Home » Sosok » Tokoh » Haji Malcolm X

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun 1, Februari 2008)

Seorang Muslim yang baru pulang menunaikan ibadah haji biasanya bergairah menceritakan pengalaman spiritualnya di kota suci. Pengalaman yang kadang bisa mengubah alur hidup.

Haji Malcolm X

Begitu juga Malcolm X, atau El Hajj Malik El Shabazz, bekas anggota dan jurubicara Nation of Islam (NOI), sebuah gerakan nasionalis kulit hitam di AS. Ketika masih berada di bawah pengaruh NOI, ia percaya bahwa orang-orang kulit putih adalah setan yang jahat dan bahwa orang-orang kulit hitam lebih unggul dari mereka.

Setelah meninggalkan NOI pada Maret 1964, ia pergi haji di bulan April. Pengalaman ini mengubah total pandangannya tentang rasisme dan warna kulit.

Berikut petikan surat Malcolm X tentang pengalamannya berhaji. Di situ ia mengemukakan alasan mengapa pandangannya tentang rasisme berubah:

“Ada puluhan ribu jamaah haji di sini, berasal dari segala penjuru dunia. Warna kulit mereka beragam, dari perempuan Barat //blonde// bermata-biru hingga orang-orang Afrika berkulit-hitam. Tapi kami semua mengerjakan ibadah yang sama, menunjukkan semangat kesatuan dan persaudaraan, yang sebelumnya, dari pengalaman saya di Amerika, tak pernah saya yakini bisa terjadi di antara orang-orang kulit putih dan yang bukan.

“Anda mungkin tidak percaya bahwa kata-kata ini berasal dari saya. Tapi dalam ibadah haji ini, apa yang telah saya lihat, dan alami, mendesak saya untuk merenungkan kembali pola-pola pikir yang sudah lama saya anut, dan saya terpaksa mengenyampingkan sejumlah kesimpulan lama saya. Ini tidak terlalu sulit bagi saya. Lepas dari keyakinan-keyakinan pokok saya, saya tetap merupakan seseorang yang terus mencoba menghadapi fakta apa adanya, dan yang menerima kenyataan hidup sejujurnya, jika pengalaman baru dan pengetahuan baru mengharuskan saya berubah pikiran. Saya selalu berpikiran terbuka, sesuatu yang amat diperlukan bagi sikap hidup yang fleksibel, yang harus berjalan seiring dengan setiap bentuk pencarian yang cerdas akan kebenaran.

“Selama sebelas hari di negeri Muslim ini, saya pernah makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di tempat tidur atau kasur yang sama, seraya bersembahyang kepada Tuhan yang sama, dengan rekan-rekan sesama Muslim, yang matanya paling biru dari yang biru, yang rambutnya paling pirang dari yang pirang, dan yang warna-kulitnya terputih dari yang putih. Dan dalam kata-kata, dalam tindakan, dan dalam perbuatan kaum Muslim ‘kulit putih’, saya merasakan kejujuran yang sama dengan yang saya rasakan ketika saya berada di tengah-tengah kaum Muslim kulit-hitam Afrika dari Nigeria, Sudan dan Ghana.

“Kami semua //sebenar-benarnya// saudara.

“Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.” (IAF)

Komentar