Home » Sosok » Tokoh » Islam Progresif Tjokroaminoto
Tiga wajah HOS. Cokroaminoto

Islam Progresif Tjokroaminoto

Islam melandasi bangunan pemikiran dan perjuangannya melawan penjajahan. Pemikiran Islamnya progresif dan sempat tuai kontroversi.

Tjokroaminoto adalah mahaguru bangsa dan induk semang para pendiri negeri ini. Dari yang nasionalis, Islamis hingga komunis.

Ia mentor yang mengkader founding fathers republik ini. Melapangkan jalan bagi tumbuhnya tokoh bangsa anti-penjajahan dan pejuang kemerdekaan. Juga meletakkan fondasi bangunan Indonesia.

Bapak pergerakan Indonesia ini rela “bunuh diri kelas.” Sebagai ningrat Tjokro ‘anak emas’ yang diuntungkan pemerintah kolonial Belanda. Priyayi terpandang yang dikader menjadi pejabat pemerintahan.

Pahlawan nasional yang dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota ini lebih memilih jadi anak jadah alih-alih antek Belanda di negeri sendiri. Posisi basah, empuk, dan sejahtera ia tanggalkan untuk berjuang melawan struktur sosial-politik yang menindas.

Melalui sebuah organisasi Islam terbesar di awal abad 20, Sarekat Islam (SI), Tjokro menyebarkan berbagai gagasannya tentang Islam yang anti-penindasan, penjajahan, dan kekerasan. Ia merangkul dan menggerakkan ribuan massa untuk mununtut kesetaraan, kemandirian, dan kemerdekaan bangsa dari pemerintah kolonial.

Tjokro mengorbankan jiwa dan raganya untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat Bumiputera untuk naik kelas. Dari warga jajahan kelas dua menjadi setara dengan semua bangsa lain. Perintis kemerdekaan ini menghendaki pemerintahan mandiri yang dijalankan sendiri kalangan Bumiputera.

Para muridnya meneruskan perjuangan Tjokro. Di antara mereka adalah Soekarno, Kartosoewirjo, Semaoen, Alimin, Musso. Mereka adalah para siswa yang pernah indekos di rumah Tjokro.

Di sebuah jalan tak lebar, Gang Paneleh VII No. 29-31, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya, Jawa Timur, rumah Tjokro itu terdiri dari 10 kamar kecil. Mereka mondok dan menyerap berbagai ilmu yang mengalir dari Tjokro. Mereka kerap diajak Tjokro ke berbagai pertemuan SI.

Kendati satu guru dan punya cita-cita sama, para muridnya itu berseberangan pandangan dan ideologi satu sama lain, bahkan dengan Tjokro sendiri. Dinamika perdebatan dan pertarungan ideologi hingga perjuangan politik mereka membentuk formasi Indonesia kini.

Kesadaran Nasionalisme

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, biasa disingkat H.O.S Tjokroaminoto, lahir di Desa Bukur, Kabupaten Ponorogo, Keresidenan Madiun, Jawa Timur, pada 16 Agustus 1882. Anak kedua dari 12 bersaudara ini berasal dari keluarga priyayi dan santri. Ibu Tjokro, Raden Ajeng Soeharsikin, menurut asal-usulnya, keturunan Panembahan Senopati dan Ki Ageng Mangkir di Madiun.

soekarno-ganyang-malaysiaAyahnya, Raden Mas Tjokroamiseno seorang pejabat pemerintahaan saat itu. Kakek buyut dari jalur ayahnya adalah Kiai Bagoes Kasan Besari, ulama berpengaruh dan kepala desa Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur. Kakek Tjokro, anak Kasan Besari, Raden Mas Tjokronegoro, juga pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo.

Sejak kecil Tjokro belajar agama dan mengaji di rumah dan juga mendapat pendidikan agama dari guru-guru di sekitar Madiun sampai Magelang. Ia melanjutkan studinya di Opleidingsschool voor Inlandsch Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. Sekolah yang didirikan untuk mencetak pamong praja pemerintah kolonial, terutama bagi anak-anak priyayi. Ia tamat tahun 1902.

Kesadaran nasionalisme Tjokro terus tumbuh dan berkembang saat ia mengenyam pendidikan di sekolah itu. Berbagai laku diskriminatif antara orang Belanda dan pribumi (inlander) terjadi. Sentimen rasial begitu kuat saat itu. Salah satunya saat bertemu orang Belanda harus menunduk dan tak boleh melipat satu kaki di atas paha saat duduk. Tjokro, seperti kata sejarawan Anhar Gonggong, salah satu yang berani melawan tabu itu.

Setelah lulus, ia bekerja sebagai juru tulis di Kepatihan Ngawi (1902-1905). Alih-alih meniti karier sebagai pejabat pemerintahan, ia berhenti dan bekerja serabutan di beberapa kota. Ia memilih jalan yang berbeda dengan orangtua dan mertuanya. Bahkan Tjokro sempat terpisah dengan istrinya lantaran tak mau mengikuti karier mertuanya.

Di Semarang ia bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Di Surabaya ia bekerja di sebuah Firma Kooy & Co. Antara tahun 1907-1910, sambil kerja ia melanjutkan pendidikannya di sekolah sipil malam: Burgerlijke Avond School (BAS). Lulus dari BAS, ia keluar dari firma dan bekerja sebagai pembantu bagian mesin dan ahli kimia di pabrik gula (1911-1912).

Tjokro juga punya minat di dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja pada surat kabar Bintang/Soeara Soerabaya (Surabaya). Saat memimpin Sarekat Islam ia juga menyebarkan gagasannya melalui koran, tabloid, dan majalah internal SI, yaitu Oetoesan Hindia (Surabaya), Fajar Asia (Jakarta), dan Majalah Al-Jihad.

Kesadaran nasionalisme Tjokro kian menguat setelah bekerja serabutan itu. Ia melihat langsung bagaimana kondisi kuli dan buruh di lapangan yang tertindas dan terengut hak-haknya oleh pemerintah kolonial. NEXT PAGE

Komentar