Home » Sosok » Tokoh » Kabir Helminski: Ketika Sufisme Masuk Kota

Kabir Helminski: Ketika Sufisme Masuk Kota

 

Bayangan lama kita tentang seorang syeikh atau guru sufi adalah seorang keturunan Arab yang unik, esoterik, tak-duniawi. Secara visual, seperti dalam komik, ia biasanya digambarkan sebagai berjenggot putih cukup panjang, berbaju putih gombrong dari pundak sampai kaki, dengan serban – tentu juga putih – melilit di atas kepala, dan selalu dengan tangan kanan sedang memelintir tasbih. Jika sedang membaca, bacaannya hampir pasti beraksara Arab. Ia umumnya juga digambarkan tak mau, malah anti, kemewahan: hidup di gua, atau rumah sederhana. Bukankah shûf, kata Arab dari mana kata sufisme berasal, berarti wol, bahan pakaian dari bulu domba yang umum dikenakan para kekasih Tuhan ini, memperlihatkan kesederhanaan mereka?

Tapi syeikh sufi yang satu ini agak beda dari bayangan lama kita itu. Ia asli kelahiran dan bicara dengan Inggris Amrik! Jenggotnya pendek saja, dan tercukur rapi. Pakaiannya biasa, kadang dengan jas dan dasi formal. Berumah di Santa Cruz, California, AS, ia tak menyebarkan sufisme dari satu pojok yang tak hendak diketahui orang, tapi mengampanyekannya lewat penerbitan buku, lembaga pendidikan, dan Internet. Dan sufismenya pun, yang berbahasa Inggris itu, unik dan percaya diri: ia bergandengan tangan dengan tradisi sufisme lain.

Itulah Syeikh Kabir Helminski, syeikh (guru) Tarekat Mawlawiyah, sebuah tarekat yang pertama kali dikembangkan Mawlana Jalaluddin Rumi, sufi besar abad ke-13.

Sufi Masuk Kota

Syeikh Kabir memperoleh latihan spiritualnya yang pertama, dalam tradisi Tarekat Mawlawiyah, ketika ia menjadi murid Syeikh Suleyman Loras di Turki. Pada 1990, ia ditunjuk sebagai syeikh oleh Dr. Celaleddin Celebi dari Istanbul, Turki, kepala Tarekat Mawlawiyah dan generasi ke-21 keturunan Rumi. Di bawah kepemimpinannya, Tarekat Mawlawiyah mencoba menerapkan prinsip-prinsip sufisme tradisional ke dalam kondisi kehidupan kontemporer.

Maka fenomena Syeikh Kabir adalah fenomena ketika sufisme masuk kota. Ia sendiri punya gelar master dalam bidang psikologi dan doktor kehormatan dari Universitas Selçuk, Konya, tempat kelahiran Rumi di Turki, dalam bidang sastra.

Ia salah satu pendiri dan pernah menjabat direktur Threshold Society, sebuah lembaga pendidikan yang mengembangkan berbagai program yang terkait dengan praktik dan pembelajaran sufisme dan psikologi spiritual. Lembaga itu juga penerbit buku sufisme utama di dunia.

Syeikh Kabir sudah menerjemahkan banyak karya dalam bidang sufisme, termasuk beberapa karya Rumi. Tapi ia juga menulis buku sendiri, berjudul Living Presence dan The Knowing Heart. Kedua bukunya ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, Itali, Belanda, Jerman, dan Turki. Ia juga kerja bareng istrinya, Camille Herminski, dalam menyunting karya-karya Rumi. Dua di antaranya sudah terbit: Rumi: Daylight dan Jewels of Rememberance, 365 Selections from the Wisdom of Rumi. Jika Rumi masuk daftar penulis best-sellers di AS, itu antara lain berkat gawean Syeikh Kabir.

Sejak 1994, ia juga rajin memperkenalkan sufi yang menari berputar (whirling dervishes) yang berasal dari Turki. Mungkin sudah lebih dari 100 ribu orang diperkenalkannya dengan tarian yang menjadi ciri khas Tarekat Mawlawiyah ini. Dan entah berapa di antaranya yang kemudian masuk Islam karenanya.

Pada 2001, Syeikh Kabir memperoleh kehormatan sebagai muslim pertama yang menyampaikan Harold M. Wit Lectures on Spitiruality in Contemporary Life yang bergengsi dan diorganisasikan oleh Harvard Divinity School, AS. Kini ia sedang memfokuskan perhatian antara lain pada pengembangan musik sufi.

Spiritualitas antaragama

Melalui Spiritual Path Institute, Syeikh Kabir juga menjadi salah satu penggerak spiritualitas antaragama di Amerika Utara. Inisiatif ini didasarkan pada makin pentingnya dialog antaragama belakangan ini.

Ini tidak dimaksudkan untuk menghilangkan keragaman agama. Sebaliknya, inisiatif itu digerakkan untuk meningkatkan kreativitas spiritual yang tumbuh dari pertemuan atau dialog di antara berbagai tradisi agama. Seraya menghargai perbedaan, kesamaan di antara beragam tradisi itu diperkokoh.

Maka tak heran jika Syeikh Kabir juga adalah salah satu penandatangan “A Common Word Between Us and You”, sebuah surat terbuka, bertanggal 13 Oktober 2007, yang dikirim para pemimpin muslim kepada para pemimpin Kristen. Surat itu menyerukan kerjasama dan perdamaian di antara kedua umat itu, berdasarkan dua landasan: (1) cinta kepada Tuhan; dan (2) cinta kepada sesama manusia (tetangga).

Surat ini adalah kelanjutan surat sebelumnya dan merupakan tanggapan atas ceramah Paus Benediktus XVI di Universitas Regensburg, Jerman, 12 September 2006. Ceramah ini, tentang iman dan akal, terpusat pada agama Kristen dan apa yang oleh Paus Benediktus disebut sebagai kecenderungan untuk “menyingkirkan pertanyaan tentang Tuhan” dari akal. Islam muncul pada salah satu bagian ceramah itu, ketika Sang Paus mengutip kritik keras Kaisar Byzantium atas ajaran-ajaran Islam. Paus Benediktus lalu memberi penjelasan bahwa ini bukan pandangan pribadinya. Satu bulan kemudian, 38 sarjana muslim, menanggapi ceramah itu dalam sebuah surat terbuka, bertanggal 13 Oktober 2006.

Berbeda dari surat pertama ini, surat kedua ditandatangani 138 individu muslim yang menyerukan dialog Islam dan Kristen. Mereka terdiri dari akademisi, intelektual, sarjana, pejabat pemerintahan, mufti, penulis, dan lainnya. Surat itu disiapkan The Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, sebuah lembaga penelitian independen yang bermarkas di Amman, Yordania. Mereka yang menandatangani surat ini percaya bahwa ada persamaan pokok di antara Islam dan Kristen.

Surat itu antara lain menyebutkan: “Menemukan landasan bersama antara umat Islam dan Kristen bukan melulu masalah dialog antara sejumlah tertentu pemimpin kedua kelompok agama. Kristen dan Islam adalah agama terbesar pertama dan kedua di dunia dan dalam sejarah. Umat Kristen dan Islam … mencakup 55% dari seluruh penduduk dunia, menjadikan hubungan di antara kedua kelompok ini faktor paling penting yang bisa mendorong terciptanya perdamaian dunia…. Dengan perkembangan persenjataan yang makin mengerikan di dunia modern sekarang ini, dan mengingat bahwa kaum muslim dan Kristen saling terkait di mana saja, maka tak satu pihak pun yang dengan sendirian saja, tanpa melibatkan pihak lain, akan memenangkan sebuah konflik yang terjadi di antara lebih dari setengah penduduk dunia. Maka, masa depan kita semua benar-benar dipertaruhkan. Bahkan masa depan dunia itu sendiri dipertaruhkan.”

Surat itu diakhiri imbauan demikian: “Maka mari kita usahakan agar berbagai perbedaan di antara kita tidak menyebabkan kebencian dan perpecahan di antara kita. Mari kita cemburu kepada pihak lain hanya dalam hal kebaikan dan perbuatan-perbuatan bermanfaat.”

Sekalipun tanggapan resmi belum diterima, beberapa perkembangan berlangsung. Pada 5 Maret 2008 yang lalu, lima wakil yang menandatangani surat di atas dan Vatikan bersepakat untuk mendirikan Forum Katolik-Muslim yang permanen. Forum itu akan mengadakan dua pertemuan setiap tahun dan terus menjalin komunikasi. Pertemuan pertama akan berlangsung 4-6 November tahun ini juga.

Sufisme Clint Eastwood

Bagi sufi modern seperti Syeikh Kabir, sufisme bisa ada di mana-mana. Antara lain dalam film seperti Million Dollar Baby yang dibintangi Hilary Swank, disutradarai Clint Eastwood, dan pernah meraih Piala Oscar.

Baginya, seperti dikatakannya kepada Belief.net, film tentang perempuan petinju itu menarik karena ia memperlihatkan “drama kemanusiaan yang memukau dan sebuah alegori bagi proses spiritual yang esensial.” Film itu mengingatkannya kepada hadis Nabi Muhammad yang berbunyi: “Matilah sebelum kau mati.” Atau apa kata Rumi: “Kau sudah hidup dalam sengsara begitu lama. Kau memperpanjangnya, karena kau telah melupakan soal begitu penting, yakni untuk mati.” Katanya menambahkan: “Kita mati untuk satu bentuk, untuk dilahirkan kembali dalam bentuk lain. Kecuali jika kita bergerak ke situasi baru, kita tidak akan berybah. Kesediaan untuk melakukan hal itu adalah esensi latihan spiritual.”

Bagi pembaca yang belum menyaksikan film itu, sulit mengintisarikan reaksi sufistik Syeikh Kabir mengenainya. Sambil menanti kedatangannya di Jakarta, mari nonton film itu dan membuat catatan.

Tapi, seorang sufi suka film, malah belajar dari Clint Eastwood – bukankah itu aneh?

“Tidak sama sekali,” kata Syeikh Kabir. “Di sana Anda menyaksikan rasa percaya diri, perlawanan dan kekeraskepalaan, yang mencirikan Clint Eastwood. Tapi Anda juga melihat kebersahajaan dan hidup yang berubah.”

Itu seperti contoh klasik lain tentang transformasi dalam film: Humphrey Bogart dalam Casablanca. “Ketimbang mendekat ke Ingrid Bergman dan mencurinya dari suaminya, ia malah melepaskannya untuk pergi bersama sang suami. Dan dalam momen pengorbanan itu … Bogart berhasil mendapatkan Ingrid sebagai cinta sejati dalam substansinya sendiri.”

Yang lagi-lagi mengingatkan Syeikh Kabir kepada Rumi:

Aku mati sebagai mineral dan jadi tumbuhan,

Aku mati sebagai tumbuhan dan tumbuh sebagai hewan,

Aku mati sebagai hewan dan aku seorang manusia,

Mengapa aku harus takut mati? Kapan aku jadi kurang aku ketika mati?***

Ihsan Ali-Fauzi

Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina

Komentar