Home » Sosok » Tokoh » Helvy Tiana Rosa, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: flp.or.id

Helvy Tiana Rosa, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Dengan penuh semangat, ia memercayai cinta adalah jalan bagi bangsa ini.

Dalam percakapan dengan Madina, Helvy sempat bingung saat ditanya soal kekerasan bahasa seperti pelabelan “Sipilis” (atau “Sepilis”) untuk para penganut atau penganjur “Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme”. Singkatan “Sipilis” mirip dengan nama sejenis penyakit kelamin. Praktik kekerasan bahasa begini mirip dengan yang dilakukan oleh PKI-Lekra, ketika menghujat penandatangan Manifesto Kebudayaan dengan sebutan “Manikebu” yang berkonotasi “air mani kerbau”.

Helvy bingung, lho, memangnya ada, ya, sebutan Sipilis itu? Ketaktahuan Helvy soal ini bukan menunjukkan bahwa Helvy seorang yang “kurang gaul”. Sebaliknya, Helvy adalah seorang aktivis-penulis tak kenal lelah yang telah keliling Indonesia dan mancanegara. Ia keliling dalam kapasitasnya sebagai penulis buku laris, dan pendiri serta ketua Forum Lingkar Pena (FLP –kini, Helvy sudah lengser dari jabatan ketuanya). FLP dipuji oleh penyair senior Taufik Ismail sebagai organisasi penulis paling berhasil sepanjang sejarah sastra Indonesia.

Salah satu kegiatan utama FLP, di samping pelatihan dan penerbitan buku yang gencar, adalah membangun Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya). Kini, Rumah Cahaya FLP sudah ada di 125 kota di seluruh Indonesia dan ada juga di negara manca. Pendirian Rumah Cahaya biasanya merupakan inisiatif lokal. Itulah mengapa, ada keragaman yang kuat dalam pengelolaan kegiatan di setiap Rumah Cahaya. Setiap Rumah Cahaya mencerminkan kebutuhan-kebutuhan lokal yang kadang tak terlalu berhubungan dengan buku. Misalnya, menyelenggarakan pernikahan anggotanya yang miskin.

Dengan segala aktivisme itu, memang agak mengherankan jika Helvy tak pernah mendengar ungkapan Sipilis yang rajin digaungkan oleh sekelompok aktivis Islam dan penulis seperti Adian Husaini, Hartono Ahmad Jaiz, Majalah SabiliSuara Hidayatullah, dan lain-lain. Mungkin ini menunjukkan bahwa Helvy memang lebih disibukkan oleh hal-hal yang lebih kongkret, menjumpai masyarakat dengan segala duka-gembira mereka. Ketika Madina menanyakan pendapatnya, apalagi ia dosen sastra, tentang praktik penistaan lewat singkatan mencemooh itu, Helvy bilang ia tak setuju dengan praktik semacam itu.

Dari situ, Helvy lanjut bicara tentang pengalamannya menghadapi keragaman atau perbedaan pendapat. Menurut Helvy, ia sangat terbantu oleh pengalamannya di keluarganya yang memang punya latar keagamaan bermacam-macam. Jika ada perbedaan, kebiasaan di keluarganya tak langsung menghujat, tapi mengajak berdialog. Helvy punya kepercayaan besar pada dialog. Dan itu menjelaskan “keberaniannya” untuk masuk ke berbagai lingkungan yang berbeda dari latar aktivisme utamanya.

Sebagai penulis yang lahir dari rahim majalah cerpen Islami Annida dan tumbuh menjadi lokomotif sastra dakwah di Indonesia sejak akhir 1990-an, Helvy tak canggung masuk arena sastra umum. Ia sempat jadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, periode kepemimpinan Ratna Sarumpaet. Di situ, ia semakin mengasah kemampuannya membuat jaringan dan berdialog dengan berbagai pandangan berbeda. Ia tak pernah terjebak hanya mencaci aliran sastra yang banyak mengumbar seksualitas, misalnya. Ia percaya, buku ya mesti dilawan dengan buku.

Dan, seperti Deddy Mizwar, dengan gamblang ia selalu menyatakan kepercayaannya pada cinta. Ia percaya bahwa semua jawaban untuk masalah bangsa ini pastilah mengandung cinta. (Lihat wawancara dengan Helvy di Madina no. 3). Dikaruniai dua anak dalam perkawinannya dengan Tomi Satryatomo, Helvy mengaku banyak belajar cinta dari keluarganya itu. Putra sulungnya, Abdurahman Faiz, terkenal sebagai penyair cilik. Mereka berdua sering bercakap-cakap tentang hal-hal besar, seperti kapan kita tak menangisi Indonesia.

Maka, dengan caranya sendiri, Helvy telah melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Kalaulah ada perdebatan tentang nilai sastrawi dari karya-karyanya, atau dari karya-karya para anggota FLP di seluruh Indonesia, tapi satu hal jelas: ia telah menebarkan kecintaannya pada buku dan kegiatan menulis ke seluruh Indonesia.

Ia bertemu banyak jenis manusia dalam ziarahnya keliling Indonesia dan ke manca negara juga. Ia terharu ketika berjumpa FLP Hong Kong dan ternyata mereka adalah para pembantu yang bersemangat sekali menulis. Ia tercerahkan ketika ia berjumpa profesor di Amerika yang sama membenci kebijakan Bush seperti dirinya. Perjumpaan itu membuatnya merasa kita tak bisa gebyah uyah dalam membenci. Ia adalah penulis, macan panggung, dosen sastra, penggiat teater, pembangun komunitas, istri yang selalu menemukan momen romantis bak novel cinta dengan suaminya (seperti bisa dibaca di blog multiply-nya), dan seorang ibu yang mampu mewariskan kepekaannya terhadap seluk-beluk hidup bermasyarakat kepada anaknya.

Dengan kata lain, Helvy –di tengah langkanya sosok tokoh perempuan Islam damai di Indonesia– adalah seorang yang telah melakukan sesuatu untuk bangsa ini. []

Komentar