Home » Sosok » Tokoh » Ratu Rania: Kemiskinan itu “She”

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

“Iklan terbaik untuk pemberdayaan kaum perempuan adalah seorang perempuan yang berdaya.” Kata-kata itu diucapkan Ratu Rania dari Yordania.

Ratu Rania: Kemiskinan itu “She”

Anda percaya? Kalau ya, mungkin itu antara lain karena sosok Rania sendiri menjadi bukti hidup kebenaran kata-katanya itu.

Perempuan muda nan cantik dan cerdas ini memanfaatkan posisi dan statusnya yang unik sebagai ratu untuk menyuarakan hak-hak asasi kaum perempuan dan anak-anak khususnya di Timur Tengah. Ia juga menyerukan agar perhatian lebih khusus diberikan kepada kaum muda di dunia Arab.

Beberapa kalangan menyebutnya “Putri Diana” baru: seorang perempuan yang berada di kalangan kerajaan, tapi tak segan-segan menjadi seorang aktivis kemanusiaan. Tapi upaya-upaya Rania patut diberi kredit tambahan karena ia berasal dari dan bergerak di Timur Tengah, sebuah wilayah yang dikenal sangat didominasi laki-laki. Tahun lalu, ia dinobatkan majalah Forbes sebagai perempuan paling berpengaruh di Timur Tengah.

Antara lain karena inisiatifnya itu, beberapa perbaikan sudah mulai tampak. Misalnya, Injaz al-Arab, sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam bidang pendidikan anak-anak di Timur Tengah, beberapa tahun terakhir berhasil menyelenggarakan kompetisi bisnis yang melibatkan 2000-an perusahaan, dari sembilan negara, yang dikelola anak-anak muda. Lalu, pada April tahun lalu, Yordania membuka Museum Anak-anak interaktif, yang pertama di negara itu.

Upaya-upaya Rania mulai diakui dunia. Januari tahun lalu, misalnya, ia didapuk UNICEF, badan PBB yang menangani urusan anak-anak, untuk menjadi salah satu penyokong utamanya. “Saya percaya, membantu anak-anak adalah insting dasar manusia,” kata Rania dalam kesempatan itu. Lalu, mulai Mei tahun lalu, Universitas Harvard di AS memberikan dua beasiswa atas namanya kepada mahasiswa Timur Tengah.

Terakhir, akhir Januari tahun ini, dalam World Economic Forum di Davos, Ratu Rania tampil menjadi salah satu bintangnya. Ia berdebat dengan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dalam satu sessi mengenai kemiskinan global. Dan di akhir pertemuan, ia berdiri antara lain bersama Sekjen PBB Ban Ki-moon, juga filantropis kenamaan dunia semacam Bill Gates dan Bono, untuk menyerukan agar Millennium Development Goals (MDGs) segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret. “Sekarang adalah saatnya untuk berpindah dari memberi janji ke memenuhi janji,” kata Rania, seraya menunjukkan statistik mengenai jutaan anak perempuan yang berhenti sekolah dan ratusan ribu ibu muda yang mati karena melahirkan di dunia. “Ini situasi darurat, dan itu ada di sekeliling kita,” tambahnya.

Pada saat yang sama Rania tak lupa menyinggung apa yang terjadi di perbatasan Mesir dan Israel, di mana anak-anak dan perempuan di Tepi Gaza menderita karena blokade Israel. “Pekan ini, Gaza makin terperosok ke dalam jurang kegelapan dan penderitaan lebih dalam,” katanya tegas. “Anak-anak Gaza beriteriak, minta tolong agar disediakan pemanas, listrik, makanan, obat-obatan, dan – di atas yang lainnya – perdamaian. Mereka sudah menjalani horor, rasa takut, dan kekecewaan yang jauh dari yang bisa kita bayangkan. Janji-janji palsu tidak akan membantu mereka,” tambahnya.

Ratu: “Saya Rania…”
Ratu Rania, atau Rania al-Yassin, lahir di Kuwait pada 31 Agustus 1970, dari orangtua asal Palestina. Tak lama sesudah Saddam Hussein menginvasi negaranya pada 1990, ia dan keluarganya pindah dan menetap di Yordania.

Sesudah menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di New English School, Kuwait, Rania belajar administrasi bisnis American University di Cairo, Mesir, dan lulus tahun 1991. Ia lalu bekerja di Citibank dan Apple Computer. Kemudian, ia melanjutkan kuliahnya dalam bidang manajemen di Universitas Paris, Perancis, dan lulus pada 1995.

Rania bertemu Pangeran Abdullah bin al-Hussein dalam sebuah jamuan makan malam pada 1993. Dua bulan kemudian mereka bertunangan, dan pada 10 Juni 1993 mereka menikah. Ia naik tahta sebagai ratu pada 1999, ketika suaminya, Raja Abdullah II, menggantikan ayahnya, almarhum Raja Hussein. Dalam usia 29 tahun, ia adalah ratu termuda kala itu.

Kata Rania, ia tidak mendefinisikan dirinya sebagai ratu. “Saya bahkan tak sepenuhnya menyadarinya. Saya berusaha sebisanya untuk tidak menyadari [kedudukan] itu. Karena saya Rania – Anda tahu, ‘kan? Orang-orang memanggil saya ‘Ratu,’ tapi, Anda tahu, itu bukan saya karena … saya Rania.”

Rania tak membantah bahwa ada keistimewaan yang ia dapatkan sebagai ratu. Dan tak seorang pun bisa. Tapi ia menekankan tanggung jawab yang melekat dalam statusnya itu. “Salah satu pandangan keliru mengenai posisi ini adalah bahwa, orang mengira bahwa saya jauh dan terasing, tidak bersentuhan dengan realitas,” katanya. “Yang benar, hidup saya banyak tentang berhubungan dengan isu-isu sehari-hari, dengan … masalah-masalah yang dihadapi negeri kami. Itulah yang saya kerjakan sehari-hari.”

Kata Rania, ketika orang bicara mengenai ratu, mungkin mereka berpikir tentang apa-apa yang mereka ketahui dari dongeng. “Bagi saya, ini kehidupan saya yang sebenarnya.”

Dari perkawinannya dengan Raja Abdullah, Ratu Rania melahirkan empat anak: Hussein (lahir 1994), Iman (1996), Salma (2000), dan Hashem (2005). “Saya seorang ibu,” katanya. “Saya peduli dengan anak-anak saya. Saya mau tahu apa yang mereka makan. Dan saya khawatir dengan pengaruh teman-teman mereka.”

Kata Rania lagi, keluarga mereka berusaha keras untuk tampil sebiasa mungkin. Upacara-upacara kerajaan ditekan seminimal mungkin, misalnya. Rania sendiri ingin agar orang tidak memanggilnya dengan “Ratu yang Mulia” … dan Raja Abdullah itu seseorang yang suka barbecue!

Rania menambahkan, keluarganya tidak pernah membahas kemungkinan Hussein, anak tertua mereka, sebagai Raja Yordania di masa depan. Melainkan, tambahnya, keluarganya berusaha bersikap dan bertingkah-laku seperti keluarga biasa lain. Misalnya, agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka kehendaki, anak-anaknya harus membersihkan kamarnya sendiri dan berprestasi di sekolah.

“Yang paling penting adalah menanamkan nilai-nilai yang benar dalam hati mereka,” kata Rania. “Saya merasa, nilai-nilai itulah yang akan menjadi perisai yang Anda bawa seumur hidup Anda. Nilai-nilai itu akan menjaga Anda dari apa saja yang dilemparkan kepada Anda oleh hidup ini.”

Kemiskinan itu “She”

Rania menjadi terkenal di seluruh dunia karena upaya-upayanya dalam meningkatkan kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih layak. Pada gilirannya, kata Rania, pendidikan kaum perempuan akan bisa mengikis kemiskinan.

“Dalam pandangan saya, kemiskinan itu adalah suatu ‘she’ (dia, perempuan),” kata Rania. Ia menjelaskan, ada kaitan langsung antara peningkatan pendidikan dan penghapusan kemiskinan. “Anda bisa mengubah nasib sebuah bangsa lewat pendidikan,” katanya. “Salah satu hal paling penting yang dapat Anda lakukan untuk seorang perempuan adalah dengan memberdayakannya lewat peningkatan pendidikannya. Sekali ia memperoleh pendidikan, maka ia akan memiliki kontrol atas pemasukannya, ia bisa mengubah hidupnya, dan ia bisa memiliki banyak pilihan.”

Membantu orang lain, kata Rania, adalah sesuatu yang ia rasakan harus ia lakukan. “Sekali Anda merasa bahwa orang-orang lain itu seperti Anda, maka Anda akan menginginkan untuk orang-orang lain itu apa yang Anda inginkan untuk diri Anda sendiri,” katanya. “Dan dengan begitu Anda mulai membantu orang-orang lain.”

Maka tak mengherankan jika di Davos akhir Januari lalu, Ratu Rania ikut dalam sessi khusus “Girls Count”, yang membahas berbagai strategi peningkatan pendidikan kaum perempuan. “Ada banyak langkah penting dan segera yang bisa dilakukan para pemimpin di banyak sektor,” katanya.

“Pemerintah bertanggungjawab untuk menyediakan landasan hukum yang memperlakukan kaum perempuan dengan adil – dan menjamin bahwa layanan-layanan sosial diberikan kepada laki-laki maupun perempuan. Komunitas donor bisa memfokuskan perhatian pada masalah kesehatan reproduksi dan seksual bagi kaum perempuan, termasuk upaya-upaya mencegah HIV dan ikut menjamin bahwa anak-anak perempuan memiliki kesempatan untuk sekolah pasca-SD. Para pemilik usaha dapat meningkatkan kesempatan ekonomi bagi anak-anak perempuan muda, sehingga para orangtua bisa melihat manfaat dari investasi yang mereka berikan untuk mendidikan kaum perempuan. Dan organisasi-organisasi masyarakat madani, yang bekerja di akar-rumput, dapat membantu mengubah sikap-sikap tradisional terhadap kaum perempuan.”

Islam dan Barat

Belakangan, Ratu Rania juga menjadi jurubicara yang cerdas mengenai hubungan antara Islam, khususnya Timur Tengah, dan Barat. Ia berharap, kita lebih menekankan persamaan daripada perbedaan. Ini antara lain dikemukakannya ketika ia diwawancarai ratu talk show dunia Oprah Winfrey, dalam Oprah Winfrey Show pada 17 Mei 2006.

Kata Rania, ketika kita menekankan perbedaan di antara banyak kebudayaan – khususnya karena stereotipe seperti dalam kasus kerudung yang dikenakan kaum muslim perempuan – kita gagal menyadari betapa sebenarnya banyak persamaan di antara kita. “Sekali Anda melupakan tetek-bengeng adat-istiadat dan bahasa, kita mulai menyadari bahwa kita pada dasarnya sama – ya ‘kan?”

Rania juga bermaksud menghancurkan banyak stereotipe Barat mengenai kebudayaan Arabnya. “Saya ingin menyingkirkan anggapan bahwa orang-orang Arab adalah ekstremis, bahwa orang-orang Arab itu mendukung kekerasan, dan bahwa kaum perempuan di dunia Arab itu ditindas,” katanya.

Menurutnya, perjuangan yang harus dimenangkan sekarang bukan antara Timur Tengah melawan Barat, melainkan antara kaum ekstremis dan moderat di semua agama. “Kita harus bersuara lantang,” serunya. “Mimpi buruk terbesar kalangan ekstremis adalah jika semua kita bersatu, dan karena itulah kita harus bersatu. Kita harus lebih sering berkomunikasi.”

Di masa depan, tambahnya, ia berharap bisa menemukan dunia yang lebih terbuka dan aman. “Kita melihat banyak masalah yang terjadi di sebelah dunia yang lain dan kita pikir, ‘Ya, itu ‘kan masalah mereka.’ Tapi yang benar tidaklah demikian,” katanya. “Ketika Anda memecahkan masalah seseorang, Anda memecahkan masalah Anda sendiri, karena dunia kita sekarang ini saling terkait satu sama lain.”

Katanya lebih jauh, memecahkan berbagai masalah yang muncul dari tidak-adanya toleransi – seperti terorisme – memerlukan dialog antarbudaya, pendidikan, dan makin-terbukanya kesempatan. “Kita harus menciptakan banyak kesempatan bagi anak-anak muda kita, sehingga mereka punya kesempatan untuk hidup,” tambahnya. “Kapan saja Anda merasa frustrasi dan Anda merasa seperti Anda tidak punya masa depan atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan, maka Anda jadi lebih rentan untuk dipengaruhi oleh terorisme dan ideologi ekstremis.”

***

Dunia Rania

Ratu Rania termasuk satu di antara perempuan paling berpengaruh di dunia. Majalah Forbes menobatkannya sebagai yang paling berpengaruh nomor 80 di dunia, tapi pertama di Timur Tengah.

Ia juga dikenal sebagai seorang perempuan yang elegan. Ketika dinobat­kan sebagai ratu pada 1999, ia ratu termuda. Pada 2005, oleh majalah Harpers & Queen, ia dianggap salah satu perempuan tercantik di dunia.

Selain di Timur Tengah, kegiatan-kegiatan sosial Rania juga berlangsung di tingkat dunia. Pada 2003, ia terpilih sebagai salah satu Dewan Direktur  dalam bidang pendanaan bagi para korban. Pada 2004, ia ikut membentuk Forum for Young Global Leaders, yang berasosiasi dengan Forum Ekonomi Dunia di Davos. Tahun lalu, 2007, UNICEF, badan PBB untuk anak, mengangkatnya sebagai salah seorang penyokong organisasi itu.

Dalam kapasitasnya sebagai ratu dan aktivis kemanusiaan, Ratu Rania sudah mengelilingi banyak negara di dunia. Antara lain AS, India, Kuwait, Prancis, Afrika Selatan, Yunani, Belanda, Inggris, Maroko, Italia, dan Vatikan, di mana ia dan suaminya berjumpa dengan Paus.

***

Jilbab Urusan Pribadi

Dalam wawancara dengan Oprah Winfrey, Ratu Rania membuat terkejut banyak pemirsa di dunia. Dengan rambut terurai bak aktris Hollywood, ia tampil elegan dengan jawaban-jawaban cerdas.
Katanya, banyak orang salah pandang tentang Islam. “Islam ada­lah agama toleran, berbuat untuk kebaik­an, memahami perbedaan, dan kualitas manusia,” katanya.

Tanya Oprah, “Apakah Anda salat? Berapa kali sehari? Berapa lama?” Rania menjawab, sebagai muslimah taat, ia menjalankan seluruh ritual Islam.

Lanjut Oprah, “Mengapa Anda tidak berkerudung, mengenakan jilbab? Sementara kaum muslimah lainnya mengenakannya?”

Dengan simpatik Rania menjawab, “Jilbab adalah soal pilihan. Seseorang memakai jilbab karena keyakinannya, dan ia sepenuhnya berhak mengenakannya, bukan karena keterpaksaan.” Seraya mengakui bahwa ia tak pernah mengenakan jilbab, ia menegaskan bahwa negara tak boleh mengatur dan mencampuri masalah kepercayaan individu-individu. “Itu pilihan pribadi,” tegasnya.

Rania lalu mengkritik sikap umumnya kalangan di Barat yang memandang jilbab sebagai simbol keterbelakangan dan ketertindasan perempuan dalam Islam. “Ini tidak benar sejauh seorang perempuan me­ngenakannya karena keyakinannya,” katanya. “Saya selalu menyatakan, kita harus menilai seorang perempuan dari apa yang ada dalam [otak] kepalanya, dan bukan dari apa yang dikenakannya di ujung kepalanya.”

Ia lalu memberi isyarat tubuh agar Oprah tidak menanyakan hal-hal seperti itu. Ia lebih suka bicara mengenai hal-hal yang lebih bermutu dari sekadar soal jilbab.*

Komentar