Home » Sosok » Tokoh » Haidar Bagir, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: sadra.ac.id

Haidar Bagir, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Pernah ada yang terkejut berjumpa Haidar Bagir, pimpinan kelompok penerbit Mizan, sewaktu ia masih menjabat pimpinan usaha harian Republika. Pangkal soal, sebelumnya ia mendengar isu bahwa Haidar adalah seorang berambut gondrong, berbaju hitam-hitam, dan gemar bergelang bahar besar.

“Fitnah” lucu soal penampilan ini adalah sketsa tempat Haidar di kancah pemikiran Islam Indonesia. Diam-diam, pebisnis lulusan ITB yang terdidik dalam ilmu filsafat ini cukup kontroversial. Ada yang menyoroti kedekatannya dengan pemikiran-pemikiran Syiah –dengan konotasi mendukung ideologi revolusioner negeri Khomeini itu. Semasa di Republika, ada pula yang memandangnya sebagai aktor di balik “fundamentalisme” harian yang lahir dari rahim ICMI itu. Biasanya anggapan-anggapan itu akan luluh saat mengenalnya langsung.

Jauh dari imaji gelang bahar atau orang yang senang mengepalkan tangan ke udara berteriak-teriak, Haidar enak diajak bicara tentang apa saja di sekeliling kita: tentang bisnis, film, musik pop Amerika, puisi, sastra, pendidikan anak, juga celetukan Tukul Arwana. Man of this world, itulah gambaran Haidar kalau meminjam sebuah ungkapan bahasa Inggris. Tapi, ia juga adalah orang yang fasih bicara tentang “dunia sana”. Paling tidak, bukunya yang sedang laris adalah tentang faedah salat –dari segi akal, ruhani, dan kesehatan jiwa.

Tapi, satu hal yang jadi benang merah dalam seluruh minat luas Haidar: buku. Pada 1983, bermula dari sebuah rumah kos di Bandung, tiga aktivis masjid Salman ITB yang belum lulus menerbitkan buku yang kemudian cukup kontroversial pada masanya: Dialog Sunni-Syiah, karya Muhammad Haidar. Ketiga anak muda itu adalah Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka dibantu dana oleh Abdillah Toha dan Anis Hadi. Sedang buku pertama mereka itu adalah karya ayah Haidar, yang didaku Haidar sebagai “kecelakaan saja, karena waktu mau menerbitkan, itu satu-satunya naskah yang tersedia.”

Pada tahun-tahun awal itu, Mizan banyak menerbitkan khazanah pemikiran Harakah Islam (Gerakan Islam) dari Abul A’la Maududi, Muhammad Qutb, Yusuf Qardhawi, di samping karya-karya cendekiawan Iran Ali Syariati dan Murtadha Muthahari. Mizan pula yang mengenalkan pemikir Islam yang lebih mutakhir, seperti Ziauddin Sardar, yang seolah menyaingi Alvin Toffler dalam futurologi. Pada 1983-1993, Mizan memberi sumbangan lain dalam pelangi pemikiran kebangsaan dan keislaman di Indonesia: Seri Cendekiawan Muslim.

Dalam seri ini, nama-nama macam Jalaluddin Rakhmat, Nurcholis Madjid, Amin Rais, Ihsan Ali-Fauzi, Fachry Ali, M. Dawam Rahardjo, Kuntowijoyo, Ahmad Syafii Maarif, dan banyak lagi cendekiawan muslim, terangkat ke aras permukaan. Keberhasilan seri ini, menurut Hernowo (salah seorang pimpinan kelompok Mizan kini, dalam buku 20 Tahun “Mazhab” Mizan), tak lepas dari kiprah Haidar. Dengan keaktifan Haidar mengunjungi banyak tokoh Islam, kata Hernowo, Haidar mampu memetakan pemikiran Islam di Indonesia saat itu. Pengaruh pemetaan itu masih menjejak hingga kini.

Dengan pemahaman dan pengalaman langsung seputar pemikiran Islam itu, tak heran jika Haidar Bagir sering mengkritik keras gerakan Islam Liberal. Ia kini lebih tertarik menawarkan tasawuf psoitif.

Di luar buku –atau, tepatnya, di luar kegiatan yang jelas-jelas buku– Haidar juga aktif mendirikan atau terlibat berbagai yayasan sosial. Dan kini, ia asyik menggeluti dunia pendidikan, dengan mendirikan sekolah Lazuardi, di Cinere, Jakarta. Sekolah ini bergaya internasional, mendorong pada sikap kritis, percaya diri, di samping pendidikan akhlak yang baik. []

Komentar