Home » Sosok » Tokoh » Komaruddin Hidayat, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: forumkeadilan.co

Komaruddin Hidayat, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Saat ini Komaruddin Hidayat terutama dikenal sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun orang perlu juga ingat bahwa pada 2004 ia adalah Ketua Panitia Pengawas Pemilu.

Komar (55 tahun) memang adalah sekaligus intelektual, pendakwah sufistik dan aktivis Islam yang terlibat dalam proses demokratisasi. Ia sangat percaya pada penyucian jiwa, pada pengembangan intelektualisme dan juga keterlibatan kaum Muslim yang tercerahkan dalam proses politik.

Latar belakang pendidikan keislaman Komar sangat kaya. Ia lulus pesantren Pabelan, Magelang pada 1969; sebelum melanjutkan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lulus sarjana S1 pada 1981. Gelar doktornya diperoleh dari Universitas Ankara, Turki, untuk bidang filsafat pada 1990.

Komar adalah tokoh yang secara konsisten percaya pada upaya membangun peningkatan pemahaman dan rasa keagamaan sebagai dasar bagi transformasi sosial. Di kalangan masyarakat elit perkotaan seperti Jakarta, Komar dikenal sebagai penceramah yang menggunakan pendekatan sufistik. Namun pada saat yang sama, Komar selalu mengingatkan bahwa pembersihan jiwa itu tak akan banyak berarti bila tak berimbas pada perubahan ke arah kesejahteraan masyarakat bersama.

Pria bersuara empuk ini sangat peraya pada arti peran Islam dalam membangun dunia yang damai. Dalam kaitan itu, ia lazim mengeritik kecenderungan kelompok-kelompok Islam untuk bersengketa, baik antara sesama Muslim maupun dengan kelompok-kelompok lain. Menurutnya, keterjebakan umat dalam konflik ini menjadikan Islam yang pada awal pertumbuhannya menunjukkan visi, potensi, dan prestasi yang sangat menakjubkan dalam membangun peradaban unggul dengan cara damai, intelektual, dan beradab, kini tersudut dan terpinggirkan.

Ia senang merujuk pada sindiran seorang ilmuwan Barat, Toby Huff, bahwa segenap temuan yang dulu lahir dari peradaban Islam justru sekarang  dimanfaatkan secara benar oleh Barat untuk membangun kemajuan peradaban, sementara kaum Muslim menggunakanya sekadar untuk kebutuhan ritual atau untuk saling menghancurkan.

”Di dunia Islam saat ini, kompas hanya digunakan untuk menunjukkan kiblat salat, sementara oleh orang Eropa dipakai untuk bisa berkeliling dunia,” ungkap Komar mengutip Huff. ”Kita menggunakan ilmu astronomi hanya untuk menentukan kapan datangnya bulan Ramadhan, sementara di Eropa dijadikan modal petualangan angkasa. Dunia Islam menggunakan dinamit untuk berperang menghancurkan musuh, sementara di Eropa dijadikan tenaga untuk menggerakkan industri berat dan kapal besar.”

Dengan posisinya sebagai rektor UIN, Komar berusaha menujudkan harapannya agar Al-Quran kembali menjadi sumber pencerahan yang tak pernah kering bagi umat Islam. Hanya saja, untuk itu, upaya penggalian kembali itu harus didukung iklim kebebasan intelektual dengan dukungan institusi yang profesional dan dana yang cukup.

Mantan wartawan Panji Masyarakat ini sangat percaya bahwa Indonesia bisa menjadi model sebuah negara demokrasi yang dimotivasi oleh komitmen keislaman. ”Umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini harus terlibat dalam upaya memperjuangkan kesejahteraan, keadilan, dan demokrasi.”

Di sisi lain, Komar juga tergolong orang yang percaya bahwa segenap cita-cita luhur itu hanya bisa dilakukan apabila masyarakat dihuni oleh mereka yang melakukan penyucian secara terus menerus. Dalam konteks itulah, Komar dikenal sebagai pendakwah yang sangat menekankan aspek sufistik.

Mantan Ketua Yayasan Paramadina ini senantiasa mengingatkan arti penting membangun pola hidup zuhud – yakni pola hidup yang mengorientasikan diri pasa aspek ruhani atau spiritual, dan melepaskan pandangan keduniaan yang serba benda ini.

Ia merasa bahwa salah satu masalah dalam kehidupan masyarakat modern saat ini adalah konnsentrasi yang terlalu besar mengejar hidup yang sementara ini. Sikap semacam ini menjadikan orang tidak percaya bahwa segala sesuatu berjalan dalam proses dan senantiasa ada dalam bimbingan Allah. ”Bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah,” kata Komar, ”menjadikan hidup ini lebih rileks dan nyaman. Jauh dari stress, cemas, dan penyakit-penyakit hati lainnya.”

Pria kelahiran Pabelan ini  tidak melihat gejala sufisme kota ini sebagai bentuk pelarian masyarakat yang sedang berada di dalam situasi krisis. ”Kita harus sadar bahwa gerakan yang mengajak orang untuk kembali ke agama bukan hanya oleh tasawuf, tapi juga oleh gerakan semacam fundamentalisme, gerakan kultus, gerakan tabligh, atau gerakan salafi,” ujarnya. ”Justru bila yang dipilih adalah gerakan tasawuf, itu akan mendorong sikap yang lebih bersahabat dan damai dalam Islam dibandingkan gerakan-gerakan lain.”

Komar menegaskan bahwa jalan sufistik ini juga jangan sampai membuat orang mengira bahwa itu hanyaklah ”jalan berbalik untuk membangun mahligai di langit”, melainkan ”jalan turun dari kesadaran langit untuk memenangkan perjuangan di bumi”. Dengan kata lain, jalan sufistik itu bukan sekadar mengingat-ingat Tuhan, melainkan juga mengingat-ingat nasib manusia di sekitarnya. Contoh terbaik bagi Komar adalah Nabi Muhammad, yang adalah seorang spiritualis tapi sekaligus juga seorang pekerja keras di muka bumi. []

Komentar