Home » Sosok » Wawancara » Ahmad Nurcholish: “Nikah Beda Agama di Luar KUA Sah”

Ahmad Nurcholish: “Nikah Beda Agama di Luar KUA Sah”

Jumlah pasangan nikah beda agama kian hari makin meningkat. Tapi pemerintah masih memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua.

Hak untuk mencatatkan pernikahan mereka nyaris dikebiri negara. Kantor Urusan Agama (KUA) tak mau menerima mereka. Sebagian besar Kantor Catatan Sipil (KCS) mempersulit mereka. Sebagian masyarakat menganggap pernikahan mereka tak sah. Bahkan dianggap zina.

Implikasi dari ini cukup luas. Mulai dari beban psikologis hingga soal akta nikah. Yang lebih banyak dirugikan dalam hal ini adalah perempuan dan anak.

Tanpa akta nikah, istri lebih mudah diceraikan suaminya dan ia tak bisa menuntut apa-apa. Tanpa akta nikah, anak yang lahir dari pasangan itu tak bisa punya akta lahir. Akta lahir salah satu syarat utama untuk mendaftar sekolah, mendapat ijazah, dan kartu tanda penduduk.

Bersama lembaganya Harmoni Mitra Madani Ahmad Nurcholish telah mendampingi prosesi nikah beda agama sebanyak 628 pasangan dan melayani ribuan konseling terkait hal ini. Banyak kasus dan fakta lapangan yang ia temui. Berbagai intimidasi hingga aksi kekerasan pun pernah ia hadapi. (Baca: Mempelai itu Dipaksa Bersyahadat di Hari Pernikahannya)

Kendati banyak kalangan yang menentang pernikahan beda agama, jumlah pasangan nikah beda agama kian meningkat. Selain Nurcholish dan lembaganya, ada beberapa lembaga yang juga melakukan hal yang sama. Bahkan beberapa tokoh agama juga ikut memfasilitasinya.

NurcholishBagaimana lika-liku Nurcholish bersama lembaganya mendampingi pernikahan beda agama? Apa saja kendala dan tantangan di lapangan? Secara khusus Madina Online mewawancarainya. Berikut petikan wawancara Warsa Tarsono dengan penulis buku Menjawab ‘101 Masalah Nikah Beda Agama ini’:

Ribuan orang datang untuk konseling dan 600 pasangan beda agama Anda dampingi pernikahan mereka. Bisa Anda ceritakan fenomena yang terjadi?

Dari mereka yang datang konsultasi ke kami, soal nikah beda agama menunjukkan fenomena yang sangat besar. Hampir setiap hari selalu ada yang menghubungi kami, baik via telepon, email, dan media sosial. Kadang dalam satu hari bisa dua sampai tiga pasangan.

Kalau kita buat rata-rata setiap hari dua pasangan, maka sebulan ada 60 pasangan. Dari 60 pasangan itu memang tidak semuanya bisa langsung menikah. Hitungan kami dari 10 pasangan yang berkonsultasi paling tidak tiga sampai empat pasangan yang menikah.

Kenapa demikian? Apa kendala yang mereka hadapi?

Pertama, mereka mesti berjuang untuk mendapatkan restu dari orangtua. Ini problem pertama dalam pernikahan beda agama. (Baca: Fikih Pernikahan Perempuan Muslimah dengan Pria Non-Muslim)

Apakah restu orangtua menjadi syarat mutlak bagi para pasangan nikah beda agama?

Ya, restu orangtua itu menjadi syarat mutlak. Pernikahan beda agama masih kontroversi di masyarakat. Pihak gereja dan catatan sipil biasanya mensyaratkan itu. Di hari pelaksanaannya orangtua juga harus hadir. Mereka harus menandatangani blanko pencatatan pernikahan. NEXT PAGE

Komentar