Home » Sosok » Tokoh » Imam Hamza Yusuf Hanson: “Dunia Islam sedang Karut Marut”

Imam Hamza Yusuf Hanson: “Dunia Islam sedang Karut Marut”

Ia mualaf, teolog muslim humanis. Mengecam serangan WTC sebagai pembunuhan massal.

“Jika mereka hendak membual dan omong kosong mengenai masyarakat Barat, mereka harus segera pindah ke negara muslim mana saja. Niat baik negara-negara [Barat] ini kepada kaum imigran harus diakui kaum muslim.”

Sekitar sebulan sesudah peristiwa 11 September 2001, FBI (Biro Penyelidik Federal AS) memutuskan untuk menilpon rumah Hamza Yusuf di California. Alasannya tak terlalu jelas. Tapi, kata istrinya yang menjawab tilpon, “Ia tak ada di rumah.” “Ia sedang bersama presiden,” tambahnya. Agen-agen FBI tampak tak terlalu percaya; mereka menilpon Gedung Putih untuk mengeceknya. “Imam itu dinyatakan bersih 100%,” jawab suara di seberang sana. Agen FBI itu pun tak pernah lagi bertanya.

Yusuf, seorang mualaf muslim Amerika yang sehari-harinya bekerja sebagai guru, ustad dan penceramah, hari itu memang bersama Presiden George Walker Bush. Dalam pertemuan mereka, ia menasihati Bush yunior itu bahwa istilah militer “Operation Infinite Justice”, yang digunakan sebagai sandi penyerangan Afghanistan saat itu, sangat tidak pas dan menyakiti hati kaum muslim. Untung, si presiden segera ngeh waktu itu dan mendengarnya baik-baik. Katanya ia minta maaf: Pentagon, yang memilih sebutan itu, tidak punya staf dari kalangan teolog. Lalu nama sandi itu pun diganti.

Tak lama sesudahnya, Yusuf bergabung dengan para pemuka agama lain dalam upacara “God Save America”. Ia berdiri di luar Gedung Putih untuk menyampaikan pesan tegas yang akan diingat siapa saja, lawan atau kawannya. Katanya, “Islam telah dibajak pada 11 September 2001, di atas pesawat itu, sebagai korban yang tak bersalah.”

Pemimpin Islam Baru

Sejak itu Yusuf, yang sehari-hari mengoperasikan Zaituna Institute, sebuah lembaga pendidikan Islam di California, segera menjadi tokoh dunia yang keras mengecam aksi-aksi bom bunuh-diri dan kekerasan atas nama Islam. Ia tampil sebagai pemimpin baru dunia Islam yang sulit dicari pendahulunya: meskipun mualaf kulit putih, ia fasih berbahasa Arab; dan sekalipun tradisionalis, ia punya bacaan yang luas, trendy dan tak kurang fashionable.

Dilihat dari latar belakangnya, Hamza Yusuf Hanson memang gejala baru dalam kepemimpinan Islam internasional. Yusuf masuk Islam ketika ia berusia 17. Ketika lahir, ia diharapkan bukan menjadi sarjana dan imam muslim, tapi pendeta Kristen Ortodoks. Ia tertarik pada Islam sesudah mengalami kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya dan membaca Al-Quran. Ini mirip pengalaman spiritual yang membawa Yusuf lainnya, yakni Yusuf Islam atawa Cat Stevens, musikus Inggris terkenal dan kebetulan kawan dekatnya juga, masuk Islam.

Lahir pada 1960 sebagai Mark Hanson, dari orangtua akademisi dan aktivis, Yusuf mungkin adalah mualaf Amerika paling terkenal dan disegani secara internasional sesudah Malcolm X dan Muhammad Ali, masing-masing pejuang hak-hak asasi kulit hitam dan petinju legendaris. Tapi Yusuf berbeda dari keduanya dalam dua hal penting. Pertama, ia berasal dari kulit putih, dan tak banyak muslim di Amerika yang berasal dari ras ini, sekalipun jumlahnya belakangan meningkat. Selain itu, kedua, Yusuf benar-benar mendalami Islam, termasuk dengan nyantri selama lebih dari satu dekade di berbagai pusat pengajaran Islam di Uni Emirat Arab, Aljazair, Maroko dan Mauritania. Tak heran jika Yusuf menguasai khazanah klasik Islam dan fasih mengutip ayat-ayat Al-Quran, Hadis atau pepatah Arab dalam ceramah-ceramahnya.

Ini membuatnya dihormati kalangan terdidik di masyarakat-masyarakat muslim tradisional. Dan sekalipun ia acap menyerukan agar kaum muslim melihat apa yang baik dalam masyarakat Barat, bapak lima anak ini punya rekor cukup panjang sebagai kritikus masyarakat Barat yang kadang dilihatnya dekaden, tidak mendukung keadilan internasional, dengan tingkat spiritualitas rendah.

WTC: Pembunuhan Massal

Beberapa tahun terakhir, selain terus meningkatkan kinerja Zaituna Institute, Yusuf makin rajin diundang berceramah dan mengampanyekan dialog dan kerjasama Islam dan Barat. Dan ia getol melakukan hal itu di empat penjuru mata angin.

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Bush di atas, misalnya, ia sudah berada di Inggris untuk bicara soal yang sama di depan para pemimpin agama di House of Lords. Seorang pembicara yang karismatik dan populer, Yusuf terbuka menyatakan keyakinannya bahwa Islam sedang berada dalam situasi yang karut marut belakangan ini. Ia berseru agar kaum muslim kembali ke “iman mereka yang sesungguhnya”, menolak kekerasan, intoleransi dan kebencian.

Koran Inggris Guardian mengutipnya menyatakan: “Banyak orang di Barat tidak menyadari betapa opresifnya banyak negara Islam, untuk laki-laki atau perempuan. Ini masalah budaya, bukan agama. Saya lebih suka tinggal sebagai muslim di barat daripada di sebagian besar negara muslim. Banyak imigran muslim merasakan hal yang sama. Itu sebabnya mengapa kami ada di sini.” Koran itu menjulukinya “sarjana Islam paling berpengaruh di Barat.”

Ia menyebut serangan atas WTC sebagai aksi “pembunuhan massal.” “Senyata dan sesederhana itu,” tambahnya. Tak lupa ia menegaskan bahwa bunuh diri itu haram, dilarang Al-Quran, seperti halnya membunuh warga sipil manapun. Dalam ceramahnya, ia mengutip ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa para pelaku bom bunuh-diri tidak bisa dipandang sebagai syahid. Ia bahkan menyebut sebuah ayat yang mengharamkan pembakaran bendera nasional.

“Banyak muslim yang tampak sulit mengecam apa yang berlangsung itu,” tambahnya. “Maka mereka datang dengan teori-teori konspirasi dan tidak mau menengok kemungkinan nyata bahwa yang melakukan hal itu memang benar-benar muslim. Tapi toh memang ada di dalam kelompok kami orang-orang yang sudah mencapai tingkat kebencian dan salah-didik seperti itu.”

Yusuf bahkan menunjukkan dukungannya kepada Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri Inggris, yang hari-hari itu menyatakan bahwa kaum muslim Inggris tidak cukup keras mengecam serangan WTC. “Pernyataan itu ada benarnya juga,” katanya. “Beberapa muslim mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Tapi ketika Anda berkata bahwa Anda mengecam sesuatu lalu mencoba menjelaskan latar belakangnya, itu bisa ditafsirkan secara keliru sebagai pembenaran,” tambahnya.

Sikap tegas Yusuf terhadap kalangan ekstremis muslim ini sulit diharapkan muncul dari politisi arus utama manapun, yang kepeduliannya hanya mencari dukungan. Kepada kalangan ekstremis itu, kata Yusuf, “Saya akan mengatakan, jika mereka hendak membual dan omong kosong mengenai masyarakat Barat, mereka harus segera pindah ke negara muslim mana saja. Niat baik negara-negara [Barat] ini kepada kaum imigran harus diakui kaum muslim.”

Sebelum ke Inggris kala itu, ia baru saja dari Roma, Italia, menghadiri acara dialog antaragama untuk perdamaian. “Saya menghadiri perayaan untuk mengenang Santo Franciskus dari Assisi,” katanya. Lalu ia menyebutkan sebuah ironi. “Tahukah Anda bahwa Santo Franciskus itu pernah menyarankan kepada Paus supaya umat Kristiani diizinkan untuk berziarah ke Assisi, dan bukan pergi ke medan Perang Salib?” Sekadar info: Santo Franciskus dikenal sebagai salah seorang pemimpin Katolik yang anti-kekerasan.

Darah Segar

Apakah Yusuf tidak kuatir dengan ancaman fisik dari ekstremis muslim tertentu di Barat? “Ya, saya kira memang ada. Risiko itu sangat nyata. Risiko itu datang dari orang-orang tolol yang tidak punya rasa hormat kepada berbagai pandangan yang berbeda. Ada sejumlah muslim fasis yang bangkrut secara intelektual. Satu-satunya cara dengan apa mereka bisa berargumentasi adalah dengan menyingkirkan suara-suara lain yang tidak mereka setujui,” jawabnya tegas.

Bagi generasi baru kaum muslim di Barat, ceramah dan model kehidupan Yusuf membawa darah segar baru. “Ia menawarkan [kami] gambaran baru mengenai bagaimana menjadi anak muda, warganegara Inggris, dan muslim sekaligus,” kata Fuad Nahdi, penerbit Q-News, majalah bulanan muslim terbitan Inggris. “Ia menunjukkan ada kehidupan lain di luar soal jenggot, jilbab dan makanan halal. Ia memberi kami rasa percaya-diri bahwa Anda bisa membangun Islam di Barat dari unsur-unsur yang sepenuhnya lokal [di Barat]. [Bahwa] Anda tidak perlu memasukkan ke dalam Islam Barat Anda itu berbagai beban politis dan teologis dari belahan dunia Islam lain,” tambahnya.

Maka kini beragam versi kaset dan video berisi rekaman ceramah Imam Yusuf laku dijual. Di depan audiensnya, ia kadang mengenakan jas ala pakaian resmi Barat atau berpakaian gaya seorang imam Timur Tengah, lengkap dengan serbannya. Jenggotnya pun terpelihara rapi, dan tampak fashionable. Aksennya bicara jelas menunjukkan ia asli Amrik!

Tapi ia juga dituduh lawan-lawannya muslimnya sebagai “anak baik” yang menjadi boneka Barat. Bahkan sejumlah kalangan radikal muslim menyudutkannya sebagai “cecunguk Bush”. Di lain pihak, ia juga dibenci kalangan ultra-konservatif di AS, seperti Daniel Pipes, sebagai muslim yang “tidak cukup moderat” dan berbahaya bagi masa depan peradaban Barat. Tentang mereka, Yusuf berkata singkat, “Mereka ngomong Islam, tapi mereka sebenarnya hanya tahu sedikit tentang Islam.”

Ihsan Ali-Fauzi

Sumber Foto: www.youtube.com

Komentar