Home » Sosok » Tokoh » Masdar F. Mas’udi, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: islamlib.com

Masdar F. Mas’udi, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Suaranya lembut, tutur katanya tertata, wajahnya selalu tenang, tapi ide-ide fikihnya radikal. 

Kehadiran sosok Masdar Farid Mas’udi sebagai pemikir Islam, dari segi tertentu, seolah menegaskan bahwa dunia pesantren tak banyak dipahami kaum Muslim kota. Nama Masdar mulai mencuat ke permukaan, dibicarakan banyak orang, ketika pada 1980-an ia mengajukan ide bahwa zakat = pajak. Segera saja timbul reaksi yang terekam di berbagai media massa mau pun mimbar-mimbar masjid/musala atau kantong-kantong studi agama di kota seperti Rohis SMA dan kampus universitas umum.

Makin heboh lagi ketika ia melontar ide tentang “fikih kontekstual” pada 1989. Bukunya tentang hak-hak reproduksi perempuan juga kontroversial, tapi agaknya masyarakat sudah cukup terbiasa dengan lontaran radikalnya. Terbiasa dalam arti, yang memang antipati pada ide-ide Masdar tak akan lagi menyimaknya; yang simpati, akan membahasnya dengan penuh semangat. Sesudah itu, idenya kembali membuat geger ketika ia menyatakan bahwa waktu pelaksanaan ibadah haji perlu ditinjau-ulang.

Ide-ide Masdar lahir dari rahim dunia pesantren yang berbasis di kampung. Walau ide-idenya –khususnya, ide tentang fikih kontekstual– sempat menggegerkan dunia pesantren, tapi terbukti ia kini kukuh sebagai seorang tokoh dunia pesantren NU. Ini karena memang Masdar tak muncul tiba-tiba di dunia ini. Ia keturunan kyai, dan seperti biasa, tumbuh dalam pendidikan pesantren yang khas. Kakek Masdar, Kyai Abdurrahman, Jombor dikenal dengan pesantren salafnya.

Banyak lompat kelas sewaktu di madrasah, Masdar yang lulus aliyah (setingkat SMA) pada 1970 disarankan Kyai Ali Maksoem (Rois ‘am PBNU 1988-1999) untuk jadi asisten pribadi sang kyai sebagai dosen luar biasa IAIN Sunan Kalijaga. Masdar yang masih sangat muda saat itu sering membantu sang kyai membacai skripsi-skripsi para calon sarjana IAIN, bahkan menyusunkan pula pertanyaan-pertanyaan relevan untuk skripsi-skripsi itu. Tentu saja pengalaman ini turut membentuk alam pikir Masdar. Apalagi saat itu ia dapat memanfaatkan perpustakaan pribadi sang kyai yang berisi berbagai kitab pilihan dari aliran salaf (klasik) mau pun khalaf (modern).

Pengalaman lain yang membentuk watak Masdar adalah pengalaman organisasinya yang telah ia mulai sejak dini juga. Pada 1972, ia terpilih sebagai ketua PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat Krapyak, Yogyakarta. Untuk aktivismenya, Masdar pernah ditahan lima bulan lebih pada 1978, karena memimpin demonstrasi antikorupsi menjelang Sidang Umum  MPR waktu itu. Di LSM, ia menjadi koordinator program P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) dan sempat menerbitkan jurnal Pesantren pada 1984-1990, satu-satunya jurnal Islam di Indonesia saat itu (sebelum kehadiran jurnal Ulumul Qur’an pada 1989). Kini, ia menjabat direktur lembaga tersebut.

Dunia pesantren yang terjebak dalam imaji kumuh dan ndeso di benak orang kota sesungguhnya adalah dunia pemikiran yang dinamis. Dunia pesantren adalah dunia kaji kitab dan bahasa Arab, dunia komunal, dunia yang mengandung ketaatan kuat sekaligus, seperti ditulis oleh Tim Pappa dalam Madina no. 3, kenakalan dan keriangan. Toh dunia ini praktis terasa asing bagi kebanyakan orang di kota. Lebih-lebih, di dunia gerakan Islam yang tumbuh di kalangan kelas menengah kota dan berbasis di lembaga-lembaga “sekuler” seperti SMA maupun kampus-kampus umum. Bagi mereka, ide-ide seperti yang dilontarkan oleh Masdar sungguh ganjil dan seperti tiba-tiba “menonjok” dari arah tak terduga.

Memang, masih perlu dibangun terus komunikasi antara kedua kelompok ini. Jika tidak, corak pemikiran gaya Masdar (yang kini berkembang lebih lanjut di kalangan muda NU) malah bisa menimbulkan eksklusivisme baru, bahkan elitisme baru, merajai dunia pesantren tanpa ingin mengajak serta kelompok pemikiran Islam di luar itu –mereka yang tak mengakrabi a-b-c-nya penalaran Islam di pesantren. Untungnya, orang Masdar tetap santun dalam berkarya dan berkiprah.

Dan saat ini, Masdar mengembangkan konsep KAR (Kelompok Anak Ranting), yakni kepengurusuan ranting NU berbasis masjid dan musala. Konsep ini pisau bermata dua: mendorong untuk memakmurkan masjid dan mushala, sehingga mengembalikan fungsi sosial masjid; dan menjagai masjid serta musala NU di seluruh Indonesia dari masuknya fundamentalisme dan paham garis keras Islam. Dan memang, Masdar mensinyalir, banyak masjid bercorak NU diambil alih, karena pengelolaan masjid oleh orang NU dianggap melakukan bid’ah dan tak murni Islam.

Masdar juga kini sehari-hari disibukkan oleh posisinya sebagai Ketua PBNU, anggota Dewan Etik ICW (Indonesian Corruption Watch), Komisi Ombudsman Nasional (KON), sambil membina pesantren al-Bayan. []

Komentar