Home » Sosok » Tokoh » Seorang Muslim yang Mencoba Menyelamatkan Hidup penembaknya

Apa sikap Anda pada orang mencoba membunuh Anda lantaran apa yang Anda yakini? Bagi Rais Bhuiyan, jawabannya sederhana: memaafkan.

Seorang Muslim yang Mencoba Menyelamatkan Hidup penembaknya

Ketika pertama kali mendengar cerita tentang Bhuiyan, saya sulit mempercayainya. Ternyata ada seorang Muslim korban suatu kejahatan kebencian pasca 11 September yang kini justru tengah berjuang menyelamatkan nyawa orang yang pernah menembaknya. Dan salah satu alasan yang membuatnya diserang –yaitu agamanya– menjadi motivasinya untuk mencoba menyelamatkan nyawa si penembak itu.

Sepuluh hari setelah serangan 11 September 2001, Bhuiyan, yang seorang imigran Bangladesh, tengah bekerja di tempat pengisian bahan bakar di Dallas. Seorang lelaki datang dengan menenteng sebuah senjata. Mengira tempatnya sedang dirampok, Bhuiyan membuka mesin kas. Namun, laki-laki itu justru bertanya dari mana ia berasal. “Maaf,” jawab Bhuiyan. Mark Stroman, seorang penganut paham supremasi kulit putih yang menyerang orang-orang yang ia lihat tampak seperti orang Timur Tengah, kemudian menembak Bhuiyan di wajah.

Bhuiyan selamat. Tapi tanggal 20 Juli nanti, Stroman dijadwalkan akan dieksekusi mati di negara bagian Texas karena dua kasus lain. Pria ini terbukti membunuh Vasudev Patel, seorang imigran India, pada 4 Oktober 2001. Ada pula bukti yang dihadirkan di pengadilan bahwa Stroman pun menembak dan membunuh Waqar Hasan, seorang imigran Pakistan.

Hebatnya, kini Rais Bhuiyan tengah berjuang menyelamatkan nyawa Stroman dengan barkampanye melalui Amnesty International. Ia berusaha meyakinkan dewan pembebasan bersyarat agar membatalkan hukuman mati atas Stroman.

Saya berkesempatan mengobrol sesaat dengan Bhuiyan setelah mendengar tentang kampanyenya itu.

Tergambar dari pembicaraannya, jelas bahwa agamanyalah yang menjadi faktor utama yang memotivasinya melakukan itu. Pada 2009, Bhuiyan menunaikan haji. Di Tanah Suci ia melihat manusia yang bermacam rupa berkumpul bersama untuk berdoa dan beribadah. Ia pun mengingat bagaimana ia tumbuh pada masa remajanya di Bangladesh di sebuah keluarga yang religius. Keluarganya bersembahyang lima kali sehari, dan kakeknya berkunjung setiap Kamis untuk membaca Al-Quran serta menceritakan pada keluarganya cerita-cerita Islami, khususnya tentang Nabi Muhammad.

Salah satu kisah yang sangat membekas pada Bhuiyan adalah cerita kunjungan Nabi Muhammad ke Ta’if, sebuah daerah lembah dekat Mekah, untuk menyebarkan risalah Islam. Orang-orang Ta’if bereaksi kasar dan mengusirnya. Dalam versi cerita yang Bhuiyan dapatkan waktu itu, malaikat Jibril muncul bersama malaikat penjaga gunung, yang mengatakan kepada Muhammad, “Jika engkau mau, saya akan buat gunung-gunung sekitar Ta’if jatuh menimpa mereka, dan menghancurkan mereka berkeping-keping.” Tapi Muhammad menolak dan mengatakan bahwa anak-anak dari orang-orang yang telah melemparinya boleh jadi suatu hari akan menganut risalah yang ia sebarkan.

Pesan ampunan dan penyelamatan yang menjadi inti cerita ini sekarang bergema kembali dalam hidup Mark Stroman dan Rais Bhuiyan. Ketika Stroman mendengar tentang upaya Bhuiyan dalam kasusnya, ia pun menangis bercucuran air mata. Jika Stroman tidak jadi dieksekusi, Bhuiyan mengatakan, “Saya yakin ia akan bisa menyapa orang-orang lain. Jika ia [bisa] selamatkan satu nyawa, itu akan menjadi sebuah keberhasilan. Jika ia hilang begitu saja, kita pun kehilangan kesempatan untuk mengajari yang lain.”

Keyakinan pada masa depan ini, dan pada pandangan bahwa kita bisa secara positif mempengaruhi kehidupan orang-orang lain dengan berbagi cerita kita, adalah sebuah penyemangat bagi ketakutan yang telah mencengkeram Amerika beberapa tahun sejak 11 September, ketakutan yang kadang menimbulkan tindakan kekerasan. Penyebab kejahatan Stroman, menurut Bhuiyan, adalah kebencian. Dan ia yakin bahwa penangkal dari kebencian ini adalah pendidikan dan belas kasih, dan bukan kekerasan. Kendati peristiwa penembakan itu telah menimpanya, Bhuiyan memandang Amerika Serikat “masihlah sebuah negeri yang indah.”

Setelah mendengar cerita Bhuiyan, saya pun sadar kalau saya telah mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang maaf dan belas kasih, yang termasuk ajaran teragung dalam agama saya dan juga agamanya. Ceritanya seharusnya mendorong kita untuk melihat dunia dengan cara penuh kasih dan damai.

Akankah kita memilih untuk takut? Atau, akankah kita memilih untuk menyapa orang-orang yang berbeda dari kita, untuk mendengar cerita mereka, untuk memulai melepas ketakutan kita dan memilih meyakini masa depan?

#####

* Laurna Strikwerda ialah kordinator program dialog Muslim-Barat di organisasi transformasi konflik internasional Search for Common Ground.

**Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews), 08 Juni 2011.
Telah memperoleh izin publikasi.

Sumber Foto:
1. http://indosingleparent.blogspot.com
4. http://filsafat.kompasiana.com
3. http://arinaforlife.blogspot.com

Komentar