Home » Sosok » Tokoh » Keadilan Hati Menurut Buya Hamka*

Keadilan Hati Menurut Buya Hamka*

Bulan ini 100 tahun lalu, persisnya tanggal 17, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lebih dikenal dengan singkatannya Hamka, dilahirkan di Pariaman, Sumatra Barat. Rumahnya dilahirkan kini dijadikan museum yang merekam jejaknya, yang rasanya sulit ditandingi siapa pun.

Hamka pada saat yang sama adalah sastrawan (dua romannya, Di bawah Lindungan Ka`bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck terus dibaca orang), wartawan (terakhir menerbitkan Panji Masyarakat), ulama (pendiri dan Ketua Umum MUI pertama), aktivis organisasi (antara lain, tokoh Muhammadiyah dan pendiri Masjid al-Azhar), bahkan politisi (sempat berkiprah di Masyumi).

Sejauh mana Hamka orang besar – pribadi, pandangan dan karya-karyanya? Pendapat tentu bermacam-macam. Lumrah, bukan?

Hamka sendiri suatu kali menyatakan, “Saya akui bahwa saya memang populer, terkenal dan termasyhur di mana mana…. Sebab saya sejak masih muda sudah jadi pengarang, mubaligh dan guru. Di hari tua berpidato di TVRI dan RRI. Tetapi kepopuleran bukanlah menunjukkan saya yang lebih patut.” Ia lalu mengutip sepenggal syair Jurji Zaidan, penyair Arab: “Tidaklah semua yang populer itu orang besar, dan tidaklah semua yang besar itu populer.”

Tapi ia pasti akan dikenang karena romannya yang bisa mengoyak-ngoyak kalbu pembacanya, seakan Hamka itu Sigmund Freud dalam bidang … cinta. Roman-roman itu juga harus dibaca pengamat sosial dan sejarawan karena ia menggambarkan dengan kaya pertautan agama dan adat dalam konteks tertentu.

Saya senang membacanya terutama untuk memperoleh rasa bahasa Melayu seperti yang disajikan salah satu putra terbaiknya. Dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, roman tentang cinta terlarang adat (dan kelas sosial), begini Hamka menuliskan surat Zainuddin kepada kekasihnya Hayati:

“Lebih seratus kali namamu kusebut dalam sehari. Kadang-kadang namamu terpanggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku. Kicut pintu ditolak angin, terasa langkah kau yang terdengar. Masih juga belum percaya, kau telah membuangku dari ingatanmu.”

Masya Allah!


Tegas tapi Santun

Namun, di luar sastra, Hamka juga contoh penting yang mengajarkan kita bagaimana berpikir dan bersikap merdeka.  Inilah yang membuat majalahnya, Panji Masyarakat, pernah dibredel Bung Karno karena menerbitkan esai Bung Hatta, “Demokrasi Kita,” yang mengecam Demokrasi Terpimpin. Tanpa sikap itu, katanya suatu kali, kaum intelektual hanya akan “melacurkan diri, mengkhianati ilmu pengetahuan, lalu menjadi ‘badut-badut’ yang setia, mengilmiahkan kebohongan.”

Belakangan, karena nasihatnya sebagai Ketua Umum MUI untuk mengharamkan perayaan Natal bersama tidak diindahkan pemerintah, ia mengundurkan diri dari organisasi yang didirikannya itu. Saya tidak setuju dengan isi nasihatnya, tapi saya akan sebisa mungkin mengikuti sikap yang diambilnya akibat penolakan itu.

Yang menarik, ketegasan Hamka itu tidak mengubah posturnya sebagai ulama yang santun, dengan suara dan isi ceramah yang menyejukkan hati – cocok sekali dengan sebutan “Buya” di depan namanya. Untuk ini, saya hanya bisa iri mendengar kisah almarhum Nurcholish Madjid tentang ceramah-ceramah itu. Sekalipun keduanya berbeda pikiran dalam beberapa hal penting, saya kira Nurcholish belajar banyak dari Hamka untuk “santun dan menyejukkan” itu. Maklum saja, di masa mudanya, ia hampir merupakan “penduduk tetap” Masjid Agung al-Azhar, yang dibangun dan dikelola Hamka.

Toh sikap moderat yang tegas itu bisa juga saya rasakan dari Tasawuf Modern. Di situlah ia, misalnya, menjunjung tinggi asketisme, seraya menolak sikap melarikan-diri dari dunia. Ia juga mendukung isi pembaharuan “Kaum Muda” di Minangkabau, sambil mengeritik, bahkan mengecam, cara-cara mereka yang kadang berlebihan dan main hajar!

Dengan latar belakang itu, saya terheran-heran membaca cerita tentang Hamka yang suatu hari, di Pakistan, merasa senang karena ia bisa menghangatkan-diri dengan membakar buku-buku Ahmadiyah Qadiani yang dihadiahkan kepadanya hari itu. Apalagi, katanya, kayu perapian di kamar hotelnya sudah habis. Saya kira bukan tanpa maksud jika H. Achmad Syathari, yang menuturkan kisah di atas, memberi judul tulisannya “Hamka Manusia Biasa.”

Karena mengagumi Buya Hamka, saya bersyukur juga bahwa hal itu dilakukannya tidak di depan publik, yang akan menjadikannya isu lain. Tapi saya tetap merasakannya sebagai sesuatu yang berlebihan. Kesan saya, itu enggak Hamka bangét!

Etika Bermusuhan

Hidup Hamka juga khazanah kaya tentang etika bermusuhan (dan, dengan sendirinya, etika berteman). Membaca bagaimana ia memperlakukan tokoh-tokoh yang pernah bersikap zalim kepadanya, saya makin jijik menyaksikan ulah sejumlah pemimpin negeri ini dalam memperlakukan bekas lawan politik mereka.

Kita harus belajar dari bagaimana Hamka memperlakukan Bung Karno, yang pernah memenjarakannya untuk tuduhan palsu, dan yang pernah marah besar kepadanya karena ia tidak merestui kehendak si Bung Besar untuk kawin dan kawin lagi. Seperti dikisahkan H.M. Rusydi Hamka, anaknya, Hamka menangis ketika mendengar Bung Karno sakit dan dalam kondisi kritis. Dan ketika ia wafat, Hamka berdiri di barisan paling depan, memimpin salat jenazahnya!

Cerita Rusydi lainnya, dengan nafas sama, terkait dengan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkenal yang ketika memimpin Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), di awal 1960-an, amat memusuhi Hamka. Suatu hari anak Pramoedya, bersama pacarnya, datang menemui Hamka. Setelah menanyakan kabar bapaknya, sambil memuji karya-karyanya, Hamka menanyakan maksud anak itu. Rupanya ia minta tolong Hamka untuk mengislamkan pacarnya itu, yang Kristen, dan menikahkan mereka. Hamka lalu mengajarkan dasar-dasar Islam kepada si laki-laki, kemudian menikahkan mereka.

Sesudah peristiwa itu, Rusydi bertanya, “Lupakah ayah siapa Pramoedya itu?”

“Tidak,” tegas Hamka. “Betapa pun ia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya. Allah-lah Yang Mahaadil. Dan ia pun telah menjalani hukuman dari penguasa di negara kita ini.”

Keadilan Hati

Akhirnya, saya kira para penulis juga harus iri pada produktivitas Hamka. Tak kurang dari 115 judul buku ditulisnya, di luar kolom-kolom tetapnya di berbagai majalah. (Jangan lupa: ia juga mubaligh dan aktivis organisasi). Di zaman komputer dan Internet sekarang, mari kita malu jika kita terus berkeluh-kesah karena miskin karya-tulis.

Hamka patut diberi kredit tambahan karena ia menyelesaikan magnum opus-nya, Tafsir al-Azhar, 30 juz, ketika ia dipenjara rezim Soekarno, tiga tahun kurang sedikit. Kata sejarawan Taufik Abdullah, ia berhasil “mengubah musibah menjadi berkah.”

Selain kelengkapannya, karya itu juga patut ditiru karena Hamka, seraya menyampaikan hal yang serius dan penting, terus menyadari perlunya menjalin komunikasi dengan pembaca yang ditujunya. Ia melakukannya antara lain dengan mengajak mereka mendialogkan apa saja yang biasa ditemukan sehari-hari. Dengan bahasa yang mudah dicerna pula!

Salah satu contohnya saya temukan ketika ia membahas poligami. Sesudah mengulas ayat-ayat yang terkait dengan tema itu, yang abstrak dan normatif, ia menyisipkan nasihat gurunya kepadanya, ketika ia masih muda:

“Cukuplah istrimu satu saja, wahai Abdulmalik! Aku telah beristri dua. Kesukarannya baru aku rasakan setelah terjadi. Aku tidak bisa mundur lagi. Resiko ini akan aku pikul terus sampai salah seorang dari kami bertiga meninggal dunia. Anakku dengan mereka berdua banyak. Aku siang malam menderita bathin, karena ada satu hal yang tidak dapat aku pelihara, yaitu keadilan hati.”

Sebagai awam, saya merasakan sastra Melayu di situ. Kata-katanya terdengar enak ketika dibaca keras-keras. Kalimat-kalimatnya pendek, langsung, mudah dimengerti. Ia mendesak pembacanya untuk tidak bisa lain kecuali merenungkan artinya.

Entah bagaimana kami bisa menandingimu, Buya. Tapi, atas semuanya, syukran katsir!***

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Madina pada Februari 2008, untuk memperingati 100 tahun Buya Hamka.

Komentar