Home » Sosok » Tokoh » Mustofa A. Bisri, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: tempo.co

Mustofa A. Bisri, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Kyai penyair yang humoris dan mahir membedah Indonesia dalam bahasa sederhana. Selalu mencari jalan tengah.

Inilah zaman kemajuan

ada syrup rasa jeruk dan durian

ada kripik rasa keju dan ikan

ada republik rasa kerajaan

(Mustofa Bisri, Zaman Kemajuan, 1997)

Dan sekarang, rasanya banyak “raja kecil” di sekeliling kita. Para pemimpin partai politik dan pejabat, imam-imam dalam berbagai ormas keagamaan atau etnik, para pemilik sumberdaya ekonomi (baik didapat secara sah atau “maksa”), atau para ahli yang lebih banyak bicara ketimbang berkarya. Para kiai pesantren juga bisa jadi raja-raja kecil. Untung masih ada tokoh seperti Mustofa Bisri, yang biasa dipanggil Gus Mus.

Kiai dari Rembang ini banyak dikenal sebagai penyair-seniman. Sebagai kiai yang sudah tokoh di NU, Mustofa Bisri menonjol humornya, dan sikapnya yang rileks dalam beragama. Ia sering jadi tempat curhat anak muda. Bukan berarti ia tak bisa tegas dalam sikap rileksnya. Pernah, ia menegur menantunya, Ulil Abshar-Abdilla, lewat sebuah tulisan di rubrik opini Kompas. Pangkal soal, ia menganggap cara Ulil menggulirkan ide-ide pembaruannya kurang arif. Polemik itu juga mencerminkan bahwa di samping hubungan menantu-mertua, ada juga hubungan intelektual antara keduanya.

Seperti terasa dalam tegurannya untuk Ulil, dalam kepolitikan internal NU yang ricuh pasca-reformasi ini pun, Mustofa Bisri menampakkan kecenderungan pada jalan tengah. Bolak-balik ia selalu berusaha untuk menjadi jembatan bagi Gus Dur dan lawan-lawan politiknya di NU. Tak selamanya upaya itu berhasil. Toh, ia menunjukkan bahwa jalan tengah itu ada.

Yang orang sering lupa adalah, untuk memilih jalan tengah seringkali membutuhkan nyali dan keberanian besar. Mustofa Bisri tak memilih jalan tengah karena ingin aman, karena toh sudah sejak lama ia menghasilkan puisi-puisi dan kolom-kolom ”subversif” bagi rezim Soeharto. Sewaktu Soeharto di rumah sakit menjelang wafatnya, dan marak wacana apakah Soeharto harus diadili atau dimaafkan, Mustofa Bisri (dalam sebuah kolom di Tempo) mendesak agar urusan-urusan Soeharto ”dibereskan” dengan caranya yang khas.

Ia menulis, bagi orang-orang yang mengaku mencintai Soeharto, harus diupayakan bagaimana supaya dosa-dosa Soeharto diampuni. Dan agar bisa begitu, memohon ampun pada Allah saja tidak cukup. Dosa-dosa yang berkenaan dengan manusia lain, kata Mustofa Bisri, harus diselesaikan juga dengan manusia. Begitulah Mustofa Bisri: sebuah suara nurani yang tak bisa ditawar, tapi juga cermin harapan yang bening dan jelas.

Barangkali kebeningan itu diasah oleh jiwa estetisnya. Saat ini, ia dikenal juga sebagai seorang pelukis yang menggunakan klelet rokok. Klelet rokok adalah endapan nikotin yang ada di pipa. Mustofa Bisri memang seorang perokok berat (jika diperhatikan, nyaris semua pemimpin spiritual di dunia adalah perokok berat). Ia kepikiran untuk sekalian memanfaatkan klelet untuk menghasilkan sesuatu yang indah –ia melukis dengan klelet di atas amplop. Ketika ada ramai-ramai soal goyang ngebor Inul Daratista, Mustofa Bisri justru memamerkan lukisannya berjudul Berdzikir Bersama Inul.

Keruan saja judul dan pernyataan kesenian Mustofa Bisri itu membuat marah beberapa penulis yang merasa sedang menjaga ”kemurnian Islam”, bahkan hingga kini. Hartono Ahmad Jaiz menyebutnya ”ngawur”, ketika mengomentari tulisan Mustofa Bisri di Indo Pos, 23 April 2008, berjudul Yang Sesat dan Yang Ngamuk. Hartono sempat menulis, lukisan Mustofa tentang goyang Inul adalah melecehkan zikir. Dengan spektakuler Hartono menutup mata membenamkan kepala dari fakta bahwa Mustofa Bisri adalah seorang ulama-cendekia yang telah banyak bekerja untuk merintis jalan tengah di mana pun Mustofa Bisri berada.

Barangkali memang jalan tengah adalah jalan yang tak sepi dari caci dan prasangka. []

Komentar