Home » Sosok » Tokoh » Muhamad Syafii Anwar, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: weforum.org

Muhamad Syafii Anwar, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Muhammad Syafii Anwar sudah biasa dicaci dan dihina. Ia lazim dituduh agen CIA, boneka Barat, menyebarkan aliran sesat dan tidak menghormati ulama. Darahnya pernah dinyatakan halal oleh kaum yang membencinya. Sejumlah masjid besar melarangnya untuk berceramah.

Maklumlah, ia adalah satu dari sedikit tokoh yang secara terbuka mengecam fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan pluralisme, sekulerisme dan liberalisme sebagai menyesatkan. Ia secara terbuka mengecam mereka yang menyerang Ahmadiyah. Ia secara terbuka mempertanyakan mengapa pemerintah diam saja menghadapi gerakan radikal Islam yang mengancam mereka yang berbeda keyakinan.

Maklumlah juga, ia adalah Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP). Lembaga yang ia turut dirikan pada 1999 ini memang sengaja dibentuk untuk mendorong dan mempromosikan gagasan pluralisme, toleransi, hak aasi manusia dan demokrasi.

Pria kelahiran Kudus ini berpenampilan bersahaja. Namun di balik sosok sederhana tersebut, termuat komitmen penuh untuk memperjuangkan pluralisme karena satu keyakinan sederhana: Islam sangat menghargai keberagaman, dan penolakan atas keberagaman justru menyesatkan umat dari ajaran Islam sesungguhnya.

Syafii (55 tahun) menganggap banyak  pengkritik pluralisme sebenarnya tak mengerti makna pluralisme. Dalam soal agama, misalnya, Syafii mengaku sering mendengar orang menuduh bahwa pluralisme berarti percaya bahwa semua ajaran agama sama. ”Itu salah besar. Pluralisme itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa harus setuju,” kata Syafii. ”Dan yang terpenting, bukan sekadar menjadi toleran, melainkan menghormati ajaran agama orang lain serta sepenuhnya menyadari bahwa keberagamaan orang lain itu bagian yang sangat fundamental dan inheren dengan hak asasi manusia.”

Buat Syafii, masalah utama keterbelakangan umat Islam adalah masih dominannya penafsiran literal terhadap kitab suci, yang mencirikan semangat kembali ke Al-Quran yang dijalankan kaum fundamentalis. Sebagai contoh, karena yang tertera dalam Al-Quran adalah peringatan tentang bahaya yang datang dari kaum Nasrani dan Yahudi, kalangan fundamentalis dengan segera menyimpulkan adanya kewajiban permusuhan permanen dengan kaum non-Islam seraya mengabaikan sama sekali penafsiran kontekstualnya.

Celakanya, menurut Syafii, kalangan garis keras ini merasa mendapat justifikasi karena pada saat yang sama memang di indonesia berlangsung krisis ekonomi, krisis politik, krisi hukum, budaya yang berkepanjangan. Apalagi pada saat yang sama, di tingkat global, juga berlangsung berbagai ketidakadilan politik global, terutama di Timur Tengah, yang sangat dipengaruhi standar ganda AS. ”Sehingga mereka melihat syariah sebagai obat mujarab yang bisa dipakai untuk menyelesaikan semua masalah.” ujarnya.

Pria yang di masa muda sangat aktif di masjid Al-Azhar Jakarta ini juga dengan sengaja membedakan posisinya dari kelompok seperti Jaringan Islam Liberal (JIL). Masalah dengan JIL, menurut Syafii, adalah mereka hendak mendekonstruksikan (memberaikan) semua hal dalam Islam yang menimbulkan keterkejutan luar biasa dalam masyarakat Muslim.  Bagi lulusan Universita Melbourne (2005) ini, yang diperlukan juga adaah upaya merekonstruksi penafsiran tentang Islam itu dengan metodologi yang tepat. Daam kaitan itu, Syafii lebih senang menggunakan gagasan pluralisme, karena dalam sejarah panjangnya Islam selalu percaya pada keberagaman. ”Ada Sunni, ada Syiah. Semua ada tempat.”

Pria kelahiran Kudus ini merasa penerimaan atas keberagaman ini harus ditumbuhkan sejak usia anak-anak dan remaja. Saat ini ICIP berusaha mengembangkan kurikulum pendidikan pluralisme dan multikulturalisme di sekolah-sekolah lanjutan seperti misalnya pendidikan sejarah agama-agama yang diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan rasa saling menghormati antar pemeluk agama yang berbeda-beda. ”Bila masuk ke level teologi mungkin masih sulit, terutama di bawah SMA dan perguruan tinggi,” katanya. ”Jadi untuk sekolah-sekolah, idealnya yang diberikan sejarah agama saja dulu.”

Mantan wartawan Panji Masyarakat ini percaya bahwa ancaman utama terhadap Islam datang dari kaum radikal dalam tubuh masyarakat Islam sendiri. Ia prihatin bahwa dalam  beragam konferensi dan seminar internasional yang dihadirinya, Islam lazim ditempatkan sebagai ancaman bagi demokrasi. ”Citra Indonesia sebagai kapal tumpangan kaum Islam radikal itu sudah menyebar ke mana-mana,” ujarnya. ”Kalau kita tidak bisa mengubah itu yang rugi kita sendiri.”

Dia juga percaya bahwa bila radikalisme Islam itu terus tumbuh, Indonesia akan runtuh akibat disintegrasi. ”Saya kira kalau para pendiri bangsa masih hidup akan menangis melihat situasi seperti ini. Sebab, rumah Indonesia yang kita perjuangkan bersama dengan darah dan air mata akan runtuh. Kita harus sadar bahwa Indonesia pada dasarnya adalah masyarakat plural.”

Karena itu, Syafii berharap kaum muslim moderat di Indonesia secara terbuka bersikap menghadapi gelombang radikalisme ini. Menurutnya, organisasi-organisasi besar seperti Muhammadiyah dan NU tidak tergolong berhaluan keras. ”Mereka yang merasa paling benar sendiri dan memaksakan kehendaknya sendiri itu terbatas,” ujarnya. ”Mereka itu tidak bisa dibiarkan.”

Peran Syafii diakui secara internasional. Ia ditunjuk oleh Komisi Tinggi HAM PBB menjadi wakil negara-negara Asia untuk pengembangan standar internasional dalam isu-isu toleransi agama, penghinaan atas simbol-simbol keagamaan, serta penyebaran kebencian rasial. Diharapkan, kelompok ini dapat melahirkan instrumen internasional yang akan mengikat negara-negara anggota PBB untuk, antara lain, mencegah penindasan terhadap kelompok-klompok beragama dan berbeda keyakinan.

Ia memang tidak jarang diundang oleh lembaga-lembaga internasional untuk membicarakan situasi Indonesia. Toh, Syafii tidak bisa dipandang sebagai agen Barat yang suka menjelek-jelekkan Indonesia. Ketika diundang ke AS, ia justru  memanfaatkan kesempatan untuk mengecam perilaku pemerintah AS yang terlalu arogan sehingga justru mempersulit upaya membangun kepercayaan di dunia Islam akan demokrasi. []

Komentar