Home » Sosok » Tokoh » M. Dawam Rahardjo, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: bbc.com

M. Dawam Rahardjo, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Ia seorang living legend dalam dunia intelektual Indonesia. Masih aktif, bahkan saat selang-selang infus bersilang di tubuhnya.

Sebuah cerita perkenalan Utomo Dananjaya, salah seorang pendiri Paramadina, menggambarkan dengan baik sisi ganda Dawam Rahardjo. Ketika ditemui di Bank of America tempat Dawam bekerja waktu itu, Dawam berujar, “Saya pakai dasi naik bis kota.”

Sejak kecil, Dawam memang selalu hidup di dua atau lebih dunia. Dalam dunia pemikiran Islam, boleh dibilang Dawam punya darah biru, sekaligus warisan kemajemukan dunianya. Ayahnya, Mohammad Zuhdi Rahardjo, lulusan sekolah Islam terkemuka pada masanya, Mamba’ul Ulum. Tapi ayahnya juga adalah seorang pengusaha dan pelopor sentra industri pengikal benang di Tempur Sari. Ayahnya jadi pengusaha setelah suatu ketika mendapat ilham membuat mesin pengikal benang, dan langsung berhenti dari pekerjaan sebagai seorang guru Muhammadiyah.

Ayahnya berharap Dawam jadi pewaris bisnisnya, dan mendidik Dawam kecil untuk jadi pengusaha. Tapi Dawam kecil lebih suka membaca, dan ayahnya tak keberatan memberinya uang berapa pun untuk membeli buku atau bacaan. Dawam membaca Al-Qur’an, tertarik pada dongeng Hikayat Amir Hamzah dari tantenya, juga banyak membeli komik seperti Tarzan,Mandrake, dan Flash Gordon. Saat remaja, ia juga banyak bergaul dengan dunia sastra, membaca dan menulis cerpen dan puisi, sambil diam-diam memupuk minat keilmuannya pada ilmu ekonomi.

Di samping dunia baca, Dawam juga aktif dalam dunia pergaulan sejak kanak. Ketika ia bersekolah dasar di Al Robithoh al-Allawiyah, di samping bersekolah agama di Muhammadiyah di masjid besar Solo. Di sekolah Al Robithoh itulah ia menjalin pertemanan dengan “anak-anak kampung Arab” dan sering bermain dengan mereka di Pasar Kliwon. Terbukti, inilah salah satu awal perluasan jaringan aktivisme Dawam di kemudian hari: di antara teman-temannya itu, ada Abdillah Thoha (kini jadi salah satu ketua PAN), Anis Mustofa, Nabil Makarim, dan yang muda, Haidar Bagir. Bekal pergaulan masa kecil ini akan meluas terus, dan saling berjalin.

Maka lengkaplah dasar bagi dunia majemuk Dawam nanti: dunia akademis sekaligus dunia aktivisme; studi agama, sekaligus studi ekonomi perbankan maupun ekonomi kerakyatan; dunia ilmiah, juga dunia sastra dan jurnalistik; dunia tradisional, dan dunia sangat modern. Bahkan dalam hal studi agama pun, ia mewujudkan kemajemukan itu: sewaktu aktif di HMI Yogya, ia membentuk “Studi Club Marxime”. Dawam adalah satu dari sedikit orang (selain Arief Budiman, Sritua Arief, dan Farchan Bulkin) semasa awal Orba yang mendalami Marxisme, Neo-Marxisme, dan teori-teori radikal; teori-teori yang semasa rezim Soeharto dibumihanguskan dari pelataran wacana publik.

Dengan segala kemajemukan itu, tak heran jika Dawam (1) selalu gelisah, (2) penuh ide, (3) selalu menulis, menulis, menulis, dan menulis. Sungguh tepat ketika Imam Ahmad, salah seorang editor di LP3ES (Dawam jadi direktur LSM terpenting di Indonesia ini pada usia 38), mengutip sebuah ungkapan Pramodya Ananta Toer untuk menggambarkan kepenulisan Dawam:

“Semua itu harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” (Pramodya Ananta Toer, dikutip oleh Imam Ahmad dalam Demi Toleransi, Demi Pluralisme.)

Begitulah Pram, begitulah pula Dawam. Ia prolifik, banyak sekali menghasilkan tulisan sejak mudanya. Ia seorang generalis, tapi juga memiliki (beberapa) spesialisasi atau bidang khusus yang didalami. Ia menghasilkan buku-buku rintisan tentang studi pesantren dan ekonomi Islam di Indonesia, baik sebagai editor maupun sebagai penulis. Buku tafsirnya, Ensiklopedi al-Qur’an, boleh dibilang karya seminal dalam bidang metode tafsir tematik al-Qur’an. Buku ini adalah kumpulan tulisannya di jurnal Ulumul Qur’an, dan menampakkan kepeloporannya di bidang tafsir tematik ini. Bahkan ketika belakangan ini ia sakit, ia tak berhenti berpikir dan menulis. Suatu ketika, saat sebulan di rumah sakit, ia berhasil menulis sekitar delapan cerpen dan beberapa esai. Ia dibantu dibacakan dan dituliskan oleh keluarganya.

Bersamaan dengan “bukuisme”-nya, aktivisme Dawam tak kurang berjalan. Puncak aktivismenya adalah ikut mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) pada 1990. Namun, belakangan ini, didera penurunan kesehatan cukup akut, ia hadir di garda depan pembelaan nasib agama minoritas di Indonesia. Ia lantang menyatakan dukungan moralnya pada jemaah Lia Eden dan Ahmadiyah, bahkan saat pertama kali fatwa MUI tentang Ahmadiyah keluar –sehingga Nono Anwar Makarim menyebutnya “berhak diberi tempat VIP dalam sejarah pergerakan”.

Menurut kesaksian para rekan dan kerabatnya, ia masih gelisah melihat Indonesia semakin jauh dari keadaan ideal. Di kepalanya berkerumuk banyak ide bagi masa depan Indonesia. Ia masih menolak berhenti membaca, bahkan walau kini ia harus menggunakan kaca pembesar untuk membaca. Ia juga menolak berhenti membela yang tertindas. []

Komentar