Home » Sosok » Tokoh » Daniel Barenboim: “Jika Kita Bisa Buat Musik, Mengapa Kita Buat Perang?”

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun 1, Februari 2008) 

Daniel Barenboim, pianis dan konduktor kenamaan dunia, kini resmi jadi warganegara Palestina. Sekalipun dikecam banyak orang di Israel, ia menerima paspor Palestina yang ditawarkan kepadanya oleh Pemerintah Otoritas Palestina. Ia berharap, status barunya itu bisa menjadi model perdamaian di antara rakyat Palestina dan Israel – sebuah pluralisme lewat musik.

Daniel Barenboim: “Jika Kita Bisa Buat Musik, Mengapa Kita Buat Perang?”

“Ditawari paspor Palestina adalah kehormatan besar buat saya,” katanya Sabtu, 17 Januari lalu, setelah ia melakukan resital piano di Ramallah, sebuah kota kecil di Tepi Barat, di mana ia aktif mempromosikan kontak-kontak di antara para musisi muda Arab dan Israel. “Saya menerima tawaran ini juga karena saya percaya bahwa nasib … rakyat Israel dan rakyat Palestina terkait satu sama lain,” tambahnya seperti dikutip harian Israel Haaretz.

“Kita diberkahi – atau dikutuk – untuk hidup saling berdampingan. Dan saya memilih yang pertama.” Ditambahkannya, “Fakta bahwa seorang warganegara Israel ditawari paspor Palestina adalah satu tanda bahwa hal itu [hidup bersama sebagai berkah] sebenarnya dimungkinkan.”

Pendudukan

Dilahirkan di Argentina 65 tahun lalu, Barenboim adalah tokoh kontroversial di Israel. Ini terutama karena dua alasan. Pertama, ia mempromosikan karya-karya Richard Wagner, komposer abad ke-19 yang musik dan tulisan-tulisan dianggap banyak orang Yahudi bersifat anti-Semit dan memengaruhi Adolf Hitler.

Pada 2001, ia melanggar tabu tak-tertulis untuk tidak memainkian Wagner di Israel. Karenanya, ia dianggap melakukan “pemerkosaan budaya”.

Kedua, ia menyuarakan oposisi keras terhadap kebijakan Israel di Palestina. Beberapa tahun terakhir, kritik-kritiknya makin keras. Menurutnya, “Israel itu dicengkeram mentalitas ghetto [kampung di tengah kota yang dihuni kelompok minoritas – Red.]. Kita punya angkatan bersenjata yang kuat. Kita punya bom atom. Tapi psikologi yang muncul dari Israel punya nada Ghetto Warsawa.”

Tentang pendudukan, ia menyatakannya sebagai “hal yang menjijikkan secara moral.” Tambahnya, “Saya kira tak ada satu negara pun yang boleh menduduki negara lainnya – dan tentu saja juga kami, bangsa Yahudi, dengan sejarah kami yang penuh pengusiran itu.”

Ini perkembangan belakangan dalam hidup Barenboim. Sebelumnya, ia pendukung setia negara Israel. Bahkan, beberapa hari sebelum perkawinannya dengan Jacqueline du Pré, pemain sélo kenamaan Perancis, di Jerussalem pada 1967, keduanya mengambil risiko kehilangan nyawa dengan menggelar konser di depan pasukan Israel yang kala itu sedang berperang melawan tentara-tentara Arab – “dengan tank-tank berseliweran,” kenang Du Pré belakangan.

Di awal 1970-an, Barenboim mulai mengeritik perlakuan pemerintah Israel terhadap rakyat Palestina. Ia mengingatkan kita pada Yehudi Menuhin, pemusik Yahudi lainnya yang juga anti-Zionis dan menentang pendudukan atas Pelestina.

Pembenci Yahudi?
Barenboim selalu menekankan perlunya bangsa Palestina dan Israel untuk saling memahami. “Tidak mungkin Israel bisa bicara dengan bangsa Palestina jika orang-orang Palestina tidak memahami penderitaan bangsa Yahudi.” Sebaliknya, “Sekarang, 50 tahun sesudah itu [kemerdekaan Israel], kita harus menerima tanggung jawab bersama atas penderitaan bangsa Palestina. Sampai seorang pemimpin Israel mampu mengucapkan kata-kata itu, maka tidak akan ada perdamaian.”

Terhadap tuduhan bahwa ia telah mengkhianati negaranya, ia menegaskan: “Saya kira saya tidak anti-Israel. Yang anti-Israel itu [mantan Perdana Menteri] Sharon. Karena memahami masalah-masalah yang dihadapi pihak lain [bangsa Palestina] itu juga adalah bagian dari kepentingan Israel.”

Pada Mei 2004, Barenboim memperoleh Wolf Prize dari pemerintah Israel dalam sebuah upacara resmi di Knesset. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan pandangannya mengenai situasi politik kontemporer: “Saya hari ini bertanya, dengan kepedihan mendalam: Dapatkah kita, terlepas dari semua capaian kita, mengabaikan kesenjangan yang tak-bisa-diterima antara apa yang dijanjikan dalam Deklarasi Kemerdekaan dan apa yang sudah dipenuhi, kesenjangan antara gagasan Israel dan realitasnya? Apakah kondisi pendudukan dan dominasi atas bangsa lain cocok dengan Deklarasi Kemerdekaan? Apa artinya kemerdekaan satu bangsa yang didirikan di atas pelanggaran atas hak-hak asasi bangsa lain? Dapatkan bangsa Yahudi, yang sejarahnya adalah sebuah rekor penderitaan dan persekusi yang terus-menerus, berdiam diri, acuh tak acuh terhadap pelanggaran hak-hak asasi dan penderitaan bangsa lain yang menjadi tetangganya? Dapatkan negara Israel berdiam diri, terpaku kepada impian tidak realistik dalam menyelesaikan konflik ideologis ini, dan bukan mencoba solusi yang pragmatis dan manusiawi, yang dilandasi prinsip keadilan sosial?”

Untuk menunjukkan simpatinya kepada bangsa Palestina, pada September 2005, Barenboim menolak diwawancarai Dafna Arad, reporter Radio Angkatan Bersenjata Israel, karena ia berseragam. Baginya, seragam itu dianggap tidak sensitif terhadap kehadiran warga Palestina di sekitarnya. Karena alasan ini, oleh Limor Livnat, Menteri Pendidikan Israel, ia disebut “Pembenci Yahudi yang sesungguhnya” dan “Anti-Semit yang sesungguhnya”.

Cerita lain: Pada Desember 2007, ia dan sekitar 20 musisi dari Inggris, AS, Perancis, dan Jerman, dan seorang musisi Palestina merencanakan pertunjukan musik barok di Gaza. Sekalipun musisi-musisi lainnya sudah memperoleh izin dari pemerintah Israel, musisi Palestina ditahan di perbatasan Israel-Gaza dan diberitahu bahwa ia perlu izin khusus untuk masuk. Para musisi di atas menunggu hingga tujuh jam di perbatasan, dan kemudian membatalkan pertunjukkan karena alasan solidaritas. Kata Barenboim: “Sebuah musik barok di sebuah Gereja Katolik di Gaza – seperti kita tahu – tidak punya hubungan apa-apa dengan keamanan dan itu akan membawa kebahagiaan kepada orang-orang yang tinggal di sana dengan menderita.”

Orkestra

Belakangan, energi Barenboim banyak disalurkan untuk mengembangkan Orkestra West-East Divan (WED), yang dibentuknya pada 1999, bersama Edward Said, intelektual-aktivis Palestina-Amerika yang terkenal dan dianggapnya sebagai “kolega kental saya”. Selain kritikus Israel yang lantang, Said juga dikenal sebagai pianis dan kritikus musik.

WED adalah inisiatif untuk mengumpulkan, dalam sebuah workshop setiap musim panas, sekelompok musisi muda berbakat dari Israel dan negara-negara Arab. Dengan inisiatif ini, kepedulian musikal dan kemanusiaan Barenboim dan Said akhirnya menyatu.

Berkat inisiatif itu, pada 2002, keduanya menerima Prince of Austria Awards. Mereka dianggap bersama dalam “meningkatkan kesalingpahaman di antara bangsa-bangsa.” Bersama Said, Barenboim juga menulis buku Parallels and Paradoxes, berdasarkan serial diskusi publik di New York.

Dalam usianya yang baru enam tahun, Orkestra WED sudah mencatat sejumlah sukses. Tahun lalu, Warner Classics merilis album CD mereka, memainkan musik Tchaikovsky, Verdi dan Sibelius. Lalu mereka menggelar sejumlah konser di Skotlandia, Inggris dan Spanyol – sebelum diakhiri di “tanah air” Ramallah.

Di balik missi ini ada keyakinan bahwa, seperti dikatakan Barenboim, “musik adalah seni yang menyentuh eksistensi manusia, sebuah seni suara yang melampaui batas-batas.” Maka Orkestra WED juga melibatkan integrasi. “Tiap musisi yang memainkan dua nada, yang mencakup dinamika, bunyi dan gerak, selalu terlibat dalam sebuah aksi integrasi,” tambahnya.

 

***

Selintas Barenboim

Daniel Barenboim lahir di Buenos Aires, Argentina, pada 15 November 1942.  Pada usia lima tahun ia mulai main piano, dibim-bing orangtuanya, dua pianis Yahudi asal Rusia.

Ia mulai menggelar konser di Argentina pada usia tujuh. Pada umur sebelas, ia dianggap Wilhelm Furt-wangler, konduktor kenamaan Jerman, sebagai “pelanjut saya.” Setelah pindah ke Israel pada 1952, ia menerima beasiswa untuk belajar sebagai konduktor dari Igor Marke­vitch, konduktor Rusia. Pada 1955, ia belajar komposisi dari Nadia Boulanger di Paris.

Sebagai pianis, ia mulai debutnya di Wina dan Roma pada 1952, Paris pada 1955, London pada 1956, dan New York pada 1957. Tak lama sesudah itu, ia ditempa di English Cham­ber Orchestra, sebagai konduktor dan pianis. Dari 1975 hingga 1989, ia menjadi Direktur Musik Orchestre de Paris. Ia lalu ditunjuk Sir George Solti, pada 1991, untuk menggantikannya sebagai Direktur Musik Chicago Sym-phony Orchestra. Pada 2000, Berlin Staatskapelle menunjuknya sebagai konduktor seumur hidup. Kini ia juga Direktur Musik La Scala, rumah opera terkenal di dunia, terletak di Italia.

Pada 1967, nama Barenboim makin berkibar berkat perkawinannya dengan Jacqueline du Pré, salah satu ikon musik klasik dunia, pemain sélo, yang cantik tapi juga sakit-sakit­an. Perkawinan itu, yang mensyaratkan Du Pré masuk Yahudi, menjadikan mereka pasangan terkenal musik kla-sik. Perkawinan itu baru berakhir de-ngan kematian Du Pré akibat serangan sklerosa berlipat pada 1987.

Perkawinan di atas, juga persahabatan Borenboim dengan musisi It-zhak Perlman, Zubin Mehta, dan Pinchas Zukerman menginspirasikan Christopher Nupen untuk membuat film dokumen­ter tentang mereka se-dang memainkan “Trout Quintet”-nya Schubert di London, 1970. Sambil olok-olok, kelima musikus Yahudi itu menamakan diri mereka “Kosher Nostra”, merujuk kepada kelompok gengster Yahudi dalam sejarah Amerika.

Tentang musik, ia suka memban­dingkan dirinya dengan St. John dan Goethe. St. John berkata, “Pada mulanya adalah kata-kata.”  Goethe mengklaim, “Pada mulanya adalah perbuatan.” Kata Barenboim, “Pada awalnya adalah suara.” Tentangnya, kolega-kolega dekatnya suka bercanda: “Dengan teman-teman seperti Barenboim, siapa perlu musuh?”

***

Barenboim dan Bush

Penyerahan paspor Palestina kepada Daniel Barenboim, Januari lalu, bertepatan denga­n kunjungan Presiden AS George Bush ke beberapa tempat di Timur Tengah. Ditanya mengenai per­nyataan Bush bahwa sebuah perjanjian damai bisa ditandata­ngani tahun ini, Barenboim memperingatkan agar siapa pun tidak boleh memberikan harapan terlalu tinggi.

“Akan sangat mengerikan jika sekarang, dengan maksud-maksud baik, harapan diberikan terlalu tinggi, yang nantinya tidak akan bisa dipenuhi,” kata Barenboim. “Lalu kita akan terperosok ke dalam bencana yang bahkan lebih besar.”

Sekalipun menolak peran politik apapun, mantan Direktur Musik Chicago Symphony Orchestra ini tidak bisa menahan sinismenya terhadap seruan Bush agar Israel menghentikan, dalam bahasa Bush sendiri, “pendudukan”. Kata Baren­boim, “Sekarang ini, orang yang tidak terlalu cerdas pun mengata­kan pendudukan harus dihentikan.”

Komentar