Home » Sosok » Tokoh » Jalaluddin Rakhmat, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: mahdi-news.com

Jalaluddin Rakhmat, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Mereka yang mengenal Jalaluddin Rakhmat (59 tahun) saat ini mungkin tak akan mengira bahwa di masa mudanya dulu, tokoh pembela kaum tertindas dan pembela keberagaman ini pernah sangat ‘anti-pluralisme’. Dia pernah membuang beduk dari masjid di kampungnya, pernah mengecam tetanggga yang tahlilan, pernah menyalahkan para warga kampungnya dalam hal cara bershalat – dan itu semua karena, menurut Jalal, mereka melakukan bid’ah dan menyalahi fikih yang benar.

Jalal kerap mengenang kembali masa “jahiliyah” itu tatkala berbicara tentang betapa pentingnya umat Islam menghargai keberagaman dan meninggalkan sikap saling memutlakkan kebenaran. Ia percaya  segenap tindakan agresif tersebut dulu sebenarnya didasarkan atas niat baik. Dengan semangat melawan kesesatan, Jalal bercita-cita memberantas bid’ah, khurafat dan takhayul di kampungnya. Tapi alih-alih menciptakan kesejahteraan, tindakan Jalal justru melahirkan konflik.

Jalal mengaku sangat terpengaruh oleh kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, karya besar Imam al-Ghazali. Setelah membaca buku itu ia percaya karena dunia ini telah begitu dilumuri dosa, ia harus menjalankan misi menyelamatkan masyarakat dengan meninggalkan semua kenikmatan duniawi.

Kini, semangat menyelamatkan dunia itu nampaknya tetap ada dalam hati Jalal. Namun baik substansi dan pendekatan dakwahnya sudah sama sekali berubah. Bisa jadi karena ia mengalami sendiri begitu banyak konflik yang melelahkan, namun juga karena pengalaman hidupnya memberi Jalal kesempatan untuk memperluas cakrawala pandangnya.

Sejak kecil Jalal memang dididik secara Islam. Bahkan, ”sangat Islam”. Ia datang dari keluarga NU, kakeknya memiliki pesantren, ia membaca kitab kuning sejak kecil, dan ayahnya meninggalkan keluarga pada saat Jalal masih berusia 2 tahun untuk menegakkan syariat Islam. Di masa mudanya, ia belajar ke beberapa pesantren. Masa-masa ‘Jalal radikal’ itu berlangsung di tahun 1970-an, di masa ia menempuh pendidikan di Universitas Padjajaran (Unpad).

Suratan takdir menentukan Jalal harus keluar dari sarangnya. Setelah selesai dari Universitas Padjadjaran, ia memperoleh beasiswa Fulbright dan memperoleh gelar Master di Iowa University, dan belakangan memperoleh gelar doktornya di Australia National University. Di antara periode itu, ia juga pernah melakukan pengembaraan intelektual ke kota Qum, Iran, untuk belajar filsafat Islam dari para mullah tradisional. Itu semua memperkaya jiwa dan alam pikirnya.

Kini, Jalal dikenal sebagai tokoh pembela pluralisme dengan kualitas lengkap: sebagai ilmuwan yang banyak diudang menyampaikan gagasan-gagasannya di berbagai konferensi dan seminar dalam dan luar negeri, penceramah yang memikat dan tajam, penulis yang produktif, aktivis pendidikan yang mengembangkan sekolah yang membuka mata murid pada keberagaman, serta seorang ulama yang sangat peduli dan memiliki komitmen tinggi pada nasib kaum papa.

Sebagai dosen, ia mengajar ilmu-ilmu modern di Fakultas Komunikasi Unpad, serta mengajar tasawuf di Islamic College for Advanced Studies (ICAS)- Universitas Paramadina. Sebagai aktifis ia membidani dan menjadi Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), mendirikan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta serta membina Jalal Center for Enlightenment. Jalal juga dikenal sebagai salah seorang penulis paling produktif di Indonesia. Hampir 50 buku karyanya sudah diterbitkan.

Sebagai pendidik, ia mendirikan dan sekaligus menjadi Kepala SMU Plus Muthahhari Bandung, yang kini dinyatakan pemerintah sebagai sekolah model untuk pembinaan akhlak. Jalal tidak hanya bicara pada kaum elit, tapi juga pada kaum papa. Ia membina jamaah di masjid-masjid dan tempat-tempat kumuh gelandangan. Ia bahkan  mendirikan sekolah gratis, SMP Plus Muthahhari di Cicalengka, Bandung, yang dikhususkan untuk siswa miskin.

Pengalaman hidup plus perjalanan ruhani dan pengembaraan intelektualitasnya menyebabkan Jalal percaya bahwa salah satu masalah terbesar dalam umat Islam dunia saat ini adalah perhatian yang terlalu besar soal-soal fikih. Baginya, itu menyebabkan umat Islam terus didera konflik yang menjauhkan mereka dari soal-soal yang lebih substantif. Pembicaraan fikih, menurut Jalal, hanya bisa dilakukan dengan pemahaman dan kesediaan untuk mengakui adanya keberagaman penafsiran.

Dalam konteks itulah, Jalal mengembangkan kampanye ‘dahulukan ahlak di atas fikih’. Sebagai contoh, bila gara-gara perbedaan tafsiran fikih terjadi perselisihan, yang harus diutamakan adalah kewajiban menjaga silaturahmi (ahlak) dengan meminggirkan perbedaan.

Karena itulah, Jalal senantiasa mengingatkan masyarakat untuk tidak terpecah hanya karena perbedaan mazhab, perbedaan penafsiran atau bahkan perbedaan agama. Ia selalu mengutamakan persatuan, bukan saja di dalam Islam tapi juga dengan umat agama lain. Ilmuwan yang kerap dipanggil kiai ini sering juga diminta berbicara di gereja dan forum-forum umat Kristiani. ‘’Banyak berinteraksi dengan umat agama lain justru membuat keimanan saya menjadi lebih kuat,” katanya.

Mungkin karena keengganannya memasuki wilayah fikih itu, Jalal kini dikenal sebagai tokoh pengembang tasawuf kota. Ia menampik bila dikatakan tasawuf akan menjauhkan umat Islam dari masalah-masalah keduniaan. Justru baginya, jiwa yang bersih dibutuhkan untuk  melakukan perubahan-perubahan yang lebih bersifat struktural, seperti korupsi dan  ketidakadilan sosial. Baginya, Khomeini adalah contoh terbaik – ia adalah sufi besar yang aktivitas politiknya bisa menggulingkan penguasa sebesar Shah Iran yang didukung kekuatan adikuasa seperti AS.

Dalam pandangan Jalal, beragama dengan terlalu berpegang pada fikih akan terasa kaku, sempit dan terkesan formalistik. ”Dalam tasawuf, para sufi dalam melihat berbagai persoalan tidak hitam putih, benar salah, halal haram, surga neraka,” ujar Jalal. ” Mereka yang beragama dengan bertasawuf akan merasakan kehangatan, kelonggaran dalam beragama.” []

Komentar