Home » Sosok » Tokoh » Kini, Bukan cuma Zidane di Eropa
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Karim Benzema saat ini sedang jadi pahlawan muda bagi publik sepakbola Prancis. Ia dianggap  menyelamatkan muka Prancis di ajang Piala Champions tahun ini. Lewat kakinya tercipta dua gol yang mengantar klub Lyon menjadi satu-satunya wakil Prancis di babak 16 besar kejuaraan bergengsi itu. Ia lincah, cekatan, meliuk-liuk, menendang dengan keras, dan tampan.
 

Kini, Bukan cuma Zidane di Eropa

Tapi mungkin ada satu hal lagi yang penting: ia muslim.
 
Ini menjadi tidak biasa-biasa saja kalau dikaitkan dengan persoalan Islam di Eropa. Islam kini menjadi sorotan karena sejumlah hal. Di satu sisi, ada persoalan prasangka akibat citra terorisme global yang memang kerap ditimpakan pada masyarakat muslim. Namun lebih penting dari itu, Islam sendiri memang tumbuh dengan pesat di sana. Bukan saja karena penduduk imigran Islam Eropa berlipat jumlahnya, namun juga karena dari tahun ke tahun, jumlah mereka yang berpindah agama ke Islam meningkat terus.
 
Eropa sekarang sedang belajar hidup dengan masyarakat muslim sebagai bagian dari mereka. Proses belajar ini sama sekali tidak mudah. Kaum muslim tetap dicurigai, dianggap asing, dipandang secara berjarak, dan tidak sepenuhnya diterima sebagai ”kita”. Masalahnya, selain stigma terorisme, ada juga kecenderungan di sebagian kalangan muslim sendiri  untuk hidup eksklusif dan memandang budaya Eropa sebagai budaya kafir yang rendah.
 
Karena itu panggung sepakbola adalah sebuah wilayah pertunjukan citra yang berarti. Lebih dari waktu-waktu sebelumnya, kompetisi sepakbola saat ini menjadi sekaligus peristiwa olahraga, ekonomi, budaya dan juga politik yang diikuti dengan fanatik bukan saja di Eropa, tapi oleh ratusan juta orang di seluruh dunia.
 
Maka ketika Benzema dielu-elukan oleh publik Prancis, itu punya makna penting bukan cuma bagi sepekbola. Orang dengan mudah mengingat Piala Dunia 1998 tatkala tim nasional Prancis – yang multi ras — menjadi juara.  Piala yang diraih dianggap sebagai kemenang­an integrasi Prancis di hadapan sayap kanan konservatif, dengan Jean-Marie Le Pen sebagai perwujudan utamanya. Sang politisi tua itu  ingin membersihkan Prancis dari ‘sampah-sampah imigran’ – terutama muslim — yang mengotori kemurnian bangsa. Hampir pasti, kini pun, Le Pen mencibir.
 
Kesebalan kaum fundamentalis itu pasti semakin menjadi-jadi kalau dilihat komposisi pemain Prancis yang semakin mengIslam. Pada 1998, di Prancis yang terkemuka baru Zinadine Zidane. Saat ini, tim nasional mereka sangat bergantung pada sejumlah bintang beragama Islam. Di depan, selain Benzema ada Nicolas Anelka dan Hatem ben Arfa. Di tengah, ada Frank Ribery, Lassana Diarra, Abou Diaby dan Samir Nasr. Dan di barisan pertahanan ada Eric Abidal dan Lilian Thuram . Mereka semua adalah bintang, bukan saja di Prancis tapi juga di berbagai klub Eropa.
 
Kendati warna Islam di tim Prancis nampak lebih kental, di berbagai negara Eropa lain pun bintang-bintang Muslim bertebaran. Di Belanda misalnya ada Robin van Persie dan Khalid Boulahrouz. Di Swedia ada Zlatan Ibrahimovic. Atau sejumlah liga domestik yang dimeriah­kan pemain-pemin impor dari Afrika dan Asia beragam Islam. Di Spanyol, ada Frederic Kanoute (asal Mali di Sevilla), Mahamadou Diarra (asal Mali di Real Madrid), Yahya Toure (asal Pantai Gading di Barcelona). Begitu juga di Inggris ada El-Hadji Diouf (asal Senegal, di Bolton),  , Kolo Toure (asal pantai Gading, di Arsenal). Di Italia ada Hasan Salihamidzic (Juventus). Dan tentu saja ada sederetan pemain Turki yang berkelana di banyak negara, seperti Nihat Kahveci dan Emre yang bersinar terang di Spanyol dan Inggris. 
Berzikir di Pinggir Lapangan
Bintang-bintang Islam itu adalah kombinasi dari generasi ke sekian dari masyarakat imigran yang pindah ke Eropa beberapa puluh tahun lalu, mereka yang pindah agama dan para pemain profesional yang didatangkan dari negara-negara lain.
 
Untungnya, banyak di antara para bintang Islam ini punya karakteristik positif. Memang ada Diouf atau Emre yang temperamental dan ganas. Namun kebanyakan yang lain justru sering dipandang sebagai contoh pesohor yang rendah hati dan tidak terlena dalam kemewahan hidup dunia sport masa ini. Bahkan Zidane tetap dipilih sebagai pemain terbaik dalam Piala Dunia 2006, kendatipun ia diusir keluar lapangan pada pertandingan final – penghargaan yang mencerminkan penghargaan atas integritas profesionalisme sang maestro.
 
Yang menarik juga, sebagian pesepakbola muallaf justru nampak lebih ekspresif menunjukkan keislaman mereka. Frank Ribery misalnya, lazim terlihat berzikir dengan menengadahkan tangan sebelum pertandingan dimulai. Begitu juga Kanoute di Sevilla, Spanyol. Di Jerman, ribuan penonton Piala Dunia 2006 menyaksikan pemain asal Brasil yang masuk Islam, Fred, melakukan gaya merayakan gol yang dicetaknya dengan cara ‘unik’: bersujud syukur di lapangan.
 
Sebagaimana proses belajar lainnya, peleburan ini pun tidak berjalan mudah. Banyak dari mereka yang untuk waktu cukup lama terpaksa harus menyembu­nyi­­kan perpindahan agama mereka dari mata publik. Maklumlah, sebagian besar dari penggemar sepakbola si bebarapa negara Eropa adalah kalangan pekerja – komunitas yang justru paling sensitif deng­an isu ras. Ribery misalnya, pada awalnya harus sembunyi-sembunyi untuk shalat di masjid. Sampai suatu kali majalah terkemuka Le Express memberikan aktivitasnya tersebut, Ribery pun secara terbuka berbicara pada publik.
 
Ribery masuk Islam setelah satu tahun memperkuat klub Galatasaray, Turki, dan bertemu dengan istrinya saat ini, seorang muslimah asal Maroko. Namun di berbagai kesempatan, ia menyebut kepindahannya sebagai sesuatu yang telah dipikirkan sejak lama. ”Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan,” katanya. ”Saya pernah menjalani masa sulit dalam menapaki karier saya; dan saya masuk Islam karena ingin mencari kedamaian dalam jiwa saya.”
 
Anelka lain lagi. Karier striker Prancis ini memang bak rolller-coaster. Sejak usia 18 tahun, ia sudah diharapkan oleh publik sebagai bintang masa depan. Sayangnya, antara lain akibat temperamen dan kepribadiannya yang meledak-ledak dan labil, kariernya merosot tajam. Pada Piala Dunia 2004, ia terpaksa gigit jari tidak ditarik ke dalam skuad Prancis. Dan pada tahun itu juga, ia memilih masuk Islam.
 
Kepindahannya ke Islam ia umum­kan secara terbuka. ”Sejak kecil saya sudah tertarik dengan Islam,” katanya. ”Ajarannya membuka mata dan menakjubkan saya.”
 
Anelka bahkan sempat berujar akan bergabung saja dengan klub Uni Emirat Arab dan tidak akan bermain untuk klub-klub Eropa. Untungnya, rencana itu ia urungkan. Kini, Anelka sudah merumput kembali di klub Bolton dan bahkan kerap dimainkan untuk tim nasional Prancis.
Berpuasa di bulan Ramadhan
Kehadiran para pemain Islam ini turut membantu Eropa mengenal Islam lebih jauh. Wajah Islam yang garang di panggung politik terimbangi dengan tampilan berbeda dari para atlit sepak­bola ini. Sejumlah klub sudah menyediakan semacam musholla bagi para pemain atau penonton Islam dalam stadion atau tempat latihan. Yang paling awal memulai adalah klub Hibernian, Skotlandia, gara-gara mereka memiliki beberapa pemain asal Maroko. Belakangan, yang lain pun meniru.
 
Begitu juga dengan Ramadhan yang tentu saja bukan masa libur bagi sepakbola Eropa.  Para pelatih ‘terpaksa’ menyesuaikan porsi latihan bagi mereka yang taat berpuasa. Yang lebih repot adalah tatkala mereka harus bertanding di sore hari. Banyak pemain muslim yang terpaksa tidak berpuasa untuk kemudian diganti di hari biasa. Para dokter klub juga menyatakan bahwa para pemain muslim yang berpuasa memang mendapat keringanan  latihan di hari biasa, namun tidak pada hari pertandingan.
 
Toh tidak semua mengikuti perintah itu. Mahamadou Diarra dan Kanoute, msalnya, berkeras untuk tetap berpuasa. Kanoute, yang menjadi pencetak gol terbanyak bagi klubnya, bahkan berkomentar: ”Mereka yang mengenal Islam akan mengerti bahwa berpuasa akan memperkuat dan bukan memperlemah penampilan seorang muslim.” 
 
Kanoute sendiri memang dikenal sangat taat. Ia selalu shalat, bahkan kalau perlu di kamar ganti yang sesak. Ia juga tahun lalu menolak menggunakan kostum yang mengiklankan situs judi. Untuk beberapa lama, Sevilla terpaksa mengizinkan Kanoute menggunakan kaos polos. Ia akhirnya setuju berseragam sama, setelah ada janji bahwa Sevilla akan menyisih­kan pemasukan iklan tersebut bagi kebutuhan yayasan Islam.
Kadang isunya bisaak menyenang­kan. Di Jerman, misalnya, salah seorang pemain bintang muda mereka Ashkan Dejagah meminta untuk tidak disertakan dalam pertandingan Jerman melawan Israel. Dejagah, yang telah menjadi warga negara Jerman meski lahir di Teheran, menyatakan alasannya tidak berkaitan dengan politik, melainkan ”alasan keluarga­”.
 
Dejagah tidak sendirian. Beberapa tahun lalu, penyerang Bayern Munchen Vahid Heshemian juga minta ditarik dari skuad timnya ketika harus bertanding ke Tel Aviv untuk Piala Champions 2004. Ketika itu alasan  yang dipublikasikan Bayern adalah cedera punggung pemain asal Iran tersebut. Namun banyak pihak tahu bahwa itu adalah kebohongan.
 
Dejagah meminta pengertian bahwa ia masih memiliki keluarga di Iran yang mungkin harus menanggung akibat kalau ia tetap berangkat ke Israel. Namun, kritik terus berdatangan. Dewan Pusat Yahudi di Jerman, misalnya, menyatakan: ”Adalah skandal kalau Persatuan Sepakboa Jerman tidak berbuat apa-apa terhadap tindakan ini.”
 
Nyatanya harapan itu tidak dikabul­kan. Dejagah sudah dipanggil kembali untuk tampil dalam pertandingan Jerman U-21 berikutnya melawan Luksemburg dan Islandia. Maklumlah, Dejagah memang adalah pemain muda yang punya prospek besar. Dalam 15 kali pertandingan yang diikutinya bersama tim nasional U-19, ia mencetak 7 gol!
 
Di luar isu kontroversial semacam itu, kehadiran pemain muslim dapat dibilang turut membantu pencitraan positif Islam di Eropa. Zidane misalnya sangat dihormati di Prancis, sebagaimana Kanoute kerap dipandang sebagai pesepakbola tersohor yang rendah hati, dingin dan sangat bisa mengendalikan diri.
 
Mantan ketua Asosiasi Muslim Britania, Anas al-Tikriti, mengatakan po­pularitas dan kehidupan pribadi yang dari para pemain muslim tadi dapat berperan besar dalam meluruskan pemahaman keliru pihak lain tentang Islam selama ini.
 
“Para bintang itu bisa meluruskan konsep yang keliru dari kalangan luar tentang Islam, sekaligus menunjukkan kepada pihak lain keyakinan Muslim adalah sebuah jalan hidup,” ungkap Anas al-Tikriti. *

Komentar