Home » Sosok » Tokoh » Ulil Abshar Abdhalla, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

Ulil Abshar Abdhalla, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.”

Kalimat-kalimat di atas dengan segera terbaca begitu blog Ulil Abshar Abdhalla dibuka. Bisa dibilang, gagasan itulah yang sebenarnya selama  ini diperjuangkan dan menjadi ciri dari keyakinan sosok kontroversial ini. Ulil pada dasarnya adalah orang yang tak lelah mendorong kelahiran umat Islam yang beriman kokoh. Ironisnya, karena upaya itu ia sempat dihalalkan darahnya oleh sekelompk ulama di Bandung.

Ulil lahir 41 tahun yang lalu dari keluarga santri Nahdlatul Ulama yang sangat tradisional. Pendidikan di masa kanak-kanak dan remajanya dijalani di madrasah dan pesantren di Jawa Tengah. Kakeknya bahkan adalah seorang kyai yang melarang anak perempuan bersekolah. Ulil pun sempat bersekolah di perguruan tinggi konservatif, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).

Namun kemudian jalan hidupnya berbelok. Ia mula-mula masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta – sebuah tempat yang sangat pas untuk belajar mempertanyakan segala hal yang baku. Namanya kemudian mulai dikenal publik setelah ia menjadi ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) NU, dan kemudian terlibat di ISAI (Institut Arus Informasi Indonesia), serta menjadi Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Namun tentu saja, kontroversi Ulil terpenting adalah ketika ia membentuk dan kemudian memimpin Jaringan Islam Liberal (JIL). Terutama sejak JIL mulai mengeluarkan pernyataan dan melaksanakan program-programnya, Ulil dengan segera sering dituduh sebagai agen kekuatan imperialis untuk menghancurkan Islam. Pikiran-pikirannya dianggap sesat. Aktivitasnya dipercaya merupakan bagian dari skenario besar negara adikuasa untuk menjajah Indonesia. Pada 2003 misalnya, Forum Ulama Umat Islam mengeluarkan fatwa mati atas Ulil.

Ulil tentu saja tidak ingin membuat umat Islam menjauh dari ajaran-ajaran luhur yang diyakininya. Sebagaimana kerap dijelaskannya, kata liberal di sana merujuk bukan pada kebebasan bagi manusia untuk bertindak apapun dengan mengabaikan Tuhan. Kata ’liberal’ merujuk pada kemerdekaan manusia di hadapan kitab suci dan ajaran-ajaran Islam yang selama ini dipercaya sebagai kebenaran dan diturunkan generasi demi generasi oleh para ulama.

Dalam hal ini, yang diperjuangkan JIL bukanlah kemerdekaan untuk melepaskan diri dari agama, melainkan kemerdekaan untuk senanitasa mempertanyakan serta merumuskan kembali apa yang dipercaya sebagai ajaran agama sebagaimana tertuang dalam Al-Quran dan hadis dan kesepakatan ulama. Dengan demikian, Ulil hendak melanjutkan upaya membuka pintu ijtihad seluas-luasnya dalam memahami Islam.

Bagi Ulil, cara beragama yang paling benar justru adalah beragama dengan menggunakan otak yang dianugerahkan Allah. Penutupan pintu ijtihad, baginya, justru adalah ancaman bagi Islam, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Apa yang disebut sebagai ajaran Islam tidak bisa dibiarkan statis dan tunggal, melainkan harus mengalami pembacaan dan penafsiran ulang secara terus menerus. Hanya Allah yang tahu kebenaran absolut, sedangkan manusia hanya tahu kebenaran sementara.

Di pihak lain, Ulil melihat bahwa kebekuan berpikir yang terjadi dalam dunia Islam telah menyebabkan ajaran-ajaran luhur Islam itu dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk menindas. Karena itu, dengan sengaja, Ulil menegaskan bahwa gerakan JIL yang dibangunnya akan senantiasa berpihak pada kaum minoritas yang tertindas. Ia percaya setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan ketidakadilan pada minoritas – baik di dalam maupun di luar Islam – adalah berlawanan dengan semangat islam.

Salah satu wilayah sensitif yang menyebabkan kaum konservatif marah pada Ulil adalah keyakinannya akan kebebasan beragama. Bagi Ulil, keyakinan keagamaan seseorang adalah sesuatu yang harus dihormati sepenuhnya oleh umat Islam dan tidak boleh diancam dan ditindas. Karena itu setiap warga negara harus bebas memilih agama, bebas memilih pindah agama, bebas memilih tafsiran keagamaan yang dipercayanya, serta bebas menjalankan keyakinan dan peribadatan keagamaannya – tanpa campur tangan siapapun. Suatu kali Ulil pernah ditantang dengan pertanyaan, apa yang ia lakukan bila anaknya sendiri memilih pindah agama? Ulil menjawab, dengan berat hati, ia akan mengizinkannya.

Gagasan-gagasan itulah yang dituangkan dalam JIL. Jaringan itu bukanlah sebuah gerakan politik melainkan gerakan kecendekiaan dengan memanfaatkan berbagai media modern, seperti buku, artikel di koran, talk-show di radio, seminar dan diskusi terbuka, iklan layanan masyarakat serta website.

Ulil sendiri sebenarnya lebih bersosok intelektual ketimbang seorang orator yang memesona. Gaya bicaranya tenang, kalimat-kalimat dan argumennya sangat tertata, tidak dengan semangat yang meledak-ledak. Namun, bagaimanapun, Ulil memang sering juga menggunakan istilah atau cara pengungkapan yang terkesan provokatif dan kadang menyakitkan hati mereka yang dikritiknya.

Ia misalnya menyebut gagasan untuk mengajukan syariat Islam sebagai bentuk kemalasan berpikir, atau sebagai bentuk melarikan diri dari masalah, dengan memakai alasan hukum Tuhan. Tatkala bicara tentang Muhammad, ia menyebut bahwa bagaimanapun, sang Nabi adalah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Ia juga menyatakan, ”Tidak ada itu yang disebut Hukum Tuhan.” Bahkan: “Agama hendaknya tahu batas-batasnya.”

Saat ini keriuhan soal Ulil memang agak mereda. Tapi itu terjadi bukan karena ia berhenti berbicara. Ulil sekarang sedang tdiak di Indonesia. Setelah tahun lalu memperoleh gelar Master di Boston University, AS,  ia kini sedang menjalani program doktoralnya di Harvard University. []

Komentar