Home » Sosok » Tokoh » Deddy Mizwar , Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: bintang.com

Deddy Mizwar , Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Menawarkan alternatif yang membumi, baik bagi film Indonesia mau pun bagi bentuk dakwah melalui budaya pop.

Ada yang meledek, sejak main Naga Bonar (1986), Deddy memang jadi identik dengan Naga Bonar –lihat saja, dialeknya jadi kebatak-batakan, padahal Deddy orang Betawi. Walau ini hanya gurau, Deddy memang kadung lekat dengan sosok Naga Bonar. Yang jelas, Deddy membuat Naga Bonar Jadi 2 yang sukses besar pada 2007 dan menangguk sukses lagi Mei 2008 ini dengan memproduseri peredaran ulang Naga Bonar. Tapi, lebih dari itu, Deddy bisa dipandang makin mirip dengan karakter Naga Bonar: logika sederhana, apa adanya, dan sangat percaya pada cinta.

“Kalau ente mencintai, ente berbuat dong!” katanya dalam sebuah wawancara radio di 68H (sekarang, Green Radio). Ia mencintai Indonesia, karenanya ia membuat film Indonesia. Ia mencintai agamanya (sekarang, ia sehari-hari lebih suka dipanggil “Pak Haji”), karenanya pula ia membuat film. Baginya, seperti ia ungkapkan pada Madina, sama saja ia berdakwah dengan film dengan ustad berdakwah di mimbar menggunakan mike. “Teknologinya, medianya, boleh beda …tapi yang disampaikan kan sama saja: Islam”.

Film-film Deddy (Ketika, Kiamat Sudah Dekat, hingga Naga Bonar Jadi 2), juga sinetron-sinetronnya (Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, dan Para Pencari Tuhan) adalah perpaduan “aneh” dari verbalisme dan pemahaman yang kaya tentang hidup keseharian masyarakat Muslim Indonesia. Tokoh-tokohnya, walau tampak sederhana (mudah didefinisikan), tapi mencerminkan kekayaan pemahaman itu.

Ambil contoh Para Pencari Tuhan. Sekilas, jika hanya melihat trailer, Deddy Mizwar berperan sebagai ustad. Padahal, di situ ia jadi seorang tukang jagal yang nyambi jadi tukang kembang dan marbot masjid. Lalu ada sosok ustad kampung, yang suatu ketika pernah tergoda untuk jadi ustad TV. Ada hansip yang pernah bertanya, “Apa Tuhan nggak takut dosa, ya, membiarkan hamba-Nya kesusahan”.

Ketika ditanya soal keberanian memunculkan dialog semacam ini, Deddy menjawab, “itulah pertanyaan orang yang sedang mengalami kesulitan hidup. Apakah orang tak boleh bertanya”, kata Deddy.

Pengucapan yang sederhana, dan karenanya verbalistis, dalam film dan sinetron Deddy Mizwar adalah gaya atau bungkus dari keinginan menatap lekuk-liku masalah bangsa ini. Dalam Ketika, Deddy membahas soal korupsi (berapa banyak sineas muda kita yang membahas soal gawat ini?). Dalam karya-karyanya yang lain, tampak dakwah Islamnya yang kental. “Islam adalah way of life,” kata Pak Haji soal tema film-filmnya. Tapi, keyakinan ini tak digambarkan berada di ruang kosong. Bagi Pak Haji, masalah-masalah hidup itu sendiri harus dihadapi, termasuk dalam film-filmnya.

Ia amat percaya adanya syariah dalam membuat film. Misalnya, lelaki dan perempuan yang bukan muhrim tak boleh bersentuhan dalam filmnya. Tapi itu tak menghalangi Deddy untuk mengangkat kenyataan hidup yang kita lihat dalam kesehariaan kita. Itulah mengapa muatan dakwahnya terasa lain dibanding, misalnya, Kun Fa Yakun.

Naga Bonar Jadi 2 agaknya jadi puncak obsesinya untuk urun suara terhadap masalah bangsa saat ini. Ada soal modal asing, soal cinta sesama, soal lalu lintas, soal kepahlawanan, soal warna-warni pengajian di pojok Jakarta (dari tukang bajaj yang guru mengaji nan ikhlas, sampai tukang karpet masjid yang gigih berjualan di masjid), bahkan soal copet yang jadi asisten menteri dan soal sepak bola kita yang kalah melulu. Semua diikat oleh kata “cinta”. Mungkin gombal, tapi alangkah pasnya, ketika film yang laris tapi tak terlalu disukai sebagian intelektual kita itu ditutup oleh lagu Padi, yang bersyair: Cinta bukan hanya sekadar kata….

Mei 2008, Deddy menanyangkan ulang Naga Bonar dengan perubahan poster (jadi lebih bergaya kontemporer), tambahan judul (“Melihat Indonesia dengan Hati”), dan lagu di bagian akhir yang dinyanyikan Deddy sendiri. Lagu itu bicara tentang cinta Indonesia juga. Film ini cukup laris. Naga Bonar masih relevan, rupanya.

Deddy sempat mengungkapkan keberatannya masuk daftar “Tokoh Islam Damai” Madina ini. Yah, suka atau tak suka, Pak Haji telah jadi satu warna dalam pelangi teladan Islam damai di negeri ini, saat ini. []

Komentar