Home » Sosok » Tokoh » M. Quraish Shihab, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

M. Quraish Shihab, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Bulan lalu sebuah buku yang membantah rangkaian tuduhan yang dilontarkan Geert Wilders melalui film kontroversial, Fitna, diluncurkan di Jakarta. Tebal bukunya 98 halaman. Sekitar 40 ribu buku itu diluncurkan. Yang menarik, buku berjudul “Ayat-ayat Fitna” itu disebarkan secara gratis.

Muhammad Quraish Shihab, penulisnya, menyatakan buku itu perlu disebarkan secara luas untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin ditimbulkan Wilders. “Dalam film itu ada lima ayat Al-Quran yang digunakan untuk menjelekkan Islam, padahal isinya sangat bertolak belakang,” ujar Quraish. “Ajaran Islam itu sangat damai dan mengajak umatnya untuk menjalin hubungan harmonis dengan pemeluk agama manapun.”

Quraish mempersilakan pihak manapun untuk menggandakan bukunya. Namun ia mengingatkan agar buku tersebut tidak diperjualbelikan. “Untuk apa diperjualbelikan? Kalau diberikan gratis untungnya lebih banyak daripada diperjualbelikan. Memang tertunda keuntungan itu tapi akan berlipat ganda di hari kemudian,” kata Quraish.

Itu semua memang khas Quraish. Pada usianya yang ke-64 tahun ini, ulama besar ini tetap produktif dengan cara yang menenteramkan. Alih-alih mengutarakan kemarahan  emosional, Quraish menjawab Wilders dengan buku. Alih-alih mencari untung finansial, ia memilih memperoleh ganjaran di hari akhir. Yang menyejukkan bukan saja cara bicaranya, namun juga perilakunya.

Indonesia memang beruntung memiliki ulama senior seperti Quraish. Penguasaan ilmunya tak diragukan. Seluruh proses pendidikan tingginya dijalani di Al Azhar, Mesir. Dari program S-1 sampai mencapai gelar Doktor, Quraish mempelajari secara mendalam ilmu-ilmu Hadis dan Tafsir Al-Quran di universitas prestisius tersebut.

Quraish sangat dihormati di Indonesia. Ia bukan saja mengajar di IAIN Jakarta, namun juga sempat menjadi Ketua MUI (1984), Menteri Agama (1998), serta Duta Besar di Mesir. Di luar itu, ia  dikenal sebagai ulama yang produktif menulis. Salah satu karya terpentingnya  adalah Tafsir Al-Mishbah, yakni tafsir Al-Quran lengkap 30 juz. Bukunya yang lain, Membumikan Al Qur’an, yang terjual lebih dari 75 ribu kopi.

Dengan pemahamannya yang sangat luas, Qurasih dikenal sebagai tokoh yang dapat menjawab dengan sangat kaya berbagai pertanyaan tentang Islam. Dengan fasih, ia bisa menjelaskan perbedaan antar mazhab dalam beragam isu. Mereka yang mengharapkan jawaban tunggal akan kecewa dengan Quraish.

Ia sangat menghargai keberagaman penafsiran.  Dalam berbagai kesempatan Quraish menegaskan bahwa di antara madzhab yang berbeda pendapat, tidak ada satupun yang berhak menjadi juru bicara resmi yang memonopoli kebenaran atas nama Islam seraya memvonis yang lain bathil dan sesat.

Quraish mengecam bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama kepada Ahmadiyah maupun kepada kelompok-kelompok yang dinyatakan sesat, termasuk al-Qiyadah al-Islamiyah. “Mereka yang melakukan kekerasan harus diperkarakan secara hukum,” katanya.

Kendati merupakan mantan Ketua MUI, Quraish menegaskan bahwa ulama MUI tidaklah mengikat secara hukum. Di berbagai kesempatan ia mengimbau agar tak mudah ulama menghakimi berbagai kelompok keagamaan yang berbeda. “Kita harus berhati-hati mengingat senantiasa terdapat unsur-unsur kebenaran dalam ajaran-ajaran tersebut,” ujarnya. “Dan senantiasa pula harus dipertimbangkan latar belakang dan konteks yang melahirkan kelompok-kelompok semacam itu.”

Quraish juga sangat terbuka terhadap umat beragama lain. Ia misalnya menolak sikap sebagian umat Islam yang mengharamkan pengucapan Selamat Natal kepada umat Kristen. Ia bahkan membenarkan  kaum umat Islam untuk bersalat di gereja.

Sikap moderatnya juga nampak dalam kasus jilbab. “Memang ada perbedaan pandangan tentang kewajiban bagi wanita untuk menutup seluruh tubuhnya. Bagi saya adalah baik kalau kaum wanita mengenakan kerudung untuk menutup kepalanya, namun kaum wanita yang memilih tidak mengenakan kerudung juga tidak melanggar aturan manapun,”  katanya.

Putri Quraish sendiri, pembawa berita televisi Najwa Shihab, tidak berjilbab.

Tahun lalu, Quraish menerbitkan karyanya yang membahas kontroversi pertentangan dua aliran utama Islam: “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”. Menurutnya, di antara Sunnah-Syiah sesungguhnya tidak banyak ditemukan perbedaan yang prinsipil kecuali menyangkut masalah imamah. Kelompok Ahlussunnah menganggap bahwa masalah kepemimpinan diserahkan kepada umat melalui apa yang dinamakan syura (demokrasi), sementara kelompok Syi’ah meyakini bahwa kepemimpinan adalah jabatan ilahiah.

Karena kedua cara pandang itu tak pernah dapat dipertemukan, menurut Quraish, masing-masing pihak dituntut untuk saling memahami dan menghargai pendapat yang lainnya. Pada intinya, ia menulis biarlah Syi’ah tetap Syi’ah dan Sunni tetap Sunni. []

Komentar