Home » Sosok » Tokoh » Perjuangan Malala Melawan Taliban

Perjuangan Malala Melawan Taliban

Kabar baik datang dari remaja pejuang pemenuhan pendidikan untuk perempuan di Pakistan, Malala Yousafzai. Perempuan berumur 15 tahun ini dinyatakan sembuh setelah berhasil menjalani operasi di bagian tengkorak kepalanya.

Sejak Januari 2013, tim dokter juga membolehkan Malala keluar dari rumah sakit Queen Elizabeth Birmingham, Inggris, tempat ia dirawat. Di rumah sakit itu, setahun lebih Malala berjuang penuh untuk kembali pulih. Ia tetap bertahan agar bisa keluar dari masa kritis yang mengancam nyawanya.
Kantor berita BBC melaporkan, Malala mulai dirawat setelah kelompok Taliban menembak kepalanya. Peristiwa itu terjadi pada 9 Oktober 2012 di Kota Mingora, Kabupaten Swat, Provinsi Khyber-Pakhtunkhwa, Pakistan. Saat itu Malala bersama pelajar lainnya menumpang bus sekolah yang akan membawanya ke sekolah. Tiba-tiba datang pria bersenjata menghentikan bus dan memaksa naik ke dalam lalu melepaskan tembakan ke bagian kepala Malala.

Pasca penembakan, juru bicara Taliban, Ehsanullah Ehsan, mengeluarkan pernyataan bahwa Taliban bertanggungjawab atas penembakan tersebut. Taliban menganggap Malala adalah orang kafir yang telah menyebarkan paham sekularisme. Dia dituduh melawan pihak mujahidin yang melarang pendidikan bagi perempuan Pakistan dan juga menentang perang.

“Kami tidak berupaya untuk membunuh Malala karena keinginannya untuk memajukan hak wanita dalam bidang pendidikan. Kami berupaya untuk membunuh Malala karena sifatnya yang melawan para mujahidin dan menentang perang. Dalam Al-Quran dinyatakan siapa yang menentang Islam harus dibunuh, sekalipun ia seorang anak-anak,” ujar Ehsanullah, seperti dilansir bbc.co.uk.

Sebagai aktivis yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan Pakistan, sepanjang hari Malala mengampanyekan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan serupa laki-laki. Ia berani melawan Taliban yang sebelumnya mengeluarkan larangan bagi perempuan untuk bersekolah.

Banyak hal yang dilakukan Malala untuk perjuangannya itu. Sejak 2009, kepada BBC Urdu, Malala menulis catatan harian tentang Kehidupan Lembah Swat di bawah kekuasaan Taliban. Malala tinggal dan bersekolah di lembah Swat yang sejak akhir 2007 telah dikuasai kelompok militan Taliban. Sanak keluarga dan teman perempuan lainnya juga tinggal di sini.

Bersama Ayahnya, Ziauddin Yousafzai, Malala juga mengelola sekolah privat yang diperuntukkan bagi perempuan berumur 14 tahun. Dia memberikan kursus agar anak perempuan dengan mudah mendapatkan akses pendidikan. Anak-anak perempuan berdatangan untuk belajar di sekolah privatnya itu. Tapi tak sedikit sejumlah orangtua kemudian melarang anak perempuannya belajar di di situ. Di Pakistan sangat sulit seorang perempuan mendapat akses pendidikan lantaran takut pada ancaman Taliban.

Karena perjuangannya itu, Malala disebut-sebut sebagai salah satu kandidat yang akan mendapat penghargaan Nobel Perdamaian 2013. Hingga tulisan ini diturunkan, sebanyak enam ribuan tandatangan dari berbagai masyarakat dunia terus mendukung Malala dalam sebuah petisi agar dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian 2013.

Melawan Kejahatan Taliban

Taliban adalah kelompok Islam militan yang ingin menerapkan syariat Islam secara kaku. Termasuk larangan pendidikan bagi perempuan dan perintah ditutupnya seluruh sekolah di Pakistan. Bagi Taliban, larangan tersebut sesuai dengan syariat Islam yang sebenarnya.

Kelompok ini tumbuh dan berkembang di Pakistan dan Afganistan. Taliban memiliki sayap militer cukup kuat. Karena itu mereka yang menolak mengikuti perintah Taliban dianggap kafir dan melawan syariat Islam. Malala salah satu yang masuk kategori kafir itu.

Penembakan Malala adalah puncak kekesalan Taliban pada perjuangan yang dilakukan Malala selama ini. Sekalipun Taliban telah melarang perempuan bersekolah, Malala terus mengajak anak perempuan agar tetap belajar dan bersekolah.

Dalam sebuah catatan hariannya, tertanggal 3 Januari 2009, kepada BBC Urdu, Malala menulis “…Aku takut pergi ke sekolah karena Taliban telah mengeluarkan sebuah dekrit yang melarang semua gadis menghadiri sekolah.”

Malala juga bercerita bagaimana Taliban selalu memarginalkan perempuan.

“…Sejak Taliban menguasai Swat mereka melarang perempuan pergi ke pasar dan berbelanja.”

Tak hanya itu, menurut laporan BBC, sejak menguasai lembah Swat pada tahun 2007, Taliban telah membantai masyarakat Mingora dengan tragis. Target utama mereka adalah sekolah-sekolah yang masih tetap menyediakan layanan pendidikan dan juga anak perempuan yang masih bersekolah. Sebanyak 400 lebih sekolah tutup dan 50 ribu siswa tak lagi bersekolah akibat kebijakan Taliban itu.

Hingga hari ini kekuatan Taliban di Pakistan, juga Afganistan, masih terbilang kuat. Sekalipun pemerintah Pakistan mengaku telah memukul mundur Taliban dari Lembah Swat, namun negara pecahan India itu belum bersih sepenuhnya dari kekuatan Taliban.

Kebiadaban Taliban bukan hanya mencoreng nama Islam di mata dunia, tapi juga upaya dehumanisasi akut. Perjuangan Malala mesti kita dukung. Tak banyak orang yang seberani Malala melawan kejahatan kemanusiaan di negeri penuh teror dan kekerasan.***

Sumber foto:

http://abcnews.go.com

Komentar