Home » Sosok » Tokoh » Imam Prasodjo, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: antaranews.com

Imam Prasodjo, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Tatkala Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) beberapa tahun lalu melarang pemberian parsel pada para pejabat pemerintah hanya beberapa hari menjelang Idul Fitri, Imam Prasodjo memobiliasi para koleganya untuk memborong sebagian dari timbunan parsel yang tak terjual itu. Tujuannya sederhana: menyelamatkan rezeki para pejual sekaligus bisa membahagiakan para pekerja yang tak bisa berlebaran – para perawat di rumah sakit, penjaga kamar mayat, penjaga pintu kereta api  — yang kepada mereka parsel-parsel itu kemudian dibagikan.

Itu memang ciri khas Imam (48 tahun). Pengajar di Departemen Sosiologi, Universitas Indonesia ini dikenal sebagai tokoh penyelamat rakyat kecil yang menderita dalam arti sesungguhnya. Di satu sisi, ia adalah pemikir yang tajam yang lazim menyuarakan kritik pedasnya secara terbuka pada siapapun; dan, di sisi lain, ia adalah aktivis yang turun langsung membantu kaum membutuhkan dengan memanfaatkan jaringan-jaringan sosial yang dimilikinya.

Imam dibesarkan dalam suasana keislaman yang kental dalam sebuah keluarga santri yang sederhana namun sangat menghargai kecendekiaan. Karena ayahnya adalah seorang tokoh pendidikan dengan lingkup pergaulan luas, sejak remaja, Imam terbiasa menyaksikan diskusi hangat antara tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madid, Dawam Rahardjo dan Gus Dur di rumahnya. Itu semua berbekas mendalam pada Imam.

Ia dikenal memiliki integritas tinggi. Imam sempat terpilih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum menjelang Pemilu 2004. Tapi belum lama ia menempati posisi itu, bersama dengan Mudji Sutrisno, Imam memilih mengundurkan diri. Secara resmi, alasan yang dikemukakan adalah karena undang-undang memaksa mereka untuk memilih antara menjadi anggota KPU atau tetap menjadi dosen. Namun, banyak pihak tahu bahwa alasan mereka terutama terkait dengan kekecewaan mereka atas persoalan mismanajemen dan ketidakjelasan pertanggungjawaban dana dalam KPU. Belakangan, setelah Pemilu selesai, sejumlah petinggi KPU memang terbukti bersalah menurut pengadilan.

Seraya dikenal sebagai ilmuwan yang kerap berbicara lugas dan kritis, ia juga menjadi contoh cendekiawan yang tak mendekam hanya di menara gading. Karena keprihatinannya atas berbagai konflik atas nama agama dan etnik yang pecah di Indonesia sejak reformasi, Imam mendirikan dan menjadi ketua Center for Research on Integroup Relations and Conflict Resolutions (CERIC). Organisasi riset dan ini memusatkan perhatian pada pencegahan dan mediasi konflik yang didasarkan atas pemahaman hubungan antar kelompok. Ia terlibat dalam berbagai upaya rekonsiliasi, seperti di Ambon dan Poso.

Menjadi aktivis sejak masa mahasiswa, kepeduliannya pada kaum yang menderita juga diwujudkan dalam Yayasan Nurani Dunia. Sejak pendiriannya, Nurani tumbuh menjadi LSM Indonesia yang sangat dihargai di dunia internasional, yang mengkhususkan diri untuk membantu korban bencana alam dan konflik sosial, serta membantu kesejahteraan masyarakat terbelakang melalui pembangunan partisipatoris. Mereka yang terlibat di dalamnya berasal dari beragam latar belakang etnik dan agama.

Melalui Nurani, Imam bukan hanya menyalurkan bantuan langsung tunai, melainkan bantuan modal yang diharapkan akan dapat mengembangkan kemampuan masyarakat  membangun secara mandiri. Imam tak percaya dengan sekadar menyuapi rakyat kecil. “Mereka harus dilibatkan agar mereka sendiri yakin akan kemampuan diri mereka untuk melanjutkan perbaikan.”

Dengan jaringan yang dibangunnya, Imam dapat menggalang dana internasional miliaran rupiah untuk membangun masyarakat Aceh pasca Tsunami serta Yogya pasca gempa. Di luar itu, mereka juga menyelamatkan puluhan sekolah yang nyaris ambruk di berbagai wilayah. Banyak pihak percaya kepada Imam karena bukan saja karena kemampuannya untuk membangun kesadaran untuk berbagi, namun juga karena ia terbukti senantiasa memegang amanah.

Pria yang memperoleh gelar doktor dari salah satu sekolah terbaik di AS, Brown University, ini percaya bahwa upaya kemanusiaan tak boleh mengenal sekat-sekat keagamaan dan kelompok. ”Kita tidak bisa  berpikir bahwa anak yang sedang luar biasa menderita ini Islam atau Kristen; kita tolong atau tidak?”

Salah satu pengalaman hidup yang menginspirasikannya menjadi seorang yang percaya pada keberagaman adalah masa satu tahun menjadi peserta American Field Service di AS, ketika ia masih duduk di SMA. Di sana ia tinggal dalam sebuah keluarga yang meski menerapkan tradisi Katolik, namun mengaku tidak beragama.

Imam sangat terkesan dengan kenyataan bahwa keluarga angkatnya itu adalah para aktivis kemanusiaan tanpa pandang bulu. Mereka pun sangat menghargai mereka yang berbeda keyakinan. ”Saya ingat, suatu kali mereka mengatakan, ’This is Idul Fitri’, dan kemudian mengantar saya ke masjid,” kenang Imam.” Dari sini saya merasakan dimensi-dimensi kemanusiaan yang melampaui perbedaan-perbedaan antara kelompok.”

Dalam perjalanan hidupnya, Imam mengaku kerap bekerjasama dengan begitu banyak orang yang dengan sukarela dan menunjukkan keikhlasan luar biasa dalam aktivitas-aktivitas kemanusiaan. ”Seringkali orang-orang itu adalah orang yang tidak beragama.”

Karena itu, bagi Imam, bila masyarakat Indonesia ingin benar-benar membangun diri mencapai kesejahteraan dan perdamaian, kesediaaan untuk bekerjasama seraya mengabaikan sekat keagamaan dan kelompok menjadi syarat mutlak. Buat Imam, perisai kemanusiaan itu begitu universal untuk dikorbankan oleh sekat-sekat agama. ”Inilah barangkali apa yang dimaksud dengan Islam-rahmatan lil ‘âlamîn,” ujarnya. []

Komentar