode dakwahnya tersebut. Mungkin itu risiko hidup di negara yang demokratis, dan ini menjadi tantangan bagi para penegak hukum.
Apa pandangan Anda sendiri tentang FPI?
Kita tinggal di Indonesia harus menerima konsekuensi dengan beragamnya perbedaan yang ada. Apapun pernyataan yang dikeluarkan FPI itu hak mereka, seperti juga apa yang mereka lakukan saat berlangsung Q Festival. Tapi kalau mereka sudah melakukan kekerasan, mereka harus ditangkap. Sebenarnya sangat mudah kok menghadapi FPI, asal kita tidak panik dan tidak reaktif.
Bagaimana suasana saat dialog berlangsung?
Pertama-pertama memang agak tegang. Tapi setelah saya ceritakan maksud kedatangan kami, suasana menjadi cair. Saat itu hadir juga dr. Jose Rizal dari Mer-C dan Munarman. Posisi duduk kami diatur sedemikian rupa. Rombongan saya di sebelah kiri dan anggota FPI di sebelah kanan. Di tengah-tengahnya, habib di sebelah kanan, saya di sebelah kiri, lalu ada istri habib di tengah kami.
Sebelum mengakhiri pertemuan, adakah yang dijanjikan Rizieq?
Dia berjanji tidak akan melakukan sweeping dan menggunakan kekerasan lagi.
Akan ada pertemuan lanjutan dengan mereka?
Saat saya meresmikan sekretariat Gerakan Masyarakat Cinta Damai (Gema Damai), saya mengundang habib. Dia bilang mendukung gerakan ini dan mau bekerja sama. Syukur alhamdulillah, FPI sudah lebih baik.
Anda sibuk saat terjadi penusukan pendeta Asia Sihombing di Ciketing, padahal itu hari ketiga Lebaran..
Ya, saat itu supir saya tidak ada, sampai akhirnya saya naik taksi untuk menjenguk pendeta yang ditusuk tadi. Saat itu juga saya menulis di Tweeter saya untuk mengajak teman-teman saya di akun itu untuk bisa bersama-sama menjenguk dan mendonorkan darahnya bagi sang pendeta yang sedang dirawat di rumah sakit di bilangan Bekasi Timur.
Alhamdulillah, banyak yang datang dan mau mendonorkan darahnya. Padahal kata dokter yang merawat, di saat Lebaran sangat sulit untuk bisa mendapatkan darah. Dan teman-teman saya di Tweeter benar-benar berusaha untuk datang.
Bagaimana suasana saat Anda berada di rumah sakit tersebut?
Para jemaat kaget dengan kedatangan saya, meski sebelumnya mereka memaki orang Islam yang melakukan penusukan itu. Saat menjenguk sang pendeta, saya perempuan satu-satunya yang berjilbab. Lalu, mereka bertanya kepada saya dari mana dan mau apa. Yang saya katakan kepada mereka, saya dan teman-teman saya di Tweeter ingin mendonorkan darah kami.
Apa mereka tahu sebelumnya rencana kedatangan Anda?
Mereka tidak tahu.
Apa yang Anda saksikan dari peristiwa di rumah sakit itu?
Saya jadi saksi mata dari kebhinekaan, saat darah teman-teman saya yang Muslim mengalir dalam darah sang pendeta. Saya juga ingin membuktikan walaupun sang pendeta ditusuk oleh orang yang mengaku sebagai Muslim, tapi sang pendeta juga dibantu oleh orang-orang Islam. 
Bagaimana pandangan Anda tentang situs jejaring sosial, seperti Tweeter yang ternyata membawa banyak manfaat? Setidaknya dari kasus Anda ini.
Situs jejaring sosial seperti Tweeter memang luar biasa. Saat terjadi sesuatu, melalui media ini berita kejadian tersebut bisa tersebar dengan sangat mudah. Apalagi sudah banyak tokoh-tokoh yang sudah punya akun di Tweeter dan bergabung dengan komunitasnya masing-masing.
Jadi, Anda termasuk salah seorang yang merasakan keefektifan dalam mengkampanyekan sesuatu di situs jejaring sosial?
Ya, saya sangat merasakannya.
Tadi Anda bilang, Anda membuat gerakan sosial (Gema Damai). Memang apa yang Anda harapkan dari gerakan sosial itu?
Saat ini, kita sebagai rakyat sudah tidak boleh menggantungkan diri kepada pemerintah. Hari gini masih tergantung sama orang laen, itu bagi saya bukan Indonesia banget. Pada milenium ketiga ini, kita harus mandiri. Walaupun apa yang kita lakukan kecil tapi bisa berguna buat orang di sekitar kita.***

Komentar