Home » Sosok » Tokoh » Karem Armstrong: Dari Atheis ke Monotheis Bebas

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Penulis buku laris. Senang hidup sendirian. Kritis, tapi tak sinis, pada Agama

Ditambah dengan sikap mau menang sendiri, politik adalah evil genius, “biang kerok” yang memecah-belah manusia belakangan ini. Jika dunia mau selamat, maka menjadi tugas mulia ideologi apa saja – entah yang religius atau sekuler – untuk membangun sikap-sikap manusia yang diawali oleh kesediaan untuk saling memahami dan menghormati.

Karem Armstrong: Dari Atheis ke Monotheis Bebas

Pandangan itu datang dari Karen Armstrong, ahli perbandingan agama dan penulis kenamaan yang buku-buku­nya mengenai agama laku keras di seluruh dunia beberapa tahun terakhir. Ia menyampaikan hal itu awal Februari lalu, dalam kunjungannya ke Pakistan dalam rangka menyampaikan rangkaian kuliah yang ditaja Yayasan Aga Khan.

Tambah Armstrong, kesediaan untuk memahami dan menghormati orang lain itu juga yang diharapkan dari kaum muslim, yang kitab sucinya mengandung unsur-unsur pluralistik sangat kuat. Juga dari para penganut agama lain, yang inti ajaran agamanya menekankan kasih sayang bukan saja kepada diri atau kelompok sendiri, tepi juga setiap­ orang.

Inilah pesan yang harus disuarakan hari-hari ini, tegasnya. Karena idealisme apapun yang menyuburkan kebencian, yang dimulai dari sikap mau-menang-sendiri, sudah terbukti hanya menghancurkan dunia.

Calon Suster yang Kabur

Ini perkembangan paling mutakhir dari perjalanan panjang Nona Armstrong menekuni agama-agama dunia. Pada awal 1980-an, ia dikenal, khususnya di Inggris, sebagai seorang “calon suster yang kabur” dan pengeritik agama, khususnya Kristen, dengan lidah dan pena yang tajam. Ia kemudian masuk ke dunia televisi dan buku, yang mengharus­kannya untuk mendalami agama lebih jauh. Inilah juga dunia yang mengantar­kannya untuk berceramah keliling dunia akhir-akhir ini, menggarisbawahi persamaan agama-agama besar dunia.

Lahir pada 14 November 1944, perempuan pirang itu terhitung pendek untuk ukuran “orang Barat”. Orangtuanya berdarah Irlandia, tapi keluarganya pindah ke Inggris setelah Armstrong lahir. Ia mengejutkan keluarganya ketika ia, suatu hari di awal 1960-an, menyatakan hendak menjadi biarawati. Mengejutkan, karena era itu adalah era di mana agama makin ditinggalkan di Eropa: alih-alih pergi ke gereja, anak-anak muda Inggris mabuk dengan munculnya The Beatles dan ikon-ikon budaya pop lainnya.

Tapi keluarganya cukup toleran untuk membiarkannya melakukan apa yang kala itu disebutnya “menjauhi dunia”. Dan demikianlah, antara 1962 hingga 1969, Armstrong menjadi calon biarawati yang dididik di Society of the Holy Child Jesus. Karena kecerdasannya, ia lalu dikirim ke Universitas Oxford untuk mempelajari kesusastraan Inggris. Ironisnya, ketika mahasiswa, ia memutuskan kontrak­nya dengan lembaga yang mengutusnya itu.

Sesudah lulus sarjana, Armstrong melanjutkan kuliah doktoralnya di universitas yang sama, sambil mengajar di Universitas London. Tapi tesisnya ditolak oleh penguji eksternalnya, dan ia memutuskan meninggalkan dunia akademis sebelum memperoleh gelar doktor.

Seperti dikisahkannya dalam The Spiral Staircase (2004), memoar terbaru­nya, ini periode paling gelap dalam hidupnya. Selain “Saya memang tidak cantik,” akunya sendiri, ia menderita epilepsi, yang kala itu tidak terdeteksi dengan baik. Pada saat yang sama, ia  harus menyesuaikan diri dengan kehi­dup­an baru di luar biara. “Saya punya potensi untuk melakukan bunuh-diri,” katanya belakangan. “Saya tidak tahu bagaimana hidup di luar cara hidup yang diatur dengan ketat.”

Pada akhir 70-an, ia menyambung hidup dengan menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah khusus perempuan. Namun sekolah itu pun harus di­tinggalkannya: ia “dipecat dengan baik-baik,” berkat epilepsinya yang sering kambuh dan mengharuskannya bolos.

Pada 1982, ia menerbitkan Through the Narrow Gate, yang menceritakan kehidupan yang mengenaskan di biara. Ia misalnya mengisahkan bagai­mana para suster yang mengajarnya tidak tahu bahwa Krisis Kuba pada 1962 sudah berakhir beberapa minggu sebelumnya, karena akses mereka ke luar dibatasi. Karena penerbitan buku ini, Armstrong dibenci banyak orang Katolik di Inggris. “Mereka mengi­rim­kan benda-benda najis ke kotak surat saya,” kenangnya.

“Monotheis Bebas”
Untungnya, karena buku itu pula ia didekati seorang produser acara televisi tentang agama yang ingin agar acaranya bernada sinis pada agama. Maka, sejak 1983, Armstrong sibuk menulis dan menjadi presenter sebuah film dokumenter tentang Santo Paulus.

Riset untuk tugas baru ini memaksa­nya untuk membuka-buka lagi buku agama. Sekalipun seorang atheis waktu itu, diakuinya juga bahwa ia mudah tergugah, “meneteskan air mata,” menyimak para santo berjuang untuk agama.

Yang lebih penting, ia juga harus pergi ke Yerusalem untuk pembuatan film itu. Pada titik inilah ia memperoleh perspektif baru mengenai ketiga agama warisan Ibrahim. Di Yerusalem, ia bukan saja menyaksikan warisan Santo Paulus dan sejarah Kristen awal, tetapi juga jejak-jejak agama Yahudi dan Islam.

Dan di Yerusalem, ia bertemu dengan orang Yahudi dan orang Islam betulan, bukan seperti yang digambarkan media massa mengenai mereka, yang menawarkannya kebaikan manusiawi yang mengharukan. Ia sangat terkesan dengan Ahmed, misalnya, seorang muslim sekuler yang menjadi asistennya di Israel dan Palestina. Sekalipun punya pacar seorang Yahudi Israel, yang mengesankan Armstrong, toh Ahmed tetap tercenung mendengar ayat-ayat Al-Quran dari radio. Ia juga terkesan dengan ibu penjaga toko di Ramallah, yang terus menghadiahinya barang yang ia butuh­kan, sementara uangnya tak bisa ditukar.

Pengalaman Yerusalem ini mengu­bah total kehidupan Armstrong. Sekali­pun film dokumenternya yang awal tidak istimewa benar, ia mulai dikenal sebagai penulis dan presenter masalah agama yang baik: sekalipun kritis, ia tidak sinis pada agama. Maka ia mulai menerima pesanan untuk memproduksi acara televisi, dan kemudian buku, mengenai sejarah tiga agama warisan Ibrahim.

Sejak itulah ia menjadi penulis prolifik mengenai Yahudi, Kristen, dan Islam. Para pembaca buku-bukunya yang belakangan tentu bisa mengikuti pan­dang­annya yang lebih optimistik mengenai banyak kesamaan ketiga agama itu. Tiga di antaranya – A History of God (1993), Jerusalem: One City, Three Faiths (1996), dan The Battle for God (2000) – antara lain memperlihatkan titik-titik persamaan itu. Masing-masingnya, kata Armstrong, mengembangkan citra tentang Tuhan Maha Agung yang menampakkan diri kepada Nabi Ibrahim. Ketiganya juga terkait dengan Yerusalem.

Dan belakangan ini, tambahnya, dari ketiganya tumbuh semacam aliran yang kaku dan konservatif, sebagai reaksi atas dunia modern yang dianggap mengancam. Aliran itulah yang umum disebut fundamentalisme, yang bisa ditemukan di semua agama sekarang ini.

Dari sebelumnya seorang atheis, Armstrong kini juga berubah menjadi apa yang disebutnya “monotheis bebas”. Dalam sebuah wawancara tahun 2000, ia mendefinisikannya demikian: “Saya mengambil intisari dari ketiga agama Ibrahim. Saya tidak bisa melihat bahwa satu di antara ketiganya lebih unggul dari yang lain. Masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan. Tapi, baru-baru ini, saya menulis buku tipis tentang Budha, dan saya terkagum-kagum dengan­ apa yang dikatakannya tentang spiritualitas, tentang yang sempurna, tentang kasih sayang, dan tentang keniscaya­an kita menghancurkan ego kita sebelum berjumpa dengan yang suci. Dan semua tradisi besar, dalam pandangan saya, menyatakan banyak hal yang sama dalam cara yang hampir sama, sekalipun mereka berbeda di permukaannya.”

Ini pula mungkin sebabnya ia cukup terganggu dengan tumbuhnya literatur tentang atheisme belakangan ini. Sekarang ia sedang mengerjakan sebuah buku berjudul The Case for God, yang akan terbit September 2009. Buku itu akan mendiskusikan kalangan atheis modern, gerakan atheisme, dan akar-akar atheisme dalam teologi abad ke-20 yang buruk dan mengecewakan manusia.

Kekasih Nabi?
Berkat buku-bukunya, Armstrong dikenal dunia dan sering diundang ber­ceramah. Antara lain oleh kaum muslim dalam acara seperti maulid Nabi Muhammad. Ini menggembirakannya, karena “Saya belum pernah menemukan seorang pemuka muslim diundang ceramah di Hari Natal,” katanya. Hanya satu yang dikeluhkannya dari kaum muslim: mereka tidak disiplin dengan waktu!

Dari segi isi, karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Muhammad, misal­nya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. Cukup jelas juga bahwa ia tak menguasai bahasa Arab, hingga sejumlah kesalahan penulisan terjadi dalam bukunya (madrasahs, misalnya, harusnya madaris). Ia hanya mensintesiskan karya-karya terdahulu, dan menuliskannya secara popular dan sederhana.

Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah pendekatannya yang empatik. Ia paling tertarik dengan aspek-aspek konkret dari kehidupan keagama­an Islam, misalnya, dan mencoba memahami motif-motif terdalamnya. Dalam sejarah ringkasnya mengenai Islam, contohnya, ia sempat mendiskusikan beragamnya fundamentalisme modern tanpa mengaitkannya secara tendensius dengan Islam. Ia mencoba memahami fundamentalisme dari dalam, memotret para aktivisnya sebagai pengikut sebuah iman yang merasa terancam oleh otoritarianisme sekuler yang mendominasi dunia Islam. Kita dibawa masuk ke dalam pikiran terdalam orang-orang yang bersedia mati, sambil membawa bom di tubuhnya, yang merasa putus asa dengan kelaliman para penguasa.

Katanya, sikapnya banyak dibentuk oleh Marshall Hodgson, bekas guru Nurcholish Madjid di Universitas Chicago, AS, yang memperkenalkannya kepada the science of compassion. Dengan bekal itu, katanya, kita bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga dalam diri kita ada ruang untuk menerima mereka.

Dengan sikap mental inilah Armstrong menulis buku-bukunya. Biografinya mengenai Muhammad disukai banyak orang Islam. Kata Akbar Ahmed – seorang pemuka muslim di AS asal Pakistan – kepadanya, “Buku Anda itu sebuah kisah cinta. Seandainya Anda sempat bertemu Sang Nabi, Anda tentu­nya akan bersedia menjadi istrinya!” Tapi ini juga yang menyebabkannya dituduh sebagai “apolog muslim”.

Di AS, karya Armstrong menjadi pembanding yang berarti bagi karya-karya penulis lain seperti Bernard Lewis, yang juga menjadi penulis best-sel­ler. Beda dari Armstrong, Lewis adalah seorang esensialis yang melihat Islam hanya dari sudut pandang kaum fundamentalis. Hanya ada satu Islam baginya, dan Islam itu adalah Islam “keras”.

Berkat karya-karya Armstrong, Lewis tak lagi bertengger di jajaran penulis best-sellers sendirian. Karya-karya mereka kini bisa ditemukan berjejeran di toko-toko waralaba seperti Wall Mart, dengan harga murah. Karya-karya Armstrong juga menandai makin seringnya Islam dibicarakan di luar kampus di AS.

Karya-karya itu memang tidak dalam secara kesarjanaan, tetapi kesederhana­an­nya justru berguna untuk dibaca kalanga­n luas. Karya-karya itulah yang turut membentuk pandangan bahwa Islam itu warna-warni. Bahwa bahkan kalangan yang disebut fundamentalis pun memiliki alasan yang membuat kita bisa mengerti mengapa mereka siap sedia bunuh diri. Armstrong mengecam keras peristiwa 11 September, tetapi ia juga mengerti mengapa begitu banyak orang di dunia Islam yang tidak suka pada pemerintahan AS.

Kaum muslim Indonesia semestinya juga bisa belajar banyak dari Nona Armstrong, sambil membaca terjemahan karya-karyanya yang belakangan banyak diterbitkan di sini. Sikapnya mestinya mendorong kita untuk lebih bersikap empatik terhadap pandangan orang lain, baik itu muslim atau bukan. Harus ada ruang dalam hati kita untuk memahami sikap, pikiran, dan pilihan orang lain. Mestinya ada sejenis relativisme internal dan eksternal pada kita, sehingga kita tidak terpaku pada kepastian-kepastian yang kita pegang: siapa tahu ada sejemput kebenaran pada orang lain! Bukan­kah Islam mengajarkan bahwa Kebe­­naran Mutlak (al-haqq) hanya Allah?

***

Piagam Perdamaian Armstrong

Sekalipun Armstrong sudah banyak mendalami dan menulis mengenai agama-agama dunia, ia kesulitan menjawab pertanyaan “Di mana tempat Anda di alam semesta sekarang ini?” Ia juga tidak terlalu yakin jika kemajuan dalam ilmu dan teknologi dapat memudahkannya menjawab pertanyaan di atas. “Di abad ke-19 kita menduga bahwa sains akan menjawab semua pertanyaan,” katanya. “Buktinya, sains malah mengungkapkan lebih banyak kompleksitas.”

Pertanyaan di atas dikemukakan Komite Penyeleksi Hadiah TED kepada Armstrong sebagai salah satu penerima hadiah itu tahun 2008 ini. Selain uang seratus ribu dollar AS, Hadiah TED (singkatan dari Technology, Entertainment, and Design) berbentuk pernyataan terbuka keinginan terbesar si penerima, yang nantinya akan dibantu realisasinya oleh TED dan jaringannya.

Akhirnya, Armstrong merumuskan hasrat terbesarnya demikian: “Saya sangat berharap agar Anda membantu saya di dalam menciptakan, meluncurkan, dan menyebarluaskan sebuah ‘Piagam Kasih Sayang’ (Charter for Compassion), yang disusun oleh sekelompok terkemuka pemikir inspiratif dari ketiga tradisi agama Ibrahim – Yahudi, Kristen, dan Islam – dan didasarkan atas prinsip-prinsip pokok keadilan dan saling-hormat universal.”
Armstrong berharap, hasratnya itu bisa direalisasikan, karena ketiga agama itu mengajarkan “prinsip emas” yang berbunyi: “Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang kamu harapkan orang lain tidak melakukannya terhadapmu.” Katanya juga, ketiga agama itu mengecam kekerasan.

Ironisnya, tambah Armstrong, bela­kangan ini tumbuh dari ketiga agama itu gerakan fundamentalis yang membenarkan cara-cara kekerasan. “Dari yang saya pelajari di ketiga agama, mereka didorong oleh keyakinan bahwa masyarakat sekular Barat ingin menghapuskan agama mereka,” tambahnya. IAF

***

“Saya mengambil intisari dari ketiga agama IBrahim.”

Nona yang Bertapa di Kota

Hingga kini Armstrong hidup sendirian. Tanpa gangguan suami dan anak menjadikannya, katanya sendiri, “Seorang petapa perkotaan.” Dan ia senang dengan situasi ini. “Belajar adalah disiplin keagamaan saya.” Tadinya ia sedih karena gagal menjadi akademisi dan kehilangan teman di kampus. Tapi sekarang, katanya, “Saya suka kesepian. Tanpanya, saya kehilangan kebanggaan saya.”

Ia menegaskan, ia tidak akan menyesal karena ia tidak kawin dan punya anak. “Saya tak pernah menarik perhatian laki-laki,” katanya. “Saya tak yakin kalau laki-laki suka dengan kaum intelektual perempuan; dan yang pasti, laki-laki dalam generasi saya tidak akan menyukai saya yang wara-wiri ini.”

Ia heran dengan laki-laki yang maunya di-ibu-i: “Saya pastikan bahwa saya tidak bisa menerima laki-laki yang sambil menggerutu bertanya kepada saya di mana kaus kakinya. Tidak ada sifat keibuan dalam diri saya, dan laki-laki se­ringkali banyak yang maunya di-ibu-i. Saya tidak mau diganggu oleh seorang bayi besar berusia 70 tahun. Ini tidak selamanya mudah, dan saya kadang merasa kesepian dan terasing. Tapi saya sekarang memang senang dengan kesendirian saya.”

Untungnya, sejak peristiwa September 11, ia rajin diundang ke mana-mana. “Ketika di Lahore baru-baru ini, saya sa­ngat tersentuh. Buku saya dikenal di Pakistan. Mereka berjalan mendekati saya, sekadar mau bilang, ‘Makasih, makasih, Anda telah membantu kami.’”

Ini membuat Armstrong jauh dari kesepian. “Hasil polling Gallup di negeri-negeri muslim baru-baru ini menunjukkan bahwa satu yang mereka inginkan dari Barat, lebih dari yang lainnya, bahkan lebih dari mengakhiri kebijakan luar negeri yang agresif, adalah agar agama mereka dihormati,” kata Armstrong tentang mereka yang meramaikan hidupnya di atas.

***

Karya-karya Armstong

Armstrong sudah menerbitkan sekitar 20 buku. Ia sedang menyiapkan buku tentang atheisme, yang diharapkan terbit tahun depan. Berikut daftar bukunya:

  • The Bible: A Biography (2007)
  • The Great Transformation (2006)
  • Muhammad: A Prophet for Our Time (2006)
  • A Short History of Myth (2005)
  • The Spiral Staircase (2004)
  • Faith After September 11th (2002)
  • The Battle for God (2000)
  • Buddha (2000)
  • Islam: A Short History (2000)
  • In the Beginning (1996)
  • Jerusalem (1996)
  • A History of God (1993)
  • The End of Silence (1993)
  • The English Mystics of the Fourteenth Century (1991)
  • Muhammad: A Biography of the Prophet (1991)
  • Holy War (1998)
  • The Gospel According to Woman  (1986)
  • Tongues of Fire (1985)
  • Beginning the World (1983)
  • The First Christian (1983)
  • Through the Narrow Gate (1982)

Karya Armstrong sudah diterbitkan dalam 40-an bahasa. Di Indonesia, karya-karyanya diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Mizan. Berikut judul-judul yang sudah diterbitkan: Buddha, Muhammad: Nabi Zaman Kita, Sejarah Tuhan, Berperang Demi Tuhan, The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan, dan Menerobos Kegelapan: Sebuah Autobiografi Spiritual. *

Komentar