Home » Sosok » Tokoh » Mochtar Pabottingi, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: satuharapan.com

Mochtar Pabottingi, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Mochtar Pabottingi terlalu cinta pada Indonesia. Karena itulah tak ada penguasa yang akan luput dari kritiknya.

Bagi mereka yang tidak mengenal Mochtar, guru besar riset Ilmu Politik LIPI ini memang akan terkesan nyinyir. Ketika menjelang meninggalnya Soeharto banyak pihak bicara tentang perlunya memaafkan mantan presiden tersebut, Mochtar secara terbuka menulis bahwa sikap semacam itu adalah sikap kerdil yang mengabaikan kepentingan bangsa dan negara.

Dengan keras Mochtar menyatakan, isunya bukanlah kebesaran hati untuk memaafkan, melainkan nilai, prinsip dan cita-cita tentang supremasi hukum dan kesetaraan manusia di depan hukum. Bagi Mochtar, kalau kejahatan Soeharto dilupakan begitu saja, itu akan berefek negatif terhadap upaya mengadili seluruh praktek pelanggaran HAM, penyalahgunaan kekuasaan, jabatan dan dana publik yang begitu menggila selama Orde Baru.

Namun sikap keras Mochtar tidak hanya terlihat setelah sang penguasa tak bisa melawan. Di masa Soeharto masih memimpin, Mochtar adalah satu dari sedikit ilmuwan yang berani bicara secara terbuka tentang kelemahan sang penguasa. Di empat presiden berikutnya pun, kebiasaan Mochtar untuk mempersoalkan kepemimpinan – baik Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY — tak kunjung surut.

Pria yang lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, hanya satu bulan sebelum proklamasi Indonesia dikumandangkan ini memang tidak loyal pada siapapun. Sejak awal 1990-an, ia dikenal mendukung Megawati. Namun segera setelah Mega naik ke tampuk kekuasaan dan terlihat  menjauh dari cita-cita demokrasi, Mochtar secara terbuka memperingatkan tentang kebangkitan ’Orde Baru jilid dua’. Dia ikut mendirikan PAN, namun kemudian menjadi salah seorang pengkritiknya begitu partai tersebut dianggap semakin condong ke kubu Islam.

Zat-zat pemberontakan rupanya memang mengalir dalam dirinya sejak awal. Ayah Mochtar adalah seorang gerilyawan yang berperang melawan pemerintah kolonial Belanda. Tatkala menjadi mahasiswa di tahun 1960-an, Mochtar sudah menjadi kritikus penguasa. Dengan gaya Bugisnya, Mochtar dengan mudah mengecam langsung mereka yang dianggapnya telah menyalahgunakan kekuasaan.

Namun pria yang memperoleh gelar doktor dari University of Hawaii ini selalu menekankan bahwa kritiknya tidak pernah bersifat personal. Termasuk kritiknya terhadap Wapres Jusuf Kalla yang menempatkan orang-orang Bugis sebagai stafnya. “Kalau kita hendak membangun demokrasi, kita harus memberi kesempatan yang sama bagi semua orang,” ujar pria berdarah Bugis ini.

Baginya, itu semua dilakukannya karena kecintaannya pada Indonesia. Mochtar tidak sungkan menyebut dirinya sebagai dirinya sebagai pembela republik. Ia melihat itu sebagai kewajiban yang tak dapat ditawar. Menurutnya, patriotismenya ini dibentuk oleh tiga unsur utama: nilai-nilai keislaman, prinsip-prinsip kebugisan dan ajaran Aristoteles (tentang berpolitik dengan etika).

Ia menganggap kelompok-kelompok Islam harus menjadi kekuatan utama yang menjaga agar tumbangnya Soeharto sepuluh tahun lalu kini memang dapat diikuti dengan terbangunnya sistem demokratis yang akan membawa kesejehtaraan masyarakat banyak.

Mochtar mengecam mereka yang kerap menggambarkan suasana saat ini sebagai demokrasi yang kebablasan. ”Mereka yang dulu merampok dan menjarah negeri ini mungkin mau menyelamatkan diri dengan menipu rakyat dengan ungkapan reformasi dan kebablasan,” ujarnya. ”Yang kebablasan itu Orde Baru!”

Menurut Mochtar, sepanjang pemerintahan Orde baru, sebenarnya tidak pernah ada Indonesia sebagai nation. ”Persatuan dan kesatuan itu cuma retorika Soeharto,” ujarnya. ”Kalau Orde Baru mencintai bangsa ini, tidak akan ada pembantaian Tanjung Priok, tidak ada itu pembantaian rakyat.”

Bagi Mochtar, rakyat tidak pernah boleh kehilangan kepercayaan akan demokrasi yang sedang dibangun. Hanya saja, untuk itu rakyat harus bersedia memperjuangkan kedaulatan yang menjadi prinsip demokrasi. ” Demokrasi tidak jatuh dari langit. Rakyat harus berjuang untuk itu. Rakyat jangan bermimpi mendapat hadiah demokrasi atau Ratu Adil.”

Namun pada saat yang sama, Mochtar selalu percaya perjuangan melalui jalur-jalur yang diakui dalam demokrasi. ”Perlawanan harus dilakukan dengan bijak, dengan anti-kekerasan. Tujuan bijak diupayakan dengan cara bijak pula.”

Mochtar selalu percaya bahwa rakyat Indonesia siap dengan proses demokrasi damai itu. ”Saya selalu mengatakan yang busuk bukan rakyat,” ujarnya. ”Rakyat kita bijak, kecuali kalau diprovokasi keras, seperti terjadi di Ambon, orang dibunuh ketika mau salat Idul Fitri. Organisasi kemasyarakatan Islam dan non-Islam harus menjaga jangan sampai terjadi provokasi lagi.”

Untuk membangun, Mochtar sangat mendorong agar rakyat lebih banyak membaca. Karena itu, dia mengkritik keras ketika sejumlah kelompok Islam membakar buku-buku yang dianggap membawa ajaran komunis dan kiri. ”Dalam sejarahnya yang panjang, masa-masa keruntuhan umat Islam selalu ditandai dengan pembakaran buku-buku. Begitu juga dengan keruntuhan peradaban-peradaban lain. Islam secara tandas menolak segenap tindakan yang zalim, seperti membakar karya-karya yang ditulis dengan perjuangan akal-budi yang berat dan penuh kesungguhan.” []

Komentar