Home » Sosok » Tokoh » Emha Ainun Najib, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: embunhikmah.com

Emha Ainun Najib, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Sekarang, Emha jadi kiai betulan, walau tetap freelance (tak punya pesantren) dan tak mau dipanggil begitu.

Mulanya, Emha adalah aktivis teater lulusan pesantren yang mangkal di Jogjakarta. Di kosnya, di sela-sela pasar yang ramai, Emha muda sering dianggap semacam dukun atau orang sakti. Ia suka bercerita, suatu ketika sepedanya hilang. Ia kesal dan teriak ke arah pasar dengan yakin dan mantep, kurang lebih: siapa yang mencuri sepedaku, akan kena sakit mengerikan, kecuali kalau ia mengembalikan sepedaku nanti sore. Sorenya, benar, sepedanya balik lagi.

Apa yang dilakukan Emha itu bukan sebuah kesaktian, tapi penerapan praktis ilmu teaternya. Emha memang jago manggung. Suaranya bulat, kuat, dan punya daya cekam. Singkatnya, suaranya bisa bikin orang lain keder kalau dia mau. Dengan suaranya itu, juga dengan aktivisme sastranya dan kecenderungannya untuk nyeleneh, namanya cepat melesat di dunia budaya. Pada 1980-an awal, ia mencuri perhatian dengan pemihakannya pada sastra kontekstual.

Dalam perdebatan tentang sastra kontekstual itu, ia menggugat posisi sastrawan yang seolah mengatasi masyarakat mereka. Karya-karya luhung yang lahir dari menara gading ia anggap tak bisa bicara kepada masyarakatnya, tak mampu merespon kenyataan hidup yang dialami masyarakat tempat hidup para sastrawan itu. Misalnya, Emha menjagokan puisi-puisi yang bisa dibacakan langsung kepada khalayak, orang kebanyakan. Puisi-puisi yang membicarakan persoalan hidup keseharian rakyat, spontan.

Wajar belaka jika pada pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, Emha membuat serangkaian pementasan puisi Lautan Jilbab, yang akhirnya dibukukan setelah direvisi habis-habisan demi menyesuaikan diri dengan format buku. Puisi panjang yang selalu berubah-ubah versi di setiap pemanggungan ini, sesuai suasana dan kebutuhan, adalah sebuah tanggapan kultural terhadap kasus-kasus pelarangan jilbab. Lewat puisi itu, Emha memberi definisi budaya terhadap gerakan jilbab –jilbab menjadi gerakan budaya.

Dalam definisi ini, Emha menawarkan jalan tengah bagi kasus jilbab: jilbab bukanlah puritanisme dan perlawanan politik (semata), tapi sebuah pernyataan idealisme, yakni oposisi terhadap ketakadilan dalam masyarakat modern.

Pada 1980-an itu pula, Emha tumbuh jadi seorang budayawan muda yang menyegarkan. Petualangannya di Eropa ia catat dalam esai-esai di Tempo. Ia juga menulis esai-esai budaya dalam bentuk surat, yang kemudian terkumpul dalam Dari Pojok Sejarah (1985). Sudah tampak bakatnya mengutak-atik kata dalam esai-esai dan puisi itu. Ia menjadi salah seorang kolumnis paling produktif di negeri ini, dan unik: ia tak pernah kehilangan akar budaya pesantrennya dalam memandang berbagai soal keindonesiaan dan kemodernan.

Pada 1998, di tengah gempita reformasi yang membuat banyak orang menganggap medan politik praktis sebagai pilihan untuk bergerak, Emha malah mendirikan kelompok musik Kiai Kanjeng. Menggabungkan musik etnik Jawa dan musik modern, plus pertunjukan teater dan sastra, kesemuanya dalam rangka dakwah, kelompok Kiai Kanjeng aktif manggung di mana-mana. Salah satu panggung tetap mereka adalah pengajian keliling Padang Bulan. Dengan Kiai Kanjeng, sampai 2005, Emha keliling 21 propinsi, di lebih dari 1200 desa di Indonesia.

Tak hanya keliling Indonesia, Kiai Kanjeng juga kerap diundang ke Italia, Jerman, Inggris, Skotlandia, Mesir, dan Malaysia. Malah pada 2006, Kiai Kanjeng diundang manggung keliling Finlandia oleh Union for Christian Culture. Kok bisa, kelompok dakwah ini ikut acara budaya kaum Kristiani?

Semangat dasar Kiai Kanjeng (dan Pengajian Padang Bulan) memang pluralisme. Itu yang dengan tegas diungkap Emha, dalam sebuah pertunjukan Kiai Kanjeng di Masjid Cut Meutiah, Jakarta, 14 Oktober 2006. Dalam pertunjukan itu, Kiai Kanjeng mengambil intro lagu pujian Kristiani, Malam Kudus, dan langsung ditimpa dengan salawat. “Tak ada lagu Kristen, tak ada lagu Islam,” kata Emha. “Saya di sini tidak menyanyi, tapi bersalawat.” Dan dalam berbagai kesempatan, Emha menegaskan posisinya tentang pluralisme. “Ada apa dengan pluralisme?” Emha bertanya. Menurutnya, sejak zaman Majapahit, negeri ini tak pernah punya masalah dengan pluralisme.

Dengan ketegasan posisinya itu, agak mengherankan jika Emha tak masuk “daftar hitam” 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia karangan Budi Handrianto, yang cenderung menempatkan para penghasung sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme agama sebagai “perusak Islam.” Yang jelas, pluralisme beragama menurut Emha (dan banyak tokoh cendekiawan maupun budayawan di Indonesia) tidak berangkat dari paham bahwa semua agama sama saja, tapi justru dari paham bahwa semua agama berbeda dan biarkan saja keberbedaan itu. []

Komentar